Kisah tentang Cahaya atau Aya (30) seorang pengusaha wanita muda yang sudah menjalin hubungan kasih selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya yang bernama Rudi. Mereka sudah merencanakan acara lamaran namun tiba-tiba Rudi membatalkan dan memutuskan hubungan dengan Aya tanpa alasan yang jelas. Aya yang tidak ingin membuat ibunya bersedih karena kegagalan acara lamarannya berusaha untuk mencari pengganti Rudi.
Kemudian ia bertemu dengan Rizal (23) seorang OB berwajah tampan. Pertemuan karena salah paham itu membuat mereka semakin dekat. Aya dan Rizal akhirnya sepakat untuk melangsungkan pernikahan istimewa dengan perjanjian tertentu.
Pada akhirnya mereka saling jatuh cinta di dalam ikatan pernikahan istimewa tersebut. Apa yang membuat mereka saling jatuh cinta? Dan bagaimana mereka menyikapi konflik karena kehadiran orang ketiga yaitu orang-orang yang pernah hadir di masa lalu Aya dan Rizal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Multitasking
"Motornya mogok, Teh?" tanya Rizal.
"Iya nih motor aku tiba-tiba mogok," jawab Aya.
"Saya coba nyalakan motornya ya Teh," ucap Rizal
"Iya silakan!" seru Aya. Rizal mencoba menstater motor matic milik Aya tapi motornya tidak menyala. Kemudian ia mencoba dengan cara menyela tetap tidak menyala juga. Rizal mencoba mengecek karburator motor dan segala hal lainnya berusaha agar motor bisa menyala ternyata motornya tetap tidak menyala.
"Sepertinya akinya sudah soak Teh, terus ga suka ganti oli juga ya Teh?" tanya Rizal sembari mengecek motor Aya.
"Oh, iya aku suka lupa aja kalau harus ganti oli." Aya mencoba mengingat-ingat kapan ia terakhir mengganti oli. Sudah sangat lama sekali ternyata ia tidak mengganti oli. Karena kesibukannya bekerja ditambah ketidak mengertiannya tentang motor membuat ia abai akan hal perawatan motornya.
"Teh, kayaknya ini mah harus dibawa ke bengkel." Aya sudah pasrah sepertinya membawanya ke bengkel adalah solusi mutlak.
"Di depan sana ada bengkel langganan saya Teh... saya suka ganti oli di sana." Rizal terdiam sebentar memikirkan bagaimana cara membawa motor Aya ke bengkel.
"Terus gimana atuh cara bawa motor ini ke bengkel?" tanya Aya.
"Gini aja Teh... Teteh bawa motor saya aja, Teteh bisa kan bawa motor saya, motornya sama-sama matic hanya beda pabrik aja hehehe..."
"Terus motor aku gimana?"
"Biar saya yang bawa aja Teh."
"Giamana cara bawanya kan mogok"
"Yah di dorong atuh teh masa di gendong hehehe...." Rizal tertawa lagi.
"Jauh ga bengkelnya?"
"Ngga kok deket paling dua ratus meter dari sini."
"Hayu lah Teh takut bengkelnya tutup kalau kesorean... nih kunci motornya Teh." Rizal menyerahkan kunci motor miliknya kepada Aya.
Mereka mulai berjalan menuju bengkel. Aya mengendarai motor Rizal dengan sangat pelan sementara Rizal mendorong motor Aya. Tadi Rizal bilang hanya dua ratus meter jarak bengkel itu tapi nyatanya lumayan jauh. Aya memperkirakan mungkin lebih dari lima ratus meter jarak bengkel dengan tempat motornya mogok tadi. Aya jadi merasa tidak enak dengan Rizal, beberapa hari ini pria itu menjadi penyelamat dari setiap masalahnya.
Mereka sampai di bengkel, bengkel itu berada di sisi jalan perempatan lampu merah, teknisi di bengkel itu mencoba memeriksa motor Aya terlebih dahulu agar bisa mengetahui penyebab motornya mogok. Rizal ikut mengawasi teknisi itu memeriksa motor Aya. Sementara Aya memilih duduk di bangku plastik yang ada di sana sambil melihat Rizal yang sedang berbicara dengan teknisi membahas tentang kerusakan motor Aya. Entahlah walaupun Rizal adalah orang yang baru Aya kenal tapi ia mempercayainya. Biarlah Rizal saja yang mengurus motornya karena ia sendiri tidak mengerti sedikit pun tentang motor, begitu batin Aya berucap.
Teknisi menjelaskan kepada Aya tentang kerusakan motornya, istilahnya motornya turun mesin. Ini disebabkan karena Aya yang jarang mengganti oli. Teknisi juga menjelaskan tentang biaya perbaikan motornya. Ternyata biayanya lumayan juga. Setelah ini Aya berjanji akan rutin mengganti oli tiap bulan. Perbaikan motor Aya ternyata tidak bisa selesai hari ini, motornya harus ditinggal untuk diperbaiki. Mau tidak mau Aya menyetujuinya.
