Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Ascroft
Mobil yang ditumpangi Emma perlahan memasuki kawasan elit di pinggiran London.
Di sepanjang jalan, deretan rumah bergaya klasik berdiri megah dengan taman yang terawat rapi.
Beberapa menit kemudian...
Sebuah gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter terbuka perlahan.
Di baliknya berdiri Ashcroft Manor.
Bangunan batu berwarna krem dengan pilar-pilar tinggi bergaya klasik Inggris.
Jendela-jendela besar.
Taman bunga yang tertata simetris.
Air mancur marmer di tengah halaman.
Semuanya memancarkan kemewahan yang tenang, tanpa perlu menunjukkan kemegahan secara berlebihan.
Emma memandang ke luar jendela.
Dalam hati ia mengakui satu hal.
"Selera Lord Ashcroft cukup bagus."
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Seorang kepala pelayan segera membukakan pintu.
"Selamat siang, Lady Ella."
Emma turun sambil membawa buket bunga mawar putih yang tadi ia beli dalam perjalanan.
"Selamat siang."
"Tuan dan Lady Ashcroft sudah menunggu di ruang keluarga."
Emma hanya mengangguk.
Semakin dekat ia melangkah menuju pintu...
Semakin kuat jantungnya berdetak.
Bukan karena gugup menghadapi keluarga bangsawan.
Melainkan karena di balik pintu itu...
Ada wanita yang melahirkannya.
Pintu utama terbuka.
Interior rumah itu tidak kalah megah.
Lantai marmer putih.
Lukisan-lukisan tua.
Lampu kristal besar menggantung di langit-langit.
Namun semuanya terasa hangat, bukan berlebihan.
Kepala pelayan mempersilakan Emma memasuki ruang keluarga.
Begitu ia masuk...
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun lebih dulu berdiri.
Tubuhnya tegap.
Setelan jas abu-abu tua.
Rambut mulai memutih dengan wajah yang selalu tampak tenang.
Lord Ashcroft.
Pria itu tidak banyak tersenyum.
Namun sorot matanya melembut ketika melihat Emma.
"Kau datang."
Emma mengangguk sopan.
"Tentu."
Lord Ashcroft memperhatikan putri tirinya beberapa detik.
"Aku senang kau datang."
Kalimat itu singkat.
Tetapi cukup membuat Emma kembali teringat ucapan Ella.
"Ayah memang tidak pandai menunjukkan kasih sayang. Tapi beliau selalu memperhatikanku."
Emma mengulurkan buket bunga yang dibawanya.
"Ini..."
"Sedikit buah tangan."
Lord Ashcroft tampak sedikit terkejut.
"Bunga?"
"Iya."
"Terima kasih."
Ia menerima bunga itu dengan hati-hati.
"Tidak biasanya kau membawa sesuatu."
Emma hanya menjawab singkat.
"Sedang ingin saja."
Lord Ashcroft mengangguk pelan.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Sangat tipis.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar menghargai perhatian kecil itu.
Saat itulah...
Suara langkah sepatu terdengar dari arah lorong.
Emma menoleh.
Seorang wanita berjalan memasuki ruang keluarga.
Gaun panjang berwarna biru tua.
Kalung mutiara menghiasi lehernya.
Rambut hitam disanggul rapi.
Wajahnya masih sangat cantik meski usia telah meninggalkan jejak halus di sudut matanya.
Tatapannya tenang.
Dingin.
Elegan.
Nyonya Ashcroft.
Ibu kandung Emma dan Ella.
Langkah Emma seolah membeku.
Untuk pertama kalinya...
Ia melihat wanita itu secara langsung.
Bukan melalui foto.
Bukan melalui cerita Ella.
Melainkan benar-benar berdiri beberapa meter di hadapannya.
Anehnya...
Tidak ada rasa haru.
Tidak ada keinginan untuk memeluk.
Yang muncul justru amarah lama yang perlahan naik dari dalam dadanya.
"Jadi... ini wanita yang meninggalkanku."
Tangannya tanpa sadar mengepal di balik tas yang dibawanya.
Sementara Nyonya Ashcroft berhenti di depan Emma.
Tatapannya mengamati putrinya beberapa saat.
"Kau datang juga."
Nada suaranya datar.
"Hm."
jawab Emma singkat.
Tidak hangat.
Tidak dingin.
Hanya singkat.
Nyonya Ashcroft tidak tampak terganggu.
"Perjalananmu lancar?"
"Lancar."
"Hari ini cuaca cukup cerah."
"Iya."
Percakapan itu terdengar begitu formal.
Bahkan lebih cocok untuk dua orang asing yang baru bertemu dibanding seorang ibu dan putrinya.
Lord Ashcroft yang menyadari suasana itu segera membuka pembicaraan.
"Baiklah."
"Mari kita makan siang."
Emma mengangguk.
Namun sebelum melangkah menuju ruang makan...
Tatapannya sempat bertemu dengan mata Nyonya Ashcroft.
Hanya beberapa detik.
Tatapan wanita itu tetap tenang.
Sulit ditebak.
Sedangkan Emma harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk tetap memasang wajah Ella.
Di dalam dirinya...
Amarah itu terus berbisik.
"Kau masih berhak menyapaku sebagai anakmu... setelah semua yang terjadi?"
Namun Emma menelannya bulat-bulat.
Hari ini...
Ia datang bukan sebagai Emma Taylor.
Melainkan sebagai Ella Ashcroft.
Dan untuk menjaga rahasia mereka berdua...
Ia harus menahan semua pertanyaan yang selama bertahun-tahun ingin ia lontarkan kepada wanita yang kini berdiri di hadapannya.
Ruang makan keluarga Ashcroft dipenuhi nuansa klasik.
Meja kayu ek yang panjang.
Peralatan makan dari perak.
Lilin-lilin kecil yang belum dinyalakan.
Serta jendela besar yang menghadap taman belakang.
Emma duduk di sisi kanan Lord Ashcroft.
Sedangkan Nyonya Ashcroft duduk tepat di hadapannya.
Tak lama kemudian, para pelayan mulai menyajikan hidangan.
Sup jamur.
Daging panggang.
Kentang tumbuk.
Salad.
Semuanya tersaji dengan rapi.
Tidak ada yang berbicara.
Keheningan itu justru terasa menyesakkan.
Lord Ashcroft akhirnya membuka percakapan.
"Bagaimana keadaan di Alexander Manor?"
Emma mengangkat kepala.
"Baik."
"Ralph?"
"Dia juga baik."
Lord Ashcroft mengangguk pelan.
"Itu bagus."
Percakapan kembali terhenti.
Emma mulai memahami.
Lord Ashcroft memang bukan orang yang pandai berbasa-basi.
Namun setidaknya...
Ia berusaha menjaga suasana tetap nyaman.
Berbeda dengan wanita yang duduk di hadapannya.
Nyonya Ashcroft baru membuka suara setelah beberapa menit.
"Ella."
Emma menoleh.
"Iya."
"Aku mendengar akhir-akhir ini kau sering keluar rumah."
Emma mengangguk.
"Sesekali."
"Sebelumnya kau hampir tidak pernah keluar tanpa alasan."
Emma meletakkan sendoknya.
"Orang bisa berubah."
Nyonya Ashcroft menatapnya cukup lama.
"Perubahan yang terlalu mendadak terkadang bukan hal yang baik."
Emma mulai menangkap arah pembicaraan itu.
"Apa maksud Ibu?"
"Tidak ada."
"Hanya mengingatkan."
Emma tersenyum tipis.
Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Terima kasih."
"Tapi aku tahu apa yang kulakukan."
Lord Ashcroft melirik istrinya.
Lalu kembali kepada Emma.
"Mungkin ibumu hanya khawatir."
Emma hampir tertawa mendengar kalimat itu.
Khawatir?
Kata itu terasa begitu asing ketika dikaitkan dengan wanita di hadapannya.
Nyonya Ashcroft kembali memotong daging di piringnya.
"Kudengar kau juga mulai sering ke perusahaan Ralph."
Emma berhenti mengunyah.
Berita itu ternyata sudah sampai ke telinga wanita ini.
"Iya."
"Untuk apa?"
"Bosan di rumah."
"Itu bukan tempatmu."
Jawaban itu membuat Emma mengangkat wajah.
"Bukan tempatku?"
"Kau adalah Lady Alexander."
"Tugasmu menjaga keluarga."
"Bukan ikut campur urusan perusahaan."
Emma menatap lurus wanita di depannya.
"Siapa yang bilang aku ikut campur?"
"Kau datang ke sana."
"Itu sudah cukup."
Emma menarik napas pelan.
"Menurut Ibu..."
"...istri hanya boleh diam di rumah?"
Nyonya Ashcroft menjawab tanpa ragu.
"Seorang wanita harus tahu posisinya."
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Emma mulai retak.
Ia masih berusaha mengingat.
Ia sedang menjadi Ella.
Bukan Emma.
Namun...
Sulit.
Sangat sulit.
"Kalau begitu..."
Emma meletakkan garpu dan pisaunya.
"Beruntung aku tidak tumbuh dengan cara berpikir seperti itu."
Suasana meja makan langsung membeku.
Lord Ashcroft perlahan mengangkat pandangannya.
Sedangkan Nyonya Ashcroft menghentikan gerakan tangannya.
"Apa maksudmu?"
Emma menjawab tenang.
"Kalau seseorang memiliki kemampuan..."
"...kenapa harus dikurung hanya karena dia seorang wanita?"
"Menjaga keluarga dan memiliki kemampuan bukan dua hal yang saling bertentangan."
Nyonya Ashcroft menatap putrinya tajam.
"Kau mulai membantah."
Emma langsung membalas tatapan itu.
"Bukan membantah."
"Hanya berbeda pendapat."
"Sejak kapan kau menjadi seperti ini?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Emma hampir menjawab jujur.
"Sejak aku bukan Ella."
Namun ia menahannya.
"Mungkin..."
"...sejak aku mulai berpikir sendiri."
"Berpikir sendiri?"
Nada suara Nyonya Ashcroft mulai terdengar lebih dingin.
"Ella."
"Kau semakin keras kepala."
Emma tersenyum tipis.
"Aku hanya tidak ingin selalu mengangguk."
"Cukup."
Suara berat Lord Ashcroft akhirnya memotong.
Kedua wanita itu sama-sama menoleh.
Lord Ashcroft meletakkan gelasnya perlahan.
"Makan siang ini bukan untuk berdebat."
Ia memandang istrinya lebih dulu.
"Biarkan Ella menentukan jalan hidupnya."
Lalu ia menoleh kepada Emma.
"Dan kau..."
"Tidak semua perbedaan harus dijawab."
Emma menarik napas panjang.
"Maaf."
Ia mengucapkannya bukan kepada Nyonya Ashcroft.
Melainkan kepada Lord Ashcroft.
Pria itu hanya mengangguk kecil.
Sedangkan Nyonya Ashcroft kembali mengambil garpunya tanpa berkata apa-apa lagi.
Namun di balik wajahnya yang tetap tenang...
Ia mulai merasa asing dengan putri yang dibesarkannya.
Ella yang biasanya selalu mengalah...
Hari ini berani menatap matanya dan mempertahankan pendapatnya.
Sementara Emma menundukkan kepala, berusaha kembali fokus pada makanannya.
Tangannya masih mengepal di bawah meja.
Ia sadar...
Perdebatan kecil itu hampir membuatnya kehilangan kendali.
Dan ini baru permulaan.
Masih ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lemparkan kepada wanita di hadapannya.
Pertanyaan yang tidak boleh keluar...
Selama ia masih hidup sebagai Ella.
mulai ngikuti sepertinya menarik