NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Reinkarnasi Kaisar Wang Hao

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Misteri / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Resep dan Kedai Teh

Wang Hao memutuskan untuk bermeditasi selama dua jam di dalam gudang batu. Energi spiritual di Kota Lanyu masih terasa tipis, tetapi teknik pernapasannya yang telah disempurnakan selama puluhan ribu tahun tetap mampu menyerap setiap partikel yang tersedia. Lautan spiritualnya perlahan menampung tetes demi tetes energi, memadatkannya di dasar, dan memperkuat fondasi lapisan pertama.

Ketika matahari sudah naik lebih tinggi, Wang Hao membuka matanya. Ia bangkit dari dipan batu, merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu melangkah keluar dari gudang.

Di halaman belakang toko, Gu Yan sedang memeriksa setumpuk tanaman obat yang baru saja dikirim oleh pemasok. Pria tua itu mendongak ketika mendengar langkah kaki Wang Hao, lalu menegakkan tubuhnya sambil menyeka peluh di dahi dengan lengan baju.

Wang Hao menatapnya. "Siapa nama Anda?"

Gu Yan terkekeh. "Kita sudah berkenalan tadi. Tapi rupanya kau tidak mengingatnya." Ia meletakkan tanaman obat di tangannya ke atas meja. "Gu Yan."

"Tuan Gu." Wang Hao berjalan melewati Gu Yan menuju pintu depan toko. Ia berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh ke arah etalase yang dipenuhi botol-botol ramuan. "Aku bisa memberikan resep, bukan ramuan, tapi pil."

Gu Yan mengangkat alisnya. "Pil? Alkemis yang bisa membuat pil sangat langka di kota ini. Bahkan Sekte Awan Ungu hanya punya dua alkemis tingkat satu."

"Itu urusanmu untuk mencarinya." Wang Hao mengulurkan jari telunjuknya ke arah salah satu botol ramuan pencahar di etalase. Cairan di dalamnya berwarna cokelat keruh dengan endapan tebal di dasar botol. "Formula yang akan saya berikan adalah pil pencahar tingkat rendah, namun khasiatnya tidak akan seburuk milik anda."

Gu Yan menatap botol yang ditunjuk Wang Hao, lalu kembali menatap pemuda itu dengan raut yang sulit diartikan. "Pil pencahar? Itu obat paling dasar. Bahkan tabib biasa bisa membuatnya."

"Tapi tidak ada yang bisa membuatnya benar-benar bersih dari efek samping." Wang Hao menurunkan tangannya. "Pil saya tidak akan menyebabkan kram perut atau muntah setelah diminum. Bandingkan dengan ramuan anda yang membuat pasien terbaring selama setengah hari."

Gu Yan terdiam. Ia tahu persis keluhan para pembeli tentang ramuan pencaharnya. Setiap kali seseorang meminumnya, mereka memang sembuh dari sembelit, tetapi harus menahan sakit perut yang luar biasa selama berjam-jam.

"Jika menginginkannya, cari alkemis minimal tingkat satu yang berpengalaman." Wang Hao berbalik dan melangkah keluar dari toko. "Jika menemukannya, beritahu aku. Sekarang aku ingin melihat-lihat kota ini."

Ia berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.

Kemudian Wang Hao berjalan perlahan di sepanjang jalan batu utama sambil mengamati setiap toko, setiap gang, dan setiap bangunan yang ia lewati. Pikirannya terus mencatat setiap detail kecil yang bisa berguna di kemudian hari.

Di persimpangan pertama, ia melihat sebuah toko senjata dengan papan nama kayu bertuliskan "Baja Seribu Purnama". Etalasenya menampilkan pedang, tombak, dan belati dengan kualitas yang bervariasi. Wang Hao berhenti sejenak di depan toko itu, memperhatikan teknik penempaan yang terlihat dari alur-alur logam di bilah pedang yang dipajang.

"Teknik penempaan standar..." gumamnya pelan. "Tidak cukup pendinginan bertahap."

Ia melanjutkan perjalanan.

Di persimpangan kedua, ia melewati sebuah gedung besar dengan papan nama "Balai Lelang Kota Lanyu". Bangunan itu memiliki dua penjaga berseragam ungu di pintu depan, menunjukkan hubungannya dengan Sekte Awan Ungu. Wang Hao memperlambat langkahnya sejenak, mengamati para kultivator yang keluar masuk gedung itu, lalu melanjutkan berjalan.

Ia tidak tertarik masuk sekarang. Balai lelang hanya berguna jika ia memiliki sesuatu untuk dijual atau dibeli. Saat ini ia tidak punya keduanya.

Di persimpangan ketiga, Wang Hao berhenti. Di hadapannya berdiri sebuah kedai teh dua lantai dengan papan nama "Kedai Teh Bulan Jatuh". Dari dalam terdengar suara percakapan ramai dan aroma teh yang cukup sedap.

Wang Hao melangkah masuk.

Lantai pertama kedai itu dipenuhi oleh meja-meja kayu bundar yang dikelilingi oleh para kultivator dan pedagang. Beberapa di antara mereka berbicara dengan suara keras tentang harga batu roh, beberapa lagi berbisik-bisik tentang konflik antar klan, dan satu meja di pojok diisi oleh sekelompok kultivator muda yang tertawa-tawa sambil minum arak.

Wang Hao memilih meja kosong di sudut dekat jendela. Seorang pelayan perempuan berjalan mendekat dan meletakkan cangkir teh di atas meja tanpa diminta.

