Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari baru,dunia baru
Pagi-pagi sekali rumah keluarga Sabiru sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya naik.Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Hari pertama Kalandra masuk SMA.
Di meja makan, Tamara sibuk memeriksa sebuah kotak bekal.
"Sandwich sudah...buah sudah...air minum sudah.Terus ini..."
Tamara menambahkan satu bungkus kecil camilan ke dalam tas bekal.
Kalandra yang baru turun dari tangga langsung mengernyit. "Mami..."
"Hm?"
"Kenapa bekalku banyak banget?"
Tamara menoleh. "Karena ini hari pertama adek masuk sekolah"
"Terus?"
"Pasti bakal capek banget jadi harus banyak makan."
Sean yang sedang duduk sambil sarapan langsung tertawa. "Biarin aja,Kal."Bekal gue juga persis begitu."
Kalandra membuka salah satu kotak bekal.Ia langsung terdiam.Isinya benar-benar hampir sama dengan bekal Sean.
"Kenapa punya Bang Sean juga sama?"
Tamara menjawab santai. "Karena kalian sama-sama anak Mami,jadi gak boleh ada yang beda."
Sean langsung mengangkat alis."Nah,sudah ngerti kan adikku tersayang."
Kalandra mendengus. "Lebih kayak anak TK,Mi."
Tamara mencubit pipinya pelan. "Jangan protes ya,dek.Sudah, makan dulu!."
Ages yang sedari tadi berdiri di dekat meja hanya tersenyum melihat tingkah mereka.Namun wajahnya terlihat jauh lebih bersemangat dibanding Kalandra.
"Sudah siap,nak?"
Kalandra mengangguk. "Sudah."
"Seragam?"
"Sudah."
"Buku?"
"Sudah."
"Alat tulis?"
"Sudah."
Ages masih bertanya lagi. "Bekal?"
Kalandra menunjuk tasnya.
"Itu."
"Sepatu?"
"Sudah, Pap."
Sean langsung tertawa."Om Pap, itu anak mau sekolah, bukan mau perang.Rinci banget."
Ages mengabaikannya."Namanya juga hari pertama."
Tamara mengangguk setuju."Betul.Dulu juga Papi kaya gitu waktu abang pertama sekolah."
Kalandra menatap keduanya dengan heran. "Kenapa malah Papa sama Mami yang kelihatan excited?"
Sean menyahut, "Karena mereka lebih bahagia daripada lo."
Ages tersenyum. "Ya memang."
Arsen menyandarkan punggungnya di sandaran. "Kamu gak tau aja,Mami kalian sampe gak bisa tidur gara-gara gak sabar liat Kala pakai seragam SMA."
Kala dan Sean terkejut.
"Serius Mi,Pi?"
"Kepala Papi sampe pusing gara-gara Mami gak diem,guling-guling di kasur."
Ages,Kala dan Sean langsung tertawa sedangkan Tamara mendelik pada Arsen karena mulut suaminya yang begitu ember.
"Udah ah cepet berangkat,nanti pada telat loh." titah Tamara
Arsen dan Ages langsung berjalan keluar rumah di ikuti oleh Kala dan Sean.Kedua ayah muda itu begitu kompak ingin mengantarkan anak-anaknya ke kesekolah.
.
.
.
Tidak lama kemudian, mobil Ages berhenti di depan gerbang sekolah.
Sepanjang perjalanan, Ages sudah beberapa kali memberikan nasihat.
"Kalau bingung cari kelas, tanya guru.Jangan lupa makan."
"Iya,pap."
"Kalau ada masalah, telepon Papa atau kamu cari abangmu langsung."
"Siap."
"Kalau pulang terlambat—"
"Aku kabarin." sela Kala.
"Kalau—"
Belum selesai Ages berbicara,Kala langsung memotongnya duluan.
"Pap." Kalandra menoleh. "Ini sudah yang kelima kali papa ngomong kaya gitu."
