NovelToon NovelToon
Bai Anshu STORY.

Bai Anshu STORY.

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.

Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?

Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?

Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?

Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Malam ini untuk pertama kalinya, tiga bersaudara belajar membaca dan menulis.

Dengan disaksikan oleh ayah ibu yang sedang menghaluskan bahan-bahan sabun, tiga bersaudara belajar dengan tekun.

Hanzi dan Jinyu, serius menyimak apa yang diajarkan kakak perempuan mereka.

Terlebih, metode belajar yang digunakan oleh Anshu, tidak membuat kegiatan itu menjadi membosankan. Sehingga Hanzi dan Jinyu, tak merasakan kejenuhan walau belajar selama tiga jam lamanya.

Kisaran pukul sepuluh malam, aktifitas dirumah keluarga Bai cabang kedua barulah usai.

Pelita minyak dipadamkan, selimut ditarik, mata terpejam menjemput mimpi, mengistirahatkan raga yang seharian lelah bergerak.

Kala mentari masih jauh diperaduan, tiga bersaudara sudah terjaga. Mereka memulai latihan fisik guna memperkokoh pondasi tubuh.

Chen Muwan sibuk didapur, Bai Dashan turun membantu.

"Jika beban ini sudah terasa ringan, kalian harus menambahnya lagi." ujar Anshu, mengikat kantung pasir dikaki adik bungsunya.

Tiga bersaudara berlari mengelilingi rumah.

Awal latihan, Anshu mencontohkan gerakan dasar agar tubuh terbiasa dan berlari keliling rumah sebanyak lima putaran.

Setelah dua hari, porsi latihan ditambah dengan mengitari halaman sebanyak sepuluh putaran.

Selesai dengan itu, lanjut memperkokoh kuda-kuda sembari mengatur laju pernapasan.

Dua jam, waktu yang ditetapkan oleh Anshu setiap hari untuk dimasa awal latihan ini.

"Masih sanggup...?" seru Anshu, melihat kaki kedua adiknya mulai bergetar.

"Ya...!" jawab kompak dua bocah lelaki itu.

Berkat bantuan air suci, dan suntikan energi kayu dari Bai Anshu. Mudah bagi Hanzi serta Jinyu, mengembalikan vitalitas tubuh mereka.

Gedebuk

Setelah tiga puluh menit, Hanzi dan Jinyu tumbang juga. Keduanya jatuh terduduk dengan bermandikan peluh.

"Untuk pemula itu sudah bagus." Anshu menyemangati.

Air suci gadis kecil itu berikan, lalu mengomandoi untuk melakukan gerakan yang lain pada kedua adiknya.

Sang surya mulai mengintip diujung bukit, latihan pun diakhiri.

Tiga bersaudara membersihkan badan secara bergantian, lalu sarapan bersama orangtua.

Selanjutnya mereka berbagi tugas.

Bai Dashan menguleni adonan sabun, setelah semua bahan diracik oleh putrinya.

Hanzi dan Jinyu mengurusi kebun.

Bai Anshu bersama sang ibu mencuci pakaian.

"Woah, noda dibajunya hilang. Baunya juga sangat harum, busanya banyak." seru antusias Chen Muwan, melihat pakaian kusamnya terlihat lebih bersih setelah dicuci memakai sabun.

"Selama menggunakan bahan berkualitas dan takarannya pas, sabun buatan kita akan seratus kali lipat lebih ampuh menghilangkan noda dari pada kacang mandi."

Kelar urusan mencuci, ibu dan Anshu mencetak adonan sabun yang sudah kalis.

Kali ini mereka membuat ukuran ekonomis dengan sasaran pasar para kaum mendang mending.

Semua sabun yang diproduksi kemarin, dibungkus kertas minyak lalu disimpan kedalam kotak keranjang bambu.

Hingga tiba masa untuk makan siang, semua sabun rampung dicetak dan jemur, serta dikemas.

Suara keramaian terdengar dari berbagai arah jalanan desa, mengalihkan perhatian keluarga Bai cabang kedua yang tengah ngaso bersantai diberanda.

Anshu dan Hanzi sigap berdiri, menyambar keranjang berisi parang, cangkul kecil dan sabit.

Kepala desa bersama warga berseru, menyapa Dashan serta Muwan.

Usai berbasa-basi, rombongan penduduk pergi mendaki dengan dipimpin Anshu dan Hanzi.

Didalam kelompok itu turut hadir kakek dan paman Bai, serta Suji juga Lushi.

"Shu-ya, apa gunanya tanaman yang membakar lidah ini..?" tanya bibi Pei, istri kepala desa saat Anshu memetik cabai.

"Nenek Pei, ini cabai, gunanya------

Mengalir lah penjelasan dari bibir mungil Bai Anshu.

"Akar ilalang bisa menjadi pemanis pengganti gula juga obat panas dalam serta demam."

"Pucuk willow bisa ditumis, atau dibuat panekuk."

"Daun muda Hawtrhon dapat diseduh menjadi teh yang mampu memperlancar peredaran darah dan menghentikan diare."

"Tapi buahnya asam sekali..!" sahut penduduk.

"Walau sangat asam tapi bisa dijadikan manisan, arak, permen, selai dan cuka masakan."

"Benarkah..?"

Bai Anshu mengangguk.

"Ini jamur terompet, enak disup, goreng, atau pun ditumis."

"Ini Astralagus...!"

"Itu Hong Jing...!"

"Ini daun mint...!"

Bai Anshu terus mengoceh, setiap kali menemukan tanaman konsumsi.

