Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Sinar matahari siang menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi besi di bagian atas Mess Hall Markas Komando EOD Pusat Los Angeles.
Suasana jam istirahat terasa lebih rileks dibandingkan ketegangan di dalam bunker simulasi tadi pagi. Bau uap air hangat dari arah area bilik mandi berbaur dengan aroma khas masakan siang: memanggang daging steak, kentang tumbuk, dan bau kopi yang diseduh tebal.
Beberapa peserta warga sipil memanfaatkan waktu dua jam istirahat ini dengan cara yang berbeda-beda.
Di sudut kiri, beberapa pria yang masih basah rambutnya setelah mandi sibuk mengeringkan kepala dengan handuk. Di meja tengah, peserta dari kalangan akademisi tetap memegang buku manual panduan, mengulang hafalan kode warna sirkuit kabel.
Sementara itu, sebagian besar peserta lainnya memilih menikmati makan siang sembari meluruskan kaki yang pegal.
Atmosfer riuh yang santai itu mendadak menjadi agak serius ketika tiga orang jurnalis peserta—salah satunya Lucas—duduk di satu meja panjang bersama Mayor Vance dan Sersan Mayor Hendrick.
Lucas meletakkan piring makannya yang sudah kosong, lalu membetulkan letak kacamata minusnya. Sebagai jurnalis riset yang sering meliput Isu Keamanan Nasional di Los Angeles, rasa penasaran profesionalnya tak bisa ditahan lagi.
"Mayor Vance," panggil Lucas dengan nada sopan, menarik perhatian beberapa orang di sekitar meja tersebut. "Boleh saya bertanya sesuatu yang sedikit di luar materi simulasi?"
Mayor Vance yang baru saja menyendok supnya mendongak, lalu mengangguk singkat. "Silakan, Peserta Lucas. Apa yang membuat jurnalis seperti kalian penasaran?"
Lucas melirik ke arah dinding markas yang dipenuhi papan foto penghormatan untuk para prajurit EOD yang gugur atau pensiun dini. "Selama proses pendaftaran program ini, kami membaca data bahwa Divisi Penjinak Bom selalu memiliki tingkat pendaftar paling rendah dibandingkan divisi militer atau kepolisian lainnya. Padahal fasilitas dan tunjangannya sangat tinggi. Kenapa banyak orang—bahkan dari kalangan militer sendiri—yang tidak terlalu berminat menjadi anggota penjinak bom?"
Pertanyaan itu membuat suasana di meja sekitar perlahan-lahan menjadi hening. Beberapa peserta yang tadinya mengobrol menghentikan suaranya, ikut mendengarkan.
Mayor Vance menyandarkan punggungnya pada kursi besi. Wajah perwira tua itu berubah menjadi sangat dalam dan penuh pertimbangan. Ia meletakkan sendoknya, menatap Lucas dan para jurnalis lainnya dengan tatapan mata yang telah menyaksikan banyak hal pahit di lapangan.
"Karena profesi ini," ujar Mayor Vance dengan suara rendah namun membahana, "bukan sekadar tentang keberanian. Ini tentang bersedia melangkah maju menuju kematian saat semua orang berlari menjauhinya."
Mayor Vance menegakkan tubuhnya, merentangkan jari-jarinya di atas meja.
"Sederhananya begini," lanjut sang Mayor secara rinci. "Seorang prajurit tempur biasa dilatih untuk menembak musuh yang terlihat. Tapi seorang prajurit EOD bertarung melawan musuh tak kasat mata—pikirannya sendiri, tekanan psikologis, dan margin kesalahan yang mutlak nol koma nol persen. Jika seorang penembak jitu salah menembak, dia kehilangan satu peluru. Jika seorang penjinak bom salah memotong kabel atau salah menghitung pemicu tekanan... tidak ada kesempatan kedua. Dia tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri hingga tak berbekas, tapi juga merenggut nyawa tim di sekitarnya."
