Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02 - Memandikan Jenazah
Pagi baru saja merambat di atas langit Madiun. Warna jingga pucat menembus sela-sela rimbun daun jati, membiaskan cahaya dingin ke halaman belakang rumah keluarga Pak Broto.
Udara pagi yang biasanya menyegarkan, kali ini terasa berat dan berjelut. Di pelataran tanah keras dekat sumur timba, sebuah bale-bale kayu jati berukuran besar telah disiapkan. Kain batik berkain panjang menutupi bilah-bilah kayunya, siap menjadi tempat pemandian terakhir bagi sang pemilik rumah.
Kabar kematian Pak Broto yang mendadak menyebar cepat dari mulut ke mulut. Tetangga sekitar dan beberapa kerabat dekat mulai berdatangan sejak subuh.
Namun, alih-alih dipenuhi suasana duka yang hangat oleh doa-doa, pelataran belakang itu diliputi kecanggungan yang aneh.
Mbah Sastro, mudin desa berusia 70 tahun yang biasa memimpin prosesi pemandian jenazah di kampung itu, berdiri di samping gentong tanah liat besar. Tangan tuanya yang keriput memegang gayung batok kelapa.
Di sampingnya, Bayu, Galang, serta Pak RT dan dua warga senior desa—Pak Karso dan Mbah Dul—sudah mengenakan sarung yang digulung hingga ke lutut.
"Mas Bayu, Mas Galang ... ayo diangkat bapaknya dari dalam," bisik Mbah Sastro pelan. Suaranya serak, penuh kehati-hatian yang tak biasa. Sejak melangkah masuk ke rumah itu sejam lalu, mata Mbah Sastro yang sudah kabur terus melirik ke arah atap dapur.
Galang mengangguk kaku. Bersama Bayu, Pak Karso, dan Mbah Dul, ia kembali masuk ke kamar utama tempat jasad Pak Broto dibaringkan.
Bu Retno sendiri duduk terdiam di sudut meja makan ruang tengah. Wanita itu hanya memangku tangannya, menatap kosong ke lantai semen tanpa mengalirkan air mata sedikit pun.
Pertiwi dan adik-adiknya yang lain menangis sesenggukan di kamar samping, ditenangkan oleh para tetangga wanita.
Saat Galang menyusupkan kedua tangannya ke bawah punggung dan paha ayahnya, rasa dingin yang menusuk langsung merayapi telapak tangannya. Ini bukan sekadar dinginnya mayat yang sudah beberapa jam meninggal. Itu terasa seperti memegang bongkahan es batu yang baru dikeluarkan dari dalam freezer, keras dan membeku tajam.
"Satu ... dua ... tiga ... angkaaat," aba-aba Pak Karso terdengar pelan.
Keempat pria dewasa itu mengerahkan tenaga. Namun, terjadi sesuatu yang tidak masuk akal.
Jasad Pak Broto tidak bergeming sedikit pun dari kasur kapuknya.
Pak Karso tersentak, alis tebalnya bertaut. "Lho? Kok berat banget? Mas Bayu, ayo diangkat sing bener!"
"Ini udah sekuat tenaga, Pak!" sahut Bayu dengan napas mendadak memburu. Peluh dingin langsung membasahi dahinya.
Tubuh Pak Broto semasa hidupnya tergolong sedang, tidak terlalu gemuk, hanya sekitar enam puluh kilogram. Namun sekarang, saat empat orang pria dewasa mengangkatnya bersamaan, bobot tubuh itu terasa seperti berkuintal-kuintal batu cadas yang tertanam kuat ke dalam bumi.
"Bismillah ... ayo coba lagi," bisik Mbah Dul sambil membaca salawat pendek di samping telinga jasad.
Mereka kembali mencengkeram kain dan bagian bawah tubuh Pak Broto. Galang mengejan, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol.
Di tengah usaha keras itu, Galang merasakan sesuatu yang mengerikan: dari dalam bagian dada ayahnya, ada getaran halus—seolah-olah ada beban tak berwujud yang amat berat sedang menindih dada Pak Broto dari atas, menahannya agar tetap menempel di pembaringan.
Dengan dengus napas yang terengah-engah dan pengerahan tenaga yang tidak wajar, jasad itu akhirnya berhasil terangkat beberapa senti. Langkah mereka memburu, gontai dan tatih-tatih keluar menyusuri lorong menuju pintu belakang.
Setiap kali kaki mereka melangkah, sendi-sendi tulang Pak Broto terdengar mengeluarkan bunyi klek ... klek ... yang kaku, seolah-olah tendon dalam tubuhnya dipaksa membengkok.
Saat jasad Pak Broto akhirnya dibaringkan di atas bale-bale kayu di dekat sumur, bale-bale tebal itu sampai mendecit keras, menahan beban yang seakan-akan terlampau masif.
Mbah Sastro menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya yang berkerut sebelum mencelupkan gayung batok kelapa ke dalam gentong air yang sudah dicampur bunga setaman dan irisan daun pandan.
"Niatkan memandikan, membersihkan dari hadas besar ...," gumam Mbah Sastro.
Air pertama disiramkan ke atas dada Pak Broto.
