Selama tiga tahun, Lin Fan hidup sebagai menantu yang dianggap benalu di keluarga Su. Dihina oleh ibu mertuanya, diremehkan oleh kerabat, dan diabaikan oleh istrinya sendiri, Su Yuhan—seorang CEO muda yang dingin namun jelita. Tidak ada yang tahu bahwa Lin Fan sebenarnya adalah pewaris tunggal dari Keluarga Lin di ibu kota, keluarga konglomerat paling berkuasa. Masa ujian tiga tahun yang diwajibkan oleh keluarganya akhirnya berakhir hari ini, dan roda nasib bersiap untuk berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Topeng Kemunafikan
Waktu seolah berhenti berdetak di ruang direksi lantai dua puluh delapan itu. Udara yang sebelumnya dipenuhi oleh cemoohan arogan dan desakan agresif dari kerabat-kerabat Keluarga Su, kini tersedot habis, menyisakan keheningan buntu yang mencekik leher.
Lima Ratus Miliar Yuan. Tanpa bunga. Tanpa tenggat waktu.
Angka itu berdengung di telinga setiap anggota dewan direksi bagaikan guntur di siang bolong. Tiga puluh menit yang lalu, mereka rela merendahkan harga diri keluarga demi mengemis 50 juta Yuan dari Zhao Tian. Kini, Presiden Direktur Bank Sentral secara pribadi mengantarkan kekayaan setara seluruh cadangan emas kota, hanya dan khusus untuk satu nama: Su Yuhan.
Kaki Su Ming, sang paman tertua yang lima menit lalu paling nyaring meneriakkan kudeta, mendadak kehilangan tulangnya. Ia terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu mahoni. Matanya yang memerah menatap tumpukan dokumen berstempel emas di atas meja seolah itu adalah bom waktu yang siap meledakkan kepalanya.
Li Jianhong, pria paling berkuasa di dunia finansial Jiangzhou, menoleh menatap dewan direksi dengan tatapan sedingin gletser. "Mengapa kalian diam saja? Apakah jumlah ini kurang untuk menutupi utang-utang receh perusahaan kalian?"
"T-t-tidak! Sama sekali tidak, Tuan Li!" Su Ming tergagap luar biasa, lidahnya terasa kaku seperti kayu kering. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras merusak setelan mahalnya. "Ini... ini lebih dari cukup. Ini keajaiban!"
Menyadari bahwa nasib nyawa, kebebasan, dan kekayaan mereka kini seratus persen bergantung pada suasana hati Su Yuhan, naluri bertahan hidup Keluarga Su mengambil alih. Topeng arogansi mereka hancur lebur, digantikan oleh wajah-wajah menjilat yang sangat menjijikkan.
Dengan kecepatan yang tak terbayangkan untuk pria seusianya, Su Ming menerjang maju ke arah meja. Ia menyambar surat pengunduran diri yang tadi ia paksa Yuhan untuk tanda tangani, lalu dengan panik merobek-robek kertas itu menjadi serpihan kecil. Tidak puas hanya merobeknya, Su Ming bahkan memasukkan beberapa serpihan kertas itu ke dalam saku jasnya sendiri agar lenyap dari pandangan.
"Yuhan! Keponakanku tersayang!" Su Ming memaksakan tawa lebar yang canggung, wajahnya berkerut menampilkan senyum yang dipaksakan. "Ah, Paman hanya bercanda tadi! Kau tahu kan, Paman sengaja menekannya sedikit untuk... untuk menguji mentalmu! Ya, menguji mentalmu sebagai CEO sejati! Dan lihatlah, kau berhasil! Kau benar-benar naga betina dari Keluarga Su!"
Melihat Su Ming telah berbalik arah, seluruh paman, bibi, dan sepupu di ruangan itu tidak mau kalah. Mereka mengerumuni Yuhan bagaikan lalat yang menemukan madu.
"Yuhan, bibi selalu tahu kau adalah yang paling hebat di generasi ini! Kakekmu di surga pasti tersenyum bangga padamu hari ini!" seru bibi keduanya sambil berusaha menyentuh pundak Yuhan, meski Yuhan segera menepisnya secara halus.
"Benar! Siapa yang butuh Zhao Tian yang menjijikkan itu? Dia hanyalah sampah dibandingkan dengan relasi yang Yuhan miliki!" tambah seorang sepupu yang sepuluh menit lalu mengumpat Yuhan karena menolak Zhao Tian. "Yuhan, mulai sekarang apa pun perintahmu, kami akan patuh seratus persen!"
