JANGAN DIBACA !!!
Cerita ini tidak akan sesuai harapan kalian. Nanti menyesal.
S1 : END
Kehilangan orang tua membuat Aruna harus berjuang demi rupiah untuk biaya hidupnya dan untuk membiayai adiknya yang masih duduk di bangku sekolah.
Berkat sepupunya akhirnya Aruna mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang cukup besar meskipun hanya sebagai Cleaning Service.
Namun siapa sangka dua pria tampan,putra dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja itu justru menaruh hati padanya. Dan di sisi lain ada sang sekretaris yang selalu berusaha menyingkirkannya demi mendapatkan sang pujaan hatinya.
Disinilah sebuah kisah cinta segi tiga di mulai. Hingga akhirnya kisah cinta ini membuatnya terjebak di antara dua hati. Membuatnya harus memilih cinta diantara dua cinta.
S2 : END
Hadirnya kembali sosok yang telah pergi tanpa pamit meninggalkan Aruna dan telah membawa separuh hatinya itu. Menghadirkan kebimbangan. Dan menjadi duri dalam kehidupan rumah tangganya. Akankah Aruna akan kembali ke dalam pelukannya dan mengakhiri rumah tangganya?
Ikuti kisahnya ...
ig@fhatt87
Cerita ini hanyalah fiksi. Tidak lebih hanya khayalan semata. Mohon maaf bila terdapat kesamaan tokoh,karakter,latar hingga alir cerita. Karya ini murni hasil pikiran penulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CUA Bab 6
''Pagi pak...'' sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Dicko.
Dicko membalasnya dengan anggukan pelan dan pandangan datar. Lalu menatap kembali ke layar ponselnya sambil terus berjalan menuju ke ruangannya.
Dari tadi dia terlalu sibuk dengan akun instagramnya yang sengaja di blokir Bram. Jadi dia tidak bisa mencari tahu apapun tentang Bram.
Karena terlalu sibuk dan terlalu asyik dengan layar ponselnya itu, sampai-sampai Dicko pun tidak memperhatikan jalan di depannya. Dan tanpa sengaja dia menabrak seseorang hingga orang itu terpental. Sambil berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang tampak akan terjatuh ke lantai.
Beruntung dengan sigap tangan Dicko berhasil merangkul pinggang orang itu dan menopangnya agar tidak jatuh tersungkur ke lantai.
Karyawan-karyawan yang melihat kejadian itu saling berbisik. Mereka tahu pasti apa yang akan terjadi pada gadis itu nanti. Menabrak seekor singa lapar memang bukan suatu keberuntungan.
Seketika itu juga tatapan Dicko bertemu dengan tatapan gadis itu. Sepasang mata indah itu. Untuk sesaat Dicko tampak menikmati tatapan mata indah itu. Namun sepasang mata indah itu malah menatapnya keheranan. Tetapi tiba - tiba saja ...
Prakkk !
Bunyi benda terjatuh pun menyadarkan Dicko dari buaian tatapan sepasang bola mata indah gadis itu.
Ponsel Dicko mendarat indah di lantai itu. Sontak Dicko melepaskan rangkulannya dari pinggang gadis itu. Kemudian membungkuk untuk memungut ponselnya yang sudah tidak bernyawa itu.
Sial memang.
Seketika wajah Dicko memerah bak kepiting rebus. Dengan alis saling bertaut. Tatapannya pun teramat tajam. Serasa bagai menghujam jantung. Gadis itu benar-benar sudah mengusik ketenangannya.
Sedangkan Aruna, gadis yang menabraknya itu, nampak sangat ketakutan.
'' SIAL!" gerutu Aruna dalam hatinya. Tamatlah riwayatnya kali ini. Singa itu kini sudah bersiap untuk menyerangnya.
''Kamu_" pekik Dicko tertahan. Meski amarahnya sudah berada pada puncaknya saat ini, tapi Dicko berusaha menahan amarah itu.
Aruna hanya bisa menundukkan wajahnya dan berkali kali membungkukkan badannya meminta maaf.
''Maaf ... Maafkan saya Pak. Saya tidak sengaja," pinta Aruna sungguh - sungguh. Semoga saja ini adalah cara terampuh untuk meredam amarah singa lapar itu.
