"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."
Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.
Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?
Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27: Air Mata di Dalam Mobil Kecil
Roda-roda SUV hitam premium itu bergulir halus meninggalkan area parkir luar ruangan Distrik Utara yang perlahan menjauh di kaca spion.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan yang tercipta terasa begitu padat, namun bukan keheningan yang mencekam seperti saat Oliver bersitegang dengan keluarga Lin.
Ini adalah keheningan yang sarat akan luapan emosi, sebuah ruang transisi di mana hati yang terluka sedang mengumpulkan kembali serpihan-serpihan dirinya yang baru saja dihantam badai.
Yoyo, yang telah mengerahkan seluruh keberanian mungilnya di tempat parkir tadi, kini mulai merasakan kelelahan fisik dan emosional yang luar biasa.
Tubuh kecilnya perlahan merileks, bersandar sepenuhnya pada dada Viona.
Napasnya mulai teratur, dan kedua matanya yang bulat perlahan-lahan terpejam, tertidur pulas dalam dekapan hangat sang bibi yang kini telah ia dewasakan sebagai "Ibu" di dalam jiwanya.
Viona mendekap erat tubuh Yoyo.
Ia menatap wajah tidur putri kecilnya dengan pandangan yang berkaca-kaca.
Setiap embusan napas hangat Yoyo yang menerpa lehernya terasa seperti sebuah validasi suci yang menghancurkan seluruh sisa-sisa inferioritas di dalam dirinya.
Namun, seiring dengan meredanya ketegangan, benteng pertahanan mental yang dibangun Viona sejak tadi siang perlahan-lahan runtuh.
Puncak pertahanan itu jebol bukan karena kemarahan, melainkan karena rasa haru dan sesak yang teramat sangat.
Kata-kata kasar Tante Sela tentang dirinya yang "mandul" dan "cacat" memang sudah tidak bisa lagi memicu ketakutannya, tetapi menyadari bahwa seorang anak sekecil Yoyo harus berdiri tegak melindunginya dari kekejaman dunia orang dewasa... itu adalah hal yang memicu rasa bersalah yang teramat dalam di lubuk hati Viona.
Setitik demi setitik air mata mulai mengalir deras membasahi pipi Viona yang putih bersih.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut rajutnya agar isakannya tidak terdengar dan membangunkan Yoyo.
Bahunya berguncang pelan, menahan sesak yang mendesak keluar dari dadanya.
Dari kursi kemudi, Oliver tidak melewatkan satu pun detail perubahan emosional wanitanya.
Melalui kaca spion tengah, ia melihat bagaimana Viona menunduk rapat-rapat, memeluk Yoyo bagaikan satu-satunya pelampung di tengah samudra, dengan bahu yang bergetar hebat karena tangisan yang tertahan.
Mata elang Oliver meredup, dipenuhi oleh rasa bersalah dan kelembutan yang teramat dalam.
Pria tirani yang biasanya tidak peduli pada air mata siapa pun di dunia bisnis ini, kini merasa hatinya bagaikan disayat sembila setiap kali melihat setetes air mata jatuh dari pelupuk mata jernih Viona.
Oliver memutar kemudi dengan tenang namun cekatan.
Alih-alih langsung mengambil jalur tol menuju mansion mereka di Distrik Utara yang luas, ia membelokkan SUV besar itu ke sebuah jalan setapak yang lebih sepi, mengarah ke area taman kota kecil yang rindang dan tersembunyi dari hiruk-pikuk jalan raya utama.
Ia memarkirkan mobil di bawah naungan pohon flamboyan besar yang sedang berguguran kelopaknya.
Mesin mobil tetap dinyalakan agar pendingin udara tetap menjaga kenyamanan tidur Yoyo, namun suasana di dalam kabin seketika menjadi sangat privat.
Oliver melepas sabuk pengamannya.
Tanpa ragu, ia memutar tubuhnya ke arah kursi belakang.
Dengan gerakan yang sangat terlatih dan lembut, ia mengulurkan kedua lengan kokohnya, mengambil alih tubuh Yoyo yang tertidur lelap dari pangkuan Viona.
Ia memindahkan putri kecilnya ke kursi bayi (car seat) khusus di baris ketiga yang lebih longgar, menyelimutinya dengan jaket denim kecilnya, lalu menutup pembatas interior tengah agar Yoyo tidak terganggu.
Setelah memastikan putrinya aman dalam tidurnya, Oliver tidak kembali ke kursi kemudi. Ia justru bergeser ke baris kedua, duduk tepat di samping Viona yang kini masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak pelan dalam kesunyian "mobil kecil" mereka.
Tanpa sepatah kata pun, Oliver mengulurkan tangannya.
Ia menarik tubuh ramping Viona ke dalam pelukan hangatnya.
Kali ini, pelukannya tidak membawa aura dominasi atau kepemilikan yang posesif, melainkan sebuah ruang aman yang murni—sebuah tempat di mana Viona diizinkan untuk menjadi rapuh seutuhnya tanpa perlu berpura-pura kuat.
"Tumpahkan semuanya, Viona,"
bisik Oliver rendah, suaranya yang berat bergetar oleh kelembutan yang dalam.
