Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Louis menghela napas panjang, benar-benar lega.
Dia kemudian berjalan mengelilingi Yvaine, mengamatinya dari atas sampai bawah tanpa rasa malu sedikit pun.
Hingga akhirnya..
“ASTAGA!” serunya keras.
Yvaine memutar mata. “Kenapa kamu teriak seperti melihat hantu?” sindirnya datar.
Louis menunjuknya dengan ekspresi tidak percaya. “Kakak.. kamu ini benar-benar Yvaine, kan?!”
“Menurutmu?” balas Yvaine santai.
Louis menggeleng-gelengkan kepala dengan dramatis. “Tidak mungkin! ini tidak masuk akal! Apa kamu operasi plastik? Tapi.. tidak! Bahkan operasi plastik tidak bisa membuat seseorang jadi lebih tinggi! Dan.. dan kamu terlihat jauh lebih muda! Ini bukan sekadar glow up, ini.. ini seperti reinkarnasi!”
Sudut bibir Yvaine berkedut, dia benar-benar ingin memukul pria ini.
“Ya,” katanya dengan nada datar yang sengaja dilebih-lebihkan, “aku memang sangat berbakat. Bisa kembali muda, memperbaiki diri, bahkan melakukan hal-hal yang mustahil.”
Louis langsung mengangguk-angguk serius. “Aku percaya! Dunia ini memang penuh keajaiban!”
Yvaine menatapnya tajam, ternyata dia salah sangka.. Pria ini bukan hanya bodoh, tapi sangat bodoh.
“Apa karena kamu merasa aku sekarang sesuai dengan seleramu,” lanjut Yvaine sambil menyilangkan tangan, “makanya kamu langsung memanggilku ‘nona’ seperti biasanya kamu memperlakukan wanita-wanitamu?”
Seketika, wajah Louis berubah pucat dan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Kenangan lama menghantamnya tanpa ampun.
Dulu, saat pertama kali mereka bertemu, Louis adalah seorang siswa bandel yang penuh percaya diri, ia mencoba menggoda Yvaine, yang saat itu bertugas sebagai instruktur pelatihan militer.
Dan hasilnya? Dia terlempar, dijatuhkan dan dipermalukan di depan banyak orang.
Dan yang paling tragis.. ia malah digantung terbalik di pohon besar di gerbang sekolah selama setengah hari.
Sejak saat itu, setiap kali melihat Yvaine, dia seperti tikus bertemu kucing, dan sampai sekarang pun traumanya masih membekas.
Louis batuk kecil, mencoba menenangkan dirinya. “Kak.. kamu bercanda, kan? Bahkan kalau aku punya sembilan nyawa, aku tidak akan berani menggoda kamu lagi.”
Tanpa menunggu balasan, dia buru-buru mengalihkan topik.
“Ngomong-ngomong..” katanya hati-hati, “aku dengar kamu mengalami kecelakaan saat misi dengan Mork Hamber.. bahkan katanya kamu gugur dalam tugas”
Nada suaranya berubah sedikit serius.
“Aku benar-benar sedih waktu itu. Bahkan beberapa hari tidak bisa tidur. Tapi sekarang kamu muncul di depan aku, hidup, sehat.. bahkan lebih muda..”
Dia berhenti sejenak, lalu menatap Yvaine dengan mata menyipit.
“Kamu ini.. jangan-jangan menjalankan misi rahasia, ya? Pura-pura mati untuk menyamar? Wah! gila juga. Ini taruhan besar!”
Yvaine terdiam, lalu perlahan memutar matanya ke langit.
'Kalau saja aku dalam misi, mana mungkin aku mau mati dan masuk ke tubuh orang lain! Dasar gila!'
Dia menarik napas panjang.
“Apa yang kamu dengar itu benar,” katanya akhirnya. “Aku memang sudah mati.”
Louis membeku. “Apa?” suaranya hampir tidak keluar.
“Aku sudah mati,” ulang Yvaine santai.
Louis mundur satu langkah, tangannya mulai gemetar.
“Kak.. jangan bercanda..” katanya kaku, tertawa hambar. “Kamu jelas berdiri di sini.. masih hidup dan bernapas.. yah.. meski kamu memang berubah sangat dratis sih..”
Yvaine mengangkat alis. “Menurutmu aku terlihat seperti orang yang bercanda?”
Louis menatapnya, mencoba menemukan tanda-tanda kebohongan, namun tidak ada sedikit pun kebohongan darinya.
Wajah Yvaine benar-benar serius dan itu membuatnya semakin panik.
Beberapa detik kemudian, ekspresi Louis berubah drastis.
Seolah mengambil keputusan besar, ia tiba-tiba berlari ke arah Yvaine..
Dan BRUK!
Dia berlutut, memeluk kakinya erat-erat.
“SAUDARI YVAINE AMPUNI AKU!!” teriaknya dramatis.
Yvaine tak bisa berkata-kata ketika melihat tingkah konyol Louis.
“Aku salah! Aku tidak bermaksud menyinggungmu! Tolong jangan ganggu aku dari alam sana!” lanjutnya panik. “Mulai hari ini aku akan bakar uang kertas tiga kali sehari untukmu! Aku janji kamu akan hidup nyaman di dunia bawah! Tolong lepaskan aku!”
Yvaine menatapnya dengan wajah datar, lalu..
“Louis,” katanya pelan, berbahaya, “bisakah kamu sedikit saja menggunakan otakmu?”
Dia menarik kakinya, lalu mencengkeram kerah Louis dan menyeretnya berdiri.
“Kalau para wanita yang selama ini kamu goda melihatmu sekarang,” lanjutnya sinis, “apa kamu pikir mereka masih akan menganggapmu menawan?”
Louis langsung berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tidak nyaman bicara di sini,” kata Yvaine singkat. “Ayo ikut aku.”
Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan lebih dulu, sementara Louis mengikuti di belakang dengan langkah kaku.
Tak lama kemudian, mereka masuk ke sebuah rumah teh kecil yang tenang.
Setelah duduk, Yvaine akhirnya menjelaskan semua tentang kematian dan kebangkitannya, juga perihal tubuh baru yang kini ia tempati.
Louis mendengarkan dalam diam, danbsetelah penjelasan itu selesai, dia terdiam cukup lama.
Lalu akhirnya berkata pelan, “Jadi, kamu masuk ke dalam tubuh orang lain?”
Yvaine mengangguk.
“Dan.. wanita itu sudah menikah?”
“Hmm.”
“Dan punya anak berusia tiga tahun?”
“Hmm.”
“Dan suaminya selingkuh, lalu mau cerai?”
“Hmm.”
Louis menatap kosong ke depan.
“Gila..” gumamnya. “Fakta ini terlalu dramatis untuk dimengerti”
Yvaine hanya menyeruput tehnya santai.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Louis menoleh lagi. “Jadi.. kamu butuh apa dariku?”
Yvaine tersenyum tipis. Dia menopang dagunya, menatap Louis dengan tatapan yang terlalu lembut untuk sesuatu yang baik.
“Perceraian,” katanya pelan, “tidak seharusnya membosankan.”
Louis langsung merasa tidak enak.
“Kalau dia bisa punya wanita lain,” lanjut Yvaine, “kenapa aku tidak?”
Senyumnya melebar.
“Bukankah akan lebih menarik kalau aku juga punya pria lain?”
Louis langsung menatapnya dengan syok..
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