NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015: Naga Games

Setelah Makmur Mart cabang Kota Tanjung Emas runtuh, Rian Prasetyo kembali ke Jakarta dengan perasaan yang aneh.

Di satu sisi, Garuda Mart aman.

Di sisi lain, Garuda Mart makin kuat.

Restoran Rasa Nusantara tetap penuh reservasi.

Es Madu Kopi sudah menjelma menjadi jaringan enam ratus gerai yang setiap pagi mengeluarkan aroma kopi madu seperti mesin pencetak uang.

Rian duduk di ruang rapat PT Garuda Emas Group, menatap laporan dari tiga bisnis itu, lalu menutup map dengan sangat pelan.

"Kita perlu industri baru."

Bagas Wicaksono yang sedang meminum Es Kopi Madu Susu langsung tersedak. "Bos, lu bilang itu kayak orang bilang butuh obat batuk. Industri baru apa lagi?"

"Game."

Bagas berkedip.

"Game? Lu ngerti game?"

"Tidak."

"Lu pernah bikin game?"

"Tidak."

"Lu tahu bedanya server sama controller?"

Rian berpikir sebentar. "Keduanya mahal?"

Bagas menatapnya dengan ekspresi sedih. "Jawaban lu menghina dua bidang sekaligus."

Rian justru merasa makin yakin.

Industri game adalah lubang uang yang indah. Proyek bisa berjalan bertahun-tahun tanpa hasil. Biaya tim mahal. Risiko gagal tinggi. Pasar kejam. Satu keputusan desain salah bisa membuat seluruh investasi masuk kuburan.

Lebih penting lagi, Rian sama sekali tidak mengerti bidang ini.

Itu nilai tambah.

"Kita bentuk PT Naga Games," kata Rian. "Studio game single player. Tidak usah mengejar tren cepat. Kita beri tim kebebasan penuh."

Bagas menaruh gelasnya. "Bos, ini terdengar mulia."

Rian tersenyum tipis.

Mulia di luar.

Berdarah di laporan.

Tiga hari kemudian, ruang kantor baru untuk Naga Games disiapkan di Jakarta. Rian sengaja memilih gedung mahal dengan lantai luas. Ruang kerja dibuat terlalu nyaman: kursi ergonomis, komputer spek tinggi, ruang istirahat, pantry, ruang hening, bahkan akuarium kecil di sudut karena konsultan kantor mengatakan unsur air bisa menenangkan.

Bagas melihat semua itu dan berbisik, "Bos, ini kantor game atau tempat penyembuhan jiwa?"

"Dua-duanya mahal."

"Lu jawab terlalu cepat."

Rian juga menetapkan aturan yang membuat tim HR hampir menjatuhkan pulpen.

Tidak ada lembur wajib.

Jam lima sore kantor dikunci dan listrik area kerja utama dimatikan.

Karyawan boleh bekerja fleksibel, tapi tidak boleh membakar hidupnya demi perusahaan.

"Pak Rian," staf HR bertanya dengan suara hati-hati, "di industri game, banyak studio justru mengejar deadline dengan lembur panjang."

"Itulah kenapa banyak game buruk lahir dari orang yang sudah setengah mati," jawab Rian.

Ia sendiri terkejut mendengar jawabannya terdengar benar.

Padahal maksud aslinya sederhana: tanpa lembur, produksi lebih lambat; produksi lebih lambat, biaya lebih panjang.

"Kalau proyek mundur?" tanya staf itu.

"Mundur saja."

Bagas menatapnya seperti melihat orang melempar kalender ke laut.

"Kalau biaya membengkak?"

Rian menjawab dengan sangat tenang, "Kualitas hidup tim lebih penting."

Di luar, kalimat itu terdengar seperti prinsip.

Di dalam, ia terdengar seperti musik pengantar kerugian.

Di kepala Rian, aturan itu sederhana.

Game butuh waktu.

Kalau jam kerja dibatasi, proyek makin lama.

Kalau proyek makin lama, biaya makin besar.

Sempurna.

Masalahnya, para kandidat yang datang justru melihat aturan itu seperti cahaya dari langit.

Kandidat pertama bernama Yoga Pramudya.

Ia datang dengan kemeja kebesaran, tas punggung kusam, dan mata yang lebih sering menatap lantai daripada manusia. Saat duduk di depan Rian, tangannya gemetar memegang map.

"Nama?" tanya Rian lembut.

"Yo... Yoga, Pak. Yoga Pramudya."

"Pengalaman?"

Yoga membuka mulut, menutupnya, lalu mendorong map ke depan seolah map itu bisa berbicara menggantikannya.

Bagas mengambilnya. "Dia bikin game indie. Download dua ratus."

Rian hampir tersenyum.

Dua ratus.

Angka yang sangat menenangkan.

"Kenapa cuma dua ratus?" tanya Rian.

Yoga menunduk makin dalam. "Saya... tidak bisa promosi, Pak. Saya takut bicara di forum. Waktu ada komentar buruk, saya tidak tidur tiga hari. Jadi saya hapus postingan promosi."

