Luna gadis remaja yang pintar dan ceria diusianya yang terbilang masih muda dia dihadapkan dengan kenyataan keluarga yang berantakan dan ayahnya sakit parah yang membutuhkan banyak uang untuk penyembuhannya, dia mengorbankan segalanya demi kesembuhan sang ayah, sampai merenggut masa depannya. dia bekerja keras demi bisa menghidupi keluarga dan merawat ayahnya seorang diri sampai pada akhirnya yang ia lakukan merubah hidupnya. keputusan yang ia ambil demi ayahnya mengakibatkan banyak hati yang terluka namun ia tetap berusaha tegar untuk melewati semuanya.
dia terpaksa menjual dirinya demi mendapatkan uang untuk biaya operasa ayahnya semua itu bisa terjadi atas bantuan dokter yang menangani ayahnya.
Namun sampai semua itu terjadi dia tak pernah tau siapa lelaki yang sudah membelinya yang pasti lelaki itu sangat tampan. luna berusaha melupakan yang terjadi malam itu dan memulai kehidupan baru tetapi masalalu itu kembali yah lelaki itu muncul dikehidupannya dan itu membuat tak nyaman hidup luna, kehidupan masalalu luna yang kelam benar benar tak ingin kembali dikehidupan nya yang baru, dia tak ingin jika orang lain tahu dan memgambil harta yang berharga yang selama ini dia rahasiakan dari semua orang dia tak ingin kehilangan harta yang ia miliki untuk kedua kalinya. apakah rahasia dan harta yang ia sembunyikan itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putry Jubaidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menemukanmu
Saat lala membalikan badan dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri dia sangat terkejut dengan apa yang ada dihadapannya waktu seperti berhenti jantungnya berdetak kencang matanya melotot badannya seperti kaku tak bisa digerakan. Dia hanya berdiri mematung untuk sejenak masih tak percaya dengan yang ia lihat didepannya.
"Mba lala kenapa, perkenalkan ini bos saya" Nita menepuk pundaknya dan menyadarkan lala dari lamunannya
"Ohh iya maaf" Lala berusaha sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang padahal jantungnya mau copot saat itu
"Namamu Lala?, saya Billy, Billy Raditia Agatha" lelaki itu menyodorkan tangannya sambil melontarkan senyum mautnya kepada Lala
"Iya pak panggil saya Lala" sambil menjabat tangan Billy cukup lama mereka saling bersalaman karna Billy menahan tangan Lala, Lala tetap berusaha tenang sebisa mungkin tetap bersikap profesional.
"Pak mau disini aja apa keruangan bapak?" tanya Nita pada bosnya
"Keruangan saya saja" jawab Billy tak lupa ia melontarkan senyum mautnya ke Lala dan melepaskan tangan lala
"Mari mba Lala ikut kami keruangan pak Billy" ajak Nita.
Billy Raditia Agatha, dia adalah lelaki yang berada di villa bersama luna malam itu. tak menyangka kini mereka dipertemukan kembali dengan moment yang berbeda.
Mereka keluar berjalan menuju ruangan Billy
"Aduh kenapa sih harus ketemu sama dia Lagi, gua harus gimana, tenang Lala tenang hadapi semuanya dengan tenang jangan gegabah tetap bersikap profesional Lala" ucap lala dalam batin menyemangati dirinya sendiri
"Apa gua lari aja yah dari tempat ini, akhh gak mungkin nanti malah orang orang curiga dan nganggep gue aneh, ya ampun gua harus gimana ini, ya Tuhan kenapa sih harus kaya gini" batin Lala terus saja berpikir dia bingung dan kaget kenapa harus dia klientnya
Huuffftt
Lala menghembuskan nafasnya dia berusaha untuk tenang sepanjang perjalanan menuju ruangan Billy Lala terus berpikir untuk tenang dan sebisa mungkin profesiobal agar cepat beres dan segera pergi dari tempat ini.
Sesampainya diruangan
"Silakan duduk nona Lala" ucap Billy dengan senyum mautnya
"Terimakasih" diapun duduk menghadap Billy
"Nit tolong ambilkan minum untuk tamu kita" perintah Billy
"Baik pak"
"Ini pak daftar menu nya silahkan bapak periksa dulu" tanpa berlama lamaala memberikan list harga makanan kepada Billy
sebenarnya ia ingin cepat berlalu dari sini dan pergi dari tempat itu nafasnya terasa sesak sepertinya ruangan ini terasa pengap bagi Lala.
"Oke" Billy mulai sibuk dan memeriksa daftar menu yang ada di list
Cukup lama Billy memeriksa dan memilih menunya sehingga suasana terasa canggung mereka tak saling bicara.
CEKREK
Suara pintu dibuka memecah keheningan yang ada
"Permisi ini minumannya pak" Nita meletakkan minuman dimeja dan dia duduk disamping lala
Lala merasa lega setidaknya ia merasa tidak sendirian diruangan itu
"Oke saya sudah memilih ini semua yang saya mau" sambil menunjuk ke menu yang telah dia pilih
"Baik akan saya catat" jawab Lala
"Mau tambah berapa pak semuanya?"
"500 porsi lagi" jawab Billy
"Baik pak"
"Jadi berapa semuanya, saya akan bayar sekarang juga"
"Satu porsinya seharga 30.000 di X 3.500 jadi totalnya Rp. 105.000.000, kemarin mba Nita sudah menDp kan Rp. 25.000.000"
"Jadi sisa Rp. 80.000.000 lagi" potong Billy sebelum lala menyelesaikan bicaranya
"Benar pak"
"Berapa nomor rekeningmu?" tanya billy
"XXXXXXXX itu pak"
billy langsung mengambil handphone nya mencatat nomor rekening Lala
"Boleh minta nomor Handphone nya mba Lala, sepertinya internet sedikit ada gangguan jadi saya tidak bisa transfer sekarang"
"Buat apa yah pak?" Lala bertanya penuh heran pada Billy
"Saya akan transfer nanti siang kalau internetnya sudah bagus, untuk buktinya saya akan kirim ke WA mba lala" jawab Billy dengan senyum mautnya menatap ala
"Ini kartu nama saya pak, bapak bisa hubungi saya di nomor itu" Lala memberikan selembar kartu namanya dari dompet
"Terimakasih, untuk konsep nya biar nita yang akan menjelaskan padamu" billy mengambil kartu nama Lala dan langsung memasukannya kekantong baju nya.
"Negini mbaala, kami pesan makanan sebanyak itu bukan hanya untuk ditempat ini tapi untuk ditempatkan ke cabang - cabang lainnya juga karna tidak semua karyawan diundang kesini"
"Oh begitu jadi saya harus bagaimana?" tanya Lala
"Nanti pas hari H jam 6 pagi saya harap mba lala sudah selesaikan semuanya, jadi porsi makannya dibagi 3 porsi yah"
Saat nita menjelaskan ke lala mata Billy tak berpaling sedikitpun dari pandangan Lala, dia memperhatikan Lala tak ada gerakan yang lolos dari Billy, Lala yang menyadari hal itu dia merasa gugup dan membuatnya tak nyaman namun dia berusaha tak menghiraukannya dan tetap fokus pada penjelasan mba Nita.
"1000 porsi untuk disini, dan sisanya nanti untuk dicabang yang lain"
"Apa dari pihak kami yang nanti mengantar ke tempatnya apa diambil yah mba" tanya Lala seraya mendengarkan penjelasan nita
"Gak usah mba Lala biar nanti kami yang akan ambil sendiri, mba lala cukup siapkan saja semuanya"
"Baiklah kalau memang begitu saya paham" Lala pun menganggukan kepalanya menandakan dia mengerti dengan penjelasan nita
Nita cukup lama berbincang menjelaskan pada Lala.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang dijelaskan saya pamit pulang" ucap Lala
"Iya kami rasa sudah cukup tidak ada lagi perubahannya" jawab Nita
"Pak udah beres semuanya saya pamit keruangan dulu ya pak" ucap Nita pada bosnya dan langsung meninggalkan ruangan itu
"Ok" jawab Billy
"Kalau gitu saya juga pamit dulu" Lalapun berdiri dan beranjak dari tempat duduknya
Saat sedang berjalan hampir mendekati pintu langkah Lala terhenti tangannya ada yang memegang dari belakang saat berbalik dan melihatnya dia terkejut karna Billy yang menahannya dan memegang tangannya.
"Kenapa terburu buru?" dengan senyum khas nya senyum maut
"Saya ada urusan" Lala berusaha menarik tangannya
Namun Billy langsung menarik tangan Lala hingg menabrak tubuhnya, Billy menahan tubuh Lala sehingga Lala tidak bisa bergerak. mereka kini begitu dekat saling menatap mata mereka bertemu satu sama lain.
"Urusan apa, apakah penting" ucap Billy
"Lepaskan saya, tolong sopan sedikit ya pak Billy" dengan nada tinggi Lala mulai kesal
"Masih ingat aku?" Billy semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Lala dengan tetap saling menatap tak lupa senyum mautnya yang selalu tersungging dibibir membuat jantung Lala berdetak kencang
"Maaf saya tidak mengenal anda" Lala meronta melepaskan tubuhnya dari Billy dan berhasil lepas dari cengkraman Billy
"Hmmm,,,, " suara lirih Billy dengan senyum mautnya yang selalu menggoda setiap wanita yang melihatnya mata birunya begitu tajam menatap Lala
Billy berjalan menuju Lala sampai Lala tak bisa lagi lari tubuhnya terpojok ditembok ruangan itu
"Yakin?" tanya Billy dengan menempelkan kedua tangannya ketembok sehingga Lala tidak bisa berkutik lagi, mereka sangat dekat wajah mereka saling berhadapan.
"Anda jangan macam macam yah saya tidak mengenal anda" nada Lala sedikit meninggi sebenarnya dia sangat takut jantungnya seakan ingin lari dari tempatnya
"Aduh mati gua, dia mau ngapain lagi sih" Lirih Luna dalam batinnya
"Kalau begitu aku akan mengingatkannya" Billy mendekatkan wajahnya ke wajah luna dengan sangat dekat
"Maksud anda apa"? Luna memalingkan wajahnya jujur saja wajah pria itu sangat tampan dan sangat menggoda Lala tidak ingin sampai tergoda olehnya La berusaha melepaskan dirinya namun lelaki itu terlalu kuat sehingga Lala tak bisa melawannya
Billy memegang dagu Lala dan mengarahkan wajahnya ke Billy mereka kini saling bertatapan jarak mereka sangat dekat
CUP
Dengan cepat Billy mendekatkan Bibirnya mengecup manis bibir Lala bibirnya terasa hangat menyentuh bibir Lala, Lala tak sempat mengelak gerakan billy begitu cepat.
Mata lala melotot terkaget dengan yang dilakukan Billy padanya
PLAAAKKKKK
Lala menampar pipi Billy dan dia berhasil lepas dari Billy, dia langsung berlari meninggal ruangan itu tanpa menoleh sedikitpun ke belakang
Billy hanya tersenyum melihat Lala pergi meninggalkannya dia masih terus memandanginya sampai punggung Lala tak terlihat lagi.
"AKU MENEMUKANMU" Ucap lirih dalam batin Billy dengan senyum mautnya