Ia mengusap punggung Viona dengan gerakan konstan yang sangat menenangkan.
"Menangislah sepuasmu. Di sini, tidak ada keluarga Lin, tidak ada publik, dan tidak ada yang menilai dirimu. Hanya ada aku yang akan menampung setiap tetes air matamu."
Mendengar bisikan hangat itu, tangisan Viona yang semula tertahan akhirnya pecah sepenuhnya.
Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Oliver, meremas ujung kemeja kasual abu-abu pria itu dengan jemarinya yang gemetar.
Isakan demi isakan yang sarat akan rasa haru, rasa bersalah, dan kelegaan emosional keluar dari bibirnya.
"Aku... aku merasa menjadi wanita yang sangat buruk, Oliver..."
isak Viona di sela tangisnya, suaranya terdengar sangat serak dan memilukan.
"Yoyo masih sangat kecil... dia seharusnya bermain dan tertawa tanpa beban. Tapi hari ini... dia harus berdiri di depanku, menghadapi makian orang-orang itu hanya untuk membelaku... Aku merasa gagal melindunginya..."
Oliver mengencangkan pelukannya, mengecup pelan pelipis Viona yang basah oleh keringat dingin dan air mata.
"Kau salah, Viona. Sangat salah,"
ucap Oliver tegas namun lembut, menyela prasangka buruk wanita itu pada dirinya sendiri.
Ia mengangkat dagu Viona dengan jemarinya, memaksa sepasang mata jernih yang kini sembap dan kemerahan itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang dipenuhi keyakinan mutlak.
"Yoyo melakukan itu bukan karena kau gagal melindunginya. Dia melakukan itu karena kau telah berhasil memberikannya sesuatu yang belum pernah dia miliki seumur hidupnya:
figur seorang Ibu yang nyata.
Cinta yang kau berikan padanya selama sebulan terakhir ini begitu tulus hingga dia rela mengesampingkan ketakutannya sendiri demi melindungi wanita yang telah menghidupkan kembali dunianya."
Oliver mengusap air mata di pipi Viona dengan ibu jarinya yang hangat, tatapannya begitu intens dan penuh pengabdian.
"Anak kecil tidak bisa berbohong, Viona. Tindakan Yoyo hari ini adalah bukti paling nyata bahwa di matanya, di mataku, dan di mata Tuhan... kau adalah Ibu terbaik yang pernah ada untuknya.
Tidak peduli apa yang dikatakan oleh wanita-wanita picik dari masa lalumu itu, kenyataan bahwa putriku mencintaimu sebesar itu adalah jawaban mutlak atas semua keraguanmu."
Viona menatap wajah tegap Oliver yang berjarak hanya beberapa sentimeter darinya.
Di dalam mata elang pria itu, ia tidak menemukan setitik pun kebohongan atau kepura-puraan.
Yang ada hanyalah kejujuran yang murni, sebuah komitmen yang kokoh yang tidak akan pernah goyah oleh badai apa pun.
"Apakah... apakah aku benar-benar pantas mendapatkan semua ini, Oliver?"
bisik Viona tulus, suaranya bergetar halus.
"Pernikahan kontrak kita... semua kemewahan ini... dan kasih sayang dari kalian berdua..."
Oliver tersenyum tipis—sebuah senyuman menawan yang sangat jarang ia tunjukkan kepada dunia luar.
Ia merunduk, menempelkan keningnya pada kening Viona, membiarkan napas mereka saling bertautan di dalam kehangatan kabin mobil.
"Kau pantas mendapatkan yang lebih dari ini, Nyonya Oliver," janji Oliver dengan nada rendah yang mutlak.
"Kontrak itu mungkin dimulai dengan tinta di atas kertas, tetapi air mata yang kau tumpahkan hari ini, dan pembelaan Yoyo di tempat parkir tadi, telah menulis ulang takdir kita dengan tinta emosi yang nyata. Kau bukan lagi bagian dari sebuah perjanjian usaha. Kau adalah duniaku, Viona. Dan aku tidak akan pernah membiarkan duniaku menangis dalam kesakitan lagi."
Mendengar kalimat sakral itu, sesak di dada Viona berangsur-angsur menguap, digantikan oleh rasa hangat yang teramat sempurna meresap hingga ke pembuluh darahnya.
Tangisannya perlahan mereda, menyisakan helaan napas lega yang panjang.
Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Oliver, mendengarkan detak jantung pria itu yang stabil dan kuat—sebuah melodi penyembuh yang kini telah menjadi pelabuhan terakhir bagi jiwanya.
Di luar jendela mobil kecil mereka, kelopak bunga flamboyan berwarna jingga berguguran perlahan tertiup angin sore, menyelimuti kap mobil dengan keindahan yang sunyi.
Namun di dalam kabin itu, air mata yang tumpah hari ini tidak lagi membawa kepedihan masa lalu;
melainkan menjelma menjadi pembaptisan emosional yang menyatukan hati Viona, Oliver, dan Yoyo menjadi satu ikatan keluarga yang sesungguhnya—ikatan yang tak akan pernah bisa dipecahkan oleh tuduhan kejam mana pun di masa depan.