Bagas berbisik, "Bos, ini bukan kandidat marketing."

"Bagus," jawab Rian.

Yoga tampak seperti ingin menghilang.

Rian membaca deskripsi game kecil itu. Tidak populer, grafis sederhana, tapi mekaniknya unik: pemain harus menyelesaikan konflik tanpa menyerang, memakai pola bayangan dan suara gamelan untuk membuka jalan.

Ide yang aneh.

Tidak komersial.

Sangat bagus untuk rugi.

"Game kamu tidak memberi hadiah kalau pemain menang berkelahi?" tanya Rian.

Yoga menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Saya ingin pemain merasa kemenangan bisa datang dari memahami pola, bukan menghancurkan lawan."

Bagas mengerutkan dahi. "Bro, itu kedengarannya susah dijual."

Yoga langsung pucat. "Maaf. Saya bisa ubah kalau..."

"Jangan," potong Rian.

Yoga membeku.

"Justru jangan ubah ide aneh hanya karena takut pasar."

Rian berkata begitu karena ide aneh lebih aman untuk rugi.

Yoga mendengarnya seperti pembebasan.

"Mulai bulan depan, gaji kamu 50 juta Rupiah per bulan," kata Rian.

Yoga mengangkat kepala begitu cepat sampai kacamatanya melorot.

"Maaf, Pak?"

"Posisi: game director."

Yoga pucat. "Pak, saya bahkan belum pernah memimpin tim."

"Justru itu. Kamu belum dirusak kebiasaan buruk industri."

Kalimat itu keluar karena Rian malas menjelaskan bahwa ia memang mencari risiko.

Yoga menatapnya lama, lalu matanya memerah.

"Saya boleh bawa ikan?"

Rian diam.

Bagas juga diam.

Yoga buru-buru membuka tasnya sedikit. Di dalamnya ada wadah kecil berisi dua ikan kecil yang berenang tenang.

"Kalau saya panik, melihat mereka membantu saya bernapas."

Rian memandang ikan itu.

Kandidat game director yang membawa ikan ke wawancara.

Ini benar-benar tim impian untuk kalah.

"Boleh," kata Rian. "Nanti kita siapkan akuarium di mejamu."

Yoga menunduk begitu dalam sampai hampir membentur meja. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan."

Kandidat kedua datang sore harinya.

Pak Bambang Kusumo berusia empat puluhan, rambutnya mulai menipis, matanya lelah, dan map lamarannya terlalu rapi untuk seseorang yang sudah ditolak banyak tempat.

"Saya tahu usia saya masalah," katanya sebelum Rian bertanya. "Tapi saya masih bisa coding. Saya pernah mengurus backend, tools internal, engine sederhana. Saya hanya... perusahaan terakhir bilang tim butuh darah muda."

Rian membaca riwayatnya.

Pengalaman panjang.

Dipecat.

Tiga bulan menunggak cicilan rumah.

Seratus lamaran tanpa jawaban.

Dalam industri yang memuja usia muda, Pak Bambang terlihat seperti kandidat yang sudah dibuang pasar.

Bagus.

Sangat bagus.

"Gaji 100 juta per bulan," kata Rian.

Pak Bambang membeku.

"Pak?"

"Posisi: lead programmer."

Tangan Pak Bambang bergetar. "Pak Rian, cicilan rumah saya..."

"Urus dulu yang mendesak. Setelah itu kerja dengan tenang."

Pak Bambang menunduk. Saat ia mengangkat wajah, matanya basah.

"Saya sudah tiga bulan tidak bisa tidur. Istri saya bilang tidak apa-apa kalau rumah hilang, yang penting saya sehat. Tapi saya tahu dia takut." Suaranya pecah. "Pak, kalau ini bukan lelucon, keluarga saya selamat."

Rian merasa dadanya berat.

Ia hanya ingin membayar mahal agar biaya membengkak.

Tapi orang di depannya menerima angka itu seperti tali yang dilempar ke dalam sumur.

"Saya tidak bisa bekerja dua puluh jam sehari seperti anak-anak muda itu," lanjut Pak Bambang pelan. "Tapi saya bisa membuat sistem yang tidak runtuh saat orang lain panik. Saya terbiasa membersihkan masalah yang tidak terlihat."

Rian menatap pria itu.

Kalimat itu terdengar berbahaya.

Orang yang bisa membersihkan masalah tidak terlihat biasanya membuat proyek terlalu sehat.

Namun Rian sudah terlanjur menawarkan gaji besar.

Dan wajah Pak Bambang terlalu penuh harapan untuk ditarik mundur.

"Ini bukan lelucon," kata Rian.

Pak Bambang berdiri dan membungkuk. "Saya akan kerja sebaik mungkin."

Rian hampir berkata jangan terlalu baik.

Untung ia masih punya sedikit akal.

Kandidat ketiga datang malam hari, meski jadwal wawancara sudah lewat.

Andhika Nugroho tidak terlihat seperti pelamar. Ia memakai jaket hitam, membawa map tipis, dan duduk dengan sikap orang yang sudah terlalu sering dikecewakan untuk berharap.

