Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Bayangan di Lorong
Pada malam ketiga tinggal di Kediaman Liem, Sekar menyerah berpura-pura bisa tidur.
Paviliun Mei terlalu sunyi.
Di luar jendela, taman keluarga Liem dipenuhi suara serangga dan gesekan daun. Dari kejauhan, rumah utama masih menyisakan beberapa lampu. Semua tampak tenang, tetapi ketenangan di tempat ini tidak pernah benar-benar berarti aman. Ia sudah belajar itu sejak hari pertama. Dinding-dinding tua menyimpan suara. Pelayan berjalan tanpa bunyi. Nama seseorang bisa disebut di ruang makan, lalu menjadi pisau di kamar lain.
Sekar duduk di tepi ranjang dengan tube salep di tangan.
Selama dua hari, ia menolak memakai salep itu.
Ini bukan kebaikan. Ini investasi.
Kalimat Renard di kertas kecil itu membuatnya marah setiap kali ia melihat tube tersebut. Bukan karena kasar. Justru karena terlalu jujur. Pria itu bahkan tidak berpura-pura menjadi penyelamat. Ia hanya meletakkan obat di hadapannya seperti pebisnis meletakkan modal di meja.
Namun punggungnya semakin sulit ditahan.
Luka dari rotan Lilian sudah tidak sebasah pagi itu, tetapi setiap kali kain bergeser, panasnya menjalar sampai bahu. Sekar membuka kancing bagian atas piyamanya dan menurunkan kain sebisanya. Di cermin meja rias, ia melihat garis-garis merah gelap melintang di punggung.
Ia memejamkan mata.
Tidak boleh menangis.
Menangis tidak membuat Hwee Kin lebih aman. Menangis tidak mengeluarkan Bella dari genggaman keluarga Tan. Menangis hanya membuat matanya bengkak besok pagi, dan di rumah ini mata bengkak bisa menjadi bahan pertanyaan.
Sekar mengoleskan salep ke bagian yang bisa ia jangkau. Rasa dinginnya membuat ia menggigit bibir. Sedikit lega, tetapi tidak cukup. Bagian tengah punggung tetap tidak terjangkau. Ia mencoba memutar tangan dari atas bahu, lalu dari bawah, tetapi setiap gerakan menarik luka lain.
"Aduh..."
Suara kecil itu keluar tanpa izin.
Ia menurunkan tangan dan menatap cermin. Di pantulan itu, ia tampak menyedihkan. Seorang perempuan dengan nama palsu, kamar mahal, hadiah lukisan tua, dan luka yang bahkan tidak bisa ia obati sendiri.
Saat itulah ia mendengar bunyi langkah.
Pelan.
Di luar Paviliun Mei.
Sekar segera menarik piyamanya kembali dan mematikan lampu meja. Ruangan tenggelam dalam gelap lembut. Ia berjalan tanpa sandal ke dekat pintu, menahan napas. Dari celah tirai, ia melihat bayangan tinggi melewati jalan setapak, bergerak cepat menuju lorong penghubung di sisi taman.
Bayangan itu bukan pelayan.
Terlalu tinggi. Terlalu tenang.
Sekar membuka pintu sedikit.
Angin malam masuk, membawa aroma tanah basah dan daun bambu. Bayangan itu sudah hampir menghilang ke arah Sayap Utara, bagian rumah yang sejak awal tidak pernah dijelaskan oleh kepala pelayan. Setiap kali Sekar bertanya tentang bangunan itu, jawaban yang ia dapat hanya senyum sopan dan perubahan topik.
Ia tahu mengikuti bayangan itu bodoh.
Tetapi di Kediaman Liem, informasi adalah satu-satunya benda yang mungkin bisa membuatnya bertahan. Renard menginginkan matanya. Lilian menginginkan ketaatannya. Engkong mengawasinya. Darren mengukurnya. Jika ia terus tidak tahu apa-apa, ia hanya akan menjadi bidak yang menunggu digerakkan.
Sekar keluar.
Ia menutup pintu pelan dan berjalan mengikuti jalan batu. Malam menyentuh kulitnya yang belum pulih. Rumpun bambu di dekat Paviliun Bambu bergerak tertiup angin, menciptakan suara berdesir yang membuat tengkuknya meremang. Di ujung taman, bayangan itu berbelok.
Sekar mempercepat langkah.
Sebuah tangan tiba-tiba menutup jalan di depannya.
Ia hampir menjerit, tetapi suara itu tertahan ketika melihat siapa yang berdiri di bawah bayangan pohon.
Renard Liem.
Ia mengenakan kemeja hitam tanpa jas, lengan digulung sampai siku. Wajahnya setengah tertutup gelap, tetapi matanya menangkap Sekar dengan mudah.
"Mau ke mana, Nona Felicia?"
Nona Felicia.
Panggilan itu selalu terdengar seperti ia sedang menyentuh topeng di wajahnya dengan ujung pisau.
Sekar mundur setengah langkah. "Saya mendengar sesuatu."
"Dan kamu memutuskan mengejarnya sendirian?"
"Saya hanya ingin memastikan."
