Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Pelindung Di Balik Rak
Setelah seluruh berkas pernikahan selesai ditandatangani dan dinyatakan sah secara hukum, Devan meminta pengawalnya membawa mereka ke sebuah pusat perbelanjaan eksklusif yang tenang. Sebelum melangkah keluar dari area privat, Kirana memutuskan untuk berganti pakaian terlebih dahulu di ruang ganti yang telah disiapkan. Gaun krem anggunnya diganti dengan pakaian kasual yang nyaman namun tetap hangat—sebuah sweater rajut berukuran agak longgar bercorak lembut, celana panjang tebal, dan mantel hangat.
Kirana berniat membeli beberapa camilan manis dan minuman hangat di supermarket terdekat sebelum mereka kembali ke mansion. Masa-masa sulit dan tekanan emosional sejak semalam membuat tubuhnya merindukan hal-hal sederhana yang bisa menenangkan pikirannya. Devan yang mengerti keinginan itu membiarkan Kirana masuk ke dalam supermarket, sementara ia dan pengawalnya memantau dari jarak yang aman untuk memberi Kirana sedikit ruang.
Dengan troli kecil di tangannya, Kirana menyusuri rak-rak makanan ringan yang tersusun rapi. Aroma cokelat, biskuit, dan kopi menyapa inderanya, membawa sedikit rasa damai di tengah gejolak hidupnya yang berubah drastis dalam 24 jam terakhir.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sebentar.
Saat Kirana sedang meraih sekotak cokelat favoritnya di salah satu lorong supermarket, sebuah suara melengking berkesan meremehkan memecah keheningan di belakangnya.
"Wah, wah... lihat siapa yang ada di sini. Kak Kirana?"
Kirana membeku. Jantungnya berdegup kencang saat ia mengenali nada suara sengak yang sangat familier itu. Ia memutar tubuhnya perlahan dan mendapati Nara Malan sedang berdiri di ujung lorong bersama dua orang temannya. Adik tirinya itu tampil mencolok dengan pakaian brand mewah dan tas desainer mahal, menatap Kirana dari atas ke bawah dengan senyuman sinis.
"Aku tidak salah lihat, kan?" Nara melangkah mendekat dengan gaya angkuh, sepatu tingginya berbunyi nyaring di atas lantai supermarket. "Gadis yang semalam diusir Papa bagaikan anjing kurap di tengah badai salju... sekarang sedang belanja cemilan di sini? Wah, ternyata kau masih hidup, ya?"
Dua teman Nara tertawa kecil di belakangnya, ikut melemparkan pandangan merendahkan ke arah Kirana.
Kirana meremas pegangan trolinya, menahan gelombang rasa sakit dan amarah yang mencoba membakar dadanya. Bayangan semalam saat Nara berpura-pura jatuh dan membuang barang-barang ibunya kembali berputar di kepala Kirana.
"Nara..." bisik Kirana, mencoba mempertahankan nada suaranya agar tetap tenang meski dadanya bergemuruh hebat. "Mau apa lagi kau?"
Nara menyilangkan kedua tangannya di dada, melangkah semakin dekat hingga menyisakan jarak hanya satu meter dari Kirana. Tatapan matanya penuh dengan rasa superioritas yang beracun.
"Mau apa? Aku cuma kasihan melihatmu, Kak," ejek Nara dengan nada berpura-pura iba. "Pakaianmu sederhana sekali. Apa kau belanja pakai uang sisa dari mengemis semalam? Asal kau tahu ya, Papa sudah memblokir semua kartumu. Kau itu tidak punya apa-apa lagi. Rumah, kamar, sampai posisi anak di keluarga Husein... semuanya sudah jadi milikku sekarang!"
Devan melangkah santai menyusuri lorong supermarket. Mata elangnya yang tajam memindai sudut-sudut ruangan, mencari keberadaan istri barunya. Namun, langkah tegapnya terhenti ketika pendengarannya menangkap gelak tawa bernada ejekan dan suara tinggi yang sangat familiar dari balik rak makanan ringan.
Dengan tenang dan tanpa suara, Devan mendekat. Ia berdiri di balik sudut rak cemilan, menyandarkan tubuhnya seraya mendengarkan setiap kalimat intimidasi yang dilontarkan oleh Nara dan teman-temannya kepada Kirana. Rahangnya mengeras halus, dan sorot matanya yang dingin seketika berkilat penuh ancaman ketika mendengar bagaimana gadis muda itu merendahkan Kirana.
Kirana yang berdiri sendirian mengepalkan tangannya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Saat Nara hendak melangkah semakin dekat untuk makin memojokkan Kirana, sebuah suara bernada rendah, berat, dan sarat akan dominasi memecah keheningan lorong.
"Sepertinya ada yang lupa mengajari tata krama di rumahmu."
Sontak, Nara dan kedua temannya menoleh ke asal suara.
Dari balik bayang-bayang rak, Devan muncul dan melangkah maju. Sosoknya yang tinggi tegap membalut setelan jas hitam buatan penjahit terbaik dunia memancarkan aura ketampanan dan kekuasaan yang luar biasa mahal. Wajahnya yang tegas, rahang yang kokoh, serta tatapan mata elangnya yang memikat sekaligus mengintimidasi langsung memaku perhatian ketiga gadis itu.
Dua teman Nara terpaku di tempat, mata mereka membelalak tak berkedip menatap Devan. Napas mereka seolah tertahan melihat ketampanan pria dewasa yang tampak bagaikan sosok penguasa dari majalah bisnis ternama itu. Tatapan meremehkan yang tadi mereka tunjukkan pada Kirana mendadak sirna, berganti dengan rasa kagum dan terpesona yang tak bisa disembunyikan.
"Si-siapa Anda?" gagap salah satu teman Nara dengan pipi yang mendadak merona.
Devan sama sekali tidak mengacuhkan pertanyaan itu. Ia melewati Nara begitu saja seolah-olah gadis itu hanyalah tumpukan udara hampa, lalu merangkul pinggang Kirana dengan protektif dan menarik tubuh istrinya rapat ke sisinya.
"Kau sudah selesai memilih cemilannya, Sayang?" tanya Devan dengan suara yang mendadak berubah lembut—sebuah kontras tajam yang sengaja ia tunjukkan untuk meruntuhkan keangkuhan lawan di hadapannya.
Kirana mendongak terkejut, namun rasa hangat dan aman langsung menyergap dadanya saat genggaman tangan Devan menguat di pinggangnya. "S-sudah, Devan..."
Melihat interaksi manis dan intim itu, Nara terpaku dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi. Matanya menatap ketidakpercayaan pada tangan Devan yang melingkar erat di pinggang Kirana—gadis yang semalam baru saja dibuang dan diusir dari rumahnya.