Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: "Mama Datang Mengecek"
Laras menerima kotak itu dengan kedua tangan.
"Buka," kata Arkan.
Tutup beludru terangkat. Sebuah cincin emas putih terbaring di dalamnya, dihiasi batu oval dan dua garis lengkung yang bertemu di sisi batu.
Dari depan, bentuknya sangat mirip dengan cincin yang dipamerkan Tiara di lobi.
Kegembiraan yang sempat muncul di dada Laras langsung tertahan.
"Ini... lagi promo beli satu gratis satu?" tanyanya.
Arkan mengerutkan dahi. "Apa?"
"Atau desain yang sedang ramai?"
"Dibuat khusus."
Laras memiringkan kotak, memeriksa garis di sisi cincin. Detailnya memang lebih halus daripada milik Tiara, tetapi kesan pertama sudah telanjur mengganggu.
"Garis ini apa?" tanyanya.
"Dua jalur yang bertemu."
"Seperti rute pesawat?"
"Bisa juga seperti track di radar." Arkan berdeham, seolah penjelasan itu membuatnya tidak nyaman. "Aku minta bentuknya rendah supaya nggak mengganggu waktu kamu kerja. Di dalam ada tanggal akad."
Laras mengangkat cincin sedikit dan melihat ukiran kecil tersebut. Tiara tidak memperlihatkan sisi dalam cincinnya. Laras seharusnya langsung memahami bahwa benda ini tidak mungkin dibeli sembarangan.
Namun, pertanyaan lain lebih dulu muncul. "Siapa yang tahu desain ini?"
"Desainer dan staf toko. Dio cuma lihat gambar tadi siang. Kenapa?"
Laras hendak menjawab, tetapi kesamaan dengan cincin Tiara membuat kata-katanya terdengar seperti tuduhan bahkan di kepalanya sendiri. Ia memilih pertanyaan tentang promosi, dan seketika melihat kehangatan di wajah Arkan menghilang.
Arkan melihat ekspresinya dan salah memahami keheningan itu.
"Kamu nggak suka?"
"Bukan begitu."
"Kalau modelnya nggak cocok, bisa diganti."
Nada Arkan kembali datar. Ia mengambil kotak tersebut, tetapi gerakannya lebih kaku daripada biasa. Sepanjang hari ia sudah mempertimbangkan apakah Laras akan menyukai batu, garis, dan bentuk rendahnya. Satu kalimat tentang promosi membuat semua pertimbangan itu terasa konyol.
"Aku bisa kembalikan besok," katanya.
"Arkan, tunggu."
Ponselnya berdering sebelum Laras sempat menjelaskan. Nama Ratna muncul di layar.
Arkan mengangkat melalui audio mobil. "Iya, Ma?"
"Kamu sudah pulang?"
"Sedang jemput Laras."
"Bagus. Mama sama Bu Wulan baru selesai makan di kawasan bandara. Kami mau mampir lihat rumah kalian."
Arkan menatap jam. "Sekarang?"
"Dua puluh menit lagi sampai. Mama cuma mau lihat penataan rumah. Bu Wulan bilang arah tempat tidurnya perlu dicek."
Dari seberang terdengar Wulan protes bahwa ia tidak pernah mengatakan itu. Ratna mengabaikannya.
"Sampai ketemu," katanya, lalu menutup panggilan.
Arkan langsung memahami mengapa pagi tadi Ratna menanyakan jam kepulangannya tiga kali.
"Mama mau mengecek kita," katanya.
"Mengecek apa?"
"Apakah rumah ini benar-benar ditinggali pasangan menikah."
Laras menatap kotak cincin di tangan Arkan, lalu membayangkan dua bantal tambahan yang setiap malam membentuk garis di tengah ranjang. Mereka memang tidur di kamar yang sama sejak awal, tetapi masih seperti dua orang yang menyewa sisi masing-masing. Sebagian perlengkapan terbang Arkan, seragam cadangan, dan tas mandi tetap berada di lemari kamar tamu agar jadwal mereka tidak saling mengganggu.
Kalau Ratna membuka satu pintu, ia akan langsung tahu.
Begitu mobil masuk garasi, mereka berlari ke dalam rumah.
"Sisa delapan belas menit," kata Arkan.
"Kenapa Mama-Mama datang seperti audit?"
"Karena mereka memang mau audit."