"Rizal, maaf yah udah ngerepotin kamu, by the way makasih ya untuk semuanya, untung ada kamu yang nolongin," ucap Aya setelah perbincangan dengan teknisi selesai.
"Iya Teh sama-sama.... oya Teteh pulangnya biar saya antar saja ya," jawab Rizal yang dibalas anggukan Aya.
"Aku tuh pengen berterima kasih banget sama kamu, tapi ga tau gimana caranya." Aya sedang mengingat semua kebaikan Rizal.
"Saya ikhlas ko nolongin Teteh... Hmmm, tapi kalo Teteh maksa, Teteh bisa traktir saya kok," jawab Rizal dengan tersenyum.
"Serius, kamu mau ditraktir, hayu kamu mau makan apa?" Aya sumringah mendengar jawaban Rizal.
"Apa aja, terserah Teteh aja."
"Kira-kira enaknya makan apa ya?" tanya Aya sambil berpikir.
"Gimana kalau bakso aja Teh, soalnya saya tadi udah makan nasi."
"Sip setuju" seru Aya bersemangat.
Sepertinya bakso dapat mengobati kepenatan hari ini. Membayangkan semangkok bakso dengan tiga sendok sambal membuat kelenjar salivanya langsung bekerja memproduksi air liur dalam jumlah yang banyak, untung saja tidak sampai ngiler.
Mereka sampai di kedai bakso Lidah Goyang. Aya memesan semangkok bakso tanpa tambahan bihun atau mie sementara Rizal memesan mie ayam bakso. Padahal kan tadi dia bilang sudah makan nasi kok malah pesan mie ayam bukannya nasi dan mie sama-sama makanan yang kalorinya besar. Batin Aya berucap. Dua gelas berisi es dan dua minuman teh dalam botol lebih dulu disajikan di atas meja. Aya dan Rizal langsung meneguk minuman dingin itu, rupanya mereka berdua sama-sama merasa haus.
"Tadi untung kamu lewat ya, tadi pas motor mogok aku ga tau harus ngapain." Aya membuka percakapan.
"Iya Teh, kebetulan ya," jawab Rizal
"Kalau dipikir-pikir kita sering kali kebetulan ya." Aya mengenang tentang kebetulannya bersama Rizal beberapa hari ini.
"Iya ya, jangan-jangan kita jodoh," jawab Rizal spontan.
"Oops... maaf Teh bercanda doang." Rizal merasa ia kebablasan bicara. Aya hanya bisa tersenyum sinis, dia merasa agak sensitif kalau bicara tentang jodoh dia sedang tidak ingin membicarakan masalah jodoh karena akan membuat teringat akan lamarannya yang gagal.
"Oya kamu ga kerja?" Aya mengalihkan pembicaraan
"Ini barusan pulang kerja Teh."
"Ga ngojek?"
"Paling nanti sore atau malam aja soalnya mau ada keperluan yang dibeli." Sebenarnya hari ini Rizal memang ada keperluan untuk membeli sepatu untuk adiknya karena ia baru saja gajian, tidak sengaja ia malah melihat Aya di pinggir jalan dengan motor yang mogok.
"Btw kamu itu pekerja keras ya udah kerja terus ngojek online juga," ujar Aya
"Selagi ada waktu luang apa aja saya kerjain Teh... cleaning service, ngojek, ngajarin anak-anak latihan silat, kerja bangunan, kernet angkot, sopir angkot apa aja lah Teh yang penting kerja dan halal."
"Banyak banget kerjaan kamu, ga sekalian mandiin mayat juga," celetuk Aya.
"Hah, ko Teteh tau sih, iya bener kadang-kadang saya ikut memandikan mayat juga," jawab Rizal sambil tersenyum.
"What?? Serius?? Beneran??" Aya terkejut padahal tadi maksudnya ia hanya melempar lelucon, lelucon yang sering ia tonton di televisi.
"Iya serius." Rizal menjawab dengan pasti. Mulut Aya terbuka menganga dan matanya membulat reaksi dari keterkejutannya. Ekspresi Aya itu terlihat sangat lucu di mata Rizal membuat ia tertawa. Dan si mas penjual bakso yang sedang mengantarkan pesanan di meja mereka ikut tertawa juga.
Ih si Teteh ekspresinya lucu amat sih. Tapi kelihatan sangat manis. Rizal.
"Karena di zaman sekarang ini anak muda jarang ada yang mau belajar memandikan mayat, kebanyakan para pemandi mayat usianya sudah sepuh. Bayangkan kalau para pemandi mayat yang sudah sepuh itu sudah tidak ada, nanti tidak ada lagi yang akan memandikan mayat. Hukum memandikan mayat itu kan fardu kifayah. Maka anak muda seperti kita ini harus mulai belajar memandikan mayat dari sekarang ini."
"Wah kamu luar biasa ya benar-benar pria multitasking," ujar Aya penuh kekaguman.
.
.
.
.
.
Hmmmmm......