NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Hiruk-pikuk pasar di kaki Pegunungan Sewu kian menjadi. Teriakan para pedagang bersahutan, beradu dengan suara kambing, riuh ayam, dan denting palu dari bengkel pandai besi di sudut pasar.

Jangkrik masih berdiri mematung di hadapan perempuan tua itu. Ia tertegun.

"Kenapa, Nak? Kau kelaparan?" tanya perempuan itu dengan senyum yang teduh.

Jangkrik menggigit bibir bawahnya. Nada suara itu... kehangatan itu... sungguh mirip dengan mendiang ibunya. Perlahan, ia mengulurkan tangan untuk menerima mangkuk tanah liat berisi bubur hangat tersebut.

"Terima kasih..." bisik Jangkrik.

Namun, sebelum jemarinya menyentuh mangkuk itu—

"Sudah."

Suara Sang Warok terdengar datar namun absolut. Pria itu sudah berdiri di samping Jangkrik, tubuh besarnya seolah memagari bocah itu dari dunia luar. Ia meletakkan beberapa keping uang logam di atas meja bambu.

"Terima kasih," ucap Warok singkat.

Perempuan tua itu mengangguk ramah, tak menyadari aura dingin di sekelilingnya. "Semoga cucumu sehat selalu."

Warok tidak membalas. Ia segera mencengkeram lengan Jangkrik dan menariknya menjauh. "Ayo."

Jangkrik menoleh ke belakang, hatinya tertahan. Ia ingin menahan langkah, ingin memanggil kembali sosok renta itu, namun tarikan tangan Warok terlalu dominan dan tak bisa dibantah.

Mereka berhenti di sebuah bengkel pandai besi. Di dalam, seorang lelaki kekar sibuk menempa bilah golok, memercikkan bunga api yang menari di udara.

Tang! Tang! Tang!

Begitu melihat sosok Warok, pandai besi itu mendadak kaku. "Warok..."

Warok mengangguk sekilas. "Pesananku?"

Tanpa banyak bicara, pandai besi itu bergegas ke ruang belakang. Tak lama, ia kembali dengan membawa sebuah peti kayu panjang. Saat tutupnya dibuka, tampaklah sepasang gelang besi berwarna hitam pekat dengan permukaan kasar.

Warok mengambil salah satunya. "Gelang Baja Wulung," gumamnya, lalu melemparkan kedua gelang itu kepada Jangkrik.

BRAK!

Bukan suara denting logam yang terdengar, melainkan bunyi hantaman benda berat. Jangkrik yang menangkapnya dengan kedua tangan langsung terjerembap ke bawah; beratnya sungguh tak masuk akal.

Warok tersenyum tipis. "Pakai."

"Ini... ini terlalu berat," napas Jangkrik memburu, mencoba menahan beban di tangannya.

"Justru itu tujuannya," sahut Warok tenang.

Dengan susah payah dan gemetar, Jangkrik memasang gelang besi itu di pergelangan tangannya. Seketika, lengannya terasa seperti ditarik gravitasi bumi. Setiap gerakan kini menjadi lambat dan menyiksa.

"Mulai hari ini," suara Warok menggelegar di telinga Jangkrik, "kau tidak boleh melepas gelang itu."

"Saat tidur juga?"

"Ya."

"Saat mandi?"

"Ya."

"Sampai kapan?" tanya Jangkrik, menahan nyeri di otot lengannya.

Warok menatap tajam, menembus kedalaman jiwa muridnya. "Sampai kau lupa rasanya menjadi ringan. Sampai beban ini menjadi bagian dari napasmu."

Setelah urusan di pandai besi selesai, mereka kembali membelah keramaian pasar. Namun, tanpa mereka sadari, tiga pasang mata tajam sedang menguntit dari balik bayang-bayang.

"Benar dia?" bisik salah seorang pengekor.

"Tidak salah lagi. Warok itu," jawab yang lain.

"Lalu bocahnya?"

"Itulah anak saudagar yang dicari para petinggi."

Salah satu dari mereka menyeringai keji. "Bagus. Tunggu mereka keluar dari kerumunan pasar."

Di depan seorang penjual rempah, Warok berhenti untuk membeli garam dan belerang. Saat sedang membayar, alisnya bergerak tipis. Ia tidak menoleh, namun pendengarannya yang terlatih menangkap irama langkah kaki yang disengaja.

Satu... dua... tiga orang.

Warok memasukkan barang-barangnya ke keranjang dengan tenang. "Jangkrik."

"Hm?"

"Jangan menoleh ke belakang."

Jangkrik seketika menegang. "Ada yang mengikuti?"

"Tiga orang," bisik Warok pelan. "Mereka bukan pencuri biasa. Langkah kaki mereka terlalu terlatih."

Darah Jangkrik mendidih. "Perlukah kubunuh?"

Warok terkekeh, sebuah tawa yang kering. "Kau?"

"Aku serius, Warok!"

Warok menepuk kepala bocah itu dengan tenang. "Simpan keberanianmu. Untuk saat ini, cukup lihat dan belajar."

Mereka terus melangkah, meninggalkan pasar dan memasuki jalan setapak yang mulai sunyi menuju hutan. Begitu memasuki kawasan vegetasi yang rapat, Warok tiba-tiba berhenti. Ia tidak membalikkan badan, membiarkan punggungnya terbuka sebagai umpan.

"Keluar," ucapnya dingin.

Hening. Tak ada jawaban.

Warok kembali berkata, kali ini dengan penekanan yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku hanya akan menghitung sampai tiga."

"Satu..."

Masih sunyi, hanya suara gesekan daun jati yang tertiup angin.

"Dua..."

Semak-semak di belakang mereka mulai bergoyang.

"Tiga."

Tiga sosok pria keluar dari balik pepohonan dengan golok terhunus. Wajah mereka penuh bekas luka, tatapan mereka lapar. Pria yang tertua melangkah maju. "Kami tidak mencari masalah denganmu, Warok."

Warok mendengus, perlahan ia memutar tubuhnya. Aura predator keluar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar terasa berat dan mencekam. "Kalau begitu, pulanglah selagi nyawamu masih menempel di raga."

Pria itu menggeleng, menunjuk dengan goloknya. "Kami tidak butuh kau. Kami hanya ingin bocah itu."

"Serahkan dia," ancam pria itu.

Warok tidak menjawab. Ia menatap Jangkrik, membiarkan muridnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

"Jangkrik," panggil Warok tanpa mengalihkan pandangan dari lawannya.

"Ya?"

"Lihat baik-baik."

"Apa yang harus kulihat?"

Warok mulai mencabut goloknya dengan perlahan, menciptakan suara gesekan logam yang memicu nyali. "Pelajaran pertama: bahwa di dunia ini, ada orang-orang yang tidak layak diberi ampun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!