Srrr ....
Seketika itu juga, fenomena aneh berikutnya terjadi. Air bunga yang jernih dan segar itu, begitu menyentuh kulit dada Pak Broto, mendadak berubah warna. Cairan bening itu berubah menjadi agak keruh kehitaman, lalu mengalir turun melewati rusuk jasad dan menetes ke tanah di bawah bale-bale.
Bau wangi mawar dan kantil yang semula menyeruak dari gentong langsung hilang menguap, berganti dengan bau amis darah bercampur tanah liat basah yang menyengat paru-paru.
Warga yang berdiri melingkar di sekitar area pemandian bagian luar mendadak mundur selangkah. Bisik-bisik ketakutan mulai merayap di antara mereka.
"Bumbui airnya lagi, Mbak!" seru Pak RT dari dalam kubik pada seorang warga wanita yang memegang nampan bunga.
"Ini air bersih kok dari sumur sendiri, tadi saya yang numpahin!" bisik wanita itu dengan bibir gemetar ketakutan.
Galang berdiri tepat di sisi kepala ayahnya. Tugasnya adalah memegangi kepala Pak Broto saat disiram. Namun, ketika Mbah Sastro mulai mengusap wajah jasad dengan kain halus, mata Pak Broto yang semula sudah dipejamkan oleh Danu saat di dalam kamar tadi, perlahan-lahan terbuka kembali.
Tidak lebar, hanya celah tipis. Namun melalui celah tipis itu, manik mata hitam yang mati itu seolah melirik tajam ke arah Galang.
Bukan hanya itu. Bibir Pak Broto yang membiru pucat perlahan tertarik ke belakang di sudut kirinya. Sebuah senyuman miring yang kaku dan ganjil terukir di wajah mayat itu.
Galang terperanjat hingga hampir melepaskan pegangan tangannya di kepala ayahnya. "M-Mbah ... matanya ...."
"Jangan dipikirkan, Mas Galang! Pegang yang kuat!" pangkas Mbah Sastro cepat, meski tangan tua Mbah Sastro sendiri kini tampak bergetar hebat saat menyiramkan air berikutnya.
Mbah Sastro dengan cepat mengusap wajah itu lagi, mencoba memejamkan mata Pak Broto dengan jempolnya, namun kelopak mata itu kembali mendelik sedikit begitu tangan Mbah Sastro terangkat.
Prosesi pemandian itu terasa berjalan bertahun-tahun bagi Galang. Setiap kali air disiramkan, tubuh Pak Broto mengeluarkan hawa panas yang mengepulkan asap tipis—sebuah kontradiksi mengerikan dari kulitnya yang terasa membeku.
Tanah di bawah bale-bale tempat air bekas mandinya jatuh mendadak menghitam dan menyerap cairan itu dengan cepat, seolah-olah tanah itu sendiri sedang kehausan mendalam.
"Sudah ... cukup. Sudah bersih," ucap Mbah Sastro akhirnya dengan suara tergesa-gesa. Ia bahkan tidak membasuh tubuh Pak Broto hingga putaran ketiga seperti tata cara lazimnya. Pria tua itu tampak ingin segera menyelesaikan prosesi ganjil ini sebelum hal yang lebih buruk terjadi di depan mata warga.
Ketika kain sarung penutup diganti untuk mengeringkan jasad, Danu mencoba melipat kedua tangan Pak Broto di atas dada dalam posisi bersedekap.
Sreeek ....
Tangan kanan Pak Broto justru kembali terhempas lurus ke samping, menolak diposisikan. Bayu mencoba memaksanya lagi, menekannya dengan kedua tangan. Namun otot siku jasad itu mengeras seperti batang kayu tua yang tak bisa dibengkokkan. Jika dipaksa lebih keras, tulang lengannya rasanya akan patah.
"Sudah, Mas Bayu ... biarkan posisinya begitu kalau memang tidak mau," bisik Mbah Sastro lirih. Dahinya dipenuhi keringat dingin. "Ambilkan kain kafan. Cepat."
Dari arah pintu dapur, Bu Retno berjalan keluar membawa gulungan kain kafan putih yang sudah dipotong-potong. Langkah kakinya begitu pelan, tanpa alas kaki. Wajahnya tetap datar, tak tersentuh oleh kehebohan dan bau busuk yang merebak di pelataran.
Saat melewati Galang, Bu Retno sempat berhenti sejenak. Tangannya yang dingin menyentuh bahu Galang, mencengkeramnya sedikit terlalu erat untuk ukuran seorang ibu yang sedang berduka.
"Ibu ... tadi mata Bapak ...," bisik Galang dengan suara tercekat di tenggorokan.
Bu Retno tidak menatap wajah Galang. Matanya tertuju lurus pada jasad suaminya yang terbaring kaku di atas bale-bale, dengan satu tangan terentang dan mulut yang menyeringai tipis.
"Bapakmu sudah menyerahkan apa yang harus diserahkan, Galang," bisik Bu Retno sangat pelan, hampir tak terdengar oleh orang lain di sekitar mereka. "Sekarang tinggal kita ... yang harus menanggung sisanya."
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.
Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .
Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
dan
Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya