NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 15 : "KETUA OSIS DI LAPANGAN"

Pukul 07.10 WIB.

Bel berbunyi nyaring dan panjang, membelah angkasa SMA Negeri 1 Yogyakarta.

Teng... teng... teng...

Suara itu bagai komando mutlak yang memaksa ribuan siswa dari seluruh penjuru koridor untuk bergerak serentak menuju lapangan utama. Hari Senin pagi telah tiba, dan ritual upacara bendera siap dimulai.

Tak berselang lama dari gema bel, pintu gerbang besi sekolah resmi dirapatkan. Pak Toni berdiri tegap di barisan paling depan bersama tim guru piket,

memegang pulpen dan lembaran berita acara untuk mendata siswa-siswi yang bernasib apes terlambat.

Sementara itu, di tengah lapangan yang luas, jajaran pengurus OSIS sudah bergerak lincah menempati pos mereka masing-masing. Di pusat komando, berdiri seorang gadis dengan jas almamater abu-abu tua yang terpasang sempurna: Alya Nadira Adhitama.

Sejak pukul tujuh tepat, Nadira sudah membagi peta kekuatan anggotanya dengan sangat terstruktur.

"Hari ini pembagian pos seperti biasa ya," tutur Nadira tenang seraya menatap lembaran papan jalan di tangannya. "Yang pegang kendali barisan kelas sepuluh... aku sama Cantika."

Cantika mengangguk sigap. "Siap, Kak Ketos."

"Kelas sebelas... Dwi sama Fara."

"Siap, Mbak!"

"Kelas dua belas... Silva sama Angel."

"Siap, Kak!"

"Terus tim penyisiran yang muter ke selasar gedung buat mengecek kelas-kelas yang belum turun..." Nadira mendongak, menatap dua nama di depannya. "Adit sama Rani."

Adit mengangkat tangannya setinggi dada. "Siap, laksanakan!"

Rani mengangguk mengiyakan.

"Kalau masih ada yang ngumpet di dalam kelas, langsung suruh turun ke lapangan," tegas Nadira.

"Kalau ada yang ndugal atau ngeyel?" tanya Adit dengan alis terangkat.

"Langsung panggil nama aku atau laporin ke Pak Toni," sahut Nadira tanpa ragu. "Paham ya? Yang lain tetap fokus amankan barisan kelas masing-masing.

Sekarang, langsung ke posisi!"

"Siap, Kak Ketua!" seru seluruh anggota OSIS serentak sebelum akhirnya berpencar memenuhi area lapangan.

Barisan Kelas 10

Lapangan basket dan upacara mulai disesaki

murid-murid kelas sepuluh. Sebagai angkatan paling muda yang baru mencicipi atmosfer SMA, mereka masih tampak sangat canggung dan riweuh. Ada yang asyik bercanda, mengobrol berbisik-bisik, bingung mencari patok kelasnya, hingga deretan siswa cowok yang berdiri asal-asalan tanpa formasi.

Nadira dan Cantika melangkah tegas menuju garda terdepan barisan angkatan muda itu.

"Selamat pagi semuanya!" suara Nadira melengking nyaring, terdengar sangat berwibawa di tengah riuk lapangan.

"Pagiii, Kak..." sahut mereka datar dan tidak serempak.

Nadira menarik napas halus, lalu memasang raut wajah serius. "Oke, semuanya fokus. Yang merasa kelas X-1 sampai X-11, dengarkan instruksi saya sekarang."

Siswa-siswi kelas sepuluh mulai menaruh perhatian, walau di barisan belakang masih ada beberapa yang asyik kasak-kusuk sendiri. Tatapan mata Nadira seketika berkilat tegas.

"Itu... barisan kelas X-5," tunjuk Nadira lurus. Beberapa siswa cowok di sana langsung terkejut. "Barisannya disesuaikan sama kelas sebelah! Jangan miring kayak jalan kepiting. Cepat!"

Anak-anak X-5 langsung gelagapan menggeser posisi kaki mereka. Namun, formasinya masih terlihat berantakan.

Nadira mengangkat suaranya satu tingkat lagi. "Yang cowok... buat dua barisan ke belakang! Jangan satu baris memanjang kayak kereta api begitu! Saya sudah bilang dari tadi, kenapa masih belum paham juga?"

Seketika para siswa berseragam putih-abu-abu baru itu buru-buru merapikan barisan mereka tanpa berani membantah. Namun di pojok X-8, masih terdengar tawa geli beberapa siswa.

Nadira memutar tumitnya, menatap tajam ke sumber suara. "Yang belakang! Jangan ngobrol dulu! Fokus!"

Suasana lapangan mendadak berubah hening dan tertib.

Cantika yang berdiri di samping Nadira sampai tersenyum tipis. Luar biasa. Jika sudah memakai jas almamater OSIS dan berada di lapangan, mode peri penyabar Nadira seketika menguap, berganti menjadi sosok pemimpin wanita yang teramat tegas. Bahkan para guru kerap menyerahkan kendali ketertiban lapangan sepenuhnya pada gadis itu.

Melihat barisan X-8 masih belum simetris, Nadira melangkah mendekat. "Ini kenapa masih ada yang maju sendiri? Mundur satu langkah, sama ratakan bahu sama temannya. Cepat!".

Tanpa banyak cincong, anak-anak kelas sepuluh langsung bergerak patuh.

Nadira menyapu pandangannya ke seluruh penjuru area kelas sepuluh. Masih ada sudut yang kurang rapi. Ia menghela napas pendek. "Kalau sebelum Bu Sinta yang turun tangan ngurus kalian di sini... mending kalian nurut sama saya dari sekarang."

