NovelToon NovelToon
Skandal Di Balik Layar

Skandal Di Balik Layar

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi Lift VIP dan Harga Diri yang Menguap

Ketegangan malam itu seharusnya berujung pada konfrontasi epik ala film mafia. Setidaknya, itulah yang ada di kepala Ajo saat ia memarkir mobilnya secara sembarangan di lobi Menara Abadi, gedung perkantoran ultra-modern milik Adam.

Ajo datang dengan setelan jas hitam terbaiknya, rahang mengeras, dan tekad bulat untuk merobek kontrak distribusi film yang dikuasai Adam—atau meninju wajah pria itu. Pilihan kedua terdengar lebih menarik.

Namun, realitas sering kali memiliki selera humor yang buruk.

Alih-alih adegan dramatis di meja bundar, konfrontasi itu terjadi di depan pintu lift VIP berlapis emas. Adam baru saja tiba, dikelilingi tiga asisten yang sibuk membawakan kopi dan tablet, tampak sangat arogan dengan setelan desainer berwarna biru malam.

Melihat Ajo berdiri di sana dengan tatapan membunuh, Adam tersenyum miring. Ia memberi isyarat tangan, menyuruh para asistennya menyingkir.

"Ajo. Mengharukan sekali kau datang menjemput kekalahanmu di pagi yang cerah ini," sapa Adam dengan nada berat yang sengaja dibuat-buat agar terdengar berwibawa.

"Batalkan akuisisinya, Adam. Atau kita akan berurusan di pengadilan," balas Ajo dingin, melangkah maju.

Pintu lift VIP terbuka dengan bunyi ting yang elegan. Adam melangkah masuk, memutar tubuhnya, dan menatap Ajo dengan gaya bos besar. "Masuklah kalau kau mau memohon. Kita bicara di lantai lima puluh."

Tanpa berpikir dua kali, Ajo melangkah masuk. Pintu berlapis emas itu tertutup rapat.

Di dalam kotak berukuran dua kali dua meter itu, ketegangan menguar pekat. Dua pria dewasa, terjebak dalam persaingan masa lalu dan perebutan masa depan, berdiri kaku saling membelakangi. Ajo bersiap membuka mulut untuk melontarkan ancaman terburuknya, ketika tiba-tiba...

BZZZT.

Lampu utama lift mati seketika. Hentakan keras membuat perut keduanya seolah tertinggal di lantai dasar, sebelum akhirnya kotak besi itu berhenti total dengan suara decit menyakitkan di antara lantai tiga puluh sembilan dan empat puluh.

Keheningan melanda. Bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang canggung.

Lampu darurat menyala. Alih-alih warna putih atau oranye standar, entah ide desainer gila dari mana, lampu darurat lift VIP itu berwarna merah muda neon yang berkedip pelan, diiringi alunan musik bossa nova murahan yang mengalun dari pelantang suara.

Ajo menoleh perlahan menatap Adam. Siluet wajah Adam yang tadinya garang kini tampak menggelikan di bawah cahaya pink yang berkedip.

"Lift pintar?" sindir Ajo datar.

Adam berdeham, mencoba mempertahankan wibawanya. Ia merapikan kerah jasnya. "Ini hanya glitch sementara. Sistem keamananku bernilai miliaran."

Adam menekan tombol interkom di panel. "Halo? Keamanan? Ini Adam. Nyalakan kembali liftnya."

Hanya ada suara statis. Lalu, suara operator yang terdengar seperti sedang mengunyah keripik menjawab. "Maaf, Pak. Gardu induk wilayah Sudirman baru saja meledak disambar petir sisa semalam. Genset gedung sedang masa transisi. Perkiraan perbaikan... empat puluh lima menit."

Klik. Interkom mati.

Dua rival abadi itu kini terjebak di dalam oven kaca berwarna pink dengan latar belakang musik lift yang kelewat ceria.

Menit ke-15

Suhu di dalam lift mulai naik. Pendingin ruangan mati total.

Ajo, yang selalu menjaga kerapiannya, akhirnya menyerah. Ia melepas jas hitamnya, melipatnya dengan sangat rapi, lalu meletakkannya di atas pegangan besi. Ia melonggarkan dasinya sambil bersandar di dinding.

Di sisi lain, Adam sudah mulai gelisah. Keringat membasahi dahi mulusnya. "Kenapa panas sekali?!" rutuknya sambil mengipasi wajah dengan ponsel harganya puluhan juta.

"Mungkin karena ego-mu mengambil terlalu banyak oksigen di ruangan ini," jawab Ajo tanpa melihatnya.

Adam menoleh tajam. "Kau masih saja menyebalkan seperti sepuluh tahun lalu, Ajo. Pantas saja Maya meninggalkanmu.

Bukannya marah, Ajo justru mendengus geli. "Maya meninggalkanku karena kau membelikannya tas seharga mobil. Dan ngomong-ngomong, Kudengar kau dicampakkan enam bulan kemudian karena kau menangis saat menonton film kartun anak anjing?"

