NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rawa yang menyimpan sesuatu

Malam mulai turun perlahan di Kampung Ciburial. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada cahaya dari rumah-rumah yang berjajar seperti di kota. Yang menerangi kampung itu hanyalah beberapa lampu minyak yang menyala redup dari balik jendela rumah-rumah panggung. Langit tampak begitu bersih. Ribuan bintang bertaburan memenuhi cakrawala, sementara suara jangkrik dan kodok saling bersahutan dari arah sawah dan rawa.

Arga duduk di beranda rumah.

Tangannya memegang secangkir teh hangat yang dibuatkan seorang ibu tetangga. Luka di kakinya masih berdenyut pelan, tetapi jauh lebih baik dibanding kemarin. Yang belum membaik justru lambungnya. Sejak siang, rasa mual datang dan pergi. Setiap kali angin berembus dari belakang rumah, aroma rawa yang menyengat langsung memenuhi hidungnya. Perutnya seolah menolak menerima bau itu.

Ia baru saja menghabiskan beberapa sendok bubur ketika embusan angin berikutnya datang.

"Huek..."

Arga buru-buru meletakkan mangkuknya.

Ia menutup mulut, berusaha menahan rasa mual yang tiba-tiba menyerang.

Namun tidak berhasil.

Ia bergegas turun dari beranda menuju halaman depan.

"Uwek..."

Cairan asam lambung kembali keluar.

Dadanya terasa panas.

Matanya berair.

Beberapa saat ia hanya membungkuk sambil mengatur napas.

Pak Rahman yang baru datang dari masjid segera menghampiri.

"Masih kambuh?"

Arga mengangguk lemah.

"Maaf, Pak..."

"Kayaknya saya benar-benar nggak kuat sama baunya."

Pak Rahman mengusap janggutnya perlahan.

"Banyak pendatang memang begitu."

"Apalagi kalau kondisi badannya sedang turun."

Arga mengangguk pelan. Ia berharap benar demikian. Karena semakin lama, aroma itu terasa semakin aneh.

Bukan hanya bau lumpur.

Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya.

Setelah salat Isya berjamaah di musala kecil kampung, beberapa warga datang menjenguk. Mereka membawa pisang rebus, singkong kukus, dan air jahe hangat.

"Supaya badanmu cepat pulih."

Arga tersenyum penuh syukur.

"Terima kasih."

Seorang kakek yang duduk di sudut ruangan memperhatikan Arga cukup lama.

"Kamu dari kota, ya?"

"Iya, Kek."

"Pantas."

Arga mengernyit.

"Pantas kenapa?"

Kakek itu terkekeh kecil.

"Orang kota hidungnya lebih peka."

Beberapa warga langsung saling berpandangan. Seolah tidak ingin pembicaraan itu diteruskan. Pak Rahman segera mengalihkan topik.

"Besok kalau kaki Arga sudah agak enak, biar dia lihat kebun kopi."

"Siapa tahu bisa bantu petik sedikit."

Suasana kembali cair.

Mereka mulai bercerita tentang panen kopi, musim hujan, dan kehidupan sederhana di kampung itu.

Namun sesekali Arga menangkap satu hal yang membuatnya penasaran.

Tidak seorang pun membicarakan rawa.

Seolah tempat itu memang sengaja dihindari.

Malam semakin larut.

Para warga pamit pulang.

Rumah kembali sunyi.

Arga meminum obat maag sebelum berbaring. Ia sengaja menutup rapat jendela belakang agar aroma rawa tidak masuk.

Awalnya berhasil.

Namun sekitar satu jam kemudian...

Angin mulai bertiup lebih kencang.

"Ciiit..."

Anyaman bambu di dinding rumah mengeluarkan suara pelan.

Lalu...

Arga kembali mencium aroma itu. Lebih tipis dibanding siang tadi. Tetapi tetap cukup membuat lambungnya berkontraksi.

Ia segera duduk.

Mengambil napas perlahan.

"Jangan kambuh lagi..." gumamnya.

Ia meminum sedikit air hangat. Beberapa menit kemudian rasa mual mulai berkurang. Arga akhirnya kembali berbaring. Rasa lelah membuat matanya perlahan terpejam.

Pagi berikutnya ia terbangun karena suara ayam berkokok. Sinar matahari masuk melalui celah-celah anyaman bambu. Hari itu tubuhnya terasa sedikit lebih segar.

Demamnya sudah turun.

Luka di kaki masih nyeri, tetapi ia sudah bisa berjalan dengan bantuan sebatang tongkat kayu yang dibuatkan warga. Setelah sarapan bubur, Pak Rahman datang.

"Gimana?"

"Sudah lebih enak?"

"Alhamdulillah."

"Jauh lebih baik."

"Kalau begitu ayo."

"Mau ke mana, Pak?"

"Keliling kampung."

"Biar kamu tidak bosan."

