NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Fajar kembali menyingsing dengan anggun. Sinarnya yang cerah menerobos masuk menembus celah-celah dinding bambu rumah pohon, membawa kehangatan baru. Di dalam kamar, Adinda masih asyik tidur meringkuk di balik balutan kain, terbuai begitu dalam di dalam mimpi indahnya.

​Sementara itu di halaman bawah, Wira sudah berdiri tegak sejak buta pagi. Dengan sebilah kapak besar yang kokoh di genggaman tangannya, pria itu bersiap membelah gelondongan kayu bakar.

​Di sudut lain rumah panggung bagian atas, Mbok Ginem seperti biasa sudah duduk bersila di depan tungku yang mulai mengepulkan asap tipis.

​"Wirandu...!" panggil Mbok Ginem, suaranya memecah keheningan pagi.

​"Iya, Mbok," sahut Wira lantang. Ia melepaskan sejenak genggaman kapaknya pada balok kayu, lalu dengan langkah tegap perlahan menaiki anak tangga menuju ke atas.

​"Ada apa, Mbok?" tanya Wira begitu langkahnya sampai dan berdiri di hadapan wanita tua yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri itu.

​"Duduklah dulu, Le," kata Mbok Ginem sembari menggeser sedikit posisi duduknya.

​Wira menurut. Ia mengambil posisi duduk bersila di dekat Mbok Ginem, merasakan hangatnya api tungku yang menjilat jelaga.

​"Apa kemarin kau bertemu dengan Lilis?" tanya Mbok Ginem membuka percakapan, matanya menatap lekat pada manik mata anaknya.

​Wira mengangguk pendek sebagai jawaban, teringat kembali kejadian tidak mengenakkan kemarin siang.

​"Bagaimana menurutmu?" tanya Mbok Ginem lagi.

​"Bagaimana apanya, Mbok?" Wira balik bertanya dengan dahi mengernyit bingung, tidak menangkap arah pembicaraan wanita tua itu.

​"Loh, maksud Si Mbok... Lilis itu bagaimana di matamu? Anak itu sekarang tumbuh semakin cantik saja. Kupikir, mungkin akan sangat cocok jika dia bersanding dan menjadi istrimu," ujar Mbok Ginem dengan nada gemas, mencoba menjodohkan.

​Wira tersentak kecil, rahangnya sedikit mengetat. "Mbok bicara apa, sih...? Aku sama sekali tidak menyukainya," jawab Wira tegas tanpa ragu sedikit pun.

​"Masa begitu, Wira...? Ingat! Umurmu itu sudah semakin matang, segeralah menikah. Banyak sekali pilihan wanita baik-baik di desa ini yang bisa kau jadikan istri," ujar Mbok Ginem menasihati dengan penuh harap.

​Ya, wanita di desa ini memang banyak... Tapi tidak ada satu pun yang seperti Dinda, batin Wirandu menyahut dalam diam.

​"Jika kau memang tidak ingin bersama Lilis, masih banyak pilihan lain. Ada Ayu, atau Nilam. Kedua gadis itu terbilang kembang desa yang cantik di sini," cecar Mbok Ginem lagi, masih belum menyerah merayu Wira.

​"Tidak, Mbok...! Aku tidak bisa menikahi mereka, ataupun memilih salah satu dari mereka," kata Wira dengan nada suara yang merendah namun sarat akan penolakan mutlak.

​"Loh, memangnya kenapa, Le...?" tanya Mbok Ginem benar-benar bingung dengan sikap keras kepala Wira.

​Wira mengembuskan napas panjang, mencoba menata debaran di dadanya sebelum menatap lurus ke dalam netra keriput Mbok Ginem. "Wira tidak menyukai mereka semua. Wanita yang Wira suka dan cintai adalah Dinda... Wira hanya akan menikahinya, dan gadis itupun sudah bersedia untuk hidup bersama Wira," kata Wira pelan namun terdengar teramat bersungguh-sungguh.

​Mbok Ginem terkejut bukan main hingga gerakan tangannya yang sedang merapikan kayu bakar terhenti seketika.

