NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Mendadak Jadi Simpanan Tuan Douglas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Transmigrasi
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!

Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.

Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.

"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas

"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebebasan Kecil

Cecilia perlahan membuka matanya saat fajar mulai menyingsing masuk melalui celah jendela kamar. Saat ia bergeser bangun dari posisinya, ia mendapati Douglas tengah berdiri di dekat meja, sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Pria tampan berdarah dingin itu sudah tampak sangat rapi dalam balutan setelan jas formal lengkap seperti sedia kala.

​Tanpa sengaja, pandangan mata mereka bertemu di pantulan cermin besar. Cecilia langsung membuang mukanya ke arah lain, enggan berlama-lama menatap manik biru pria yang telah menghancurkan dunianya itu.

​Douglas berjalan mendekat ke arah ranjang dengan sehelai dasi di tangannya. Seperti biasa, ia menyodorkan dasi tersebut ke hadapan Cecilia, memberikan isyarat bisu agar wanita itu kembali menjalankan tugas rutinnya.

​Awalnya, Cecilia berniat menolak mentah-mentah. Namun, ia merasa terlalu lelah, terlalu malas, dan sudah kehilangan seluruh sisa tenaga untuk sekadar berdebat atau membuka suara di hadapan Douglas. Entahlah, yang ada di dalam benaknya saat ini hanyalah keinginan kuat untuk segera pergi dan tidak ingin berlama-lama terjebak di dalam satu ruangan dengan pria itu.

​Dengan ekspresi yang sepenuhnya datar dan tanpa nyawa, Cecilia meraih dasi tersebut. Ia bangkit berlutut di atas ranjang, lalu mulai melingkarkan dan memasang simpul dasi di leher Douglas dengan gerakan mekanis.

​Sementara itu, Douglas berdiri diam. Sepasang netra birunya mengamati setiap inci ekspresi di wajah Cecilia. Hari ini, tidak ada lagi kerutan sebal, tidak ada lagi bibir yang mengerucut kesal, atau omelan cerewet yang biasanya memenuhi pagi hari mereka. Douglas merasa ada perbedaan yang sangat besar dan janggal dari sosok Cecilia, gadis itu kini tampak bagaikan boneka porselen yang kehilangan jiwanya.

​"Sudah," ucap Cecilia lirih begitu simpul dasi itu selesai, suaranya terdengar datar dan hambar.

​Tanpa menunggu komentar lebih lanjut, Cecilia segera bangkit dari ranjang dan berniat langsung melangkah pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

​Namun, langkahnya terhenti seketika saat sebuah tangan kokoh mencekal pergelangan lengannya.

​"Mau ke mana?" tanya Douglas dingin.

​Cecilia menoleh pelan, menatap Douglas dengan tatapan kosong tanpa emosi.

"Aku mau ke kamar mandi."

​Douglas menatap lekat-lekat manik mata coklat Cecilia yang meredup. Pria itu menghela napas panjang dengan berat, sebuah gestur frustrasi yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.

​"Dengar, Cecilia," ucap Douglas dengan nada suara yang sedikit melunak namun tetap tegas.

"Mulai hari ini, kamu boleh keluar dari kamar ini. Kamu bebas pergi ke mana pun di dalam area mansion... asalkan kamu tidak melangkah keluar melewati pintu utama."

​Mendengar penawaran itu, Cecilia hanya bergeming. Tidak ada binar kebahagiaan, tidak ada anggukan antusias, bahkan tidak ada sepatah kata ucapan terima kasih yang meluncur dari bibirnya. Ia hanya menatap Douglas dengan tatapan kosong, seolah kebebasan kecil itu tidak lagi berarti apa-apa baginya.

​Sikap dingin dan bungkam total itu kontan membuat Douglas berdecak kesal di dalam hatinya.

"​Sial!" batin Douglas jengkel.

"Padahal aku sudah bermurah hati memberikan kebebasan padanya untuk berkeliling mansion, tapi dia bahkan tidak sudi mengucapkan satu patah kata pun padaku! Aku justru ingin mendengar bantahan, omelan, atau cacian darinya... asal bukan mulut itu yang terkunci rapat seperti orang bisu!"

​Merasa percuma melanjutkan perdebatan, Douglas akhirnya melepaskan cekalan tangannya dari lengan Cecilia. Ia meraih jas kerja dan ponselnya dari atas nakas.

​"Aku berangkat," kata Douglas ketus, lalu membalikkan badan dan melangkah keluar kamar meninggalkan Cecilia yang masih terpaku diam di tempatnya.

