NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Keheningan malam di atas Penthouse Lavender selalu menjadi tempat perlindungan terbaik bagi Alya. Setelah badai kecil di acara reuni alumni SMA pecah dan meratakan kesombongan Mita serta suaminya, kehidupan Alya kembali berjalan dalam ritme yang tenang namun penuh wibawa.

Alya berbaring miring di ranjang *king size*, memandangi pantulan dirinya di kaca jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Kandungannya yang kini genap memasuki usia empat bulan lebih tiga minggu tampak semakin kentara. Bulatan di perutnya tidak lagi bisa disembunyikan di balik pakaian biasa, memancarkan pesona kehamilan yang begitu anggun.

Devan keluar dari kamar mandi dengan celana kain santai dan kaos hitam polos. Rambutnya yang sedikit basah dijatuhkan begitu saja tanpa tatanan *pomade* seperti saat ia memimpin rapat di kantor. Pria itu langsung menaiki tempat tidur, memosisikan tubuhnya di belakang Alya, lalu melingkarkan lengan kekarnya di pinggang sang istri.

"Belum tidur, *Wifey*?" bisik Devan serak, menyandarkan dagunya di bahu Alya seraya mengecup kulit lehernya yang halus.

Alya tersenyum hangat, mengelus jemari besar Devan yang menempel di perutnya. "Belum, Devan. Aku sedang memikirkan betapa cepatnya waktu berlalu. Maksudku... beberapa bulan lalu aku hanya wanita biasa yang bingung mencari jalan keluar dari masalah keluarga tiri, dan sekarang..."

"Dan sekarang kamu adalah ratuku, Nyonya Muda Dirgantara," potong Devan tegas namun lembut. Jemari besarnya mengusap perut Alya dengan ketelitian yang memanjakan. "Kamu dan anak kita adalah pusat dari segalanya bagiku saat ini."

> *[Ehem! Permisi, Ayah Siaga! Tolong jangan terlalu sibuk beradegan romantis dulu. Ada sinyal spiritual asing yang masuk ke dalam radarku malam ini!]*

Suara Baby El yang mendadak muncul di dalam kepala Alya membuat Alya sedikit tersentak. Rasa hangat dan sedikit getaran mikro di rahimnya menandakan sang kaisar kecil sedang dalam mode waspada penuh.

"El? Ada apa? Kamu merasakan sesuatu?" batin Alya penasaran.

> *[Ibu, musuh-musuh lokal seperti Tiffany, Tante Melinda, dan geng reuni sekolahmu itu hanyalah krikil kecil. Tapi malam ini... seekor serigala tua dari Eropa baru saja mendarat di Bandara Soekarno-Hatta!]*

> *[Dia adalah **Edward Vance**, pimpinan tertinggi dari Vance Financial Group yang berbasis di London. Di masa lalu saat aku masih menjadi kaisar bisnis, dia adalah saingan terberatku yang suka menggunakan trik-trik kotor di balik layar. Dan tebak apa, Ibu? Dia datang ke Indonesia bukan untuk berlibur, tapi untuk menculik aset teknologi Dirgantara Group!]*

Alya mengerutkan keningnya. Nama *Vance Financial Group* bukanlah nama asing. Ia pernah membaca artikel bisnis internasional yang menyebutkan bahwa konglomerasi asal Inggris itu merupakan salah satu raksasa keuangan yang memegang kendali atas banyak pasar saham di Eropa.

Sebelum Alya sempat mencerna informasi dari bayinya lebih lanjut, ponsel kerja Devan yang diletakkan di atas meja nakas mendadak bergetar hebat. Panggilan masuk berkode rahasia dengan nama *Yudha* tertera di layar.

Devan menghela napas pelan, mengusap wajah Alya sebelum meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau. "Ada apa, Yudha? Ini sudah jam sebelas malam."

"Lapor, Tuan Muda!" suara Yudha di seberang telepon terdengar sangat tegang, melupakan formalitas biasanya. "Jet pribadi milik Edward Vance baru saja mendarat di terminal VVIP. Informasi rahasia dari intelijen kita menyebutkan bahwa Edward Vance telah membeli empat puluh persen saham tersembunyi milik mantan pemegang saham Alexander Group secara mendadak!"

Mata abu-abu Devan seketika menyempit tajam. Aura dingin dan berbahaya yang sempat mencair di atas tempat tidur mendadak kembali membeku. Pria itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang.

"Edward Vance... tua bangkai itu akhirnya menggerakkan kakinya ke Asia?" gumam Devan dengan suara yang sangat rendah.

"Betul, Tuan Muda," lanjut Yudha. "Tidak hanya itu, Edward Vance sudah melayangkan surat undangan rapat darurat untuk jajaran direksi konsorsium besok pagi di Hotel Indonesia Kempinski. Sepertinya dia memanfaatkan kebangkrutan Alexander Group untuk menancapkan kuku kekuasaannya di pasar Indonesia dan menantang Dirgantara Group secara terbuka!"

Devan mengulas senyuman sinis—senyuman khas seorang predator yang mendapati mangsa besar baru saja melangkah masuk ke dalam teritorialnya. "Bagus. Aku sudah lama menunggu pergerakan dari Vance Group. Siapkan berkas analisis akuisisi dan tim pengacara terbaik besok pagi jam delapan."

"Siap, Tuan Muda!"

Setelah panggilan terputus, Devan membalikkan tubuhnya menatap Alya yang ikut mendudukkan diri di sampingnya. Devan meraih kedua tangan Alya, mengecup punggung tangannya dengan penuh kasih.

"Maafkan aku, Alya. Besok sepertinya akan menjadi hari yang sangat sibuk," ucap Devan, merasa bersalah karena ketenangan mereka harus terganggu lagi oleh persaingan bisnis skala internasional.

Alya menggelengkan kepalanya perlahan, memberikan senyuman paling menenangkan untuk suaminya. "Tidak apa-apa, Devan. Ini tanggung jawabmu sebagai pemimpin. Tapi ingat... kamu tidak boleh membiarkan orang luar itu meremehkan Dirgantara Group."

> *[Tepat sekali! Jangan biarkan kakek-kakek berkulit pucat dari London itu merasa bisa menguasai pasar Indonesia!]*

> *[Ayah, besok aku akan ikut memantau pergerakan saham mereka lewat jaringan batin. Edward Vance itu punya kebiasaan buruk suka menyembunyikan dana cadangan di akun *offshore* Kepulauan Cayman. Begitu dia mencoba menekan saham Dirgantara Group, aku akan membocorkan seluruh akun rahasianya ke otoritas pajak internasional!]*

Mendengar janji dan dukungan membara dari janin di dalam kandungannya, Alya terkekeh pelan. Ia menyentuh rahang tegas Devan seraya berkata, "Kamu mendengar itu? Bayi kita siap berada di belakangmu besok."

Devan terkekeh rendah, rasa hangat dan percaya diri memenuhi dadanya. Pria itu mendekap tubuh Alya, merebahkan mereka berdua kembali di atas kasur yang empuk. "Terima kasih, Wifey. Dengan adanya kamu dan anak kita di sisiku, tidak ada satu pun kekaisaran di dunia ini yang sanggup meruntuhkanku."

---

Keesokan harinya, suasana di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski terasa sangat memuat ketegangan. Rapat darurat konsorsium pemegang saham gabungan dihadiri oleh puluhan taipan bisnis terkemuka tanah air.

Di meja utama sebelah kanan, Devan Dirgantara duduk tenang dengan jas hitam mahalnya, didampingi oleh Yudha dan tim hukum utama Dirgantara Group. Aura wibawa Devan bagaikan tembok baja yang tak tergoyahkan.

Sementara di meja utama sebelah kiri, seorang pria paruh baya berkulit pucat dengan rambut perak yang ditata rapi—**Edward Vance**—duduk dengan menyilangkan kaki. Pria tua itu mengenakan setelan jas buatan Savile Row, memegang tongkat berkepala perak, dan memancarkan keangkuhan khas bangsawan Eropa.

"Tuan Dirgantara," buka Edward Vance dalam bahasa Inggris bertutur kata halus namun sarat akan ancaman. "Suatu kehormatan bisa bertatap muka langsung dengan pemimpin muda berbakat dari Asia. Namun... bisnis adalah tentang kekuatan modal, bukan usia."

Edward menepuk tangannya dua kali. Sekretaris pribadinya segera membagikan berkas tebal ke seluruh peserta rapat.

"Seperti yang Anda lihat," lanjut Edward dengan tersenyum penuh kemenangan, "Vance Financial Group telah resmi mencaplok seluruh sisa aset Alexander Group dan menyuntikkan dana segar sebesar dua miliar Dolar Amerika ke bursa efek pagi ini. Dengan ini, kami memegang hak veto atas konsorsium proyek infrastruktur Selat Sunda yang selama ini diincar oleh Dirgantara Group."

Para pengusaha lokal di ruangan itu seketika berbisik-bisik panik. Dua miliar Dolar Amerika—sekitar tiga puluh triliun Rupiah—adalah angka yang sangat fantastis untuk sebuah intervensi mendadak di pasar lokal.

Devan tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun. Ia hanya menyandarkan punggungnya di kursi kulit, menatap Edward Vance dengan pandangan meremehkan.

"Dua miliar Dolar?" sahut Devan dingin dalam bahasa Inggris yang sangat fasih dan bernada elegan. "Tuan Vance... apakah Anda yakin dana dua miliar Dolar yang Anda suntikkan pagi ini adalah dana bersih?"

Edward mengernyitkan dahi, senyumannya sedikit membeku. "Apa maksud Anda, Tuan Dirgantara?"

Devan melirik jam tangannya. "Tepat tiga menit yang lalu, tim hukum saya telah mengirimkan laporan resmi ke *Internal Revenue Service* (IRS) dan Otoritas Keuangan Inggris terkait dugaan pencucian uang sebesar lima miliar Dolar yang disimpan Vance Group di tiga perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman."

*BLAAM!*

Edward Vance seketika berdiri dari kursinya hingga tongkat peraknya jatuh berdentang di atas lantai marmer. Wajahnya yang semula tenang kini memerah padam karena terkejut dan murka. "K-Kau... bagaimana bisa kau mengetahui tentang akun Cayman itu?!"

Devan berdiri dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan sangat tenang. "Di tanah ini, Anda hanyalah pendatang, Tuan Vance. Jangan pernah mencoba bermain api dengan Dirgantara Group jika Anda tidak ingin seluruh kekaisaran finansial Anda di London hancur dalam semalam."

Di tempat lain, di dalam Penthouse Lavender, Alya yang sedang menikmati es buah segar di sofa ruang tamu mendadak merasakan getaran tawa gembira yang sangat ceria dari rahimnya.

> *[Bagus sekali, Ayah! Skakmat sempurna dalam waktu kurang dari sepuluh menit!]*

> *[Kaisar tua dari London itu pasti sekarang sedang kebingungan setengah mati! Haha, jangan pernah meremehkan kombinasi Ayah Siaga dan Janin Ajaib ini!]*

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!