Pemandangan di ruang rapat itu berubah menjadi komedi murahan. Orang-orang yang tadi bersiap menancapkan pisau di punggung Yuhan, kini merangkak di lantai berlomba-lomba mencium ujung sepatunya.
Yuhan duduk diam memandangi sirkus kemunafikan di sekelilingnya. Rasa mual bergejolak di perutnya. Jika Li Jianhong tidak datang menendang pintu itu terbuka, paman dan bibinya ini pasti sudah menendangnya keluar dari gedung tanpa sepeser pun uang pesangon, membiarkannya menanggung utang sendirian.
Dunia bisnis benar-benar kejam, dan keluarganya sendiri adalah serigalanya.
Yuhan mengalihkan pandangannya dari mereka, kembali menatap Li Jianhong yang masih berdiri tegak menanti. Yuhan menarik napas panjang, menyingkirkan segala kebingungan di kepalanya, dan kembali mengenakan jubah es kebesarannya sebagai seorang pemimpin.
Ia mengambil pena emas bertahtakan berlian tersebut. Dengan gerakan anggun dan mantap, Yuhan menandatangani kontrak bernilai setengah triliun Yuan itu.
Melihat tanda tangan tersebut, Li Jianhong tersenyum tipis dan kembali membungkuk sembilan puluh derajat. "Kerja sama yang luar biasa, Presiden Direktur Su. Mulai detik ini, tidak ada satu bank atau perusahaan pun di provinsi ini yang berani mempersulit Grup Su. Saya permisi."
Dikawal oleh para asisten berpakaian hitam, Li Jianhong melangkah keluar ruangan tanpa repot-repot melirik Su Ming atau kerabat Su lainnya.
Setelah pintu ditutup, Yuhan berdiri dari kursi kebesarannya. Udara di ruangan itu seketika menjadi dingin. Seluruh anggota dewan direksi langsung terdiam, menundukkan kepala mereka tak berani menatap mata CEO absolut mereka.
"Paman Ming," panggil Yuhan dengan suara datar yang mematikan.
"Y-ya, Yuhan? Ada yang bisa Paman bantu?" Su Ming menjawab dengan senyum gemetar, posturnya membungkuk patuh.
"Kudengar Paman sudah lama mengeluh tentang sakit punggung dan ingin mengurangi beban kerja," ucap Yuhan dingin. "Mulai hari ini, kucabut seluruh hak tanda tanganmu dari departemen keuangan. Paman dipindahtugaskan menjadi dewan penasihat non-aktif. Nikmatilah masa tuamu."
Wajah Su Ming seketika seputih kertas. Itu artinya ia dipecat secara halus dan kehilangan semua kekuasaannya untuk korupsi dari kas perusahaan. Namun, dengan bayang-bayang ancaman penjara dari Bank Sentral, ia tidak berani membantah sepatah kata pun.
"B-baik, Presiden Direktur Su. Terima kasih atas kemurahan hati Anda," ucap Su Ming sambil menelan kepahitan yang luar biasa.
Setengah jam kemudian, Yuhan kembali ke ruang kerja pribadinya. Ia mengunci pintu, bersandar pada daun pintu, dan membiarkan kakinya lemas hingga ia merosot duduk di lantai berkarpet.
Adrenalin yang memompa jantungnya perlahan surut, menyisakan rentetan pertanyaan yang kini menyerbu kepalanya bagai badai.
Lima Ratus Miliar Yuan. Li Jianhong yang arogan membungkuk hormat padanya. Syarat kontrak yang spesifik melindunginya secara absolut.
Semua kejadian mustahil pagi ini saling terkait, menunjuk pada satu anomali semalam. Yuhan teringat sosok pria berpakaian usang yang selama tiga tahun ini rela dipukuli dan dihina oleh ibunya. Pria yang semalam merobek cek lima juta Yuan seolah itu hanya kertas tisu.
"Besok pagi, saat kau melangkah masuk ke kantor, masalah itu akan selesai. Aku berjanji."
Suara Lin Fan terngiang kembali di telinganya. Jantung Yuhan berdebar keras. Matanya terbelalak menyadari satu-satunya kesimpulan yang logis namun terdengar gila.
"Lin Fan..." gumam Yuhan dengan napas tertahan di ruang kerjanya yang sepi. "Siapa kau sebenarnya?"