Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Peretas Cilik vs Agen Siber
Bab 12: Peretas Cilik vs Agen Siber
Langkah kaki Aline sengaja dibuat agak berat dan diseret ketika ia melangkah menyusuri koridor megah lantai dua menuju ruang belajar si kembar. Di dalam kepalanya, bayangan kotak musik perak berlapis wangi melati liar dari kamar Adrian masih berputar bagai kaset rusak. Rasa penasaran dan amarah bercampur menjadi satu, namun Aline adalah seorang profesional yang terlatih untuk mengunci emosinya di dalam kotak besi terdalam di benaknya. Begitu ia menyentuh gagang pintu kayu ek ruang belajar, topeng Aline Sanyoto si gadis desa lugu kembali terpasang dengan sempurna.
"Tuan Muda Kenzo? Nona Muda Keira? Ini Kak Aline bawa jus semangka segar untuk—"
Aline menghentikan ucapannya tepat di ambang pintu. Ruang belajar yang biasanya dipenuhi oleh tumpukan buku cerita bergambar dan mainan balok lego itu tampak sepi. Keira tidak ada di sana, sementara Kenzo duduk sendirian di atas kursi ergonomis hitamnya yang terlalu besar untuk ukuran tubuh bocah berusia lima tahun.
Bocah laki-laki itu tidak sedang bermain gim atau menonton kartun. Ia duduk dengan punggung tegak, sementara sepasang mata bulatnya yang dingin menatap intens ke arah layar sebuah laptop hitam pekat tanpa logo merek—sebuah perangkat kustom militer yang Aline kenal betul sebagai laptop berspesifikasi tinggi yang biasa digunakan untuk enkripsi data berat.
Aline mengerjapkan matanya, lalu memasang wajah bingung yang dibuat-buat. Ia berjalan mendekat dengan nampan perak di tangannya, membuat langkah kakinya sengaja berbunyi canggung di atas lantai kayu.
"Eh? Tuan Muda Kenzo kok sendirian? Nona Keira ke mana? Terus... itu kotak hitam besar apa, Tuan Muda? Laptop ya? Kok ndak ada gambarnya kayak TV?" tanya Aline dengan logat desa yang kental, matanya berkedip-kedip polos di balik lensa kacamata tebalnya.
Kenzo tidak langsung menjawab. Ia perlahan memutar kepalanya, menatap Aline dengan ekspresi datar yang sangat mirip dengan Adrian. "Keira sedang di kamar mandi. Dan ini bukan laptop sembarang laptop, Kak Aline. Ini mainan baruku."
Kenzo kemudian menggeser tubuh kecilnya sedikit ke samping, sengaja memberikan ruang bagi Aline untuk melihat apa yang terpampang di layar monitor 15 inci tersebut.
Jantung Aline berdesir tajam saat matanya menangkap visual di layar. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, namun ia berhasil mempertahankan otot-otot wajahnya agar tidak berkedut sedikit pun.
Di atas layar hitam tersebut, terdapat sebuah grafik antarmuka terminal baris perintah (command line interface) dengan barisan kode hijau yang terus berkedip. Di bagian tengah layar, sebuah folder digital terenkripsi tingkat tinggi sengaja ditampilkan secara mencolok dengan ikon gembok merah menyala. Di bawah ikon tersebut, tertulis sebuah nama dengan font tebal yang membuat darah Aline berdesir dingin:
FILE_RAHASIA: KEMATIAN_RENA_SHANDIKA.dat
"Kak Aline tahu ini apa?" suara anak-anak Kenzo terdengar sangat kontras dengan aura intimidasi yang coba ia bangun. "Ini adalah file tentang salah satu masa lalu Daddy. File ini terkunci dengan enkripsi berlapis. Aku sedang mencoba membukanya, tapi sistem pertahanannya sangat sulit."
Kenzo berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekati Aline. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam lensa kacamata tebal Aline dengan tatapan menguji yang teramat tajam untuk anak seusianya. "Kak Aline kan suka membersihkan kamar dan merapikan buku-buku. Menurut Kakak, kalau aku menekan tombol Enter di papan ketik ini, apa gembok merahnya akan terbuka?"
