NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Terlalu Serakah

Sabtu pagi, Naomi berdiri di depan gerbang rumah keluarga Hartono di Menteng dengan telapak tangan yang mulai lembap.

Alamat yang dikirim Brandon benar-benar membawa dirinya ke kawasan yang terasa seperti Jakarta versi lain. Jalanannya lebih tenang, pohon-pohon tua menaungi trotoar, dan rumah-rumah besar bersembunyi di balik pagar tinggi. Tidak ada suara Ibu kos, tidak ada jemuran penuh di lorong, tidak ada motor yang diparkir menutup jalan.

Hanya pagar hitam tinggi, pos security, dan halaman luas yang rumputnya dipotong rapi.

Naomi melihat kembali pesan Brandon di ponsel, memastikan ia tidak salah alamat.

Rumah keluarga di Menteng.

Ia tidak tahu keluarga siapa.

"Ada janji, Mbak?" tanya security dari balik pos.

"Iya. Saya Naomi Liem. Untuk interview kerja menjaga anjing."

Security mengecek daftar di tablet, lalu mengangguk. "Silakan masuk. Tante Vivian sudah menunggu."

Tante Vivian.

Naomi menyimpan nama itu di kepala sambil melangkah masuk. Jalan dari gerbang ke pintu utama saja cukup jauh untuk membuatnya merasa bajunya terlalu sederhana. Ia memakai blus krem yang paling rapi, celana hitam, dan sepatu yang sudah ia bersihkan semalam dengan tisu basah sampai hampir mengelupas.

Pintu utama dibuka oleh seorang staf rumah tangga. Udara dingin dari dalam rumah keluar bersama aroma bunga segar dan lantai kayu yang dipoles.

"Naomi, ya? Silakan. Ibu, tamunya sudah datang."

Naomi baru hendak mengoreksi bahwa ia bukan tamu penting ketika suara perempuan terdengar dari ruang tengah.

"Suruh langsung masuk. Jangan dibuat kaku, nanti anaknya kabur."

Naomi berkedip.

Staf rumah tangga tersenyum kecil. "Silakan, Mbak."

Di ruang tengah, seorang perempuan cantik dengan rambut tertata rapi berdiri dari sofa. Usianya mungkin seusia ibu teman-teman Naomi, tapi energinya sama sekali tidak terasa tua. Ia memakai blouse sutra warna hijau lembut dan gelang emas tipis yang bergerak setiap kali tangannya bicara.

"Naomi?" Perempuan itu berjalan mendekat dengan mata berbinar. "Aduh, cantik sekali. Foto dari Brandon kurang jelas, ya. Aslinya lebih manis."

Naomi hampir lupa menjawab.

"Saya Naomi, Tante."

"Panggil Tante Vivian saja. Kalau panggil Ibu, Tante langsung merasa tua." Vivian Hartono tertawa sendiri, lalu menggandeng tangan Naomi seolah mereka sudah kenal lama. "Duduk dulu. Mau minum apa? Air putih, teh, jus? Jangan bilang terserah, Tante paling pusing sama jawaban terserah."

Naomi tidak menyangka ada orang sekaya Vivian yang repot memikirkan jawaban sesederhana itu. Dadanya menghangat sedikit. Ia cepat menjawab, "Air putih saja, Tante. Terima kasih."

"Bagus. Punya pilihan."

Naomi duduk di sofa dengan hati-hati. Kain sofa itu terasa terlalu halus. Di meja, ada kue kecil yang ditata cantik, tapi Naomi tidak berani menyentuhnya.

Vivian duduk di hadapannya, menatapnya dengan rasa ingin tahu yang terbuka. "Brandon bilang kamu Sastra Jerman?"

"Iya, Tante."

"Bagus. Felix itu sebenarnya paham beberapa perintah Jerman. Dulu trainer-nya orang Jerman, terus entah kenapa anjingnya jadi sombong. Kalau disuruh bahasa Indonesia pura-pura tuli."

Naomi tidak bisa menahan senyum kecil.

"Kamu pernah pegang anjing besar?"

"Belum pernah yang sebesar Doberman, Tante. Tapi saya cepat belajar. Saya juga tidak takut kalau diberi arahan."

"Jawaban bagus." Vivian mencondongkan tubuh. "Tapi nanti yang menentukan bukan Tante."

Naomi menegang sedikit. "Maksudnya?"

Vivian menoleh ke arah pintu kaca menuju taman. "Felix."

Seolah mendengar namanya, suara kuku menghantam lantai terdengar dari lorong. Naomi baru sempat berdiri setengah ketika seekor Doberman besar berwarna hitam cokelat berlari masuk.

Napaknya kuat. Tubuhnya tinggi. Matanya tajam.

Naomi membeku.

"Felix, pelan!" Vivian berseru.

Terlambat.

Anjing itu sudah sampai di depan Naomi. Tapi bukannya menggonggong atau menunjukkan gigi, Felix justru berhenti mendadak, mengendus tangan Naomi, lalu menekan kepalanya ke telapak tangan gadis itu.

Naomi menahan napas.

Bulu Felix pendek dan hangat. Kepalanya berat, tapi gerakannya tidak kasar. Ia mengusap perlahan, takut salah, lalu Felix mengeluarkan suara rendah yang terdengar seperti puas.

Vivian menutup mulut dengan kedua tangan.

"Astaga."

Naomi menoleh panik. "Saya salah, Tante?"