"Anda tahu tiga game terakhir saya gagal?" tanyanya langsung.

Rian mengangguk. "Tahu."

"Anda tahu dulu saya pernah punya game dengan lebih dari sepuluh juta download, lalu setelah itu semua orang bilang saya kehabisan api?"

"Tahu."

"Lalu kenapa memanggil saya?"

Rian menatapnya.

Karena orang yang gagal tiga kali sangat cocok untuk membantu saya gagal keempat kalinya.

Tentu kalimat itu tidak bisa diucapkan.

"Karena saya tidak menilai orang hanya dari tiga kegagalan terakhir," kata Rian akhirnya.

Andhika terdiam.

Bagas menoleh pelan ke Rian, tampak tersentuh.

Rian pura-pura tidak melihatnya.

"Gaji 200 juta per bulan," lanjut Rian. "Posisi: chief developer. Saya beri anggaran besar dan kebebasan kreatif. Buat game yang menurut Anda layak dibuat."

Andhika menatapnya seperti mencari jebakan.

"Tidak ada permintaan monetisasi agresif?"

"Tidak."

"Tidak ada game harian yang memaksa pemain login?"

"Tidak."

"Tidak ada loot box?"

Rian tidak sepenuhnya paham, tapi kata itu terdengar seperti cara menghasilkan uang, jadi ia langsung menjawab, "Tidak."

Untuk pertama kalinya, mata Andhika menyala.

"Kalau begitu, saya ingin membuat dunia fantasi dari Wayang. Bukan sekadar tempelan budaya. Saya ingin Gatotkaca, para ksatria, raksasa, hutan, langit, gamelan, semua terasa hidup."

Ia berdiri tanpa sadar, mengambil spidol dari meja, lalu menggambar garis kasar di papan kecil ruang wawancara.

"Banyak orang memakai budaya lokal hanya untuk kostum," katanya. "Saya ingin pemain merasakan ritme pertunjukan, bayangan di kelir, konflik antara kewajiban dan harga diri. Pertarungan boleh besar, tapi inti ceritanya harus manusia."

Bagas berbisik, "Bos, gue nggak ngerti semua, tapi bulu kuduk gue naik."

Rian juga merasakannya.

Dan itu membuatnya sedikit takut.

Andhika yang tadi tampak mati rasa kini berbicara seperti api yang menemukan minyak.

Rian mendengar kata-kata itu dan merasa tenang.

Proyek ambisius.

Budaya lokal.

Single player.

Tanpa monetisasi agresif.

Biaya besar, peluang pasar tidak jelas.

Sempurna.

"Mulai besok," kata Rian.

Malam itu, Naga Games resmi memiliki tiga inti.

Yoga duduk di meja baru dengan akuarium kecil di laci terbuka, berbicara pelan kepada ikannya sambil menyusun sistem puzzle.

Pak Bambang mengetik cepat, membangun kerangka engine dengan wajah seseorang yang akhirnya diberi kesempatan bernapas.

Andhika berdiri di depan whiteboard besar, menggambar garis dunia, gunung, kerajaan, dan siluet Gatotkaca yang terbang di atas awan.

Rian berdiri di pintu studio dan melihat mereka.

Satu orang terlalu takut bicara.

Satu orang dianggap terlalu tua.

Satu orang disebut sudah habis.

Tiga orang yang, menurut logika pasar, seharusnya sulit menghasilkan sesuatu.

Di atas meja Yoga, dua ikan kecil berenang di bawah cahaya lampu. Setiap kali Yoga panik melihat whiteboard Andhika yang terlalu penuh, ia menatap air beberapa detik, lalu kembali menulis catatan desain dengan tangan lebih stabil.

Pak Bambang tidak banyak bicara, tapi setiap kali Yoga kebingungan menjelaskan mekanik, ia menerjemahkannya menjadi struktur teknis yang rapi. Andhika, yang awalnya tampak seperti serigala tua sendirian, mulai berhenti di belakang kursi mereka dan memberi masukan tanpa merendahkan.

Tiga orang asing itu belum menjadi tim.

Tapi mereka sudah mulai saling menambal.

Rian melihatnya dan merasa keyakinannya sedikit terganggu.

Lalu ia menghibur diri.

Tim yang terlalu cocok juga bisa gagal kalau proyeknya terlalu ambisius.

Benar.

Pasti bisa.

Rian merasa puas.

"Dengan tim seperti ini," gumamnya, "mana mungkin gamenya sukses?"

Di dalam ruangan, Andhika menulis judul sementara di papan.

Legends of Gatotkaca.

Yoga menatap tulisan itu, lalu untuk pertama kalinya tersenyum kecil.

Pak Bambang berhenti mengetik sebentar dan berkata, "Kalau kita serius, ini bisa jadi sesuatu."

Rian tidak mendengarnya.

Ia sedang menikmati ilusi terakhirnya.

Bahwa kali ini, ia benar-benar sudah memilih jalan menuju kerugian.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!