"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Senyum Penuh Kepalsuan
Ninis menyodorkan nampan ke arah Levia. "Non, dimakan dulu, ya. Dari tadi belum makan. Biar badan Nona gak lemas."
Pandangan Levia kembali jatuh pada sepotong black forest, beberapa donat dengan aneka topping, serta segelas cokelat hangat yang dipenuhi krim tebal.
Sebagai seorang desainer yang paham bentuk tubuh, ditambah baru saja mendengar penjelasan dokter, pikirannya langsung menghitung perkiraan kalorinya.
"Ini bisa lebih dari seribu kalori. Kalau tiap hari makan beginian, bukan turun berat badan, aku malah bisa berubah jadi gajah."
Levia tersenyum tipis. "Terima kasih, Nis. Tapi aku lagi gak pengen yang manis-manis."
Ninis tampak terkejut. "Loh? Bukannya Nona paling suka black forest?"
"Sekarang enggak."
Levia sempat menangkap perubahan kecil di wajah gadis itu. Sangat singkat, hanya sepersekian detik. Namun sebelum sempat dipahami, senyum ramah itu kembali menghiasi wajah Ninis.
"Kalau gitu aku simpan aja dulu." Ninis meletakkan nampan di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang dekat Levia. "Non... Kak Vandra tadi masih marah?"
Levia mengangguk singkat. "Biasa."
Ninis mengembuskan napas panjang. "Kalau aku jadi Nona, sih, aku gak bakal rela diceraiin."
Levia terdiam. Ingatan pemilik tubuh ini kembali bermunculan.
Dulu, saat Vandra pertama kali mengajukan gugatan cerai, Ninislah yang memberi saran.
> "Kalau Kak Vandra tetap ngotot cerai, pura-pura bunuh diri saja, Non. Biar dia takut dan batalin niatnya."
Sejak saat itu, setiap kali Vandra hendak pergi atau kembali membahas perceraian, Levia selalu mengancam mengakhiri hidupnya.
Sampai akhirnya...
Hari ini, Levia benar-benar melompat ke sungai.
"Mana ada orang yang bener-bener sayang sama temen ngasih saran seekstrem itu?" batinnya. "Gak bener nih cewek. Itu bukan saran, tapi penyesatan."
Tatapannya perlahan beralih kepada Ninis. "Kalau dia mau cerai..." ucap Levia tenang, "...ya cerai aja."
"Hah?" Ninis spontan menoleh cepat. Matanya membelalak beberapa saat sebelum kembali tersenyum.
Namun Levia sempat menangkap kilatan kekecewaan yang melintas di sana. Sangat tipis. Hampir tak terlihat.
"Ekspresinya... Aneh," pikir Levia.
Sementara itu, di balik senyumnya, pikiran Ninis mulai dipenuhi tanda tanya. "Kenapa jawabannya beda?"
Biasanya Levia pasti menangis. Memohon. Atau marah-marah. Sekarang justru terdengar dan terlihat begitu tenang.
Ninis berdeham pelan. "Kalau... Nona mau, aku bisa bantu cari cara supaya Kak Vandra berubah pikiran."
Levia menatapnya tanpa berkedip. "Cara?"
"Iya."
Ninis berpura-pura berpikir. "Mungkin Nona bisa dateng ke rumah Ibu Ratih besok. Tunjukkin kalau Nona benar-benar nyesel. Terus bilang ke Kak Vandra kalau Nona gak bisa hidup tanpa dia. Laki-laki itu kadang cuma gengsi. Kalau Nona terus berjuang, lama-lama hatinya pasti luluh."
Levia hanya tersenyum tipis. "Enggak usah."
"Tapi, Non...."
"Aku capek."
Jawaban singkat itu membuat Ninis kehilangan kata-kata. Beberapa saat kemudian ia tersenyum canggung. "Nona hari ini beda banget."
"Beda?" Levia mengangkat sebelah alis.
"Iya." Ninis tertawa kecil. "Biasanya Nona pasti langsung panik kalau dengar soal Kak Vandra."
"Mungkin..." Levia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Aku sudah terlalu lelah."
Ninis mengangguk pelan. "Kalau begitu Nona istirahat saja."
Ia merapikan kembali nampan di atas meja, lalu berjalan menuju pintu.
"Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya, Non."
"Iya."
Pintu kamar tertutup perlahan. Begitu berada di lorong dan memastikan tak ada siapa pun di sekitarnya, senyum ramah di wajah Ninis lenyap seketika. Tatapannya berubah tajam.
"Sial...." Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Hampir saja berhasil."
Bayangan kejadian di tepi sungai kembali terlintas di kepalanya.
Sejak awal ia sudah mengawasi Levia dari kejauhan. Bahkan saat melihat Levia berjalan menuju sungai, ia sengaja mengalihkan perhatian beberapa warga agar tidak ada yang menyadari tindakan nekat itu.
Menurut perhitungannya, tidak akan ada seorang pun yang sempat menolong Levia.
Namun... Siapa sangka seorang pemancing yang berada di balik rimbunnya pepohonan luput dari pengamatannya.
Pria itulah yang pertama kali berteriak meminta tolong hingga menarik perhatian warga dan Vandra.
Ninis menggigit bibirnya kesal. "Kenapa harus ada orang itu?"
Kini Levia bukan hanya gagal mati. Wanita itu bahkan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.
Tatapan Ninis mengeras. "Apa sebenarnya yang terjadi sama kamu, Levia?"
Ia menarik napas panjang, lalu kembali memasang senyum ramah sebelum melangkah meninggalkan lorong.
Ninis kembali ke dapur, mengambil segelas air putih, lalu berjalan menuju ruang kerja Bram Gultom.
Tok. Tok.
"Masuk."
Ninis membuka pintu dengan senyum ramah. "Pak, ini air putihnya. Sudah waktunya minum obat."
Bram mengangkat wajah dari berkas-berkas di mejanya. "Oh... terima kasih, Nis."
Ninis meletakkan gelas di atas meja, lalu mengambil botol obat yang sudah disiapkan di sampingnya.
"Dokter tadi juga bilang Bapak jangan telat minum obat."
Bram tersenyum tipis. "Kamu selalu ingat."
"Itu sudah kewajiban saya, Pak."
Bram meminum obatnya, lalu meneguk air putih. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Ninis tidak langsung pergi. Ia berdiri sambil memainkan ujung celemeknya, seolah sedang ragu mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Bram.
Ninis buru-buru menggeleng. "Enggak kok, Pak."
"Kalau ada yang ingin disampaikan, bilang saja."
Ninis menundukkan kepala. "Saya cuma... senang lihat Nona sudah selamat."
Bram mengangguk pelan. "Saya juga."
"Tapi..." Ninis menggigit bibirnya pelan. "Saya takut perubahan Nona cuma sementara."
Bram terdiam.
"Nona sudah sering janji mau berubah, Pak." Ninis buru-buru menambahkan, "Bukan maksud saya menjelekkan Nona. Saya cuma takut Bapak nanti kecewa lagi."
Bram mengembuskan napas pelan. "Kalau memang begitu, biarlah. Dia tetap satu-satunya anak saya."
Ninis kembali berkata dengan nada hati-hati. "Kadang saya kasihan lihat Bapak."
Bram menatapnya.
"Bapak selalu mengalah demi Nona. Padahal... Bapak juga capek."
Bram tersenyum tipis. "Namanya juga orang tua. Anak seburuk apa pun tetap anak."
Kalimat itu membuat Ninis sesaat kehilangan senyumnya. "Saya tahu, Pak. Bapak terlalu baik."
Bram menggeleng pelan. "Bukan terlalu baik." Ia memandang foto mendiang istrinya yang berdiri di sudut meja. "Dulu saya pernah berjanji pada istri saya. Saya akan menjaga Levia apa pun yang terjadi."
Ninis mengepalkan jemarinya di balik celemek. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."
"Iya."
Setelah pintu tertutup, senyum ramah di wajah Ninis perlahan memudar.
"Kenapa...? Kenapa Bapak selalu membela Levia? Padahal selama ini yang nemenin Bapak setiap hari itu aku. Yang mengingatkan minum obat, menyiapkan makan, dan dengerin keluh kesah Bapak juga aku. Kenapa di mata Bapak, aku tetep gak pernah bisa gantiin Levia?"
Ninis menggigit bibirnya kuat-kuat. "Kalau saja Levia gak pernah dilahirkan..."
...✨"Kasih sayang orang tua sejati tidak pernah bisa direbut, karena cinta mereka bukan hadiah yang dapat dipindahkan kepada orang lain."...
..."Tidak semua nasihat lahir dari ketulusan. Ada yang terdengar baik, tetapi diam-diam mengarahkanmu menuju kehancuran."...
..."Tidak semua yang menemanimu sedang mendukungmu. Ada yang berjalan di sisimu hanya untuk memastikan kau tersesat."✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