"Aku tidak memesan apa pun," kata Wang Hao datar.

Pelayan itu tersenyum tipis. "Teh ini gratis untuk pengunjung baru. Pemilik kedai selalu menyambut tamu pertama dengan teh gratis."

Wang Hao menatap cangkir itu sejenak, lalu mengangguk kecil. Pelayan itu pergi, dan Wang Hao mulai menyesap tehnya perlahan sementara telinganya mendengarkan setiap percakapan di sekitarnya.

Di meja sebelah kanannya, dua orang kultivator berjubah abu-abu sedang berbicara tentang sesuatu yang membuat Wang Hao tertarik.

"Aku dengar Sekte Awan Ungu akan membuka seleksi murid baru dalam tiga bulan ke depan," kata kultivator pertama yang bertubuh kurus.

Kultivator kedua yang lebih gemuk mengangguk. "Ya, tapi persyaratannya semakin ketat. Tahun lalu mereka hanya menerima dua puluh murid dari tiga ratus pendaftar."

"Aku sudah mencapai Kondensasi Qi lapisan keempat. Mungkin tahun ini adalah kesempatanku."

"Lapisan keempat belum cukup, Saudara. Kau harus minimal lapisan kelima untuk bisa bersaing. Dan itupun belum menjamin. Para kultivator dari klan-klan besar di kota lain pasti akan ikut mendaftar."

Wang Hao mencatat informasi itu dalam benaknya.

Di meja lain, sekelompok pedagang sedang membahas harga batu roh yang terus naik.

"Harga batu roh tingkat rendah sekarang sudah mencapai tiga koin emas per butir," keluh seorang pedagang berjubah cokelat. "Dua bulan lalu masih dua koin emas. Kenaikan ini tidak masuk akal."

Pedagang lain menghela napas. "Semua gara-gara tambang batu roh di Gunung Suoluo yang diserang binatang iblis. Produksi menurun drastis. Jika terus begini, kita semua akan bangkrut."

Wang Hao menyesap tehnya lagi. Harga batu roh yang naik berarti kesempatan baginya untuk menghasilkan uang. Ia bisa membuat ramuan, pil, atau jimat yang dijual dengan imbalan batu roh, bukan koin emas.

Ia menghabiskan waktu sekitar setengah jam di kedai teh itu, mendengarkan lebih banyak percakapan dan mengumpulkan lebih banyak informasi. Ketika ia akhirnya berdiri untuk pergi, ia sudah memiliki gambaran yang cukup jelas tentang dinamika Kota Lanyu.

Kota ini dikuasai oleh Sekte Awan Ungu, tetapi ada tiga klan kultivator yang juga memiliki pengaruh: Klan Wei, Klan Gao, dan Klan Sheng. Ketiga klan ini bersaing satu sama lain untuk mendapatkan sumber daya dan posisi di dalam sekte. Persaingan mereka seringkali berujung pada konflik kecil di jalanan.

Wang Hao berjalan keluar dari kedai teh dan melanjutkan penjelajahannya. Ia melewati pasar, toko jimat, toko senjata kedua, dan beberapa gang kecil yang menjual barang-barang bekas kultivator. Matanya terus bergerak, mencari apa pun yang bisa ia manfaatkan.

Ketika matahari sudah mencapai puncaknya, Wang Hao akhirnya kembali ke Balai Ramuan Giok Hijau. Gu Yan sedang melayani seorang pembeli ketika ia masuk, tetapi tatapan pria tua itu langsung beralih ke arah Wang Hao begitu pemuda itu muncul di pintu.

Setelah pembeli itu pergi, Gu Yan mendekati Wang Hao dengan langkah cepat.

"Aku sudah menemukan alkemis," katanya tanpa basa-basi. "Namanya Lao Fan. Dia satu-satunya alkemis tingkat satu di kota ini yang tidak bekerja untuk sekte atau klan besar. Dia bersedia bertemu besok pagi."

Wang Hao mengangguk. "Baik."

"Tapi dia minta resep contoh dulu sebagai jaminan. Dia tidak mau membuang waktunya untuk sesuatu yang tidak terbukti."

"Itu masuk akal." Wang Hao berjalan ke arah meja di sudut toko, mengambil sehelai kertas kosong dan kuas yang disediakan Gu Yan untuk menulis resep. Ia mulai menulis dengan gerakan cepat dan tepat, menggoreskan karakter-karakter yang bahkan Gu Yan kesulitan membacanya.

Setelah selesai, ia meniup kertas itu hingga tinta di atasnya mengering, lalu melipatnya dan menyerahkannya kepada Gu Yan. "Berikan ini padanya. Tapi pastikan dia tidak menyalin atau menyebarkannya."

Gu Yan menerima kertas itu dengan kedua tangan, matanya masih menatap karakter-karakter yang baru saja ditulis Wang Hao. "Tulisanmu... aku bahkan tidak bisa membacanya."

"Dia pasti bisa." Wang Hao berjalan menuju halaman belakang, kembali ke gudang batunya. "Saya akan bermeditasi. Jangan ganggu kecuali ada hal penting."

"Baiklah," jawab Gu Yan.

1
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🥛
Jojo Shua
up
Jojo Shua
🙏
Jojo Shua
44
Jojo Shua
4
Agus Rose
Cerita yang cukup baik tapi update nya yg kurang.
Zerro One: Terimakasih penilaian nya.

saya ragu karena novel ini slow plotnya.
total 3 replies
Jojo Shua
🫰
Jojo Shua
✅️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!