Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
.
Malam.mulai larut ketika Alena menyusuri jalanan menuju keluar dari kompleks perumahan elit tempat rumah keluarga Bagaskara berada. Langkahnya terasa ringan, tetapi hatinya justru semakin sesak. Kini ia benar-benar merasa bahwa ia tidak memiliki siapa-siapa, juga tidak punya tempat untuk pulang.
Saat sudah keluar dari kompleks, Alena mengeluarkan ponsel dari tasnya dan membuka daftar kontak. Mencari siapa yang kira-kira bisa ia hubungi. Ingin menghubungi Rika, tapi sahabatnya itu pasti masih berada di rumah sakit. Hingga kemudian jarinya berhenti di kontak sahabatnya, Nisa.
Alena menarik napas panjang sebelum menekan tombol panggil. Cukup lama menunggu dan panggilan tak juga tersambung.
“Apa Nisa sudah tidur?" gumamnya seraya menghela nafas. Jam di layar ponsel sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Memang sudah waktunya orang istirahat.”
Hampir saja Alena menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, saat tiba-tiba ponselnya berdering dan ada nama Nisa di sana.
"Halo, Len? Ada apa? Kamu baik-baik saja kan? Maaf aku sudah tidur tadi."
"Nis..." Suara Alena terdengar lemah. "Apa aku bisa menginap di rumahmu malam ini saja?"
Di seberang sana, Nisa terdiam cukup lama.
"Len… Aku ingin sekali membantumu, tapi… keluarga mertuaku hari ini datang dari luar kota. Semua kamar sudah dipakai."
Alena memaksakan senyum, meski Nisa tak mungkin melihatnya. "Ya sudah tidak apa-apa."
"Len, aku benar-benar minta maaf."
"Iya gak papa. Mungkin sesekali aku harus merasakan nikmatnya nginap di hotel." Alena tertawa meskipun sebenarnya hatinya sendu.
“Kamu pergi dari rumah? Kamu ada di mana sekarang?” suara Nisa terdengar khawatir. "Aku telpon Rudi buat nyari kamu, ya?"
“Jangan!” Alena menyahut cepat. Rudi adalah seorang senior di kampus mereka yang dulu pernah menyatakan cinta pada Alena. Namun, waktu itu Alena menolaknya. Selain karena Alena tidak memiliki perasaan pada Rudi, juga karena Alena sudah terikat perjodohan dengan keluarga Sebastian.
Nisa kembali menanyakan lokasi Alena, namun gadis itu tetap tak mau memberikannya. Sangat tidak enak rasanya jika sekarang ia mau memanfaatkan kebaikan Rudi padanya. Ia meyakinkan sahabatnya kalau dirinya akan baik-baik saja.
Setelah panggilan berakhir, Alena menatap layar ponselnya beberapa saat lalu menghela napas pelan. Saat orang tuanya bahkan tak peduli padanya, masih ada teman yang mengkhawatirkan dirinya.
“Aku pasti bisa," ucapnya menyemangati diri sendiri. “Aku akan tunjukkan pada Papa sama Mama kalau tanpa fasilitas dari mereka pun aku akan tetap hidup.
Alena membuka kembali ponselnya untuk memesan taksi online. Mungkin dia memang harus tinggal di hotel untuk sementara.
Dengan tabungan yang ia miliki, Alena berniat memesan kamar di sebuah hotel. Namun, baru saja ia hendak menyerahkan kartu identitas di meja resepsionis, petugas itu menggeleng pelan.
"Maaf, Bu. Semua kamar sudah penuh."
"Penuh?"
"Iya. Ada rombongan acara yang baru saja melakukan pemesanan."
Alena mengangguk pelan. "Baik, terima kasih."
Alena keluar lagi dari hotel itu dan kembali memesan taksi mencari hotel lain. Namun, hal yang sama kembali terjadi. Hotel penuh.
“Ada apa dengan orang-orang hari ini?" Alena memijit pelipisnya saat ia sudah kembali berada dalam taksi berikutnya. “Kenapa semua orang jadi senang tinggal di hotel? Apa mereka juga tidak punya rumah sepertiku?"
Sopir taksi yang mendengar gerutuan Alena menoleh menatap dari kaca spion. Hanya sesaat sebelum kemudian kembali menatap jalanan di hadapannya.
Taksi berhenti di depan hotel ketiga. Tapi saat ia baru turun dari taksi, dan taksi itu baru saja berlalu meninggalkannya, Alena ragu untuk masuk. Hotel kelas bintang lima seperti itu, pasti harga sewa kamarnya sangat mahal. Sedangkan saat ini dirinya tak lagi bebas mengeluarkan uang seperti kemarin. Semua kartu bank nya sudah diambil oleh papanya. Yang ia miliki hanya tinggal tabungan pribadi yang jumlahnya tak seberapa.
Alena tertawa hambar. "Lengkap sudah kesialan ku hari ini," ucapnya menertawakan kemalangannya. “Pernikahan gagal, jadi trending topik di seluruh media, diusir dari rumah. Sekarang… cuma mau tidur aja susah.”
Karena lelah, Alena akhirnya duduk di sebuah bangku taman kecil di depan pusat perbelanjaan tak jauh dari hotel itu. Beberapa orang yang lewat dan mengenali wajahnya yang mendadak viral hari ini menatap heran. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang diam-diam mengambil foto. Namun, Alena sudah terlalu lelah untuk memedulikan semuanya.
Perutnya mulai berbunyi. Baru ia sadar belum mengisi perut sejak bangun tidur sore tadi. Alena merogoh tas kecilnya. Hanya tersisa beberapa lembar uang cash di dalamnya. Alena tersenyum pahit. Sekarang, bahkan untuk kebutuhan paling sederhana pun ia harus berpikir berkali-kali.
“Tidak apa-apa, Alena. Yang penting isi perut dulu. Setelah ini bisa cari informasi kontrakan murah. Kamu tidak akan mati hanya karena keluar dari rumah Bagaskara. Kamu punya otak, kamu bisa bekerja meskipun bukan di Bagaskara grup.” Lagi-lagi gadis itu mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Namun, saat gadis itu baru saja hendak berdiri dari tempat duduknya, suara klakson mobil terdengar tak jauh dari bangku tempatnya duduk.
Alena yang terkejut spontan menoleh. Dan tampak olehnya sebuah Lamborghini hitam berhenti tidak jauh darinya.
Pintu belakang terbuka, lalu seorang pria bertubuh tinggi turun dengan langkah tenang. Setelan jas abu-abu gelap yang dikenakannya terlihat sederhana, tetapi memancarkan kesan elegan. Wajahnya tampan dengan sorot mata tajam yang sulit ditebak.
Alena benar-benar terkejut ketika tiba-tiba saja pria itu berjalan mendekat lalu ikut duduk di bangku di sampingnya.
"Sepertinya hari Anda cukup berat.”
Alena terbelalak bahkan sampai menelan ludahnya dengan susah payah saat mengenali wajah pria itu yang memang begitu terkenal di kalangan pengusaha. Pengusaha yang terkenal dengan sifatnya yang dingin dan mematikan. Pengusaha yang sama sekali tak pernah kenal ampun jika ada satu saja kesalahan. Pengusaha yang selalu dihormati oleh kawan maupun lawan.
Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah... pria tampan ini merupakan idola Selena. tokoh yang begitu diidam-idamkan oleh kakaknya.
Dia adalah Tuan Muda….
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