NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pertarungan Akal

Kepergian Bagas dari Gedung Artha Mas meninggalkan kekosongan yang mendalam, bukan hanya di hati Naya, tapi juga dalam jalannya operasional perusahaan. Meski Pak Ardiansyah berpikir keputusannya sudah benar dan Bagas pergi karena sadar diri, perlahan namun pasti, masalah-masalah rumit mulai bermunculan kembali. Strategi penghematan yang dibuat Bagas mulai berantakan karena tidak ada yang mengelola dengan teliti, dan mitra-mitra lama mulai terlihat dingin dan ragu. Namun, masalah itu hanyalah awan kecil dibandingkan badai besar yang sedang disiapkan oleh musuh bebuyutan mereka.

Rian Adhitama, yang merasa puas telah berhasil membuat Bagas pergi dan memisahkannya dari Naya, ternyata belum berhenti berbuat jahat. Dendamnya pada Pak Ardiansyah yang memecatnya secara tidak hormat, serta rasa irinya yang tak kunjung padam, berubah menjadi niat jahat untuk menghancurkan perusahaan itu sampai ke akar-akarnya. Ia tahu seluk-beluk sistem dan cara kerja Artha Mas karena pernah menjadi bagian di dalamnya. Dengan modal pengetahuan itu dan koneksi gelap yang ia miliki, Rian menyusun rencana penipuan besar-besaran yang bisa membuat perusahaan itu bangkrut seketika dan nama baiknya hancur lebur di mata dunia bisnis.

Rian mendirikan perusahaan samaran dengan nama yang mirip, lalu menawarkan kerja sama besar dengan nilai miliaran rupiah. Ia menjanjikan keuntungan berlipat ganda, bahan baku murah, dan jaminan pasar yang luas. Di balik layar, ia memanipulasi dokumen, memalsukan tanda tangan, dan mengatur sedemikian rupa sehingga saat transaksi berjalan, uang perusahaan Artha Mas akan lari begitu saja ke kantongnya, dan barang yang diterima ternyata palsu atau tidak bernilai sama sekali.

Pak Ardiansyah dan tim manajemennya yang sedang lengah karena kehilangan otak cerdas seperti Bagas, tertipu habis-habisan. Dokumen terlihat rapi, data terlihat sah, dan janji manis Rian yang disampaikan lewat perantara terdengar sangat meyakinkan. Kesepakatan besar pun ditandatangani, dan dana besar mulai dicairkan bertahap.

Namun, nasib berkata lain. Di tempat sederhana tempat Bagas tinggal sekarang, berita-berita bisnis selalu ia ikuti dengan cermat lewat koran dan berita daring. Ia tidak bisa memutuskan rasa cintanya pada Naya, dan itu berarti ia juga tidak bisa memutuskan kepeduliannya pada perusahaan tempat wanita itu berada dan tempat ia pernah mengabdikan diri.

Suatu sore, saat membaca laporan penawaran kerja sama yang dimuat di surat kabar bisnis, mata Bagas menangkap sesuatu yang janggal. Nama perusahaan mitra baru itu, pola angkanya, cara penyusunan perjanjian.

Semuanya mengingatkan Bagas pada gaya kerja Rian. Insting tajamnya langsung bereaksi. Ia tahu betul bagaimana cara berpikir licik mantan manajer itu.

Bagas segera menggali informasi lebih dalam. Ia menghubungi kenalan-kenalannya di dunia bisnis, memeriksa latar belakang perusahaan baru itu, menelusuri jejak dokumen, dan menganalisis pergerakan keuangannya. Semakin ia teliti, semakin bulat keyakinannya. Ini jebakan besar. Ini rencana jahat Rian untuk membalas dendam. Dan kalau rencana ini berhasil, Artha Mas tidak hanya rugi uang, tapi bisa digugat secara hukum, dicap penipu, dan hancur nama baiknya selamanya.

"Rian... kamu memang tidak pernah berubah," gumam Bagas dengan mata menyala tajam. "Kamu pikir karena aku pergi, tidak ada lagi yang bisa menghentikanmu? Kamu salah. Selama Naya dan ayahnya masih ada di sana, selama mereka dalam bahaya, aku tidak akan diam saja."

Bagas berada di persimpangan sulit. Ia sudah berjanji akan pergi, sudah berjanji tidak akan ikut campur lagi, dan sudah berusaha mengikis habis keberadaannya dari kehidupan mereka. Tapi melihat bahaya mengancam nyawa masa depan Naya, ia tidak punya pilihan lain. Cinta sejati bukan hanya soal bersama saat senang, tapi juga melindungi dari jauh saat bahaya datang, meski harus menelan rasa sakit karena kembali lagi.

Malam itu juga, Bagas bekerja tanpa kenal waktu. Di ruangan sempitnya, diterangi lampu meja sederhana, ia menyebarkan berkas-berkas, peta alur transaksi, dan peraturan hukum. Ia harus bekerja sendiri, diam-diam, dan cepat. Waktu sangat sedikit, pencairan dana tahap akhir yang nilainya paling besar dijadwalkan lusa hari. Kalau sampai uang itu keluar, semuanya selesai.