Arkan mengambil dua bantal pembatas dari ranjang utama dan membawanya ke lemari penyimpanan. Laras menarik selimut agar bekas garis di tengah hilang, lalu memindahkan sandal rumah Arkan yang biasanya diletakkan dekat kamar tamu.
"Tas terbangmu," katanya.
"Ambil yang hitam. Yang biru biarkan, itu koper biasa."
Mereka memindahkan flight bag, dua kemeja seragam, jaket, dan tas perlengkapan mandi ke kamar utama. Arkan membuka sisi kiri lemari Laras dan berhenti.
"Penuh."
"Karena dari awal kamu bilang pakai lemari kamar tamu."
"Geser bajumu."
"Nggak bisa."
"Kenapa ada enam blus putih yang sama?"
"Itu seragam kerja. Semua beda."
Arkan jelas tidak melihat perbedaannya. Ia menggantung dua kemeja di antara gaun Laras, lalu memasukkan epaulet dan name tag ke laci kosong. Laras menaruh sikat gigi serta alat cukur Arkan di wastafel utama, kemudian menambahkan parfum dan jam tangannya di atas nakas kiri.
Di kamar tamu masih ada satu selimut tipis yang biasa dipakai Arkan ketika pulang terlalu larut dan tidak ingin membangunkan Laras. Laras melipatnya, lalu berhenti dengan kain itu di tangan.
"Kita sebenarnya nggak bohong," katanya. "Kita memang tidur di kamar utama."
"Mama nggak akan melihatnya begitu kalau menemukan semua barangku di sini."
"Karena kita masih seperti dua penghuni yang berbagi ranjang."
Arkan menatapnya. Laras menyesali kalimat itu begitu keluar. Mereka sudah semakin dekat, tetapi dua bantal di tengah ranjang tetap menjadi pengingat bahwa hubungan ini dimulai sebagai kesepakatan. Laras yang mempertahankannya karena takut satu sentuhan kecil akan membuat perasaan sepuluh tahun tumpah tanpa kendali.
"Aku pernah bilang kita bisa menunggu sampai kamu terbiasa," kata Arkan.
"Aku tahu."
"Aku nggak keberatan menunggu."
Justru kesabarannya membuat hati Laras semakin sulit dijaga. Ia membawa selimut itu ke lemari penyimpanan tanpa menjawab.
"Terlalu rapi," katanya. "Kelihatan baru dipindah."
Arkan mengambil jam tangan dan meletakkannya sembarangan. "Sekarang?"
"Kelihatan sengaja dibuat berantakan."
"Memangnya aku harus latihan berantakan?"
Bel pintu berbunyi.
Keduanya membeku.
"Tiga belas menit," gumam Laras. "Mereka lebih cepat."
Ratna masuk membawa buah, Wulan membawa sekotak makanan dari Kopi Wulan. Keduanya tersenyum terlalu polos.
"Rumahnya nyaman," kata Wulan sambil memandang Laras dengan tatapan minta maaf.
"Mama sudah pernah ke sini," kata Arkan kepada Ratna.
"Waktu itu belum sempat melihat penataan setelah Laras pindah."
Ratna berjalan ke ruang makan, memeriksa kulkas yang kini penuh, lalu mengangguk puas melihat daftar jadwal di pintu. Wulan menanyakan apakah shower sudah diperbaiki. Laras menjawab iya dan berharap pemeriksaan berakhir di sana.
Harapan itu gagal.
"Kamar utama dapat cahaya pagi atau sore?" tanya Ratna.
"Pagi," jawab Arkan.
"Lihat sebentar, yuk, Bu Wulan. Kalau cahaya pagi bagus untuk sirkulasi."
Arkan berdiri di depan lorong. "Mama datang mengecek sirkulasi atau kamar?"
Ratna tersenyum. "Dua-duanya."
Mereka masuk ke kamar utama. Laras menahan napas ketika Wulan melihat dua sisi nakas. Parfum Arkan ada di kiri, pelembap bibir Laras di kanan. Dua set pakaian tampak di lemari yang pintunya sengaja dibiarkan setengah terbuka.
Ratna menyentuh ujung selimut yang baru dirapikan. "Bagus. Kalian sudah menyesuaikan."
"Kami baik-baik saja," kata Arkan.
"Mama cuma memastikan kamu nggak membuat Laras merasa seperti tamu."