Ages tertawa kecil."Ya sudah.Maaf,Papa terlalu excited."
Mobil berhenti.Dari balik kaca, terlihat ratusan siswa baru mulai berdatangan.
Kalandra menarik napas panjang.Hari pertamanya benar-benar dimulai.Ia meraih tas dan hendak membuka pintu.
Namun Ages memanggil.
"Kala."
"Hm?"
"Semangat."
Kalandra tersenyum. "Siap."
Ia baru hendak turun ketika Ages ikut membuka sabuk pengaman. "Papa turun sebentar."
Kalandra langsung panik. "Jangan!"
Ages terdiam."Kenapa?"
"Jangan turun!"
"Lho?"
"Nanti ada yang lihat."
Ages tertawa. "Memangnya kenapa?"
"Papa lupa?" Kalandra menatapnya serius. "Aku mau jadi murid biasa.Kalau Papa turun, orang-orang bisa mengenali."
Ages mengangguk.
"Maaf Papa lupa,baiklah."
Kalandra membuka pintu.Sebelum turun, ia menoleh lagi."Papa langsung ke kantor ya.Jangan nungguin dulu Kala jalan."
Ages tersenyum. "Iya."
Kalandra turun dari mobil.Namun baru beberapa langkah ia menoleh.Ages masih berada di dalam mobil.Keduanya saling pandang melalui kaca.Ages mengangkat tangan.Kalandra tersenyum lalu melambaikan tangan kecil.Setelah itu ia berjalan memasuki gerbang sekolah.
Ages tidak langsung pergi.Ia masih duduk di balik kemudi.Matanya mengikuti putranya sampai Kalandra menghilang di antara kerumunan siswa.Senyumnya tidak hilang.
"Anak Papa sudah SMA..."gumamnya pelan.
Tiba di dalam sekolah Kalandra berjalan sambil melihat sekeliling.
Seragam baru,lingkungan baru dan teman-teman baru.Tidak ada yang mengenalnya sebagai putra Ages Sabiru atau siapa keluarganya.Tidak ada yang tahu tentang Sabiru Cyber Tech.
Tidak ada yang tahu bahwa suatu hari nanti namanya mungkin akan berada di jajaran penerus perusahaan besar itu.
Bagi mereka Kalandra hanyalah siswa baru.Dan justru itu yang ia inginkan.
Kalandra berjalan menyusuri lorong sekolah sambil melihat nomor ruang kelas yang tertera di kertas pembagian kelas.
SMA Orion jauh lebih besar dari sekolah lamanya.Siswa baru berlalu-lalang di berbagai sudut, sebagian sibuk mencari kelas, sebagian lagi sudah mulai berkenalan.
Kalandra akhirnya menemukan kelasnya.
...X-4....
Ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Semoga dapat teman yang normal.
Begitu masuk langkah Kalandra langsung berhenti.Matanya membulat.Di salah satu bangku paling belakang, seseorang sedang duduk santai sambil memainkan ponsel.
Orang itu mengangkat wajah.Mata mereka bertemu. "KALA!"
Kalandra langsung menunjuk. "Lo?!"
Raka berdiri sambil tertawa lebar."Woi!"
"Bangke,lo sekolah di sini juga?!" Kalandra berjalan mendekat dengan wajah tidak percaya."Bukannya lo masuk SMA lain!"
"Iya tadinya,tapi tiba-tiba bokap nyuruh gue sekolah disini katanya udah di daftarin sama bokap gue."
Belum selesai mereka tertawa, sebuah suara terdengar dari belakang. "Ribut amat pagi-pagi."
Kalandra menoleh.Jevan masuk sambil membawa tas.Begitu melihat Jevan datang Kala langsung melotot.
"Lo juga sekolah disini? Bukannya lo mau masuk STM?"
"Kagak jadi coy,bokap gue seenak jidatnya daftarin gue disini."
Kalandra memegang dahinya. "Jangan bilang..."
