Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
.
Alena masih terdiam di tempatnya. Kopi? Tuan Nathan minta kopi? Sejenak gadis itu hanya menatap pria yang sedang duduk santai di balik meja tersebut. Sekilas cerita tentang asisten yang membuat kopi untuk atasannya memang pernah ia dengar. Di serial drama yang sering ia tonton juga sering ada dengan seperti itu.
Masalahnya adalah… bagaimana cara membuat kopi? Dia tidak tahu. Dulu ia tidak pernah menyuruh asistennya untuk membuat kopi karena dia bukan peminum kopi. Di rumah keluarga Bagaskara juga ia tidak pernah membuat kopi, karena ada asisten rumah tangga yang selalu sigap dengan tugas mereka.
Dan sekarang tuan Nathan minta dibuatkan kopi? Bolehkah dia mengatakan kalau dia tidak bisa membuat kopi? Tapi… ini adalah hari pertamanya bekerja. Apa dirinya akan kena masalah?
"Kopi, Tuan?" tanyanya akhirnya sedikit ragu..gadis itu bahkan tanpa sadar menggaruk tengkuknya sendiri. Kenapa tidak menyuruh merebut tender dari perusahaan lain saja? Kenapa harus menyuruh membuat kopi?
Nathan mengangkat wajah. "Iya, kopi. Jangan bilang kamu tidak bisa membuat kopi?" Nathan menatap gadis itu dengan kening berkerut.
Alena mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa dirinya hanya sedang memastikan bahwa dirinya salah mendengar perintah, tetapi melihat ekspresi Nathan yang terlihat serius, akhirnya Alena hanya bisa menganggukan kepala.
"Baik, Tuan," jawabnya lalu berbalik keluar dari ruangan tersebut.
Nathan tertawa menyeringai begitu pintu tertutup. Rencana demi rencana tersusun rapi dalam otaknya. Namun, baru beberapa detik berlalu…
“Tuan…?” Kepala Alena menyembul dari pintu yang sedikit terbuka.
Nathan mengangkat wajah tanpa suara. Hanya matanya saja yang menatap lurus ke arah Alena.
Alena tertawa sambil meringis menunjukkan deretan giginya. "Itu… anu…" Alena menggaruk pipinya pelan pertanda dia sedang gugup. Sementara Nathan masih menunggu apa yang akan disampaikan oleh asisten barunya. “Eng… pantrynya di sebelah mana?”
DUARRR!!!
Dua mata Nathan terbelalak sempurna, tapi buru-buru ia menetralkan wajahnya. Setelah memejamkan matanya beberapa saat, pria itu kembali menatap ke arah Alena lalu memberi petunjuk ke mana gadis itu harus melangkah. Pintu pun kembali tertutup setelah Alena mengucapkan terima kasih.
Sepanjang perjalanan menuju pantry, Alena masih bertanya-tanya dalam hati, bagaimana cara membuat kopi yang nikmat.
“Ah, cuma kopi. Bukankah itu cuma perpaduan kopi, gula sama air panas. Gampang lah, aku pasti bisa,” gumamnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan dirinya akan mendapatkan pujian di hari pertama bekerja.
Setelah sampai di pantry, Alena mencari tempat penyimpanan gula dan kopi. Gadis itu sama sekali tidak mengalami kesulitan karena ada tulisan dalam masing-masing toples kaca yang ada di dalam kabinet yang berada di atas meja pantry.
Alena mengambil sebuah cangkir dan meletakkannya di atas nampan. “Berapa ya takaran yang pas untuk membuat kopi nikmat?" gumam gadis itu sambil mengetuk-ngetuk ujung dagunya. Matanya melirik menatap ke atas seakan Dia sedang berpikir keras.
Sejujurnya saja selama tinggal di rumah kediaman Bagaskara gadis itu memang jarang sekali berada di dapur. Meskipun papa dan mamanya lebih menyayangi Selena daripada dirinya, tetapi mereka juga tidak pernah memperlakukan dirinya dengan buruk. Satu-satunya yang membuat Alena kecewa adalah karena mereka selalu lebih mempercayai dan mengutamakan Selena.
Setelah berpikir cukup lama, gadis itu mengambil sesendok kopi dan sesendok gula lalu menuangkannya ke dalam cangkir. Sedetik kemudian kening gadis itu berkerut.
“Apa segini sudah cukup?" gumamnya. “Kayaknya kurang deh," ucapnya kemudian menambahkan sesendok lagi gula dan juga kopi. Merasa masih kurang, gadis itu menambahkan sesendok lagi.
“Nah… segini kayaknya sudah pas,” ucap gadis itu kemudian mengisi cangkir tersebut dengan air panas yang ia ambil dari dispenser elektrik yang ada di sudut ruang. Mengaduk-aduk sebentar, mendekatkan hidungnya ke arah cangkir yang mengepulkan uap panas, kemudian bertepuk tangan mengapresiasi hasil kerjanya.
“Tuan Nathan pasti akan sangat puas menikmati kopi hasil buatanku,” ucapnya kemudian membawa nampan itu keluar dari pantry dan berjalan kembali menuju ruang presdir.
"Ini kopinya, Tuan." Alena meletakkan cangkir itu di meja tempat di hadapan Nathan.
Nathan yang sedang membaca sebuah dokumen, mengangkat kepalanya menatap ke arah Alena dengan kening berkerut melihat wajah gadis itu yang terlihat antusias. Lebih tepatnya terlihat seperti sedang menunggu pujian.
Nathan mengambil cangkir kopi itu lalu menyesap sedikit, dan…
Byur…
Bagaikan mbah dukun yang sedang membaca mantra, kopi yang baru saja masuk ke dalam mulut Nathan, seketika tersembur keluar.
Uhuk uhuk
“Tuan Nathan…” Alena mendekat dengan wajah panik melihat Nathan yang terbatuk sambil memegangi dadanya. Dengan gerakan refleks gadis itu mengusap-usap punggung Nathan.
“Apa kopi buatan saya kurang kental?" tanya gadis itu sambil mengusap-usap punggung Nathan. "Atau malah terlalu kental?”
Nathan menoleh ke arah Alena yang berdiri di sampingnya setelah merasa dadanya lebih lega. “Apa ini pertama kalinya kamu membuat kopi?" tanya pria itu dengan matanya melirik yang sengit.
Alena buru-buru melepaskan tangannya yang berada di punggung Nathan kemudian berdiri dengan dua tangan saling bertaut di depan perut. "Iya, Tuan,” jawab gadis itu pelan nyaris tak terdengar. Ada nada bersalah dalam suaranya.
Nathan mendengus kesal. Buyar sudah rencananya untuk mengerjai Alena. Padahal dia sudah berencana, meskipun kopi buatan Alena nikmat, dia akan tetap mencela dan menyuruh gadis itu untuk melakukannya berulang kali hingga gadis itu merasa kesal. Tetapi ternyata rencana itu hanya tinggal rencana.
Nathan memijat pelipisnya dengan mata terpejam. Lalu menyuruh gadis itu untuk keluar dari ruangannya dan memanggil OB untuk membersihkan bekas cairan kopi yang tercecer. Pria itu sekali lagi mendengus kesal. Berkas-berkas di hadapannya yang ia susun dengan susah payah kini harus dibuat ulang karena terciprat kopi. Lihat hati ingin mengerjai Alena, malah dia sendiri yang kena batunya.
Alena menatap ke arah Nathan dengan wajah bersalah sebelum kemudian benar-benar pergi. Begitu sampai kembali di ruangannya, gadis itu menghembuskan napas panjang. Gadis itu kemudian mengambil ponselnya dan masuk ke kolom pencarian.
CARA MEMBUAT KOPI YANG NIKMAT.
Alena memperhatikan dengan cermat video yang muncul di layar ponselnya. Baru kali ini ia menyesali sesuatu. “Seharusnya aku belajar dulu sebelum membuat tadi," gumamnya lirih.
Namun, belum selesai gadis itu dengan penyesalannya, telepon yang ada di atas meja kembali berdering. Dan Alena langsung mengangkatnya.
"Ke ruanganku sekarang!” Suara Nathan langsung terdengar begitu dia mendekatkan gagang telepon di telinganya. Dan sebelum ia sempat menjawab panggilan itu sudah terputus.
Alena menghela nafas lemah. Apa Tuan Nathan akan memarahi dirinya karena tidak bisa membuatkan kopi? Sekarang ia akan membuatkannya lagi. Video yang ia lihat dari ponselnya sudah cukup baginya untuk belajar cara membuat kopi.
Alena segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruangan Nathan.
Ketika pintu terbuka, ia mendapati pria itu masih duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya.
"Anda memanggil saya?"
Nathan menyeringai licik. Jika tidak bisa mengerjai Alena dengan kopi, dia bisa mencari cara lain untuk membuat gadis itu kesal.
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