Sersan Mayor Hendrick yang duduk di sampingnya mengangguk pelan, menambahkan dengan nada berat, "Dampaknya bukan cuma di lapangan. Banyak anggota yang mengalami trauma psikologis tingkat tinggi (PTSD), gangguan saraf tangan karena tekanan stres konstan, hingga kehancuran hubungan keluarga. Tidak banyak pasangan atau keluarga yang sanggup hidup dengan kenyataan bahwa setiap kali pintu rumah tertutup di pagi hari, itu mungkin menjadi kali terakhir mereka melihat anggotanya bernapas."
Di meja yang tak jauh dari panggung instruktur, Evander duduk sendirian dengan segelas air mineral di tangannya. Pria itu tidak menyentuh makanan penutupnya. Setiap kata, setiap rincian bahaya dan dampak pahit yang dijelaskan oleh Mayor Vance terngiang dengan sangat jelas di telinganya.
Evander mendengarkan dalam diam. Setiap kalimat itu bagaikan sembilu yang mengiris ingatan lamanya—membawa pikirannya terbang melayang ke masa-masa beberapa tahun lalu.
Masa-masa ketika ia dan Zacheriyya masih menjalin hubungan kekasih.
Meskipun kini status mereka telah berubah menjadi 'mantan' karena kerumitan masa lalu dan pilihan hidup yang pahit, perasaan cinta di hati Evander tidak pernah benar-benar surut satu milimeter pun. Dan mendengarkan penjelasan Mayor Vance hari ini memutar kembali pita memori kenangan mereka.
Dulu, setiap kali Zacheriyya mendapat panggilan tugas darurat di tengah malam—saat sirene markas meraung menandakan adanya ancaman peledak aktif di wilayah Los Angeles—gadis itu selalu menunjukkan pola yang sama.
Zacheriyya akan berbalik menatap Evander di ambang pintu apartemen mereka. Dengan seragam PDL hitamnya yang kaku dan helat keselamatan di tangan, Zacheriyya selalu menggenggam jemari Evander dengan sangat erat—begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Dan kalimat yang selalu keluar dari bibirnya bukan ucapan selamat tinggal yang manis, melainkan permohonan maaf.
"Maafkan aku, Evan... kalau hari ini aku membuatmu cemas lagi."
"Maafkan aku... kalau aku belum bisa jadi kekasih yang sempurna dan justru memberimu ketakutan soal hidup dan mati."
Setiap kali Zacheriyya hendak pergi bertugas, gadis itu selalu membahas kemungkinan terburuk. Ia selalu menata barang-barangnya, memastikan surat wasiat kecilnya tersimpan rapi, dan menatap Evander seolah itu adalah tatapan terakhirnya.
Betapa berat, betapa sangat menyiksanya cita-cita yang dipilih oleh wanita yang dicintainya itu. Evander ingat betapa ia sering terbangun di tengah malam dengan peluh dingin, meremas seprai tempat tidur, berdoa pada Tuhan agar sirene markas tidak membawa kabar duka tentang kekasihnya.
Namun, di antara semua kenangan pahit itu... ada satu memori yang paling menghancurkan hati Evander hingga detik ini.
Memori tentang masa lalu mereka yang paling kelam. Kenyataan Yang baru Ia Ketahui, Zacheriyya pernah mengandung buah hati mereka.
Mata Evander mendadak terasa panas. Jemarinya meremas gelas air mineral di tangannya hingga plastik gelas itu berderit pelan.
Pria itu memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan masa lalu kembali berputar di kepalanya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Zacheriyya kala itu tetap bertugas tanpa mengeluh, Mungkin juga menahan mual yang luar biasa, kehamilan di tengah terik matahari dan debu lapangan markas EOD.
Evander menarik napas panjang, menghembuskannya secara perlahan. Ia membuka matanya kembali, lalu mengarahkan pandangannya ke sudut lorong Mess Hall. Ketakutan, rasa bersalah atas keguguran itu Masih menghantuinya.
