Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19- Mengatakan Cinta?
Cerita berlanjut...
Beberapa saat setelah notaris datang dan transaksi kilat senilai tiga miliar rupiah berhasil diselesaikan, si bos tambun beserta ketiga preman bertato tadi akhirnya pergi dengan senyum puas yang menjijikkan.
Toko itu kini resmi kembali menjadi hak milik penuh dan tidak akan ada yang bisa menggugat.
Kini, Bara duduk termenung di salah satu kursi kayu dekat meja kasir yang tersisa. Bahunya yang tadi tampak begitu tegap dan mengintimidasi, kini merosot.
Pria itu menunduk seraya menatap pecahan keramik di dekat sepatunya dengan tatapan kosong.
Adapun Alena, ia berdiri beberapa langkah di belakangnya dan menatap punggung tegap yang kini tampak begitu rapuh itu dengan berbagai perasaan.
Perlahan, Alena melangkah mendekat lalu berkata, "Bara... seharusnya kamu tidak perlu melakukan hal sejauh ini. Uang tiga miliar itu terlalu banyak. Saya bisa menyelesaikan masalah ini lewat jalur hukum kalau saja kita mencari tau siapa yang memalsukan atau mencuri dokumen itu."
Bara perlahan menggelengkan kepalanya. Ia mengembuskan napas berat, lalu membalikkan tubuh untuk menatap Alena. Sementara gurat penyesalan tercetak jelas di wajah tampannya.
"Ini tidak sesederhana itu, Nona Alena," ucap Bara dengan suara rendah. Ia menatap lekat manik mata Alena dan berkata lagi, "Apa Anda ingat... seorang perempuan paruh baya yang beberapa waktu lalu sempat datang ke toko ini?"
Alena mengernyitkan dahinya. Pikiran dan ingatannya berputar dan kembali pada kejadian beberapa minggu lalu sebelum Bara mendadak menghilang tanpa kabar.
Lalu, bayangan seorang wanita anggun, berhiaskan permata mewah namun memiliki tatapan mata yang sangat angkuh dan dingin, melintas di benaknya.
"Ibumu?" tanya Alena langsung.
Bara pun mengangguk pelan, lalu bangkit berdiri dari kursinya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu melanjutkan perkataannya, "Lebih tepatnya, ibu tiri saya. Hubungan saya dengan beliau... tidak pernah baik sejak dulu. Waktu dia datang ke sini dan melihat kedekatan kita, dia salah paham. Beliau mengira jika Nona Alena adalah... pacar saya."
Alena mengerjapkan mata. Jantungnya berdesir aneh ketika mendengar kata 'pacar', namun ia tetap diam dan membiarkan Bara menyelesaikan penjelasannya.
"Hari itu juga, setelah dia pergi dari sini, saya langsung menemuinya. Saya menjelaskan dengan tegas bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa. Nona Alena hanya pemilik toko bunga tempat saya sering berkunjung," lanjut Bara, tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang amat besar. "Tapi, beliau adalah tipe orang yang sinis dan penuh curiga. Beliau tidak percaya. Oleh karena itu... saya mengambil keputusan untuk berhenti menemui Nona Alena. Saya menghilang secara tiba-tiba karena tidak ingin keberadaan saya di dekat Anda justru memicu sesuatu yang buruk. Saya ingin melindungi Anda."
Bara mengepalkan kedua tangannya seolah menahan amarah. "Namun, ternyata perkiraan saya meleset. Mereka justru bertindak jauh lebih berlebihan dan licik dari yang saya duga."
"Apa maksudmu, Bara? Apa hubungannya ibumu dengan surat tanah tokoku?" tanya Alena, semakin bingung.
"Sebenarnya, Mico... Dia yang berada di balik semua ini," jawab Bara dengan nada getir. "Dia yang menyuruh orang untuk mencuri dan memalsukan pengalihan surat-surat kepemilikan toko ini. Mereka ingin menghancurkan apa pun yang mereka pikir berharga bagi saya. Maafkan saya, Nona Alena... karena kelengahan saya, saya tidak bisa mencegah kelicikan mereka lebih awal hingga toko Anda menjadi korbannya."
Mendengar nama Mico disebut, Alena pun mengembuskan napas yang panjang. Sebuah tawa miris dan tak percaya pun lolos dari bibirnya.
‘Konyol sekali,’ guman Alena dalam hati.
Selama beberapa jam terakhir, otaknya dipenuhi kecurigaan dan rasa waswas yang luar biasa. Ia bahkan sempat mengira jika Max yang telah melakukan perbuatan keji ini. Ternyata, ia sepenuhnya salah sasaran. Ini adalah badai yang datang dari dunia Bara.
Setelah itu Alena membalikkan tubuhnya. Ia lalu berjalan beberapa langkah menuju jendela toko yang retak, dan berdiri membelakangi Bara untuk menyembunyikan gejolak emosi yang mendadak menguasai dadanya.
"Jadi..." Alena menjeda kalimatnya seraya menatap lurus ke arah jalanan di luar. "Ibumu meneror toko ini hanya karena dia mengira kita punya hubungan khusus?"
"Benar," jawab Bara di belakangnya. "Tapi saya bersumpah, Nona Alena, saya sudah berulang kali menyangkalnya. Saya tau batasan saya dan saya tidak pernah berniat membawa Anda ke dalam masalah keluarga saya yang rumit ini. Kita tidak seperti yang mereka tuduhkan—"
"Kalau begitu..."
Alena memotong ucapan Bara dengan cepat. Ia lalu membalikkan tubuhnya dengan perlahan dan menatap langsung ke dalam manik mata pria itu.
"Kenapa tidak kita buat hubungan itu menjadi kenyataan saja?"
Deg.
Kalimat pendek yang meluncur mulus dari bibir Alena sukses membuat Bara membeku di tempatnya.
Pria yang biasanya selalu tenang dan terkendali itu kini membelalakkan matanya yang bulat. Mulutnya sedikit terbuka seakan kehilangan kata-kata.
"N-Nona Alena...?" gagap Bara. Ia bahkan sempat mengira telinganya sedang berdenging atau salah dengar akibat kelelahan. "Apa... apa maksud Anda?"
Alena tidak menghindari tatapan terkejut Bara. Sebaliknya, ia malah melangkah maju dan memperkecil jarak di antara mereka di tengah ruangan toko yang berantakan itu.
"Ibu tirimu dan adikmu sudah telanjur merebut ketenangan hidupku, dan kamu baru saja mengeluarkan tiga miliar hanya untuk menebus toko ini kembali," kata Alena dengan nada suara yang mantap, walau ada debaran halus di dadanya.
"Mereka tidak akan berhenti mengusikmu atau mengusikku selama mereka pikir mereka punya kendali. Jadi, daripada kita terus-menerus mengelak dan bersembunyi..."
Alena menatap lurus ke dalam mata Bara yang masih sarat akan keterkejutan. "Mari kita beri mereka apa yang mereka takuti. Kita mulai hubungan ini secara nyata."
Bersambung...