Aline berteriak di dalam hatinya. Jebakan!
Sebagai seorang mantan agen siber mandiri yang telah meretas puluhan sistem keamanan korporat, Aline langsung mengenali taktik ini dalam waktu setengah detik. Ini adalah serangan honeypot digital yang dikombinasikan dengan sistem pelacak phishing tingkat tinggi.
Laptop itu tidak sedang terhubung ke database internal Adrian. Perangkat itu telah diprogram secara mandiri oleh Kenzo. Jika Aline adalah seorang mata-mata yang menyamar dan memiliki ketertarikan pada kasus Rena Shandika, insting pertamanya pasti akan langsung tertuju pada folder tersebut. Dan jika tangan Aline menyentuh papan ketik itu—meski hanya untuk menekan satu tombol—sensor biometrik pemindai sidik jari tersembunyi yang tertanam di bawah seluruh permukaan keypad laptop akan langsung merekam identitas biologisnya. Belum lagi, kamera web mikro di atas layar pasti sudah diatur untuk memindai retina matanya secara instan saat ia condong ke depan.
Anak ini bukan sekadar jenius; dia adalah monster siber cilik yang sedang memasang perangkap untuk menguliti identitas pengasuhnya sendiri.
"A-Aduh, Tuan Muda Kenzo..." Aline mundur satu langkah dengan wajah yang mendadak pucat dan panik, memeluk nampan peraknya erat-erat di depan dada seolah benda itu adalah perisai pelindung dari monster. "Kak Aline ndak tahu apa-apa soal kotak hitam itu. Jangan disuruh pencet-pencet, nanti kalau rusak atau meledak kayak TV di desa saya dulu, Kak Aline ndak punya uang buat ganti... Gaji Kak Aline bisa dipotong sama Tuan Besar Adrian yang galak itu!"
Kenzo menaikkan sebelah alisnya, tidak melepaskan pandangannya dari reaksi tubuh Aline. "Kakak tidak penasaran? Nama di folder ini... Shandika. Bukankah nama belakang Kak Aline juga mirip? Kakak kan Aline Shandika—eh, maksudku Aline Sanyoto." Kenzo sengaja memancing, menyebutkan nama asli Aline dengan selipan lidah yang sangat rapi.
Aline merasakan keringat dingin dingin mengalir di punggungnya, namun ia justru memanfaatkannya untuk memperkuat aktingnya. Ia langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Kenzo dengan mata yang berkaca-kaca, memegang kedua pundak kecil anak itu dengan tangan yang sengaja dibuat gemetar hebat.
"Tuan Muda jangan menakut-nakuti Kak Aline toh..." isak Aline, suaranya bergetar penuh ketakutan yang sangat natural. "Nama saya Aline Sanyoto, anak bapak Sanyoto yang pengerajin sapu lidi di desa. Ndak ada nama Shan-Shan apa tadi itu... Aduh, saya beneran takut kalau Tuan Besar marah. Tuan Muda matikan saja kotaknya ya? Jangan mainan itu lagi, mending minum jus semangka ini, segar lho!"
Aline berdiri kembali dengan tergesa-gesa, meraih gelas kaca berisi jus semangka merah dari atas nampan. Namun, saat ia melangkah mendekati meja tempat laptop berada, Aline dengan sengaja mengatur kalkulasi gerakan fisiknya dengan tingkat presisi militer yang dibalut dalam kejanggalan kosmik seorang gadis ceroboh.
Tumit kaki kanannya sengaja tersangkut di pinggiran karpet bulu yang sedikit terlipat.
"Eh—ehhh! Copot... Copot!" jerit Aline dengan histeris.
Tubuhnya limbung ke depan dengan gaya yang sangat natural. Tangan yang memegang gelas jus semangka terlempar ke udara. Namun, Aline tidak mengarahkan tumpahan cairan manis berwarna merah itu ke arah laptop hitam milik Kenzo. Jika jus itu membasahi laptop, sirkuitnya mungkin akan rusak, namun sistem log pelacakan internal di dalam hardisk tetap bisa mendeteksi kegagalan sistem akibat cairan, dan Kenzo yang pintar akan tahu bahwa ini adalah sabotase yang disengaja.