Bagas mengingat setiap celah kelemahan yang ada. Ia mengingat gaya penipuan yang biasa dipakai Rian. Ia menyusun skema pertahanan sekaligus bukti pemalsuan yang dilakukan Rian. Ia harus membuktikan bahwa perusahaan mitra itu palsu, bahwa dokumennya dimanipulasi, dan bahwa di balik semua ini ada tangan jahat Rian yang berusaha menjatuhkan.

Malam berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti malam lagi. Bagas tidak tidur, hampir tidak makan. Matanya merah karena lelah, tubuhnya pegal, tapi otaknya tetap berputar cepat, tajam, dan jernih. Ia menyusun strategi langkah demi langkah: di mana letak kesalahan dalam perjanjian, pasal mana yang bisa membatalkan kerja sama, bukti mana yang bisa dipakai untuk melaporkan balik, dan bagaimana cara memutus aliran uang sebelum terlambat.

Di sisi lain, di Gedung Artha Mas, suasana mulai panik. Beberapa staf keuangan mulai menemukan kejanggalan, tapi tidak ada yang cukup paham untuk memahami di mana letak masalahnya atau bagaimana cara mengatasinya. Pak Ardiansyah mondar-mandir cemas, wajahnya pucat pasi. Ia merasa ada yang salah, tapi ia tidak punya kuncinya. Ia teringat Bagas. Untuk kesekian kalinya, ia sadar betapa besar kekosongan yang ditinggalkan pemuda itu. Kalau saja Bagas ada di sini. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk memanggil pemuda itu kembali.

Naya pun merasakan kepanikan itu. Ia tahu bahaya besar sedang mengancam. Ia tahu ayahnya sedang terjebak. Di tengah kekacauan itu, hatinya berteriak memanggil satu nama: Bagas.

Hanya Bagas yang bisa menyelamatkan mereka. Hanya Bagas yang cukup cerdas, cukup teliti, dan cukup paham seluk-beluk masalah rumit begini. Tapi Bagas sudah pergi.

Malam kedua, hujan deras kembali mengguyur kota, seolah turut merasakan ketegangan yang terjadi. Di kamar sempitnya, Bagas akhirnya meletakkan pulpennya. Di hadapannya kini terbentur berkas lengkap. Laporan analisis jebakan, bukti-bukti kuat pemalsuan, draf pembatalan perjanjian, hingga langkah-langkah hukum untuk menangkap Rian. Semuanya tersusun rapi, sistematis, dan tak terbantahkan. Ia telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia telah memenangkan pertarungan akal melawan Rian, jauh sebelum pertempuran itu benar-benar terjadi.

Tapi satu masalah tersisa, bagaimana cara menyampaikan ini? Bagaimana cara masuk kembali ke gedung itu, ke ruangan itu, ke hadapan Pak Ardiansyah yang telah mengusirnya dan menghinanya?

Bagaimana cara memberi tahu Naya bahwa ia ada di sini, bahwa ia berjuang lagi demi mereka, meski ia sudah dibilang "tidak tahu diri"?

Bagas menarik napas panjang, merapikan berkas-berkas itu menjadi satu map besar. Ia tahu risikonya. Ia tahu ia akan kembali dihina, diragukan, atau dianggap datang untuk mencari untung lagi. Tapi itu tidak penting. Yang penting satu hal, menyelamatkan Naya dan ayahnya, menyelamatkan nama baik perusahaan yang dulu pernah menjadi rumahnya.

"Biarlah aku dianggap apa saja," gumam Bagas pelan sambil menatap jendela yang berembun terkena hujan. "Asalkan kalian selamat... asal kalian aman... aku rela datang lagi, rela dipermalukan lagi, rela berjuang lagi."

Di saat yang sama, di rumah mewahnya, Rian tertawa lebar sambil meneguk minumannya. Ia sudah membayangkan Pak Ardiansyah berlutut karena bangkrut, membayangkan nama besar Artha Mas tercoreng kotor, dan membayangkan Naya menangis hancur kehilangan segalanya. Ia merasa menang telak. Ia merasa akalnya paling hebat. Ia tidak tahu, di sudut lain kota, ada pemuda yang dulu ia anggap sampah itu baru saja meruntuhkan seluruh rencana jahatnya hanya dengan kerja keras, ketelitian, dan kecerdasan yang jauh melebihi dirinya.

Pagi esok harinya, saat matahari mulai terbit di ufuk timur, Bagas berdiri tegak di depan gerbang besar Gedung Artha Mas. Di tangannya tergenggam map berisi nyawa masa depan perusahaan itu. Wajahnya lelah tapi matanya berkilap penuh tekad. Ia kembali bukan sebagai OB, bukan sebagai Staf Ahli, dan bukan sebagai kekasih. Ia kembali sebagai satu-satunya harapan penyelamat. Dan pertemuan yang paling berat, paling emosional, dan paling menentukan nasib pun tinggal selangkah lagi.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!