Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006
Motor
Jam istirahat besoknya, Sekar datang ke kantin tepat waktu.
Ia bahkan datang lima menit lebih awal.
Yola menatapnya dari samping meja dengan ekspresi sulit dijelaskan. "Lo sadar lo kelihatan seperti anak yang mau ujian beasiswa, bukan mau makan siang?"
Sekar merapikan ujung rambutnya. "Berlebihan?"
"Banget."
"Aku biasa saja."
"Biasa saja itu bukan datang duluan, duduk tegak, terus cek jam tiap tiga puluh detik."
Sekar pura-pura tidak mendengar. Di bawah meja, tangannya menggenggam botol air mineral. Ia tahu ini konyol. Di kehidupan sebelumnya, ia pernah melewati kematian, polisi, makam, dan penyesalan yang tidak bisa dibayar. Namun sekarang ia gugup hanya karena akan makan siang dengan Kevin.
Mungkin karena hal kecil seperti inilah yang dulu tidak pernah ia miliki.
Kevin datang dua menit sebelum bel istirahat benar-benar ramai. Bryan berjalan di belakangnya sambil membawa nampan berisi tiga piring nasi ayam dan satu es teh besar.
"Paket perlindungan datang," kata Bryan ceria.
Kevin melempar tatapan tajam. "Lo mau makan atau ngomong?"
"Dua-duanya."
Kevin duduk di depan Sekar dan mendorong satu piring ke arahnya. "Makan."
Sekar melihat nasi ayam itu, lalu menatap Kevin. "Pakai uangku?"
"Iya."
"Kamu beli juga untuk Bryan?"
"Pakai uang dia sendiri."
Bryan langsung menunjuk piringnya. "Gue tersinggung, tapi benar."
Yola yang masih duduk di sebelah Sekar menatap Kevin, lalu menatap Sekar, lalu menatap makanan itu. Matanya penuh pertanyaan, tetapi untuk sekali ini ia memilih menahan diri. Ia hanya berbisik dekat telinga Sekar, "Nanti gue butuh laporan lengkap."
Sekar menyikutnya pelan.
Makan siang itu tidak romantis seperti yang Sekar bayangkan.
Kevin hampir tidak bicara. Ia makan cepat, sesekali mendorong lauk yang lebih banyak ke piring Sekar dengan gerakan seolah itu bukan apa-apa. Ketika Sekar mengambil sambal terlalu banyak, ia langsung menukar piring kecil itu dengan yang lebih sedikit.
"Pedas," katanya.
"Aku bisa makan pedas."
"Kemarin hampir jatuh dari tangga karena panik. Jangan debat."
Bryan tertawa sampai es tehnya hampir tumpah. Yola terbatuk menahan tawa. Sekar ingin protes, tetapi di bawah meja, ujung sepatunya menekan lantai agar ia tidak tersenyum terlalu jelas.
Sepanjang hari, gosip mulai bergerak.
Anak-anak melihat Sekar duduk satu meja dengan Kevin. Melihat Kevin membayar makanan Sekar. Melihat Bryan berbicara seolah itu hal biasa. Melihat Yola masih hidup di samping mereka, berarti situasinya tidak berbahaya.
Saat bel pulang berbunyi, beberapa pasang mata mengikuti Sekar keluar kelas.
Yola memegang lengannya. "Hari ini lo pulang sama siapa?"
"Ojek online."
Sebelum Yola sempat menjawab, suara motor berhenti di dekat gerbang samping.
Sekar menoleh.
Kevin duduk di atas motor hitamnya, satu kaki menapak aspal, helm di tangan kiri. Rambut birunya tertiup angin sore. Seragamnya masih berantakan seperti biasa, tetapi di bawah cahaya matahari yang turun, wajahnya tampak lebih muda daripada saat di tempat biliar.
Beberapa siswa langsung memperlambat langkah.
Kevin mengangkat helm itu ke arah Sekar.
"Naik."
Yola mengencangkan genggamannya pada lengan Sekar. "Sekar."
Sekar menepuk tangan Yola pelan. "Aku kabari kalau sudah sampai."
"Lo yakin?"
Sekar menatap Kevin. Lelaki itu tidak tersenyum, tidak membujuk, hanya menunggu dengan sabar yang terlihat dipaksakan.
"Yakin."
Ia berjalan ke arah Kevin. Ketika sampai di dekat motor, Kevin menyerahkan helm tanpa kata. Sekar menerimanya, tetapi tali pengamannya terlalu kaku. Ia mencoba mengaitkan sendiri, dua kali gagal.
Kevin mendesah.
"Sini."
Sekar mendongak.
Kevin sudah turun dari motor. Ia berdiri di depannya, mengambil tali helm dari jemari Sekar, lalu menunduk sedikit untuk memasangkannya. Jarak mereka begitu dekat sampai Sekar bisa melihat bulu mata Kevin yang panjang dan bekas luka tipis di dekat buku jarinya.
Jari Kevin tidak menyentuh kulit dagunya. Ia sangat hati-hati, seolah Sekar barang yang mudah retak.
"Kekencangan?" tanyanya.
Sekar menggeleng.
"Bisa jawab pakai suara?"
"Nggak."
Kevin berhenti sebentar. "Kenapa?"
"Takut kedengaran gugup."
Bryan yang entah sejak kapan muncul di belakang mereka langsung bersiul. "Bro, kalau lo jatuh dari motor karena digombalin, kabari gue."
Kevin menoleh. "Pergi."
Bryan tertawa sambil mundur.
Kevin kembali naik ke motor. "Pegangan."
Sekar duduk di belakangnya dengan gerakan hati-hati. Ini bukan pertama kalinya ia naik motor, tetapi ini pertama kalinya ia duduk sedekat ini dengan Kevin. Awalnya ia hanya memegang bagian belakang jok.
Motor mulai bergerak.
Angin sore langsung menerpa wajahnya. Jalanan dekat sekolah ramai, penuh angkot, pedagang kaki lima, dan motor lain yang saling menyalip. Kevin mengendarai motor dengan stabil, tidak ugal-ugalan seperti gosip yang sering ia dengar. Setiap melewati polisi tidur, ia melambat. Setiap ada mobil mendadak berhenti, lengan kirinya sedikit bergerak ke belakang, seperti refleks memastikan Sekar masih ada.
Sekar menatap punggungnya.
Punggung yang dulu ia lihat menutupinya dari pemuda di tempat biliar. Punggung yang kelak, dalam takdir yang belum terjadi, akan melindungi Bryan dari benturan maut.
Dadanya mendadak penuh.
Motor berbelok agak tajam.
Sekar kehilangan keseimbangan. Tangannya otomatis melepas jok dan memeluk pinggang Kevin.
Tubuh Kevin menegang.
Sekar juga membeku.
"Maaf," bisiknya cepat.
Kevin tidak menoleh. Suaranya terdengar tertahan di balik angin.
"Pegangan yang benar."
Sekar perlahan mengencangkan kedua lengannya.
Kali ini, ia tidak melepas.