NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 10

Riven menarik napas panjang. Tatapannya kembali jatuh pada kedua kaki Angie yang jenjang, berkulit putih seperti susu dipenuhi luka lecet, dan memerah karena darah semakin terlihat kentara. Untuk beberapa saat, Riven hanya diam.

Kemudian tanpa banyak bicara, pria itu mulai membersihkan luka-luka kecil tersebut satu per satu.

Gerakannya tenang. Telaten. Hampir terlalu telaten untuk seseorang yang baru mengenal Angie beberapa jam lalu. Kapas yang telah dibasahi antiseptik bergerak perlahan menyentuh kulit yang terluka.

Sesekali kening Riven berkerut ketika melihat bagian yang tampak lebih parah dari yang ia kira. Namun sepanjang proses itu, ia nyaris tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Justru sikap diam itulah yang membuat Angie semakin canggung. Entah kenapa, Riven terlihat seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.

Setelah selesai mengoleskan obat dan memasang plester pada bagian yang diperlukan, Riven mulai membereskan seluruh perlengkapan obat itu ke dalam kantong lagi. Botol antiseptik. Kapas. Salep. Semuanya dimasukkan kembali ke dalam kantong.

Lalu kantong itu disodorkannya kepada Angie.

“Bawa ini.”

Angie menerimanya dengan bingung. “Untukku?”

“Kalau lukanya masih terasa sakit nanti.” Kata Riven.

“Terima kasih.”

Riven hanya mengangguk singkat. Kemudian ia menutup pintu mobil. Angie mengira pria itu akan kembali masuk ke kursi pengemudi.

Namun ternyata tidak. Riven justru berjalan menjauh. Menyebrangi jalan yang hampir kosong menuju sebuah minimarket yang masih buka dua puluh empat jam.

Angie mengikuti sosoknya dengan pandangan heran. Hingga pria itu menghilang di balik pintu kaca minimarket.

Tinggallah Angie sendirian di dalam mobil. Perlahan ia menunduk dan memperhatikan kedua kakinya.

Luka-luka yang tadi terasa perih kini sudah dibersihkan dengan rapi. Hingga tanpa Angie sadari. Beberapa menit kemudian, pintu mobil kembali terbuka.

Riven masuk ke kursi pengemudi sambil membawa sebuah kantong baru. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkannya kepada Angie.

“Pakai itu.”

Angie berkedip. “Apa ini?”

Namun Riven sudah menyalakan mesin mobil. Seolah tidak berniat menjelaskan. Mobil itu perlahan bergerak mundur meninggalkan area parkir minimarket.

Dengan rasa penasaran, Angie membuka kantong plastik tersebut. Beberapa detik kemudian matanya membesar. Di dalamnya terdapat sepasang sandal flip-flop baru. Sederhana dan tidak mewah. Tapi nyaman untuk dipakai.

Jauh dari barang-barang mewah yang biasa digunakan orang seperti Riven. Namun justru karena itulah Angie tidak mampu menahan senyumnya.

“Pfft…” Ia buru-buru menutup mulut. Bahunya sedikit bergetar menahan tawa.

Riven yang sedang fokus menyetir melirik sekilas.

“Ada apa?”

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa tertawa?”

Angie menggeleng. Namun senyum di wajahnya perlahan memudar. Dan tanpa peringatan. Air mata justru jatuh dari kedua matanya. Setetes. Lalu setetes lagi.

Senyum yang tadi masih ada berubah menjadi tangisan yang tidak mampu ia tahan. Angie segera mengusap wajahnya.

“Maaf.” Namun air mata itu terus mengalir.

Melihat bahu Angie bergetar. Riven langsung mengerem. Decit mobil terdengar. Mobil pun segera menepi, berhenti di tepi jalan yang lengang dan mesin masih menyala.

Namun suasana di dalam mobil tiba-tiba menjadi sunyi. Riven menoleh. Terlihat jelas keterkejutan di wajahnya.

“Kenapa kau menangis?”

Angie tertawa kecil di sela air matanya. Tawa yang terdengar jauh lebih menyedihkan daripada tangisan itu sendiri.

“Astaga…” Ia mengusap pipinya. “Sepertinya aku terlalu terbawa suasana.”

Riven masih tidak mengerti. “Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

“Tidak.” Angie menggeleng cepat. “Tidak ada yang salah.” Lalu ia menatap sandal flip-flop yang masih berada di pangkuannya. Dan saat berbicara lagi, suaranya terdengar jauh lebih lirih.

“Hanya saja…” Air mata kembali jatuh. “Kau baik sekali. Terlalu baik.”

Riven terdiam.

“Ayahku bahkan tidak pernah memperlakukan putrinya seperti ini.” Suara Angie mulai bergetar.

“Sementara seseorang yang baru mengenalku beberapa jam sudah memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan tidak pernah diperhatikan oleh keluargaku sendiri.”