​Sebelum benar-benar melangkah turun ke lantai bawah dan meninggalkan mansion untuk pergi bekerja, Douglas menghentikan langkahnya di dekat area dapur. Ia melihat Dorothy, wanita paruh baya kepercayaan keluarga yang sedang menyiapkan sarapan.

​"Dorothy," panggil Douglas dengan suara tegasnya.

​Dorothy seketika berbalik, lalu menunduk hormat kepada sang tuan muda.

"Iya, Tuan Essen? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dorothy sopan.

​Douglas menatap wanita paruh baya itu dengan ekspresi datar. "Mulai hari ini, ajak Cecilia keluar dari kamar," perintah Douglas tanpa basa-basi.

"Bawa dia berkeliling mansion, biarkan dia melihat-lihat isi rumah ini."

​Mendengar instruksi yang tidak biasa itu, mata Dorothy membelalak lebar. Rasa terkejut bercampur kebahagiaan yang luar biasa langsung membuncah di dadanya.

"​Ya Tuhan... akhirnya!" batin Dorothy bersorak gembira.

​Selama beberapa hari terakhir ini, Dorothy sangat mengkhawatirkan kondisi nona muda yang dirawatnya itu. Melihat Cecilia yang terkurung dalam kesedihan mendalam bagaikan mayat hidup membuat hati kecil Dorothy terasa ngilu. Dengan adanya izin dari Douglas ini, akhirnya Cecilia diperbolehkan keluar kamar meskipun masih dibatasi tidak boleh melewati gerbang utama.

​Mungkin, dengan cara berkeliling dan menghirup udara segar di dalam lingkungan mansion yang luas ini, keceriaan dan senyuman manis Cecilia bisa perlahan-lahan kembali seperti sedia kala, dan sedikit demi sedikit membantu gadis malang itu melupakan kenyataan pahit serta trauma kelam yang baru saja merenggut bagian berharga dari hidupnya.

​"Baik, Tuan! Saya mengerti!" jawab Dorothy dengan penuh semangat dan senyuman lebar di wajahnya.

"Saya akan menjaga Nona Cecilia dengan baik."

​Douglas menganggukkan kepalanya pelan sekali, lalu ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju mobil mewah yang sudah menunggunya di halaman depan mansion.

​Tidak lama setelah kepergian Douglas, Dorothy segera menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Dengan langkah tergesa namun antusias, wanita paruh baya itu membawa nampan berisi teh hangat dan kue kering menuju lantai atas, tepatnya ke kamar tidur utama tempat Cecilia berada.

​Tok, tok.

​Dorothy mengetuk pintu kamar dengan lembut sebelum membukanya perlahan. Ia mendapati Cecilia sedang duduk termenung di tepi ranjang dengan balutan dress cream polos yang mempermanis tampilannya, meskipun raut wajahnya tetap sepucat kapas.

​"Nona Cecilia..." sapa Dorothy dengan suara lembut penuh kehangatan, melangkah mendekat dengan senyuman ramah.

​Cecilia menoleh pelan, menatap Dorothy sekilas sebelum kembali menundukkan pandangannya ke lantai.

"Ya, Dorothy... ada apa?" jawab Cecilia lirih, suaranya terdengar sangat pelan dan serak.

​Dorothy meletakkan nampannya di atas meja nakas, lalu berlutut pelan di hadapan Cecilia, meraih kedua tangan dingin gadis itu dan menggenggamnya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anaknya sendiri.

​"Nona, tadi Tuan Douglas berpesan padaku sebelum beliau pergi ke kantor," ucap Dorothy dengan mata berbinar-binar penuh harap.

"Tuan bilang... Nona sekarang sudah boleh keluar dari kamar!"

​Mendengar nama pria itu disebut, bahu Cecilia sempat menegang kecil. Ia mendongak, menatap Dorothy dengan kening berkerut tipis.

"Maksudnya?"

​"Iya, Nona!" sahut Dorothy antusias.

"Nona sekarang bebas berjalan-jalan di dalam area mansion ini. Meskipun kita belum diizinkan keluar lewat pintu utama, tapi rumah ini sangat luas sekali, Nona! Ada banyak tempat indah di dalam bangunan megah ini yang belum sempat Nona lihat selama Nona dikurung di kamar."

​Cecilia menggeleng pelan, menarik sebelah tangannya dengan lesu. "Aku malas, Dorothy... di kamar saja rasanya sudah cukup melelahkan," gumamnya pelan, sorot matanya kembali menyiratkan kehampaan.

"Buat apa berkeliling? Tempat ini tetap saja sebuah sangkar emas..."

​Mendengar penolakan bernada putus asa itu, Dorothy tidak lantas menyerah. Wanita paruh baya itu justru semakin gencar merayu Cecilia dengan senyuman tulusnya.

​"Eh, tidak boleh begitu, Nona!" protes Dorothy ramah namun tegas.

"Kalau Nona terus-menerus mengurung diri di dalam ruangan tertutup ini, pikiran Nona malah akan dipenuhi awan mendung terus! Ayo, kita jalan-jalan di dalam rumah. Nanti saya akan menemani Nona, menjelaskan setiap sudut ruangan bersejarah di mansion ini, menceritakan koleksi lukisan antik milik leluarga Tuan Essen, sampai ke taman indoor yang sangat cantik di sayap barat bangunan ini! Dijamin, Nona tidak akan bosan, deh!"

​Cecilia terdiam sejenak. Ia menatap wajah Dorothy yang begitu tulus memancarkan kepedulian dan kasih sayang tanpa pamrih. Sedikit banyak, kehangatan yang diberikan Dorothy berhasil melunakkan dinding es di dalam hatinya.

​"Taman... indoor?" tanya Cecilia ragu-ragu, tertarik sepersekian persen oleh penyebutan tempat baru.

​"Betul sekali, Nona!" seru Dorothy gembira melihat ada sedikit respons positif dari Cecilia.

"Di sana ada banyak sekali bunga-bunga segar yang indah, udaranya sejuk, dan sangat tenang untuk merelaksasi pikiran. Ayo, Nona... jangan sedih terus ya? Mari kita jalan-jalan sebentar. Biar saya yang dampingi dari awal sampai selesai, tidak akan ada yang terlewatkan sedikit pun!"

​Cecilia menimbang-nimbang sejenak. Menatap kamarnya yang terasa sesak oleh bayang-bayang malam mengerikan beberapa hari lalu, ia akhirnya menghela napas pasrah.

​"Baiklah... kalau Bibi Dorothy memaksa," jawab Cecilia akhirnya dengan suara pelan, mengangguk kecil.

​Mendengar jawaban itu, Dorothy tersenyum lebar penuh kelegaan. Ia segera membantu Cecilia berdiri, merapikan sedikit pakaian gadis itu, dan menuntunnya melangkah keluar dari pintu kamar, memulai langkah kecil pertama Cecilia keluar dari sangkar penjaranya setelah hari-hari penuh badai air mata.

Bersambung...

Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Potatoes 🥔
Clingy banget 😒
Potatoes 🥔
Makanya, komunikasi yang bener😒
partini
mau kabur kemana mending ga usah lah nanti ketemu lagi percuma aja
Mia Camelia
seneng nya ngliat mereka berdua akur2 jom and jerry🤣🤣🤣🤣
Mia Camelia
coba dari dulu doghlas bersikap manja ky bgini, pasti cecil gk bakal kabur🤣🤣🤣
Mia Camelia
waduh jangan2 doughlas udah berubah nih jadi greenflag🤔🤔🤔
ati2 cecil🤭🤭🤭
Mia Camelia
akhir nya cecilia udah semangat lgi🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
Mita Paramita
douglas terlalu kejam
Mia Camelia
kalo sama2 susah berkomunikasi ky gini, kasian cecilia nya😔😔😔
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
It's me Ri🥕: Tentunya kita kasih pelajaran, cuma kan ga mungkin langsung masuk kesitu kak, bentar lagi konflik kok dan Douglas nyesel😁 Ditunggu yaaa
total 1 replies
partini
kaya rollercoaster mereka berdua
mungkin methong kedua kali cil baru bebas
Alissia
awas nanti cilcila hamil🤭🤭😖😖
Alissia: hamil thor tapi sama Dougles di paksa anu anu sampek keguguran cilcilanya😢😢
total 2 replies
Alissia
kok gak peka sih Dougles tak getok palamu🤭🤭
Alissia
apa Douglas punya ke pribadian ganda 🤔🤔🤭🤭
Alissia
bayi tuanya mimik cucu 🤣🤣
Alissia
kayaknya Douglas udah jatuh cinta sama Ciilcila tapi gengsi mau menggungkapkan🤭🤭
Alissia
awas bucin Douglas🤭🤭🤭
Dewi Anggraeni
Lanjutttt
Dewi Anggraeni
lanjut
Dewi Anggraeni
lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!