Aline menginginkan sesuatu yang murni terlihat seperti kecelakaan mekanis akibat faktor eksternal dari luar kendali laptop.
Pranggg!
Gelas jus semangka itu menghantam lantai, namun arah tumpahannya meluncur deras tepat ke arah stopkontak dinding tempat kabel pengisi daya (charger) laptop hitam tersebut tercolok. Cairan jus semangka yang kaya akan kandungan air dan gula itu langsung merembes masuk ke dalam lubang stopkontak dalam jumlah masif.
Cesss! Perttt!
Percikan api biru kecil sempat menyala sekali disertai suara letupan pendek yang cukup nyaring. Korsleting listrik skala kecil terjadi secara instan di dalam instalasi dinding. Tegangan listrik yang mendadak melonjak dan tidak stabil membuat adaptor pengisi daya laptop itu langsung memutus arus secara otomatis demi keamanan, memicu sistem proteksi internal laptop untuk mati mendadak secara paksa (forced shutdown) guna mencegah kerusakan sirkuit utama akibat hubungan arus pendek eksternal.
Layar laptop hitam itu langsung menggelap seketika. Barisan kode hijau dan folder jebakan bertuliskan nama kakaknya lenyap dalam kegelapan monitor yang mati total.
Aline jatuh terduduk di atas lantai yang basah oleh tumpahan jus semangka, memegangi pantatnya sambil menangis kencang dengan gaya yang sangat memalukan. "Aduh... Sakit sekali! Gusti... kacamata saya hampir lepas! Maaf, Tuan Muda Kenzo! Kak Aline beneran ndak sengaja... karpetnya nakal sekali bikin tersandung!"
Tepat pada saat itu, pintu ruang belajar terbuka lebar. Keira melangkah masuk dengan boneka beruang di pelukannya, langsung menghentikan langkahnya saat melihat kekacauan di dalam ruangan. Lantai digenangi jus semangka merah, pecahan kaca berserakan, dan Aline sedang menangis tersedu-sedu di lantai sementara Kenzo berdiri mematung di samping mejanya.
Kenzo tidak memperhatikan tangisan Aline. Sepasang matanya yang kecil tertuju lurus pada kabel adaptor laptopnya yang masih mengeluarkan sedikit asap tipis di dekat stopkontak dinding.
Bocah lima tahun itu berjalan perlahan mendekati meja, memeriksa log sistem yang sempat mati. Sebagai seorang peretas cilik, ia tahu betul apa yang baru saja terjadi. Pemadaman laptopnya bukan karena sistemnya diretas dari dalam, bukan juga karena seseorang menekan tombol perintah pembatalan. Laptop itu mati karena korsleting listrik mekanis akibat tumpahan air jus di stopkontak luar.
Sebuah kecelakaan yang terlampau pas. Terlampau presisi di detik saat ia mencoba memancing reaksi Aline.
Kenzo memutar tubuhnya, menatap Aline yang masih sibuk mengusap lututnya sambil mengumpulkan pecahan kaca dengan tangan gemetar—sebuah tindakan ceroboh yang hampir membuat jarinya teriris jika tidak hati-hati.
Kenzo melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menyipit penuh selidik. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat misterius dan penuh arti.
"Kakak pengasuh..." gumam Kenzo di dalam hatinya, suaranya tidak keluar namun pikirannya berputar liar. "Korsleting listrik mekanis eksternal di saat yang tepat? Kau terlalu pintar dan terlalu beruntung untuk ukuran seorang gadis desa yang teledor. Permainan ini... ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang kukira."
Sementara itu, di balik lensa kacamata tebalnya yang buram karena uap tangis buatan, Aline mengembuskan napas lega yang teramat tipis. Babak pertama melawan sang peretas cilik berhasil dimenangkannya tanpa meninggalkan satu pun jejak digital. Namun, ia tahu, si kembar tidak akan berhenti sampai di sini