Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 25
Tiga tahun lalu, di sebuah sudut kafe kecil yang tenang di pinggiran kota.
Suasana kafe sore itu sangat sejuk oleh gemericik gerimis tipis. Di sebuah meja sudut berbingkai kayu hangat, Arsen yang saat itu masih berusia pertengahan dua puluhan dan belum mengenakan setelan jas kaku CEO duduk berhadapan dengannya. Arsen saat itu memakai kaus polos putih dipadu kemeja flanel yang tergulung santai hingga siku, dengan senyum ramah yang selalu siap mekar setiap kali manik matanya menatap Tsania.
"Kenapa melamun, sayang?" tanya Arsen muda kala itu, suaranya sangat lembut, penuh kehangatan yang belum tersentuh oleh keangkuhan dan dendam. Tsania muda terkekeh kecil, memindahkan sendok tehnya di dalam cangkir kapucino hangat.
"Siapa yang melamun? Aku cuma lagi menikmati suara hujan, Mas."
"Bohong," goda Arsen seraya mengulurkan tangannya menyeberangi meja, menggenggam jemari Tsania dan mengusap punggung tangannya menggunakan jempol hangatnya.
"Kamu dari tadi memperhatikan pasangan di meja sebelah yang baru saja bertunangan, kan?"
Wajah Tsania merona merah saat itu. Ia menunduk malu, mencoba menarik tangannya, namun Arsen justru makin mempererat genggamannya dengan lembut.
"Tidak usah iri pada mereka, Sayang," bisik Arsen dengan tatapan mata yang begitu dalam dan mengunci jiwa Tsania.
"Aku tidak akan memberikan kamu pertunangan biasa di kafe seperti mereka."
Arsen kemudian merogoh saku kemeja flanelnya dan mengeluarkan sebuah kotak beleudru merah berukuran kecil. Ia membukanya perlahan di atas meja, menampilkan sepasang cincin perak polos tanpa mata permata, cincin sederhana yang dibelinya dari hasil tabungan gaji pertamanya sebagai staf magang independen, sebelum sang ayah memaksanya memegang kendali bisnis perusahaan yang sudah menjadi milik kelaurga Aurelia.
"Aku tahu ini bukan emas atau berlian mahal," tutur Arsen jujur, menatap Tsania dengan kepolosan dan ketulusan cinta yang amat murni.
"Tapi ini hasil keringatku sendiri, Tsania. Bukan uang dari Papaku. Cincin ini simbol kalau aku memilihmu bukan karena status, bukan karena harta, tapi karena aku mau menghabiskan sisa hidupku untuk meratukanmu."
Tsania menahan napasnya saat itu, air mata haru merebak di pelupuk matanya. "Arsen... ini cantik sekali..."
Arsen meraih jari manis kiri Tsania, menyematkan cincin perak itu dengan sangat perlahan dan penuh penghormatan. Setelah cincin melingkar sempurna, Arsen mendekatkan tangan Tsania ke bibirnya, mengecup punggung tangan dan jari manis wanita itu berkali-kali dengan penuh kelembutan.
"Dengarkan janji seorang Arsen hari ini, Tsania..." bisik Arsen, menatap lurus ke dalam matanya dengan binar tekad seorang pria yang mabuk asmara.
"Di dunia ini, siapa pun boleh merendahkanmu atau membuatmu menangis, tapi tidak selama aku masih bernapas. Aku akan jadi pelindungmu. Aku akan membangun rumah impian kita, dan aku akan memastikan kamu jadi wanita paling bahagia di dunia."
"Bagaimana kalau keluargamu tidak setuju dengan hubungan kita, Mas?" tanya Tsania ragu kala itu, mengingat betapa tingginya tembok jurang status sosial di antara mereka.
Arsen terkekeh percaya diri, mengusap lembut pipi Tsania dengan telapak tangannya yang hangat.
"Kalau seluruh dunia menentang kita, termasuk keluargaku sendiri, aku siap melepas nama keluarga demi tetap memiliki kamu, Tsania. Bagi Arsen, Tsania adalah satu-satunya ratu yang pantas bertahta di hidup Arsen."
Klek.
Bunyi halus pendingin udara ruangan VVIP 601 yang kembali bekerja menarik Tsania keluar secara paksa dari pusaran ingatan masa lalunya.
Tsania tersentak pelan. Air mata yang hangat dan tidak ia sadari rupanya sudah membasahi kedua pipinya yang tirus. Dada Tsania berdenyut nyeri mendalam, sebuah rasa sakit batin yang jauh lebih memilukan daripada tusukan jarum infus di punggung tangannya.
"Pria yang meratukanku dulu..." bisik Tsania pada keheningan kamar, suaranya bergetar hebat dalam isakan lirih.
"Adalah pria yang sama yang meremukkan hidupku tanpa ampun kemarin. Kamu salah paham padaku Arsen... Kamu tak pernah mau mendengarkan alasan aku meninggalkan kamu. Bukan aku tak mencintai kamu, tapi... Kenapa kita harus bertemu lagi setelah selama tiga tahun aku berusaha untuk melupakan dan mengubur cintaku padamu, Arsen? Kenapa kamu kembali malah menjadi monster dan menyalahkan aku... Kamu kejam, Arsen! Kamu tak mau mendengarkan penjelasan aku dan lebih percaya dengan semua bukti dari papamu..."
Betapa kejamnya takdir mempermainkan perasaannya. Pria yang dulu berjanji melepaskan segalanya demi melindunginya dari kerasnya dunia, kini telah berubah menjadi sesosok monster berdarah dingin yang melempar tumpukan berkas ke wajahnya, membentaknya di depan puluhan karyawan kantor, dan membiarkan calon istrinya yang baru menghina martabatnya sebagai seorang wanita.
Tsania memeluk kedua lututnya di atas ranjang, membenamkan wajahnya di antara lipatan kakinya.
Ia ingat betul bagaimana kehangatan di mata Arsen yang dulu selalu memancarkan cinta kini berganti menjadi kilat kebencian dan dendam yang menghancurkan. Sentuhan hangat yang dulu selalu membelai kepalanya dengan lembut kini berubah menjadi cengkeraman dingin yang menyudutkannya ke dinding lorong kantor dengan nada suara yang mengintimidasi.
"Kenapa kamu harus berubah sejauh ini, Arsen...?" rintih Tsania, jemarinya mencengkeram kain sprei putih rumah sakit itu rapat-rapat. "Kenapa janji yang kamu ucapkan di Singapura dulu... harus kamu ganti dengan neraka yang hampir membunuhku?"
Tsania tidak tahu bahwa pria yang dulu berjanji menjaganya sebenarnya sedang berjuang mati-matian di balik bayang-bayang untuk mengeksekusi pembalasan dendam pada dalang utama yang telah memisahkan mereka. Yang Tsania tahu saat ini hanyalah rasa trauma mendalam atas kehilangan almarhum ayahnya, dan rasa takut luar biasa jika sosok Arsen yang penuh kebencian kembali hadir untuk menghancurkan sisa-sisa hidupnya yang rapuh.
Ia terisak pelan di tengah kesendirian kamar VVIP tersebut, meratapi takdir dan masa lalu yang telah hancur berkeping-keping, tak bersisa.