°°°
Di sana, Zacheriyya baru saja keluar dari ruang rapat instruktur. Wanita itu berjalan pelan sembari membawa sebuah papan berkas. Wajahnya tampak sedikit lelah setelah sesi praktikal yang intensif tadi pagi, namun posturnya tetap dijaga tegap dan anggun.
Zacheriyya menyapu pandangannya ke seluruh ruang makan. Ketika matanya secara tak sengaja bertabrakan dengan mata Evander, langkah Zacheriyya sempat terhenti sejenak.
Zacheriyya dapat membaca ekspresi di wajah mantan kekasihnya itu. Tatapan mata Evander hari ini tidak dipenuhi oleh godaan nakal seperti tadi pagi, melainkan dipenuhi oleh kedalaman rasa cinta, perlindungan, dan kesedihan samar yang sangat familiar baginya.
Zacheriyya tahu betul apa yang sedang dipikirkan Evander setiap kali pria itu menatapnya dengan raut wajah seperti itu: Evander sedang mengingat masa lalu mereka.
Zacheriyya memegang tali papan jepitnya lebih erat. Hatinya bergetar hebat. Kenangan mual di pagi hari, rasa sakit saat kehilangan calon bayi mereka, dan derai air mata di rumah sakit bertahun-tahun lalu kembali menyengat ingatannya.
Namun di saat yang sama, melihat Evander tetap berdiri di sini—di tempat paling berbahaya bagi ketenangan jiwanya—hanya untuk mengawasinya, membuat pertahanan dingin Zacheriyya luluh secara perlahan.
Tanpa diucapkan dengan kata-kata, ada dialog rahasia yang mengalir di antara tatapan mata mereka melintasi ruangan yang riuh itu.
Kenapa kau masih menatapku seperti itu, Evan? batin Zacheriyya menahan getaran di dadanya. Aku sudah membebaskanmu... kenapa kau justru datang menyerahkan dirimu kembali?
Dan dari balik tatapan matanya yang hangat, Evander seolah membalas pertanyaan itu tanpa suara: Karena tidak ada tempat di dunia ini yang ingin kujaga selain dirimu, Chery. Tidak peduli berapa kali kau mendorongku menjauh.
Zacheriyya akhirnya memutuskan kontak mata itu, berdehem pelan, lalu melangkah menuju meja Sersan Mayor Hendrick untuk menyerahkan dokumen evaluasi.
Di meja jurnalis, Lucas dan teman-temannya masih manggut-manggut mendengar penjelasan Mayor Vance tentang risiko psikologis anggota EOD.
"Ternyata... menjadi penjinak bom bukan cuma soal mematikan pemicu, ya," gumam Lucas prihatin. "Tapi soal bagaimana mereka bertahan hidup dengan risiko setiap harinya."
"Benar," sahut Mayor Vance pelan, mengamati Zacheriyya yang sedang berdiri di dekat meja instruktur. "Itulah kenapa para anggota EOD yang bertahan di sini adalah orang-orang dengan jiwa yang sangat tangguh. Mereka mengorbankan kehidupan pribadi dan kenyamanan demi keselamatan orang lain."
Evander meletakkan gelasnya yang sudah kosong di atas meja. Pria itu berdiri, mengibaskan celana latihannya, lalu melangkah keluar dari Mess Hall menuju area koridor yang lebih tenang.
Jam istirahat hampir usai, dan sesi pelatihan sore akan segera dimulai.
Namun bagi Evander, setiap detik yang dilewatkannya di markas ini bukan lagi sekadar pelatihan warga sipil.
Ini adalah perjalanannya untuk memeluk kembali luka masa lalu, menyembuhkan hati mantan kekasihnya, dan membuktikan bahwa rasa cintanya cukup kuat untuk bertahan di tengah gejolak hidup dan mati.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua