Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Ada yang salah, Tuan Arka?" tanya sang Manajer restoran yang menyadari Arka tiba-tiba berhenti melangkah dengan raut muka tegang.
"Eh? Ngg... nggak apa-apa, Pak! Cuma... agak kaget aja," jawab Arka gugup, mengusap keringat dingin di dahinya.
Ting!
[Peringatan Misi! Target akan mengalami serangan jantung permanen sebentar lagi]
"Duh, mampus! Mana bapak-bapaknya?!" gumam Arka panik. Matanya menyapu ke seluruh sudut restoran.
Tepat di meja bagian dalam, dekat area buffet, terdengar suara gaduh. Sebuah piring kaca pecah berhamburan ke lantai.
PRANGGG!
"Papi! Papi kenapa?! Tolong! Tolongin Papi saya!" teriak seorang wanita muda dengan gaun elegan.
Wajahnya pucat pasi memeluk seorang pria paruh baya yang tergeletak di lantai, memegangi dada kirinya sambil mengerang kesakitan.
Di atas meja mereka, masih tersisa piring-piring bekas hidangan foie gras, marrow bone (sumsum), dan daging olahan berlemak tinggi yang tandas tak bersisa.
"Astaga! Pak Hartawan!" seru sang Manajer restoran kaget.
Ia langsung berlari menghampiri meja tersebut, diikuti oleh Arka yang bergegas mengekor di belakang.
Para pengunjung restoran langsung heboh dan berkerumun. "Aduh, itu Pak Hartawan pemilik konglomerat Grup Nusantara kan?"
"Iya! Katanya beliau punya riwayat kolesterol tinggi, kok nekat makan makanan berat begitu?" sahut yang lain.
"Cepat panggil ambulans! Napasnya udah patah-patah itu!" teriak yang lain.
Arka menerobos kerumunan pengunjung. Sistem di matanya langsung menampilkan pemindaian medis berwarna merah di tubuh Pak Hartawan.
[Analisis Medis Sistem:]
[Penyumbatan Arteri Koroner mendadak akibat Lonjakan Lemak Jenuh & Kolesterol.]
[Tingkat Kritis: 92%. Membutuhkan Pertolongan Pertama Tekanan Titik Aorta Sistem dalam 30 detik!]
"Mbak, pinggirin dulu badannya! Kasih ruang napas!" panggil Arka tegas sambil berlutut di samping tubuh Pak Hartawan.
"Kamu siapa?! Jangan sembarangan pegang Papi saya! Ambulans lagi jalan ke sini!" bentak wanita muda itu dengan mata sembap penuh air mata.
"Mbak, kalau nunggu ambulans sampai di tengah kemacetan kota malam ini, Papi Mbak udah lewat!" potong Arka keras, menatap tajam mata wanita itu. "Percaya sama saya, saya paham cara penanganannya!"
Manajer restoran mencoba menahan Arka. "Tuan Arka, sebaiknya kita tunggu medis saja, ini sangat berisiko..."
"Bapak diam saja kalau nggak bisa bantu!" tegas Arka tanpa ragu.
Arka menyingsingkan lengan jaket denimnya. Mengikuti petunjuk navigasi bercahaya hijau yang dimunculkan oleh sistem di dadanya Pak Hartawan, Arka meletakkan kedua telapak tangannya tepat di titik tengah dada dan sebelah kiri ketiak pria tua itu.
"Sistem, aktifkan Pertolongan Pertama Tekanan Aorta!" perintah Arka dalam hati.
BZZZT!
Sensasi kejut listrik halus terasa mengalir dari telapak tangan Arka menuju tubuh Pak Hartawan.
Arka mulai melakukan penekanan dada (CPR) berirama, dipadukan dengan dorongan energi dari sistem untuk memecah sumbatan secara darurat.
"Satu... dua... tiga... ayo Pak, bernapas!" gumam Arka penuh konsentrasi. Keringat bercucuran di pelipisnya.
Para pengunjung menahan napas. Suasana restoran yang tadinya ramai mendadak hening mencengangkan.
"Papi... Papi bangun, Pi..." tangis putri Pak Hartawan terisak-isak di samping Arka.
UHUK! UHUK-UHUK!
Tiba-tiba, Pak Hartawan tersedak keras. Dadanya naik-turun dengan cepat saat udara kembali masuk ke paru-parunya.
Warna kulitnya yang semula kebiruan perlahan kembali memerah normal.
"Papi!" jerit putrinya histeris lalu memeluk ayahnya.
Pak Hartawan membuka matanya perlahan, napasnya masih terengah-engah. "A-air... dada Papi... udah nggak sempit lagi..." bisiknya lemah.