Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kebohongan Kecil
Jovian berjalan menuju kamarnya dengan langkah berat. Pikirannya masih dipenuhi berbagai hal. Hari ini ia sudah berjanji pada Jena. Ia sudah melihat sendiri bagaimana wanita itu terluka karena merasa selalu berada di posisi kedua setelah pekerjaan dan Michelle. Namun sekarang, keadaan seolah kembali mengujinya.
Jovian masuk ke dalam kamar, menutup pintu, lalu duduk di tepi ranjang. Ia kembali mengeluarkan ponsel dan menatap nama Michelle yang memenuhi daftar panggilan tidak terjawab. Ia menghela napas panjang.
"Semoga ini benar-benar hanya soal pekerjaan," gumamnya pelan. Akhirnya ia menekan tombol panggil. Tidak butuh waktu lama hingga panggilan itu tersambung.
"Halo." Suara Michelle terdengar dingin.
"Michelle, ini aku."
"Oh, akhirnya Tuan CEO ingat juga untuk menghubungi saya."
Jovian memejamkan mata sejenak. Ia sudah bisa menangkap nada kesal dari wanita itu. "Aku minta maaf. Hari ini aku tidak memegang ponsel."
"Kamu ke mana saja, Jovian? Aku menghubungimu berkali-kali. Bahkan aku sampai datang ke rumahmu."
"Aku sedang bersama Jena."
Beberapa detik suasana menjadi hening.
"Jena?" ulang Michelle.
"Iya."
"Kalian sedang ada urusan penting?"
Jovian menarik napas perlahan. "Kami sedang menyelesaikan masalah pribadi."
Michelle terdiam sejenak sebelum akhirnya menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Tapi aku menghubungimu karena ada hal penting yang harus kita bahas."
"Apa itu?"
"Soal acara charity fashion Kamis depan dan beberapa detail kerja sama antara Ardhana Group dengan MS Fashion. Ada beberapa perubahan konsep yang harus segera kita putuskan."
Jovian langsung mengubah ekspresinya menjadi profesional. "Kenapa tidak dibahas besok di kantor?"
"Karena waktunya mepet, Jovian. Aku ingin semuanya selesai secepat mungkin."
Jovian terdiam. "Kalau begitu kita bisa meeting secara online."
"Jovian." Nada suara Michelle berubah lebih tegas. "Beberapa desain dan dokumen ada padaku. Akan lebih mudah kalau kamu datang."
Jovian menggenggam ponselnya lebih erat. "Datang ke mana?"
"Apartemenku."
Seketika rahang Jovian mengeras.
"Apartemenmu?"
"Iya. Kita bisa membahas semuanya malam ini."
Jovian langsung teringat wajah Jena.
'Kalau ada Michelle, jangan sampai terlalu dekat.'
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.
Baru pagi tadi ia berjanji dengan penuh keyakinan. Baru beberapa jam lalu ia meyakinkan Jena bahwa ia akan menjaga batas dengan Michelle. Namun sekarang ia harus pergi ke apartemen wanita itu. "Michelle, apa tidak bisa kita bertemu di tempat lain?" tanya Jovian mencoba mencari jalan tengah.
"Aku sedang di rumah dan semua dokumen ada di sini. Aku juga sedang malas keluar. Lagi pula ini hanya pekerjaan, Jovian. Jangan membuatnya menjadi rumit."
Jovian kembali terdiam. Ucapan ayahnya juga terngiang.
"Jangan sampai proyek kerja sama dengan MS Fashion mengalami kendala."
Ia berada di posisi yang sulit. Sebagai seorang pemimpin perusahaan, ia tidak bisa mengabaikan partner bisnisnya. Tetapi sebagai pacar yang baik, ia juga tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia menjawab dengan suara pelan. "Baik. Aku akan ke apartemenmu."
Senyum tipis muncul di wajah Michelle, meskipun tidak terlihat oleh Jovian. "Bagus. Aku tunggu." Panggilan pun berakhir.
Jovian menurunkan ponselnya perlahan. Ia tidak merasa lega setelah mengambil keputusan itu. Sebaliknya, dadanya justru terasa semakin sesak. Ia menatap layar ponselnya yang kini menampilkan foto Jena sebagai wallpaper. Wanita itu tersenyum begitu tulus di sana. "Maaf, Sayang," bisik Jovian lirih. "Aku janji ini hanya pekerjaan."
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak hubungannya dengan Jena membaik, Jovian merasakan firasat tidak nyaman. Seolah malam ini akan kembali menjadi ujian bagi kepercayaan yang baru saja mereka bangun.
***
Jena baru saja selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama yang nyaman. Rambutnya yang masih sedikit basah ia keringkan perlahan sambil sesekali tersenyum sendiri mengingat kejadian sepanjang hari.
Pagi yang dimulai dengan air mata dan penyesalan, berubah menjadi hari yang penuh tawa dan kehangatan.
Jena melangkah menuju tempat tidur lalu mengambil ponselnya. Jemarinya membuka ruang obrolan dengan nama yang selalu membuatnya tersenyum.
Mas Jovian.
Ia mengetik pesan singkat. "Mas, lagi apa? Udah makan malam belum?"
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Mas Jovian: Sudah, Sayang.
Senyum Jena semakin melebar membaca balasan itu. Namun pesan berikutnya membuatnya tanpa sadar mengangguk kecil.
Mas Jovian: HP-ku mau di-charge dulu. Baterainya hampir habis, jadi mungkin nanti aku nggak bisa balas cepat.
Jena sama sekali tidak curiga. Ia justru merasa senang karena kali ini Jovian benar-benar memberi kabar seperti yang ia minta. "Iya, Mas. Nggak papa." Jena membalas.
Mas Jovian: Sekarang kamu istirahat yang cepat. Besok kamu harus kelihatan cantik dan segar saat masuk kantor.
Jena tersenyum malu. "Memangnya kalau nggak segar aku nggak cantik?"
Beberapa detik kemudian, balasan Jovian kembali masuk.
Mas Jovian: Calon istriku selalu cantik. Tapi kalau kurang tidur nanti cerewet dan galak.
Mata Jena langsung membesar. "Mas! Aku nggak galak."
Mas Jovian: Iya, nggak galak. Cuma kalau marah bisa bikin aku hampir kena serangan jantung.
Jena tertawa kecil mengingat bagaimana paniknya Jovian semalam saat melihatnya menangis. "Kapok kan?"
Mas Jovian: Sangat kapok.
Senyum Jena semakin mengembang. Hatinya terasa begitu tenang. "Baiklah. Mas juga jangan tidur terlalu malam."
Mas Jovian: Siap, Bos.
"Dan jangan lupa besok jemput aku."
Mas Jovian: Mana mungkin aku lupa. Besok tunggu aku, jangan berangkat dulu.
Jena memeluk ponselnya kecil dengan perasaan bahagia. "Selamat malam, Mas. Aku sayang kamu."
Jovian membaca pesan itu cukup lama. Jarinya sempat terdiam di atas layar. Rasa bersalah kembali menyelusup ke dalam hatinya. Namun akhirnya ia membalas. "Aku juga sayang kamu. Selamat tidur, Sayang." Setelah mengirim pesan itu, Jovian menatap layar ponselnya yang perlahan redup.
Satu kebohongan kecil telah ia lakukan demi menghindari kekhawatiran Jena. Padahal baru beberapa jam lalu ia berjanji akan selalu terbuka.
Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Jena, Jovian meletakkan ponselnya di atas meja. Untuk beberapa saat, ia hanya diam menatap layar yang sudah padam.
Kata-kata terakhir Jena masih terngiang di kepalanya.
Jovian mengusap wajahnya kasar. "Ini cuma pekerjaan," gumamnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Air dingin yang mengguyur wajahnya tidak mampu menghilangkan beban di pikirannya.
Saat keluar dari kamar mandi, Jovian berjalan membuka lemari. Mengambil pakaian ganti. Kini ia mengenakan pakaian yang lebih rapi. Kemeja hitam dan celana panjang ia pilih karena bagaimanapun, ia akan bertemu dengan rekan bisnis, bukan menghadiri pertemuan pribadi.
Sebelum keluar kamar, matanya kembali tertuju pada ponselnya yang ada di genggaman. Ia sempat berpikir untuk mengirim pesan kepada Jena dan mengatakan yang sebenarnya. Namun bayangan wajah Jena yang kembali kecewa membuat langkahnya terhenti.
Hari ini mereka baru saja memperbaiki hubungan. Ia tidak ingin malam itu kembali berakhir dengan pertengkaran. Dengan napas berat, Jovian mengambil kunci mobilnya dan memasukan ponselnya ke saku celana. "Besok aku akan menjelaskan semuanya," bisiknya.
Malam itu, mobil mewah milik Jovian keluar dari halaman rumah keluarga Ardhana dan melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang.
Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak tenang. Ia mengingat ucapan ayahnya tentang tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin perusahaan. Namun ia juga mengingat permintaan sederhana Jena.
"Kalau ada Michelle, jangan sampai terlalu dekat."
Jovian menggenggam setir lebih erat. "Aku akan menjaga batas," ucapnya pada diri sendiri.
Tak lama kemudian, mobilnya memasuki area apartemen mewah tempat Michelle tinggal.
Jovian mematikan mesin mobil, tetapi tidak langsung turun. Ia duduk diam selama beberapa detik, menatap gedung tinggi di hadapannya. Entah mengapa, hatinya terasa tidak nyaman.
Bukan karena ia takut bertemu Michelle. Namun karena ia mendatangi tempat wanita lain tanpa sepengetahuan Jena, tepat setelah ia berjanji untuk lebih jujur dan menjaga perasaan kekasihnya.
Akhirnya, dengan mengumpulkan keberanian, Jovian keluar dari mobil. Ia memasuki lobi apartemen dan menekan tombol lift menuju lantai tempat Michelle tinggal. "Semoga diskusi nanti berjalan lancar dan segera berakhir dengan cepat. Supaya aku bisa segera pulang."
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