"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 - Sang Tuan Muda
Yuli meletakkan foto Kevin di atas meja. "Bos, orang ini bukan preman biasa. Dia pewaris Halim Group."
Raka mengambil foto itu dengan dua jari.
Kevin Halim tersenyum di dalam gambar, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. Di belakangnya ada logo lounge mahal, cahaya ungu, dan beberapa orang yang berdiri setengah membungkuk. Ratna berada di sisinya, dagu sedikit terangkat, seolah ia ingin seluruh dunia melihat bahwa ia sudah menemukan tangga baru setelah kehilangan Raka.
"Kapan foto ini diambil?" tanya Raka.
"Tiga malam lalu," jawab Yuli. "Tempatnya Aruna Lounge. Membership mahal, tamunya kebanyakan anak pengusaha, pejabat muda, broker proyek, dan orang yang suka kelihatan penting."
Adi melipat tangan. "Ratna masuk ke sana dari mana?"
"Dari Kevin," kata Yuli. "Sebelumnya dia tidak punya akses. Saya cek lewat sumber event. Dua minggu terakhir, Ratna beberapa kali datang sebagai pendamping Kevin. Bukan pacar resmi, lebih seperti... aksesori."
Yuli mengatakan kata itu tanpa mengejek, tetapi ruangan tetap terasa dingin.
Raka meletakkan foto di meja. "Pak Yanto?"
"Ini bagian yang bikin menarik." Yuli mengeluarkan foto lain. "Salah satu orang yang pernah mendatangi gerobak Pak Yanto juga terlihat di area parkir Aruna Lounge. Namanya Roni, preman kecil yang sering kerja sebagai penagih bayaran. Statusnya di Halim Group tidak resmi, tetapi dia beberapa kali muncul di acara yang berhubungan dengan Kevin."
Agus yang berdiri dekat pintu menatap foto itu tajam. "Kalau begitu jalurnya belum langsung."
"Betul," kata Yuli. "Belum cukup untuk tuduh Kevin. Tapi cukup untuk observasi."
Raka berdiri. "Malam ini kita lihat sendiri."
Adi langsung mengangkat kepala. "Bos, masuk ke lounge seperti itu tidak murah, tapi bukan masalah. Yang masalah, kalau Kevin sadar kita memantau."
"Kita tidak memantau sebagai Garuda Shield. Kita datang sebagai tamu."
Yuli tersenyum kecil. "Saya bisa urus reservasi. Nama saya masih dikenal beberapa orang event. Tapi Mas Raka harus tahan wajah. Jangan kelihatan seperti mau audit pajak."
Raka menatapnya.
Yuli mengangkat kedua tangan. "Bercanda, atuh."
Malam itu, Aruna Lounge berdenyut seperti akuarium berisi uang.
Cahaya biru dan ungu menyapu dinding. Musik elektronik berdentum rendah, tidak terlalu keras untuk menenggelamkan percakapan, tetapi cukup untuk membuat orang merasa semua rahasia aman. Botol-botol minuman mahal tersusun di rak kaca. Pelayan bergerak cepat dengan nampan perak. Di beberapa meja, pria muda memakai jam seharga rumah kecil dan berbicara tentang proyek seolah kota adalah papan permainan pribadi.
Raka masuk bersama Yuli.
Ia memakai jas gelap sederhana, tanpa logo mencolok. Jam di pergelangan tangannya mahal, tetapi tidak berteriak. Karisma yang pernah ditingkatkan sistem bekerja seperti lapisan tipis di sekitarnya. Bukan hipnosis. Bukan pesona paksa. Hanya membuat pelayan sedikit lebih cepat tersenyum, penjaga pintu sedikit lebih sopan, dan tamu lain sedikit lebih lama melirik sebelum kembali ke gelas mereka.
Yuli berjalan di sampingnya dengan gaun hitam sederhana dan blazer tipis. Matanya bergerak cepat, menangkap wajah, posisi kamera, pintu keluar, dan meja yang paling ribut.
"Meja kanan belakang," bisiknya. "Jas krem."
Kevin Halim duduk di sofa setengah melingkar dengan lima orang di sekitarnya. Dua pria muda tertawa terlalu keras. Seorang wanita mengambil foto gelas. Ratna duduk di sisi Kevin, tubuhnya condong sedikit ke arahnya. Gaunnya merah gelap, rambutnya ditata, bibirnya tersenyum setiap kali Kevin bicara.
Raka berhenti di bar, cukup jauh untuk melihat tanpa terlihat sengaja.
Di matanya, Ratna tampak seperti orang yang mengganti rantai lama dengan rantai emas. Ia mungkin merasa naik kelas. Tetapi Raka tahu, orang seperti Kevin tidak memberi tangga. Mereka memberi kalung.
"Saya aktifkan penilaian," gumam Raka.
