Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahan Kaca dan Deru Lembar Takdir
Lampu belakang mobil SUV milik Kian menembus kabut hujan yang tebal, membiaskan cahaya merah yang samar di atas aspal basah Jalan Sudirman. Di belakangnya, Maya terus menempel ketat, mengabaikan wipers yang bekerja keras menyapu sapuan air di kaca depannya. Tangannya mencengkeram erat roda kemudi, sementara napasnya terasa makin sesak oleh gabungan antara emosi, trauma masa lalu, dan kekhawatiran yang teramat sangat.
Namun, kendaraan Kian tidak mengarah ke rumah mereka, tidak pula ke kantor kepolisian. Mobil itu berbelok masuk ke area dermaga tua di kawasan Jakarta Utara—tempat sepi yang dikelilingi peti kemas berkarat dan deburan ombak malam yang ganas.
Untuk apa Mas Kian ke sini? batin Maya. Dadanya bergemuruh hebat.
Mobil Kian berhenti mendadak di dekat dermaga kayu yang lapuk. Maya segera mematikan lampu utama mobilnya dan berhenti beberapa meter di belakang. Dari kejauhan, ia melihat Kian keluar dari mobil. Pria itu mengabaikan angin laut yang dingin dan rintik hujan yang mengguyur tubuhnya.
Kian menyandarkan tubuhnya pada kap mobil, menutup wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Bahunya yang biasa tegap kini naik turun tak beraturan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kian menangis—sebuah tangisan yang pecah tanpa suara, sarat akan beban berat yang melumat jiwanya.
Pemandangan itu meremukkan hati Maya. Rasa sakit hati akibat makian dan keputusasaan di kantor tadi seolah lenyap perlahan, tergantikan oleh gelombang rasa iba dan cinta yang tak terbatas. Maya membuka pintu mobilnya dan melangkah menerobos hujan.
Suara tumit sepatu Maya yang menghantam genangan air membuat Kian menoleh kaget. Matanya membelalak, terpaku menatap sosok istrinya yang berdiri di sana dengan baju basah kuyup dan mata yang sembap.
"Maya...?" bisik Kian, suaranya parau dan bergetar hebat. "Kenapa... kenapa kamu di sini? Pulang, Maya! Pulang ke rumah, Arka butuh kamu!"
Maya tidak bergerak. Ia melangkah perlahan mendekati Kian, menatap luka memar dan darah yang sudah mengering di jemari suaminya.
"Lalu siapa yang butuh kamu kalau kamu seperti ini, Mas?" suara Maya terdengar bergetar namun sarat akan ketegasan. "Siapa yang bakal memeluk kamu waktu kamu memilih jadi monster hanya untuk melindungi orang lain?"
Kian tersentak, melangkah mundur satu titik seolah enggan didekati. "Kamu tidak mengerti, Maya! Rendra itu berbahaya! Dia punya rekaman, dia punya orang-orang yang mengincar Arka! Aku harus pura-pura melepas yayasan itu, aku harus berpura-pura dingin di depanmu agar Rendra percaya dia sudah menghancurkanku! Aku harus melukaimu hari ini agar kamu dan anak kita aman!"
"Tapi kamu membunuh dirimu sendiri dengan cara ini, Kian!" jerit Maya, melintasi jarak di antara mereka dan memukul dada bidang Kian dengan tangan gemetar. "Kamu pikir aku bahagia dilindungi dengan cara seperti ini? Kamu pikir aku cuma wanita lemah yang bakal hancur cuma karena kata-kata kasarmu di depan Sisca tadi?!"
Pukulan Maya yang melemah berubah menjadi remasan kuat pada kemeja basah Kian. Air mata Maya mengalir makin deras, menyatu dengan air hujan yang membasahi wajah mereka.
"Aku guru privatmu, Kian..." bisik Maya dengan suara pecah yang teramat emosional. "Aku yang mengajarimu bahwa kamu tidak harus menanggung seluruh dunia di atas bahumu sendiri. Kamu berjanji waktu pernikahan kita... tidak ada lagi rahasia. Kenapa kamu melanggarnya?"
Kian terpaku. Seluruh pertahanan mentalnya yang ia bangun sekokoh karang akhirnya runtuh sepenuhnya. Pria gagah itu berlutut di atas tanah basah di depan Maya, merengkuh pinggang istrinya erat-erat, menempelkan wajahnya di perut Maya sambil terisak seperti anak kecil yang kehilangan arah.
"Maafkan aku... maafkan aku, Maya..." ratap Kian seraya menangis sesenggukan. "Aku takut... aku sangat takut kehilangan kamu dan Arka. Aku lebih baik dibenci olehmu seumur hidupku dari pada harus melihat ada sehelai rambut pun dari kalian yang terluka karena keturunan tanaya yang kotor ini..."
Maya berlutut ikut menyamai posisi Kian di atas genangan air hujan. Tangannya merengkuh kepala Kian, menyatukan kening mereka. Ia meresapi setiap getaran napas dan tangisan suaminya yang begitu rapuh.
"Aku tidak pernah membencimu, Kian," bisik Maya lembut tepat di depan bibir Kian yang gemetar. "Masa lalu tidak bisa melukai kita lagi. Dan Rendra... tidak akan pernah bisa merebut apa yang sudah kita bangun dengan air mata dan darah."
Di tengah gemuruh ombak dan guyuran hujan deras malam itu, Kian menarik Maya ke dalam ciuman yang sarat akan keputusasaan, kerinduan, dan permintaan maaf yang mendalam. Ciuman di tengah badai itu seolah menyatukan kembali retakan-retakan jiwa mereka yang sempat terpisah oleh rasa takut.
Namun, keheningan emosional itu pecah ketika serangkaian lampu tembak berukuran besar mendadak menyala dari arah deretan peti kemas, menyorot lurus ke arah mereka berdua.
Suara tepuk tangan yang lambat dan bergema mengudara.
"Sungguh pemandangan yang sangat menyentuh hati," suara Rendra terdengar lewat loudspeaker, diiringi langkah kaki dari beberapa pria berbadan tegap berjaket hitam yang keluar dari balik bayangan peti kemas, mengepung Kian dan Maya.
Rendra melangkah maju dengan payung hitam di tangannya, tersenyum penuh kemenangan yang licik.
"Kau sangat cerdas, Kian. Menjebakku dengan klausul investigasi aset Vanguard..." Rendra menggelengkan kepala berpura-pura simpati. "Tapi kau lupa satu hal. Seorang predator yang terdesak tidak akan memikirkan hukum lagi. Jika aku harus hancur malam ini... aku tidak akan hancur sendirian."
Salah satu pria berbadan tegap itu melangkah maju, mengarahkan sebuah senjata api tepat ke arah Maya.
Mata Kian berkilat tajam. Dalam sekejap mata, seluruh kerapuhan pria itu lenyap, berganti menjadi insting perlindungan diri seorang suami dan ayah yang tak kenal takut. Kian berdiri pasang badan, menyelimuti tubuh Maya sepenuhnya di belakang punggung kokohnya.
"Selesaikan ini denganku, Rendra," desis Kian dengan suara seperti gelegar petir. "Sentuh dia, dan aku pastikan malam ini jadi malam terakhirmu bernapas di bumi."