"Salah? Kamu ini baru saja membuat Felix jatuh cinta dalam tiga detik." Vivian menunjuk anjing itu dengan wajah tidak percaya. "Anjing ini biasanya butuh seminggu untuk berhenti curiga sama orang baru. Dengan kamu, dia langsung minta dielus."

Felix seolah membuktikan kalimat itu dengan mendorong hidungnya ke perut Naomi.

Naomi tertawa pelan, sedikit kaget pada suaranya sendiri. Sudah lama ia tidak tertawa tanpa menahan sesuatu.

"Halo, Felix," bisiknya.

Kuping Felix bergerak.

Naomi mencoba mengingat contoh perintah yang pernah ia baca. "Sitz?"

Felix langsung duduk.

Vivian menepuk paha. "Sudah. Tante tidak perlu interview lagi. Kamu diterima."

"Tante, tapi..."

"Tidak ada tapi. Felix sudah memilih." Vivian berdiri, lalu memanggil staf. "Tolong siapkan kontrak kerja ringan dan jadwal. Naomi, kamu bisa datang tiga kali seminggu? Kalau kuliahmu padat, nanti kita atur. Jangan sampai ganggu kelas."

Naomi masih memegang kepala Felix. "Bisa, Tante."

"Honor per kedatangan nanti Tante transfer. Jangan sungkan. Jaga Felix itu bukan kerja kecil. Dia anak bungsu di rumah ini."

Anak bungsu.

Naomi menunduk menatap Felix yang kini duduk di dekat kakinya dengan ekor bergerak pelan. Untuk beberapa menit, ia lupa bahwa rumah ini terlalu besar, lupa bahwa ia datang dari kos yang lampunya berkedip, lupa bahwa ia biasanya menghitung ongkos pulang sebelum menerima pekerjaan.

Lalu suara langkah turun dari tangga membuatnya mengangkat kepala.

Kelvin Hartono muncul di lantai tengah.

Naomi nyaris melepas tangan dari kepala Felix.

Kelvin berhenti di anak tangga terakhir. Matanya turun ke Felix, lalu ke Naomi. Ekspresinya tidak berubah banyak, tapi Naomi melihat sesuatu seperti heran melewati wajahnya.

"Kamu?"

Naomi berdiri terlalu cepat. Felix ikut berdiri, lalu menempel di sisinya seolah tidak ingin ia menjauh.

"Saya..." Naomi kehilangan kata-kata.

Vivian menoleh ceria. "Kel, ini Naomi. Yang akan bantu jaga Felix mulai minggu ini."

Kelvin tidak menjawab.

Vivian menepuk bahu Naomi dengan hangat. "Oh iya, Tante lupa. Ini anak Tante, Kelvin."

Anak Tante.

Naomi memandang Kelvin, lalu Vivian, lalu Felix.

Rasanya seperti semua potongan yang selama ini berputar di sekitarnya tiba-tiba jatuh ke tempat yang sama.

Rumah Menteng.

Doberman.

Kelvin.

Vivian Hartono.

Felix adalah anjing Kelvin.

Dan perempuan hangat yang baru saja menerima Naomi bekerja adalah Mama Kelvin.

"Selamat pagi," ucap Naomi akhirnya, terlalu formal.

Kelvin menatapnya beberapa detik. "Kamu memang suka muncul di tempat yang aneh."

Vivian langsung memukul pelan lengan Kelvin. "Jangan begitu. Anak orang baru datang langsung kamu ganggu."

"Aku cuma bilang fakta."

"Fakta kamu menyebalkan juga boleh Tante bilang?"

Naomi menunduk untuk menyembunyikan senyum. Cara Vivian memarahi Kelvin sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan tentang keluarga konglomerat. Tidak dingin. Tidak kaku. Terlalu hidup.

Kelvin melihat senyum itu.

Naomi cepat-cepat menunduk lebih dalam.

Setelah jadwal kerja dibicarakan, Vivian menyuruh staf mengantar Naomi sampai pintu. Felix mengikuti sampai teras, menolak masuk meski Vivian memanggilnya dua kali.

"Felix, jangan manja," kata Vivian.

Felix tetap menempel di kaki Naomi.

Naomi berjongkok dan mengusap kepala anjing itu. "Aku datang lagi minggu depan, ya."

Felix menjilat punggung tangannya.

Naomi tertawa kecil.

Dari tangga bagian dalam, Kelvin berdiri tanpa suara. Vivian sudah kembali ke ruang tengah, staf sedang mengambil payung, dan Naomi terlalu sibuk mengusap telinga Felix untuk melihatnya.

Kelvin menatap Felix yang biasanya tidak mau disentuh orang asing, kini menempel seperti anak kecil pada gadis dengan blus sederhana itu.

Untuk sesaat, garis dingin di wajahnya melunak.

Namun saat Naomi berdiri dan berpamitan, ekspresi itu sudah hilang.

Di perjalanan keluar melewati halaman luas, Naomi menahan napas yang sejak tadi terasa terlalu penuh.

Kerja baru. Honor besar. Felix yang hangat. Vivian yang baik. Kelvin yang tinggal di rumah yang sama.

Semua itu terlalu banyak untuk seseorang seperti dirinya.

Di depan gerbang, sebelum memesan ojek online, Naomi menatap layar ponselnya yang memantulkan wajahnya sendiri.

"Terlalu serakah," bisiknya.

Ia datang hanya untuk mencari pekerjaan.

Tidak seharusnya ia merasa seperti baru diberi alasan lain untuk ingin kembali.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!