Jevan melihat daftar kelas yang ada di tangannya. "X-4."
Raka langsung tertawa."Anjir! Kita bertiga satu kelas lagi!"
Kalandra hanya bisa menggeleng. "Ini pasti bukan kebetulan."
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga duduk berdekatan.
Raka masih sibuk menggoda Kalandra."Katanya mau punya kehidupan baru."
"Iya."
"Katanya mau cari teman baru."
"Iya."
"Terus kenapa kita bertiga satu kelas?"
Kalandra menatapnya. "Itu yang lagi gue pikirin."
Jevan tiba-tiba membuka ponselnya."Eh."
"Apaan?"
Jevan menunjukkan sebuah pesan dari Tamara.
✉️ Tante Tamara
Kalian jagain Kala ya. Jangan sampai dia sendirian di sekolah baru.
Kalandra langsung terdiam."Mana?"
Ia merebut ponsel Jevan.Membaca pesan itu beberapa kali.Lalu menatap Raka dan Jevan dengan tatapan tidak percaya.
"Jangan bilang..."
Raka sudah tertawa. "Kayaknya Mami lu main belakang."
"Mami.." Kalandra menghela napas panjang. "Kenapa sih Mami sampe segitunya."
Jevan tertawa."Mungkin takut lo enggak punya teman."
"Padahal gue bisa cari sendiri."
Raka menepuk bahu Kalandra."Ya udah.Anggap aja kita berdua bonus."
Kalandra menggeleng sambil tersenyum. "Bonus yang bikin duit ludes."
Karena masih penasaran saat jam istirahat tiba, Kalandra langsung menelepon Tamara. "Mi."
"Iya, Nak?"
"Mami sengaja, kan?"
Tamara pura-pura tidak mengerti."Sengaja apa?"
"Raka sama Jevan.Kenapa mereka satu kelas sama aku?"
Tamara tertawa kecil."Bagus dong.Mami takut adek enggak punya teman."
"Aku bisa cari sendiri."
"Mami tahu.Tapi Mami lebih tenang kalau ada orang yang sudah kamu kenal."
Kalandra menghela napas."Mami..."
"Iya?"
"Aku kan udah SMA."
"Justru karena kamu SMA."
"Teman itu penting,dek.Dan juga Abang pasti mulai sibuk persiapan ujian,gak akan mungkin bisa sering perhatikan adek."
Kalandra terdiam.Ia sebenarnya tidak bisa benar-benar marah.Karena ia tahu Tamara melakukan itu karena sayang.
"Ya sudah.Tapi jangan atur kelas aku lagi nanti ada yang curiga."
Tamara tertawa."Iya."
"Janji?"
"Janji."
"Ya udah,adek mau ke kantin dulu.Kala tutup telponnya ya Mi."
"Iya,kabari Mami kalau nanti ada apa-apa ya."
"Iya."
Raka yang sedari tadi mendengarkan langsung tertawa kecil, "Berarti benar."
Kalandra menatapnya."Apanya?"
"Mami lo emang terlalu sayang."
Jevan mengangguk."Dan sekarang kita bertiga resmi jadi paket."
Kalandra mengangguk."Ya udah.Mau gimana lagi."
Raka tersenyum lebar. "Semangat bro!geng kita sekarang lengkap.Tinggal cari Bang Se sama Bang Ki aja."
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kantin.
Tidak ada yang menyadari bahwa di balik keputusan sederhana itu, ada satu hal yang justru membuat awal kehidupan SMA Kalandra menjadi jauh lebih mudah.
Ia memang ingin menemukan teman-teman baru.Namun setidaknya di sekolah barunya, ia tidak benar-benar sendirian.
Di tempat lain, seseorang masih berada di dalam mobil beberapa meter dari sekolah.Ia ingin memastikan Kalandra berada dimana,setelah hampir lima bulan tidak terlihat dan sekarang ia baru bisa menemukan kembali Kalandra.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