Mata Adam membelalak. Wajahnya yang memerah karena panas kini semakin merah karena malu. "Itu fitnah! Dan itu bukan film anak anjing biasa, itu Hachiko! Pria manapun yang punya hati pasti menangis!"

"Aku tidak menangis," balas Ajo santai.

"Karena kau robot berdarah dingin!" seru Adam, akhirnya melepas jas birunya dan melemparnya sembarangan ke lantai lift. "Kau pikir kau pahlawan sekarang? Datang ke sini untuk menyelamatkan Elsa dari 'monster jahat' bernama Adam? Kau tidak tahu apa-apa tentang kontraknya!"

Menit ke-30

Musik bossa nova tiba-tiba berganti menjadi lagu cinta lawas tahun 90-an yang mendayu-dayu.

Keduanya kini duduk di lantai lift, saling berseberangan dengan kaki selonjoran. Penampilan mereka tak lagi menyerupai miliarder dan produser kelas atas. Rambut klimis Adam sudah acak-acakan menempel di dahi, sementara kemeja Ajo basah oleh keringat di bagian punggung.

"Kau tahu apa yang paling menyebalkan darimu?" Adam menunjuk Ajo dengan botol air mineral kosong yang tadi ia temukan di tasnya. "Kau selalu berlagak sok suci. 'Oh, aku Ajo, aku memproduksi film demi seni seni'. Cih! Kau pikir aku tidak tahu kau diam-diam menyukai Elsa?"

Ajo menatap Adam dengan ekspresi datar yang luar biasa stabil. "Setidaknya aku tidak perlu menyandera karier seorang wanita hanya agar dia mau makan malam denganku."

"Aku tidak menyanderanya!" protes Adam, suaranya naik satu oktaf, terdengar seperti anak SMP yang ketahuan menyembunyikan surat cinta. "Itu klausul penalti standar industri! Dia sendiri yang menandatanganinya lima tahun lalu saat dia butuh uang untuk operasi ayahnya!"

Keheningan sejenak mengudara. Ajo mengerutkan dahi. Rahasia besar Elsa—teka-teki yang membuatnya ketakutan setengah mati semalam—akhirnya bocor begitu saja dari mulut Adam gara-gara pria itu dehidrasi dan kepanasan.

"Tunggu," Ajo menatap Adam lekat-lekat. "Jadi... bukan skandal? Bukan rahasia gelap? Cuma utang biaya rumah sakit?"

Adam menelan ludah, baru sadar ia telah membocorkan kartu as-nya. Ia memalingkan wajah, mengelap keringat di hidungnya. "Ya... utangnya besar sekali. Ditambah bunga. Pokoknya mengerikan!"

Ajo menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Bukannya menangis, ia sedang menahan tawa. Tawa yang sangat langka, berat, dan menyebalkan di telinga Adam. Semua drama semalam, ketakutan di mata Elsa, dan keputusasaannya, ternyata bermuara pada utang medis yang sebenarnya bisa Ajo lunasi hanya dengan menjual dua mobil sport di garasinya.

"Kenapa kau tertawa?!" bentak Adam panik.

"Karena kau bodoh," kekeh Ajo, mengusap ujung matanya. "Kau bertingkah seperti mafia kartel, padahal kau cuma penagih utang dengan setelan Armani."

Adam merangkak maju, berniat mencengkeram kerah Ajo. "Tarik ucapanmu, Ajo! Aku ini investor utama distributor—"

Belum sempat Adam menyelesaikan kalimat dramatisnya, lampu utama lift mendadak menyala terang benderang. Suara mesin berdengung, dan lift kembali bergerak mulus ke atas.

Adam masih dalam posisi merangkak di lantai, tangannya terulur ke arah Ajo, dengan rambut acak-acakan dan kemeja lepek. Ajo duduk bersandar di dinding, menahan tawa dengan wajah merah.

Ting.

Pintu lift terbuka di lantai lima puluh.

Di depan pintu, tiga sekretaris Adam, jajaran direksi, dan Elsa sendiri berdiri mematung. Mereka menatap syok ke arah pemandangan di dalam lift. Dua petinggi industri hiburan yang konon paling ditakuti itu tampak seperti baru saja selesai bergulat memperebutkan kelereng di taman kanak-kanak.

Elsa menatap Ajo yang masih terkekeh pelan, lalu menatap Adam yang tengah merangkak dengan ekspresi bodoh. Ketakutan yang semalam membelenggu Elsa menguap entah ke mana, digantikan oleh kerutan bingung di dahinya.

Ajo berdeham. Ia berdiri dengan anggun meski kemejanya lepek, mengambil jasnya, dan melangkah keluar melewati Adam. Ia berhenti sejenak di depan Elsa.

"Jangan khawatirkan kontraknya," bisik Ajo dengan sisa senyum yang membuat wajah kaku pria itu terlihat sangat hidup, "Ternyata 'monster' ini cuma butuh uang jajan."

Meninggalkan Adam yang masih berteriak memanggil stafnya untuk membawakan handuk, Ajo berjalan menyusuri lorong dengan langkah ringan. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, beban di dadanya benar-benar terangkat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!