Kalimat itu mengenai sasaran yang berbeda. Arkan melihat flight bag yang baru dipindahkan, lalu sisi lemari yang selama ini hampir seluruhnya milik Laras. Meski mereka tidur di ranjang yang sama, banyak kebiasaannya memang masih berdiri di kamar lain, seolah ia siap mundur kapan saja.
"Dia bukan tamu," jawabnya.
Laras menoleh kepadanya.
Wulan tersenyum kecil. Ratna tampak puas, tetapi tetap membuka pintu kamar tamu dengan alasan ingin melihat apakah ruang itu bisa dipakai Eyang Broto bila suatu hari berkunjung. Di dalam hanya ada koper biru, meja kosong, dan lemari yang kini hampir kosong.
"Bisa," kata Ratna singkat.
Audit selesai.
Mereka kembali ke ruang tamu untuk minum teh. Wulan bercerita tentang Kopi Wulan, sementara Ratna mengingatkan Arkan agar tidak membiarkan jadwal terbang membuatnya lupa makan bersama istri. Tidak ada seorang pun menyebut dua bantal yang sedang tersembunyi di lemari penyimpanan.
"Kalian sempat sarapan bersama berapa kali minggu ini?" tanya Ratna.
"Dua," jawab Laras.
"Tiga," kata Arkan bersamaan.
Ratna mengangkat alis.
"Yang satu jam tiga pagi," jelas Arkan. "Tetap sarapan setelah sif."
"Itu makan malam terlambat," protes Laras.
"Kamu makan telur dan roti. Sarapan."
Wulan tertawa. "Kalau sudah berdebat soal nama waktu makan, berarti memang sering makan bersama."
Ratna lalu melihat kalender jadwal di pintu kulkas. Arkan menjelaskan warna penerbangan dan Laras menunjukkan blok sif approach. Di sampingnya ada daftar belanja serta catatan siapa yang terakhir mengisi ulang air minum.
"Ini lebih meyakinkan daripada arah tempat tidur," kata Wulan.
"Mama memang nggak pernah bilang soal arah tempat tidur," ujar Laras.
Ratna minum teh tanpa merasa bersalah. "Kalau Mama bilang mau memeriksa apakah kalian hidup seperti pasangan, kalian pasti menolak didatangi."
"Karena itu memang terdengar seperti audit," kata Arkan.
"Dan hasil auditnya baik." Ratna tersenyum kepada Laras. "Mama cuma ingin tahu kamu nggak sendirian di rumah ini ketika Arkan sibuk terbang."
Laras memahami kekhawatiran di balik siasat tersebut. Ratna pernah kehilangan suami pada dunia penerbangan dan mungkin selalu mengukur rumah dari siapa yang menunggu dan siapa yang kembali. Laras tidak membongkar alasan itu. Ia hanya berkata bahwa mereka sudah belajar saling memberi jadwal dan kabar.
Wulan menyentuh punggung tangan putrinya. "Yang penting, jangan sungkan bilang kalau ada yang membuatmu nggak nyaman. Menikah bukan berarti harus langsung bisa semuanya."
Tatapan Laras tanpa sadar beralih kepada Arkan. Laki-laki itu tidak tampak tersinggung. Ia justru mengangguk kecil, menguatkan janji yang sebelumnya ia berikan: tunggu sampai kamu terbiasa.
Satu jam kemudian, kedua ibu akhirnya pamit. Ratna memeluk Laras dan berpesan agar menelepon jika Arkan terlalu sulit diatur. Wulan mencium kening putrinya, lalu berbisik bahwa semua ini ide Ratna.
"Mama ikut juga," balas Laras pelan.
Wulan tertawa bersalah dan menyusul Ratna keluar.
Pintu tertutup.
Rumah langsung sunyi.
Arkan bersandar pada pintu, sementara Laras melihat kotak cincin yang diletakkan di meja konsol. Kegembiraan, salah paham, dan kedatangan dua ibu telah bercampur menjadi satu malam yang melelahkan.
"Besok aku kembalikan," kata Arkan. "Pilih desain yang kamu suka sendiri."
"Aku belum bilang nggak suka."
"Reaksimu cukup jelas."
Ada kekecewaan kecil di matanya yang membuat Laras merasa lebih bersalah daripada yang ia duga. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Cincin itu," katanya, "Tiara punya yang kelihatannya persis sama. Dia datang ke kantor dan sengaja memamerkannya supaya aku kesal."