Sentilan tegas itu bukan lahir dari rasa galak tanpa alasan, melainkan bentuk profesionalismenya agar upacara bendera berjalan khidmat dan efisien.

Dari kejauhan dekat tiang bendera, beberapa guru yang mengamati pergerakan Nadira mengangguk-angguk kagum. Pak Toni berbisik pelan pada Bu Sinta di sebelahnya, "Itu makanya saya selalu sreg sama Nadira. Kalau kerja... tegas dan berprinsip."

Bu Sinta mengulas senyum bangga. "Iya, Pak. Anaknya tahu betul kapan harus berkarakter lembut, dan kapan harus mengambil kendali dengan tegas."

Pemeriksaan Atribut

Melihat barisan kelas sepuluh sudah lurus laksana penggaris, Nadira menoleh ke arah Cantika. "Can."

"Iya, Kak?"

"Sekarang jalan periksa atribut."

"Siap!"

"Dasi, topi, sabuk logo sekolah. Kalau ada yang bolong alias nggak lengkap, suruh keluar barisan dan kumpulkan di sebelah barisan X-11."

"Siap, Kak."

"Oh iya, satu lagi. Cek kaus kakinya juga," tambah Nadira teliti.

Cantika menyimak seraya mencatat di buku saku. "Yang pakai kaus kaki pendek atau hitam dipisah juga, Kak?"

"Iya. Kaus kaki yang nggak sesuai standar sekolah, suruh baris bareng yang atributnya belum lengkap."

"Siap!"

Cantika mulai menyusuri barisan demi barisan. "Selamat pagi. Izin cek atribut ya," sapanya ramah namun sigap.

Satu per satu siswa menegakkan badannya. Cantika menginspeksi dengan mata jeli.

"Dasi ada, topi ada, sabuk ada. Aman," gumam Cantika di barisan pertama.

Ia bergeser ke siswa berikutnya. "Topi kamu mana?"

Siswa itu meringis. "Ketinggalan di rumah, Kak..."

"Geser ke barisan khusus di sebelah kanan X-11 ya."

"Iya, Kak."

Langkah Cantika berlanjut. "Sabuk kamu mana?"

"Lupa nempatin tadi pagi, Kak..."

"Pindah ke sebelah sana."

Lalu ke siswa berikutnya lagi. "Kaus kaki kamu pendek di bawah mata kaki. Pindah ke sebelah juga."

"Siap, Kak..."

Tak sampai sepuluh menit berjalan, sudah ada sekitar belasan murid yang berbaris rapi di samping kelas X-11 akibat pelanggaran atribut harian. Nadira melangkah menghampiri rombongan tersebut.

"Kenapa atributnya pada nggak lengkap?" tanya Nadira datar.

Salah satu siswa menjawab dengan nada menyesal, "Lupa bawa, Kak..."

"Lupa itu wajar, manusiawi. Tapi besok-besok jangan diulang lagi," ujar Nadira melunak, namun kalimatnya menusuk. "Besok sebelum berangkat sekolah, luangkan waktu dua menit buat cek barang bawaan. Topi, dasi, sabuk, kaus kaki putih tinggi. Kalau lengkap kan kalian sendiri yang enak, nggak perlu berdiri terpisah begini."

"Siap, Kak Ketos..." sahut belasan siswa itu serempak.

Mendengar kepatuhan mereka, raut wajah Nadira menyurut hangat. Senyum tipisnya kembali. "Bagus. Besok jangan sampai alpa lagi ya."

"Iya, Kak!"

Cantika mendekati Nadira seraya menunjukkan lembar catatannya. "Kak, udah disisir semua. Yang kurang atribut ada lima belas orang, yang kaus kakinya melanggar ada tujuh orang."

Nadira mengangguk paham. "Rekap semuanya, nanti usai upacara serahkan berkasnya ke Bu Sinta."

"Siap!"

Di sudut lain lapangan, Dwi dan Fara tampak sangat cakap merapikan angkatan kelas sebelas. Sementara Silva dan Angel bertugas mengawasi angkatan kelas dua belas yang jauh lebih kooperatif. Dari selasar, Adit dan Rani baru saja kembali usai menyisir seluruh ruang kelas dan memastikan tidak ada satu pun siswa yang bersembunyi di toilet atau kantin.

Kini, lapangan SMAN 1 Yogyakarta tampak begitu anggun dan tertib. Barisan berdiri tegak lurus, jarak antarkelas simetris, dan atmosfer riuh mendadak hening syahdu.

Nadira memandangi hamparan lapangan itu dengan napas lega. Dalam hatinya ia bergumam, 'Kalau semua bisa disiplin begini... upacara pasti bakal berjalan sempurna.'

Sementara itu, di barisan paling belakang kelas XII IPA 1...

Arga yang berdiri gagah di antara jajaran tim basket sekolah, diam-diam tak bisa melepaskan pandangan dari sosok cewek ber-almamater OSIS di depan sana.

Arga memperhatikan bagaimana Nadira memimpin, bagaimana suaranya yang tegas mengarahkan ratusan murid, bagaimana tatapannya yang berwibawa memberi komando tanpa ragu, lalu bagaimana senyum manisnya kembali terukir saat tugasnya tuntas dengan sempurna.

Arga menyunggingkan senyum tipis di balik barisan upacara.

'Kalau udah pakai jas OSIS dan berdiri di lapangan... aura Ketos-nya bener-bener menyala,' batin gua terkagum-kagum.

Arga menggeleng pelan, mengingat sebuah ironi manis. Padahal... baru sekitar dua puluh menit yang lalu, gadis tegas yang kini ditakuti anak-anak kelas sepuluh itu masih tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka di jok belakang motor Ninja gua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!