Tidak semua cinta pertama berakhir dengan kebahagiaan. Bagi aruna, gadis yatim piatu yang hidup dari beasiswa dan kerja keras, jatuh cinta pada siswa paling populer di sekolah adalahawal dari mimpi buruk yang selama ini tak ingin dia miliki..dia bahagia, namun kebahagaan itu ternyata di bangun diatas sebuah taruhan konyol para anak orang kaya itu. Saat kebenaran terungkap, aruna kehilangan lebih dari sekedar cinta..penghianatan, perundungan, dan kehilangan yang tak tergantikan menghancurkan hidupnya hingga dia memilih menghilang dari masa lalu. Bertahun-tahun kemudia, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, pria yang dulu menghancurkan dunianya telah menjadi seorang pria yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kesempatan kedua. Sayangnya, tidak semua luka dapat di sembuhkan dengan kata maaf… Penasaran?…yuk kepoin ceritanya….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon simnuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
“Tenang aja, Ini cuma permainan kecil..”ujar kai akhirnya.
Tak seorang pun menyadari...Permainan kecil yang mereka anggap lucu hari itu, kelak akan menjadi awal dari penyesalan yang menghancurkan hidup mereka semua..Dan terutama, Menghancurkan seorang gadis yang tak pernah melakukan kesalahan apa pun.
__________________
Pukul 4 sore bel pulang sekolah berbunyi..semua siswa mulai berhamburan menuju parkiran sekolah..sedangkan aruna masih dengan santai di kelas merapikan mejanya.
“Pulang pakai apa?..”tanya diana menghampiri meja aruna..mereka memang sekelas, tapi meja mereka berjauhan.
“Jalan kaki, sepeda ku masih rusak..”jawab aruna.
“Sama aku aja ayo..”ajak diana.
“Gausah di, aku jalan aja..lagian rumah kita gak searah..”ucap aruna.
“Gapapa aku antar aja..”ucap diana.
“Gausah..serius deh..rumah aku jauh nanti kamunya telat jemput ibu mu..”ucap aruna kekeh..diana berfikir sebentar.
“Beneran gapapa?..”tanya diana memastikan.
“Iya gagapa..”jawab aruna.
“Yaudah ayo keluar bareng..”ajak diana..aruna mengangguk dan mereka keluar dari kalas bersamaan.
.
.
.
Aruna berjalan pelan sambil bersenandung kecil..hari ini dia cukup santai..semua cucuian dan gosokan sudah gadis itu selesaikan..jadi tak ada pekerjaan setelah pulang sekolah ini selain di minimarket.
Baru sekitar lima menit aruna berjalan, tiba-tiba anggin berhembus pelan, disertai awan mendung yang mulai menghiasi langit di atas sana..aruna berhenti dan mendongak menatap langit di atasnya.
“Kenapa tiba-tiba mendung?..”gumam gadis itu..dia mulai cemas..lingkungan di sekitarnya sudah mulai sepi sekarang..apalagi di lingkungan itu hanya ada bangunan sekolah saja..dan dia masih belum terlalu jauh dari sekolah.
Aruna mulai berjalan cepat..apalagi saat rintik hujan mulai terasa jatuh di tubuhnya..di depan sana ada sebuh halte bus, aruna dengan cepat berlari menuju kesana..aruna berlari semakin kencang saat rintik hujan itu mulai turun dengan lebat..sesampainya di halte bus pakaian dan rambut aruna sedikit basah terkena hujan.
“Huh..kenapa bisa hujan..bagaimana aku akan pulang..”keluh aruna sambil mengibas-ngibas baju dan rambutnya.
Aruna duduk di sana sambil menatap hujan yang turun semakin lebat…tiba-tiba ponsel yang berada di saku seragamnya berdering..dia mengambil ponsel butut itu, dan terlihatlah panggilan telepon dari diana.
“Una kamu dimama?..sudah sampai dirumah?..”tanya diana dari seberang sana terdengar khawatir.
“Belum di..aku masih di jalan..hujannya tiba-tiba saja turun..terpaksa aku berteduh dulu..”jawab aruna
“Gimana ini?..apa aku jemput saja?..”tanya diana.
“Enggak usah di..bentar lagi juga reda..lagian hujanya juga masih lebat, ga mungkin kamu ujan-ujanan, bisa sakit nanti..”jawab aruna.
“Kamu sih..aku antar gamau..”kesal diana.
“Mana aku tau bakal hujan..”jawab aruna.
“Okedeh..nanti kalau hujannya ga reda-reda telpon aku aja, aku jemput..”ucap diana.
“Iya-iya..”jawab aruna.
Telpon dimatikan..aruna kembali duduk diam menatap tetesan hujan..disana dia hanya seorang diri karna semua murid sudah pulang.