"Woah, Janggelan..!" pekik senang Anshu.

"Itu apa gunanya...?"

"Ini bisa untuk membuat cincau hitam yang melancarkan pencernaan, mengenyangkan, membantu kontrol gula darah, dan jika dikonsumsi secara rutin, bisa mencegah penuaan dini. Jadi kita akan terlihat awet muda."

Beragam umbi juga dipanen, berikut buah-buahan, kastanya, hickory, almond liar dan kenari.

Saat rombongan tiba disebuah danau yang ditumbuhi teratai, Bai Anshu dengan semangat empat lima mengatakan jika umbi bunga cantik itu bisa dimakan.

"Banyak tanaman dapat diolah menjadi makanan lezat yang nantinya bisa dijual, seperti cincau hitam. Itu sangat cocok dikonsumsi saat musim panas." beritahu Anshu sembari memetik biji teratai.

Tanpa terasa, saking asiknya mengumpulkan hasil alam, rombongan itu sudah masuk jauh kedalam hutan.

"Kakek, paman, bagaimana kalau kita berburu babi...?" ajak Anshu pada tuan tua Bai dan Sanlang.

"Shu'er, kita tidak memiliki senjata dan kemampuan, babi hutan itu binatang buas yang berbahaya." balas kakek Bai.

"Kita membuat jebakan dengan umpan daging saja."

Para pria lintas generasi dirombongan itu mengerutkan alis mereka serentak.

Anshu menjelaskan apa yang harus dilakukan untuk membuat perangkap hewan buas.

Semua setuju, lalu berbagi tugas.

Ada yang mencari bambu, menangkap hewan untuk umpan, menggali lubang, mengumpulkan ranting dan membuat penanda.

Setelah semua siap, lubang sedalam satu meter lebih di pasangi bambu runcing yang bagian tajamnya menghadap keatas.

Tupai dan burung disembelih, badannya dicincang lalu disebar diatas ranting dedauan yang menutupi lubang bersama darahnya.

Tak lupa, Anshu memercikkan air suci agar energi spiritual didalamnya dapat mengundang minat hewan buruan.

Selesai dengan itu, rombongan kembali kedesa guna membagi dan mengolah hasil hutan dibalai kampung.

"Untuk Janggelan harus dikeringkan dulu sebelum diolah." komando Anshu sembari memilah apa saja yang kudu dijemur.

Setelah pembagian hasil secara merata, pelatihan pengolahan pun dimulai.

Hickory, kastanya, almond, kenari, dan herbal murah, semua dibeli Bai Anshu.

Untuk herbal berharga dikumpulkan, lalu dijual kekota oleh Pei Dayan, kakek Su dan paman Bai Sanlang.

"Ah, jadi semua herbal ini bisa dibuat bumbu masakan..?" komentar para ibu-ibu, kala mencicipi tumisan dan sup sayuran.

"Bawang putih ditoko sangat mahal, dengan adanya bawang liar ini kita bisa membuat makanan enak untuk keluarga." ucap senang nenek Yu.

Saat petang merayap, pelatihan selesai bertepatan dengan kembalinya Pei Dayan, kakek Su dan paman Bai Sanlang.

Hasil penjualan herbal sebesar dua ratus tael, lalu dibagi rata kesemua warga yang ikut perburuan.

Untuk Bai Anshu, gadis kecil itu menolak bagiannya. Alhasil, uang pembelian kacang-kacangan dan herbal murah dikembalikan oleh warga.

Dengan menggunakan obor, para lelaki dewasa mengecek perangkap kehutan.

Lonjakan kebahagiaan kembali menguar, kala dua babi liar masuk kedalam perangkap.

Untuk kali ini Anshu tak menolak jatah daging. Bahkan ia juga meminta bagian jeroan dan kepalanya untuk tidak dibuang.

Anshu akan mengajari para ibu-ibu membuat babi rebus dengan dua bahan itu, agar kelak bisa dijadikan pilihan sebagai mata pencaharian.

1
Anna Setyo
up yg banyak thor biar puas bacanya
SENJA
mantabs lah nambah pekerja terus 👌
Erna Fkpg
tetap semangat thor dan terimakasih untuk upnya 😘😘😘
Datu Zahra
tumben banyak typo thor...?
Delia ATA: Sudah direvisi ya kak 🫰

Terimakasih sudah mengoreksinya.
total 1 replies
Datu Zahra
Aku juga beruntung karena dapat bacaan keren dan seru lagi 🤩
Erna Fkpg
keberuntungan keluarga bai dan Chen dan seluruh desa
Dewisiregar
up thor yang banyak, tambah seru ceritanya💪🙏👍
Maria Lina
kok 2 thor kmrin 3 bab kurang ni
vipp
semangat thor
Rai Gojess
lagi thor, kenapa ceritamu ini best sekali, koin ku sdh habis, belum top up..tunggu ya aku top up
SENJA
mantabs maju terus bisnis sabun 👌
Datu Zahra
Kurang kak 🤪
SENJA
buseh bisnis baru lagi
Datu Zahra
Selama ada air suci, apa pun paati menghasilkan banyak dan enak
Datu Zahra
Murong Canfeng jpdohnya Anshu kek'y 🤭
SENJA
songong sih lu padab🤣
Fauziah Daud
trusemangattt... seru
Chen Nadari
mantulll Thorr
Dewiendahsetiowati
kayak dikit deh authornya nulis,apa ceritanya bagus jadi gak sadar sudah habis bacanya😭😭
SENJA
bagus jangan kasih kendor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!