​"Le, jangan bercanda...! Dinda itu wanita yang teramat cantik jelita, kulit dan perangainya berbeda dengan kita. Mungkin saja dia adalah anak seorang saudagar kaya, atau anak salah satu pemimpin Kademangan tinggi yang kebetulan tersesat di hutan ini. Jangan main-main dengan kata-katamu, Wira... Gadis sekelas dia mana mungkin mau menikah denganmu, yang hanya seorang pemuda miskin pencari buruan," ujar Mbok Ginem dengan nada pelan, mencoba menyadarkan Wira dari apa yang dianggapnya sebagai mimpi di siang bolong.

​"Tapi Mbok... Din—"

​Ucapan Wira seketika terputus kala sebuah suara merdu yang teramat familier menyambung kalimatnya dari arah selasar kamar.

​"Siapa bilang aku tidak mau menikah dengan Wira, Mbok?"

​Rupanya gadis itu telah terbangun dari tidurnya sejak beberapa menit yang lalu. Dengan langkah pelan dan anggun, Dinda berjalan mendekati posisi tempat Wira dan Mbok Ginem tengah bersila. Dinda melemparkan seulas senyuman manis nan menenangkan ke arah Mbok Ginem yang kini mendongak kaget.

​"Aku dan Wira saling mencintai, Mbok... Percayalah padaku," ujar Dinda dengan nada suara yang mantap dan pasti.

​Ia mengambil posisi duduk tepat di sebelah Wira, tidak ragu memperlihatkan kedekatan mereka. "Aku bukan anak saudagar kaya, bukan juga anak petinggi Kademangan seperti yang Mbok katakan tadi. Aku hanya seorang asing yang kebetulan tersesat di dalam hutan ini, dan Wira yang telah menyelamatkan hidupku," pungkas Dinda dengan binar mata tulus yang memancarkan keseriusan.

1
Wahyuningsih
makin segu aja thor..... klau up jgn lma2 thor tk enak menunggu dikau bestari 😅😅 upnya yg buanyk thor n hrs tiap hri sehat sellu jga keshtn tetp💪💪💪 n makaciiiiih tuk upnya
Yulianti Amiruddin
lanjutkan Thor ceritax lgi ini🤣🤣
sasa adzka
😂😂😂 ngadi ngadi ne si othor mah.. ada emang beda dimensi saling bercakap mana jiwa nya pada di mana itu semu😂😂😂 tapi its ok ko.. bagus, keren cerita nya... 😍😍😍 lanjutkan lagi ya up nya kak😍😍😍
Ummanya Hil_Ziy: 😄Haha lucu ya. aku yang buatpun tertawa terbahak-bahak....😊
total 1 replies
Anita Rahayu
yg panjang thor nulisnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anita Rahayu
double up dan panjang thor ceritanya soalnya bagus dan menarik👍👍👍👍👍👍👍
Chen Nadari
y0 double up thorr
sasa adzka
thor jangan sampai lu bikin si dinda kagak bisa karate ya.. zaman ketinggalan kaya ini harus lebih pinter pinter loh karena dia dari zaman modern😍😍😍
semangat ya up trus 😍😍😍
sasa adzka
eh eh eh😄😄😄😄😄 nikah dulu secara adat thor😂😂😂 langsung terkam aja ne si wira
sasa adzka
😄😄 cuci mata tiap hari ya din.. kali aja bisa di pegang otot otot perutnya😂😂😂
sasa adzka
baru mampir Thor...
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍
Ana Putri
semangatt nulis nya thor 😍
Ana Putri
keren
Chen Nadari
di tanggu up nya Thorr
Ratmi Yati
di tunggu update terbaru your
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
waaaah mantap dpt ruang dimensi
Wahyuningsih
q mampir thor
Irmha febyollah
kapan update nya kk
Ummanya Hil_Ziy: Dari Tempatku jam 9 ya kakak. Tungguin Updatenya ya, Insyaallah bakal seru😊🙏
total 1 replies
Cahi Rama
bab nya terlalu sedikit kak tambah lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!