"Memastikan apa? Bahwa rumah ini punya rahasia?" Renard melirik lorong Sayap Utara. "Itu bukan penemuan besar."
Sekar menegakkan dagu. "Kalau begitu, mungkin Anda bisa memberi tahu saya rahasia mana yang boleh saya lihat."
Sesuatu bergerak di mata Renard. Mungkin geli. Mungkin peringatan.
"Kamu mulai belajar bicara seperti orang yang punya pilihan."
"Saya tidak punya pilihan. Itu sebabnya saya harus belajar cepat."
Diam turun di antara mereka.
Angin melewati bambu. Dari jauh, ada pintu tertutup pelan di bagian utara rumah. Sekar refleks menoleh, tetapi Renard tidak bergerak. Ia malah menatap tangan Sekar.
"Kamu pakai salepnya."
Sekar baru sadar jari-jarinya masih berkilau sedikit oleh sisa obat.
Ia mengepalkan tangan. "Kalau itu investasi, Anda tentu ingin barangnya tidak rusak."
Renard menatapnya lama.
Sekar menyesal hampir seketika. Kalimat itu terlalu dekat dengan cara Lilian memperlakukannya. Terlalu dekat dengan luka yang baru ia coba tutup. Tetapi ia sudah mengucapkannya, dan menarik kembali kata-kata di depan Renard terasa seperti kalah sebelum bertarung.
"Berbalik," kata Renard.
Sekar membeku. "Apa?"
"Berbalik."
"Tidak."
"Kamu tidak bisa menjangkau punggungmu."
Jantungnya menghantam tulang rusuk. "Itu bukan urusan Anda."
"Semua yang membuat investasiku gagal adalah urusanku."
Sekar ingin membencinya.
Sungguh.
Tetapi punggungnya berdenyut, jarinya masih berbau salep, dan bagian tengah luka yang tidak terobati terasa seperti api kecil yang terus menyala. Ia memandang jalan setapak di belakang Renard, lalu ke wajah pria itu. Tidak ada kelembutan yang mudah dibaca. Hanya keputusan yang dingin.
Sekar berbalik.
"Jangan di sini," katanya kaku.
Renard berjalan lebih dulu menuju sudut taman yang terlindung dinding rendah dan bayangan pohon. Tidak jauh, tetapi cukup jauh dari jalur pelayan. Sekar mengikutinya dengan perasaan seperti memasuki perangkap yang pintunya ia tutup sendiri.
"Turunkan sedikit kainnya," kata Renard.
Sekar menoleh tajam.
Renard mengangkat tube salep dari tangannya. "Atau kamu mau pulang dan terus menyiksa diri?"
Ia menarik napas panjang. Dengan jari gemetar, Sekar menurunkan kerah belakang piyamanya secukupnya. Udara malam menyentuh luka. Tubuhnya menegang.
Renard tidak langsung bicara.
Keheningan itu membuat Sekar lebih gugup daripada jika ia mencemooh.
"Separah itu?" tanyanya, berusaha terdengar sinis.
"Lilian punya tangan yang rapi," jawab Renard.
Sekar menggigit bibir.
Ia tidak bertanya bagaimana Renard tahu. Malam ini, ia terlalu lelah untuk pura-pura terkejut bahwa pria itu memiliki mata di tempat-tempat yang seharusnya tertutup.
Jari Renard menyentuh punggungnya.
Sekar nyaris menjauh.
Sentuhan itu dingin karena salep, tetapi gerakannya sangat ringan. Terlalu ringan untuk seorang pria yang bisa mengubah satu kalimat menjadi ancaman. Ia mengoleskan obat dari tepi luka, tidak menekan bagian yang paling merah. Setiap kali Sekar menahan napas, gerakannya berhenti sebentar, lalu lanjut lebih pelan.
Tidak ada kata manis.
Tidak ada permintaan untuk percaya.
Justru karena itu, dada Sekar terasa lebih sesak.
"Kenapa?" tanyanya lirih.
"Karena luka yang bernanah merepotkan."
"Bukan itu."
Tangan Renard berhenti.
Sekar menatap bayangan dirinya di kaca jendela gelap di depan mereka. Wajahnya samar, tetapi matanya terlihat terlalu terang.
"Kamu bilang kamu tahu aku bukan Felicia. Kalau begitu... kenapa kamu tidak bongkar?"
Untuk beberapa detik, Renard tidak menjawab.
Lalu ia menarik kain piyama Sekar kembali ke tempatnya, gerakannya tidak tergesa. Tube salep ditutup. Langkahnya menjauh satu.
Sekar berbalik.
Renard sudah setengah membelakanginya. Di belakangnya, jalur menuju Paviliun Bambu tampak seperti garis hitam yang menelan cahaya.
"Karena kamu lebih menarik daripada Felicia yang asli."
Ia mengucapkannya pelan, hampir seperti lelucon.
Sekar tidak sempat bertanya lebih jauh.
Renard berjalan pergi, dan malam menutup punggungnya sebelum Sekar bisa memutuskan apakah kalimat itu sebuah perlindungan, penghinaan, atau awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.