Dari kejauhan terlihat beberapa motor gede keluar dari gerbang sekolah..sepertinya mereka murid yang mengikuti ekstrakulikuler sekolah..motor-motor itu melewati halte bus dengan cepat tampa memperdulikan kehadiran aruna..aruna juga hanya diam tak meminta tumpangan..tak lama kemudian mulai terlihat beberapa mobil sport mewah juga keluar dari gerbang itu..mobil itu berjalan lambat..pengemudi di dalamnya menatap aruna, aruna tak melihat itu, dia hanya bersikap acuh.
Sampai mobil terakhir berhenti di depan halte bus.
Tin…tin..
Aruna menatap mobil itu heran..tak lama kemudian kaca mobil itu diturunkan..terlihatlah wajah dingin seorang pria yang tak aruna sangka-sangka..
“Naik..”ucap pria itu datar lebih seperti perintah.
Aruna mengerutkan keningnya tak mengerti, aruna melirik kiri dan kanan berfikir bahwa pria itu berbicara pada orang lain, tapi dia hanya sendiri di sana..aruna kembali menatap pria itu, dia masih diam tanpa beranjak sedikitpun.
“Cepat naik..”ucap pria itu lagi tak sabaran.
“Aku?..”tanya aruna sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Siapa lagi..”ucap pria itu tajam..aruna menelan ludahnya pelan melihat tatapan pria itu padanya.
“Gapapa aku bisa pulang sendiri..”ucap aruna cepat..pria itu tak manjawab dan tak juga pergi, dia hanya diam menatap tajam aruna..aruna lagi-lagi menelan ludahnya merasa tertekan.
“Gapapa pulang saja..aku bisa pulang sendiri..”ucap aruna lagi menyakinkan.
“Naik!..”kali ini suara itu terdengar lebih menakutkan..bulu kuduk aruna meremang..dia menatap pria itu lama sebelum bejalan menuju mobil pria itu..aruna meraih gagang pintu kursi belakang..tapi sebuah suara menghentikan aksinya.
“Lo pikir gue supir..duduk di depan..”ucap pria di balik kemudi itu..aruna terperangah mendengar kalimat panjang dari pria yang di gosipkan sangat datar itu.
Tanpa membantah aruna langsung membuka pintu samping supir..sebelum masuk, gadis itu terlebih dahulu membersihkan pakaiannya..sedangkan liam hanya menatap lurus tanpa minat..setalah aruna duduk dengan nyaman, pria itu mulai menjalankan mobilnya.
Sepasang anak manusia itu hanya diam sedari tadi tampa ada yang berniat membuka percakapan..sepanjang jalan mereka hanya fokus dengan kegiatan masing masih tanpa peduli satu sama lain.
“Rumah lo dimana?..”percakapan pertama yang pria itu keluarkan..aruna menoleh.
“Di jalan mawar dua..lorong belakang minimarket..”jelas aruna.
“Minimarket yang kemarin itu?..”tanya pria itu sambil menoleh kearah aruna..aruna mengangguk..gadis itu masih memeluk tubuhnya yang kedinginan karna ac mobil pria itu yang di hidupkan terlalu kencang..apalagi seragam dan rambutnya basar, rasa dingin itu semakin menusuk tulang.
Pria yang melihat aruna kedinginan langsung mematikan ac mobilnya..perlakuan itu membuat aruna sedikit menghangat..baru kali ini ada yang memperdulikanya.
“Kenapa ga bilang kalau dingin?..”tanya pria itu..aruna terdiam mendapatkan pertanyaan itu.
“Ga ada..lagian sebentar lagi juga sampai..”jawab aruna..pria itu hanya menatapnya sebentar sebelum kembali fokus ke kemudinya.
Setelah itu mereka hanya diam sampai mobil mewah itu sampai di depan kosan aruna..aruna yang hendak turun di hentikan oleh pria itu.
“Pakai..”ucap pria itu sambil menyodorkan payung berwarna hitam pada aruna..aruna diam beberapa saat sebelum menerima payung itu.
“Terimakasih liam..untuk tumpangan dan payungnya..”ucap aruna pada pria itu..ya dia adalah liam.
Liam hanya mengangguk kecil..setelah aruna turun, liam langsung mengendarai mobilnya pergi dari sana..aruna menatap kepergian pria itu dalam diam.
“Rupanya dia pria yang baik..”gumam aruna..selama dia masuk ke sekolah itu, baru kali ini lah dia berbicara pada seorang pria..dan itu seorang liam alexander cortner, pria paling pepuler dan paling kaya di negara mereka..aruna sungguh tak menyangka ada saat dimana dia diantar oleh pria itu..dulu bahkan mereka tak pernah saling melirik sedikit pun.
“Setidaknya dia masih punya hati saat melihat orang kesusahan..”ucap aruna..gadis itu akhirnya masuk ke kosan kecinya.
.
.
.
TO BE CONTINUE…….