Arga tersenyum.

Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang membelah kampung. Rumah-rumah panggung berdiri berjajar rapi. Di halaman, para ibu sedang menjemur kopi. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki sambil tertawa riang. Beberapa bapak memanggul karung kopi menuju gudang kecil.

Suasana kampung terasa hangat.

Sederhana.

Dan damai.

Tak seorang pun tampak tergesa-gesa. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang nenek yang sedang menjemur daun-daunan.

"Nah..."

"Ini Arga yang kemarin tersesat itu?"

Pak Rahman mengangguk.

"Iya."

Nenek itu tersenyum ramah.

"Sudah lebih sehat?"

"Alhamdulillah. Sudah, Nek."

Beliau mengangguk puas.

"Bagus."

"Lambungmu masih mual?"

Arga sedikit terkejut.

"Iya..."

"Kok Nenek tahu?"

Nenek itu tersenyum kecil.

"Wajahmu kelihatan."

"Orang yang sedang menahan mual itu beda."

Mereka semua tertawa pelan. Namun tawa itu tidak bertahan lama.

Karena sesaat kemudian...

Angin kembali berubah arah. Aroma dari rawa kembali datang. Arga yang sedang tersenyum mendadak terdiam.

Wajahnya langsung pucat.

Tangannya refleks menutup hidung.

"Ugh..."

Pak Rahman segera memegang bahunya.

"Pelan."

Arga mencoba bertahan. Tetapi lambungnya kembali bergejolak. Ia buru-buru berjalan menjauh menuju jalan yang mengarah ke kebun kopi. Baru setelah udara segar memenuhi paru-parunya, rasa mual itu perlahan menghilang. Pak Rahman memperhatikan Arga dengan sorot mata yang sulit diartikan.

"Sepertinya..."

gumam beliau pelan.

"Kamu memang benar-benar tidak cocok tinggal terlalu dekat dengan rawa itu."

Arga mengangguk sambil mengusap wajahnya.

"Saya juga merasa begitu, Pak."

Untuk sesaat, Pak Rahman memandang ke arah rawa yang tersembunyi di balik pepohonan.

Tatapannya kosong.

Seolah sedang mengingat sesuatu yang telah lama berlalu.

Namun ketika Arga hendak bertanya, beliau hanya tersenyum tipis.

"Ayo."

"Kita lanjut."

"Nanti keburu panas."

Arga tidak melanjutkan pertanyaannya.

Meski begitu...

Entah mengapa, semakin lama tinggal di Kampung Ciburial, ia semakin yakin bahwa rawa di belakang rumah itu bukan sekadar rawa biasa. Dan aroma yang terus membuat lambungnya bereaksi...

Mungkin bukan satu-satunya hal aneh yang disimpan tempat itu.

Pagi itu matahari mulai menghangatkan Kampung Ciburial. Kabut yang sejak subuh menggantung di atas kebun kopi perlahan memudar. Para petani telah berangkat membawa keranjang anyaman bambu di punggung mereka. Di kejauhan, suara alu menumbuk padi terdengar berirama dari salah satu rumah.

Arga berjalan pelan mengikuti Pak Rahman.

Tongkat kayu di tangan kanannya sesekali menyentuh tanah, membantu mengurangi beban pada kaki yang masih terluka.

"Masih sakit?" tanya Pak Rahman.

"Kalau buat jalan pelan sudah lumayan, Pak."

"Jangan dipaksa."

"Mantri bilang lukanya memang mulai membaik, tapi belum kuat buat jalan jauh."

Arga mengangguk.

Mereka tiba di sebuah bukit kecil yang menghadap hamparan kebun kopi. Dari tempat itu seluruh Kampung Ciburial tampak jelas. Rumah-rumah panggung berdiri tersebar mengikuti kontur lereng. Asap tipis mengepul dari dapur warga. Pemandangannya begitu indah. Sulit dipercaya tempat setenang ini hampir tidak tersentuh dunia luar.

"Bagus ya..." gumam Arga.

Pak Rahman tersenyum.

"Dulu saya juga berpikir begitu."

"Dulu?"

"Iya."

"Waktu masih muda."

Beliau duduk di sebuah batu besar.

Arga ikut duduk di sampingnya. Beberapa saat keduanya hanya menikmati angin pagi.

"Pak..."

Arga akhirnya membuka suara.

"Boleh saya tanya sesuatu?"

"Tanya saja."

"Soal rawa itu."

Pak Rahman tidak langsung menjawab. Tatapannya justru mengarah ke lembah di belakang kampung. Tempat hamparan pepohonan menutupi pandangan menuju rawa.

"Apa memang ada sesuatu di sana?"

Pertanyaan itu menggantung cukup lama.

Pak Rahman menarik napas pelan.

"Dulu..."

"...orang tua kami melarang anak-anak bermain ke sana."