Hening. Kalimat itu menggantung di udara. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Riven tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya meraih kotak tisu yang berada di samping kursi. Mengambil beberapa lembar. Lalu menyodorkannya kepada Angie.

“Terima kasih…” bisik Angie. “Maaf. Aku pasti terlihat aneh.”

“Tidak.” Jawaban Riven datang pelan. “Tidak aneh.”

Angie kembali menunduk. Namun kali ini tangisannya tidak lagi bisa dibendung. Seolah-olah itu adalah perasaan yang selama ini ia pendam dan kini menemukan celah untuk keluar.

Tangisan itu tidak keras. Tidak histeris. Tidak pula disertai teriakan. Justru karena begitu pelan, tangisan itu terasa jauh lebih menyakitkan. Sesekali bahunya bergetar.

Sesekali ia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan suara yang ingin keluar. Namun semakin ditahan. Semakin besar sesak yang memenuhi dadanya. Riven tidak bertanya. Tidak memaksa. Tidak mencoba mencari tahu alasan di balik tangisan itu. Ia hanya duduk diam. Menemani gadis yang baru dikenalnya beberapa jam lalu. Sesekali menyerahkan tisu ketika Angie membutuhkannya.

Malam semakin larut.

Lampu jalan memancarkan cahaya lembut ke dalam kabin mobil.

Dan di tengah jalanan kota yang sepi itu, seorang gadis cantik dengan kulit seputih susu menangis dalam diam.

Sementara seorang pria yang biasanya tidak peduli pada urusan orang lain memilih tetap tinggal di sana.

Menunggu.

Membiarkan gadis itu meluapkan semua kesedihan yang selama ini terlalu lama ia pendam. Cukup lama mobil mewah itu terparkir di tepi jalan yang lengang.

Malam terus berjalan, sementara kota perlahan tenggelam dalam keheningan. Di dalam mobil, tangisan Angie akhirnya mulai mereda.

Napasnya yang semula tersengal kini berangsur tenang. Sesekali ia masih mengusap sudut matanya, berusaha menghilangkan jejak air mata yang tersisa.

Riven yang sejak tadi menunggu dengan sabar akhirnya memecah keheningan.

“Kau sudah siap pulang?” Suaranya tenang. Tidak memaksa. Tidak pula terdengar tergesa-gesa.

Angie mengangguk pelan. “Sudah.”

Riven menyalakan kembali mesin mobilnya. Dan mobil itu pun kembali melaju membelah jalanan malam dengan kecepatan yang stabil.

Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan yang terjadi. Entah karena kelelahan atau karena keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Hingga akhirnya mobil memasuki kawasan pemukiman yang jauh berbeda dari pusat kota. Jalanan semakin sempit. Bangunan-bangunan berdiri rapat satu sama lain.

Rumah-rumah kecil saling berdempetan tanpa banyak ruang tersisa. Beberapa gang bahkan hanya cukup dilalui sepeda motor.

Saat itulah Riven mulai memahami mengapa Angie membutuhkan waktu begitu lama untuk kembali ke kafe. Rumahnya benar-benar berada jauh dari pusat kota. Dan jauh dari kehidupan yang selama ini dikenal Riven.

Mobil terus bergerak perlahan hingga akhirnya berhenti di area yang sedikit lebih luas di dekat mulut gang.

“Di sini?” tanya Riven.

Angie mengangguk. “Ya.”

Lalu menunjuk ke arah gang kecil yang membentang di depan mereka. “Aku harus masuk lewat sana untuk sampai ke rumah.”

Riven mengikuti arah telunjuk Angie, itu cukup sempit dan gelap. Mobilnya bahkan tidak mungkin bisa masuk.

“Hm.” Riven hanya mengangguk pelan. Tatapannya sempat menyapu lingkungan sekitar. Rumah-rumah sederhana. Kabel listrik yang menjuntai. Dinding-dinding yang mulai kusam dimakan usia.

Sebuah pemandangan yang sangat berbeda dari lingkungan tempat ia dibesarkan.

“Terima kasih untuk malam ini,” ucap Angie tulus.

Tangannya menggenggam kantong obat yang tadi diberikan Riven.

“Besok pagi aku akan mengantarkan kemejamu ke kafe milik temanmu.”

“Baik.”

“Dan… terima kasih sudah mengantarku pulang.”

“Tidak perlu dipikirkan.”

Angie tersenyum kecil. Kemudian ia membuka pintu mobil dan turun. Kini sandal yang dibelikan Riven menggantikan sepatu hak tinggi yang ia tenteng di tangannya.

Langkahnya jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya. Meski sesekali ia masih meringis karena luka di kakinya.

Riven memperhatikannya beberapa saat, hingga gadis itu menghilang di balik tikungan gang. Lalu perlahan Riven memundurkan mobil, dan berputar arah lalu meninggalkan kawasan tersebut.

Lampu belakangnya semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di ujung jalan.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!