Panel biru tipis muncul di atas sosok Kevin.
[Kevin Halim]
[Potensi bisnis pribadi: sedang.]
[Akses sumber daya: sangat tinggi.]
[Risiko konflik: tinggi.]
[Sifat dominan: narsistik, impulsif, menyukai kontrol.]
[Kecenderungan: menggunakan orang kecil sebagai alat, menghindari tanggung jawab langsung.]
[Catatan: pengaruh berasal dari keluarga dan jaringan, bukan kemampuan pribadi.]
Raka membaca setiap baris tanpa mengubah ekspresi.
Mata Pemimpin tidak berkata Kevin pasti kalah. Tidak juga berkata semua orang akan mengikuti Raka. Kemampuan itu hanya membuka peta kasar: siapa punya potensi, siapa membawa risiko, siapa berdiri di atas modal orang lain.
Kevin bukan jenius.
Itu kabar baik.
Kevin punya sumber daya besar dan kebiasaan memakai orang lain untuk mengotori tangan.
Itu kabar buruk.
Di meja belakang, Kevin mengangkat gelas. "Roni itu terlalu berisik," katanya kepada pria di sebelahnya. Suaranya tidak keras, tetapi Raka cukup dekat untuk menangkap sebagian. "Kalau cuma pedagang kecil saja tidak bisa dibereskan, buat apa dibayar?"
Pria itu tertawa gugup. "Siap, Vin. Nanti saya ingatkan."
Ratna menatap Kevin dengan mata berbinar. Mungkin ia tidak paham semua konteks. Mungkin ia memilih tidak paham. Yang jelas, ia menikmati duduk di dekat sumber kuasa baru.
Yuli menunduk pura-pura melihat menu. "Terdengar?"
"Cukup."
"Tidak cukup untuk laporan."
"Aku tahu."
Raka tidak bergerak mendekat. Ia tidak datang untuk membuat keributan. Ia datang untuk memastikan wajah musuh baru, nada suaranya, dan jarak antara uang bersih di laporan perusahaan dengan tangan kotor di jalanan.
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan hampir menabrak kursi Ratna. Minuman di nampannya miring, sedikit tumpah di lantai. Ratna langsung menegang.
"Hati-hati dong!" katanya tajam.
Pelayan muda itu membungkuk. "Maaf, Mbak."
Kevin tertawa pelan. "Santai, Ratna. Orang seperti itu memang harus sering diingatkan posisinya."
Kalimat itu ringan, tetapi membuat rahang Raka mengeras.
Ia pernah mendengar nada itu di kehidupan sebelumnya. Nada orang yang tidak perlu memukul sendiri karena selalu ada orang lain yang bersedia memukul demi akses, uang, atau sekadar takut. Dalam kehidupan lalu, orang-orang seperti Kevin tidak perlu mengenal nama korban mereka. Cukup satu tanda tangan, satu perintah samar, satu tawa di lounge, lalu usaha kecil hancur, keluarga kecil pindah, orang kecil hilang dari peta.
Kali ini, Raka punya uang, waktu, orang, dan kesabaran.
Ia tidak akan menyerang hanya karena marah.
Tetapi ia juga tidak akan membungkuk hanya karena lawannya lahir dari keluarga besar.
Yuli menyentuh lengan meja dengan ujung jari. "Mas Raka, cukup. Kita sudah dapat pengamatan awal. Kalau terlalu lama, kemungkinan dikenali naik."
Raka mengangguk. "Kita keluar lewat sisi kiri."
Mereka berjalan meninggalkan bar. Namun tepat saat melewati area tengah, seorang tamu mabuk tertawa terlalu keras dan menabrak bahu Yuli. Yuli mundur setengah langkah. Raka secara refleks menahan kursi agar tidak jatuh.
Gerakan kecil itu menarik perhatian.
Kevin menoleh.
Ratna mengikuti arah pandang Kevin. Saat matanya menemukan wajah Raka, senyumnya hilang.
Untuk satu detik, semua suara lounge terasa turun.
Ratna seperti melihat bukti bahwa masa lalunya tidak berada di bawah lagi. Raka tidak datang dengan pakaian murah, tidak tampak hancur, tidak tampak menyesal. Ia berdiri tenang di tengah lounge mahal seolah tempat itu bukan dunia baru baginya.
Mata Ratna dipenuhi rasa malu yang langsung berubah menjadi benci.
Kevin memperhatikan perubahan itu. Ia menatap Raka dari kepala sampai kaki, lalu tersenyum malas.
Raka tidak menunduk. Tidak juga menantang. Ia hanya memberi satu pandangan datar, lalu melanjutkan langkah.
Tetapi bagi orang seperti Kevin, diabaikan sering terasa lebih menghina daripada dimaki.
Kevin menoleh kepada Ratna dan bertanya santai, "Siapa cowok itu?"
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....