"Kenapa?"

"Katanya berbahaya."

"Karena rawa?"

Pak Rahman mengangguk.

"Tapi bukan cuma karena lumpurnya."

Arga menatap beliau penuh perhatian.

"Dulu banyak hewan liar datang minum ke sana."

"Kerbau liar."

"Babi hutan."

"Bahkan macan tutul kadang terlihat."

"Itu sebabnya warga memilih menjauh."

Arga mengangguk pelan. Penjelasan itu terdengar masuk akal.

"Lalu..."

"Baunya?"

Pak Rahman tersenyum tipis.

"Itu mulai ada sejak saya seusia kamu. Tiba-tiba hewan liar jarang kesitu sampai akhirnya tidak ada yang kesitu, dan bau itu mulai muncul...."

"Kadang hilang."

"Kadang sangat menyengat."

"Belum ada yang tahu penyebabnya."

"Katanya dari gas rawa."

Arga mengangguk lagi. Penjelasan itu juga terdengar logis.

Namun...

Entah mengapa, ia merasa Pak Rahman masih menyembunyikan sesuatu.

---

Menjelang siang, Arga membantu seorang petani memilah buah kopi yang baru dipanen.bPekerjaannya ringan. Hanya memisahkan buah yang merah sempurna dari yang masih hijau.

"Pelan saja."

"Kamu tamu."

kata seorang bapak sambil tersenyum.

Arga terkekeh kecil.

"Kalau cuma duduk terus malah bosan, Pak."

Warga tertawa. Suasana kebun terasa hangat. Beberapa ibu menghidangkan singkong rebus dan kopi hitam yang aromanya memenuhi udara. Untuk pertama kalinya sejak tersesat, Arga benar-benar bisa tersenyum lepas.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Saat angin berembus dari arah belakang kampung...

Aroma itu kembali datang.

Meski lebih samar dibanding di rumah.

Arga langsung menghentikan pekerjaannya.

Wajahnya sedikit memucat.

Seorang petani memperhatikan.

"Masih mual?"

Arga mengangguk.

"Iya, Pak."

Petani itu saling pandang dengan temannya.

Lalu berkata pelan,

"Aneh juga..."

"Apa, Pak?"

"Bau itu."

"Biasanya tidak sampai bikin orang seperti ini."

Pak Rahman yang kebetulan datang segera menyela.

"Mungkin lambungnya memang belum pulih."

"Iya juga."

Percakapan pun berhenti. Tetapi Arga sempat melihat dua petani tadi kembali saling berpandangan. Seolah mereka memikirkan hal yang sama.

---

Menjelang sore. Arga memutuskan berjalan sebentar di sekitar rumah.

Ia sengaja menghindari bagian belakang. Namun rasa penasaran membuat langkahnya perlahan mendekati sisi rumah yang menghadap rawa.

Masih dari kejauhan.

Ia berhenti.

Kabut mulai turun lagi.

Padahal matahari belum benar-benar tenggelam.

Permukaan rawa tampak keabu-abuan.

Sunyi.

Tidak ada burung air.

Tidak ada suara katak.

Bahkan serangga pun nyaris tak terdengar.

"Aneh..." gumam Arga.

Rawa biasanya penuh kehidupan.

Tetapi tempat itu terasa seperti...

mati.

Tiba-tiba...

"Hoi!" Suara seseorang membuat Arga tersentak.

Ia menoleh.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di halaman sambil melambaikan tangan.

"Jangan dekat-dekat situ, Kak!"

Arga tersenyum.

"Kenapa?"

Anak itu hendak menjawab. Namun seorang perempuan yang mungkin ibunya segera menarik lengannya.

"Ayo pulang!"

"Tapi, Bu..."

"Ayo."

Tanpa memberi kesempatan berbicara lagi, anak itu dibawa pergi. Sebelum menghilang di tikungan, ia sempat menoleh ke arah Arga.

Lalu berteriak pelan,

"Kalau malam......jangan buka jendela belakang!"

Setelah itu ia menghilang. Arga berdiri terpaku. Beberapa detik kemudian Pak Rahman datang menghampiri.

"Kamu ngapain di sini?"

"Enggak, Pak."

"Cuma lihat-lihat."

Pak Rahman mengikuti arah pandang Arga menuju rawa. Wajah beliau berubah sedikit serius.

"Masuk saja."

"Hari sudah sore."

Arga tidak membantah. Namun dalam benaknya, ucapan anak kecil tadi terus terulang.

"Kalau malam... jangan buka jendela belakang."

Itu terdengar seperti nasihat biasa.

Atau...

Sebuah peringatan.

Dan malam itu, tanpa disadarinya, Arga akan mengetahui bahwa sebagian larangan di Kampung Ciburial bukan sekadar warisan kebiasaan, melainkan sesuatu yang masih dipatuhi oleh seluruh warga hingga hari ini.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!