''Maaf? Apa dengan meminta maaf henfon saya akan kembali lagi seperti semula?'' kata Dicko dengan sedikit menurunkan nada suaranya.
''Sekali lagi saya minta maaf,'' pinta Aruna lagi sambil membungkukkan badannya. Sebab jurus terampuh itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. Seperti yang diharapkannya.
Namun entah kesialan apalagi yang menimpanya kali ini. Kemarin kemeja Dicko terkena tumpahan kopi, dan sekarang ponselnya yang rusak. Besok entah apa lagi. Dan semua itu karena ulahnya.
''Maaf saja tidak cukup. Kamu harus tanggung jawab. Kamu tahu kan, henfon ini sangat penting buat saya. Didalamnya ada banyak nomor orang - orang penting. Kalau rusak begini, bagaimana saya bisa menghubungi relasi - relasi bisnis saya nanti.''
Bola mata Aruna melirik ke arah ponsel itu.
"Mati aku, kalau dia minta dibelikan henfon baru gimana? mana henfonnya mahal lagi," bisik Aruna dalam hatinya.
Dicko menatap aruna sembari perlahan menyodorkan ponselnya di depan wajah Aruna.
''Kamu bawa ke tukang service, besok lusa kamu kembalikan lagi ke saya," kata Dicko.
Hufff!!!
Aruna bisa bernapas lega akhirnya. Syukurlah Dicko tidak meminta ganti rugi dengan ponsel baru. Gajinya sebulan saja tidak akan cukup untuk mengganti ponsel itu.
"Baik, Pak!"
Perlahan dengan tangan gemetar Aruna pun meraih ponsel itu dari tangan Dicko sambil menatap pasrah pada ponsel mahal itu.
Setelah ponsel itu berpindah tangan, kemudian Dicko pun pergi meninggalkan Aruna dan berjalan menuju ke ruangannya.
Aruna menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, seolah tengah melepaskan beban dihatinya saat ini.
Beruntung singa itu tidak meminta ganti rugi dengan ponsel baru. Kalau tidak, habislah dia kali ini.
****
Seperti biasa di ruangannya Dicko sedang disibukkan dengan berkas - berkas penting. Saat tiba tiba Bu Diana datang. Tetapi sama sekali tak mengusik konsentrasinya dari berkas - berkas itu.
''Dari tadi saya berusaha menghubungi pak Dicko. Tapi tidak pernah tersambung," kata Bu Diana sembari berjalan menghampiri Dicko.
''Henfon saya rusak. Ada apa?'' Tanya Dicko santai.
''Hari ini bapak ada rapat penting. Tentang proyek yang bapak usulkan sebulan lalu.''
''Jam berapa?'' Tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari berkas yang ada ditangannya itu.
''Jam sebelas pak.''
Dicko hanya mengangguk kecil. Masih dengan mode yang sama. Konsentrasi dengan berkas - berkas itu.
Bu Diana pun hanya bisa menatap heran pada Dicko. Tampaknya Bu Diana ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia masih ragu untuk menyampaikannya. Barangkali saja si Boss dingin itu tidak akan suka.
''Ada apa lagi?'' tanya Dicko. Sebab melihat Bu Diana belum juga keluar dari ruangannya.
''Emmm....sepertinya Pak Dicko butuh sekertaris deh. Apa sebaiknya kita buka lowongan saja?'' Usul Bu Diana ragu ragu.
Akhirnya Dicko pun menghentikan kesibukannya dari berkas - berkasnya itu dan menaruhnya dimeja. Dia menatap tajam pada bu Diana hingga membuat bu Diana salah tingkah.
''Maaf ... Saya hanya mengusulkan. Barangkali Pak Dicko setuju. Yaah ... Biar Pak Dicko ada yang membantu.''
Dicko hanya tersenyum tipis mendengar usul itu.
''Nanti saja kita bahas soal itu.'' Dicko menanggapinya santai.
''Ya sudah Pak. kalau begitu saya permisi dulu.''
Dicko membalasnya dengan anggukan kecil. Bu Diana pun bergegas keluar dari ruangan itu dengan senyum teraneh. Heran malah. Boss yang satu itu memilih bekerja sendiri tanpa bantuan sekretaris. Aneh kan?
***
Sementara itu, di tempat biasa, di bawah pohon kecil itu. Aruna tampak murung sambil memandangi ponsel Dicko yang mati total gara - gara insiden kecil tadi. Entah nasib buruk apa yang menimpanya kali ini.
Melihat Aruna sedang murung,Jaka mencoba menghampirinya. Tadinya dia akan pergi keluar sebentar,tapi karena melihat Aruna sedang murung Jaka tidak jadi pergi dan bermaksud menghibur Aruna.
''Kok murung? Kenapa? Ada masalah apa? Barangkali bisa aku bantu?" Tanya Jaka sambil menelisik raut wajah Aruna.
Aruna menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
''Akhir - akhir ini aku tuh selalu saja sial. Kemarin bajunya yang kotor, sekarang henfonnya yang rusak. Besok entah nasib sial apalagi.''
''Bukan sial, kamu itu hanya belum beruntung saja,'' hibur Jaka
''Sama saja," sambil cemberut.
''Setidaknya 'Belum Beruntung' itu lebih enak didengar. Sudahlah, tidak usah sedih begitu. Aku yakin, besok dan seterusnya hidup kamu akan selalu beruntung. Jadi sekarang, senyum dong, jelek tau kalau muka kamu ditekuk begitu," hibur Jaka.
Aruna mengulas senyum manisnya. Entah kenapa dia selalu merasa nyaman dengan kehadiran Jaka. Baru beberapa hari mereka saling mengenal namun nampaknya mereka sudah semakin akrab. Seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
''Naaah gitu dong, cantik kan jadinya.''
''Bisa aja deh kamu," kata Aruna sembari tertawa kecil.
''Mau tidak aku temani cari tempat service. Aku tau tempat service yang paling oke. Dan yang pasti biayanya terjangkau," Jaka mencoba menawarkan bantuannya.
''Boleh deh.''
Obrolan mereka pun terus berlanjut sambil keduanya berjalan bersama menuju pantry. Mereka tampak semakin asyik dengan obrolannya itu. Sesekali Aruna terlihat tertawa lebar sambil memukul pelan pundak Jaka.
Dan lagi - lagi, Dicko yang hendak pergi ke ruang rapat, tanpa sengaja melihat keakraban Aruna dengan seseorang,jelas terlihat dari punggungnya yang bersama Aruna adalah seorang pria.
Diruang rapat itu Dicko jadi tidak bisa berkonsentrasi. Entah kenapa bayang wajah Aruna masih saja mengganggunya. Dari pertama kali bertemu Aruna bahkan sampai saat ini, seakan dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Bagaimana tidak, bayang wajah Aruna selalu saja datang bagai menghantuinya setiap saat.
Dicko pun menggeleng - gelengkan kepalanya, ''Aku sudah gila. Tidak, tidak, tidak mungkin," ucap Dicko tanpa sadar.
Para karyawan yang ada di ruang rapat itu saling berbisik melihat tingkah aneh atasannya itu. Sejak tadi Dicko hanya duduk diam, bahkan belum membuka rapat mereka siang itu.
''Pak ... Pak Dicko baik - baik saja kan?'' tanya Bu Diana cemas.
Seketika Dicko tersadar dari lamunannya. Wajahnya tampak gugup, dengan tatapan mata sendu.
''Kalau pak Dicko lagi tidak enak badan, tidak apa - apa rapatnya kita lanjutkan besok saja. Sebaiknya Bapak istirahat saja dulu,'' kata bu Diana lagi.
''Saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja. Kalau begitu rapatnya kita mulai saja sekarang."
Kemudian Dicko pun mulai membuka rapat mereka siang itu. Dia menjelaskan satu persatu tentang rencana proyek yang akan mereka kerjakan nanti.
Meskipun terlihat dingin, tetapi sebenarnya Dicko adalah pria yang baik, penyayang, dan pekerja keras.
Karena diberi tanggung jawab yang besar oleh Om Danu untuk mengelola perusahaan itu, Dicko jadi tidak ingin membuang - buang waktunya percuma. Dia tidak ingin mengecewakan Om Danu yang sudah merawatnya sejak kecil.
*
*
*
-Bersambung-
...----------------...
like😍