NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 #Bayang Rindu

Sore merambat perlahan menuju malam, membiaskan sinar keemasan yang makin redup di balik tirai kamar rawat inap tempat Bening terbaring. Suasana di dalam ruangan bernuansa putih itu terasa teramat hening. Sejak perdebatan hebat yang menguras air mata siang tadi, Bening memilih untuk terus memejamkan mata, membelakangi ruangan dan berpura-pura terlelap demi menghindari tatapan serta interaksi apa pun dengan Gibran.

​Keheningan itu akhirnya pecah saat pintu kamar mendadak terdorong dari luar.

Sreet...

​"Bening! Ya ampun, Bening... kamu kenapa?!"

​Suara pekikan panik yang sangat familier itu membuat Bening perlahan membuka kelopak matanya. Erika, sahabat karibnya melangkah masuk dengan raut wajah cemas luar biasa. Wanita itu membawa tas jinjingnya dengan napas terengah-engah.

​"Maaf banget, Ning! Tadi pagi aku tidak menjawab telepon dari Kai..." ujar Erika penuh penyesalan seraya mendekati ranjang. "Aku berangkat ke kantor pagi-pagi buta dan kesibukan pekerjaan benar-benar menumpuk. Begitu aku mampir ke rumahmu sore ini, tetanggamu bilang kamu dilarikan ke rumah sakit!"

​Bening memaksakan sebuah senyuman tipis, hatinya tersentuh oleh perhatian sahabatnya. "Aku tidak apa-apa kok, Er... Hanya kelelahan sedikit. Terima kasih banyak ya sudah menyempatkan datang kemari."

​Saat itulah, pandangan mata Erika tak sengaja bergeser ke sudut ruangan. Langkah kakinya membeku seketika saat melihat sosok pria bertubuh tegap dan berparas tampan yang sedang duduk di sofa empuk, berdampingan dengan Kaivandra.

​Melihat kedatangan Erika, Kaivandra mendongak dengan wajah berbinar riang. "Tante Erika! Tante Erika tenang saja, sekarang ada Papa di sini! Mama dan Papa akan kembali bersama lagi... Kai senang sekali!"

​Erika membelalak tegang, seketika mengalihkan tatapannya kembali pada Bening dengan seribu pertanyaan di matanya. 'Kembali bersama? Dengan Gibran Aditama?!'

​Bening yang panik hanya sanggup mengedipkan matanya perlahan, memberikan kode bisu pada Erika agar tidak membahas atau memperpanjang masalah rumit itu di depan putranya.

​Sebagai sahabat yang tanggap, Erika mengontrol ekspresi terkejutnya dalam sekejap. Ia mengumbar senyum hangat pada Kai. "Ah... bagus dong kalau begitu, Sayang. Kai senang, kan?"

​"Iya, Tante! Kai senang sekali!" sahut Kai polos sambil mengangguk penuh semangat.

​Di tengah kehangatan singkat itu, Gibran yang sejak tadi menyimak perlahan bangkit berdiri. Pria bertubuh tinggi berkarisma itu menatap Erika dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.

​"Erika... bisa saya minta tolong?" ajak Gibran membuka percakapan secara formal.

​Erika sedikit canggung berhadapan langsung dengan mantan suami sahabatnya yang merupakan seorang CEO berpengaruh. "Hmm... apa, Pak Gibran?"

​"Bening masih harus menjalani perawatan intensif di sini setidaknya sampai besok," ujar Gibran, melirik Bening sejenak sebelum kembali menatap Erika. "Bisa tidak kamu menemani Kai di rumah malam ini? Besok Kai harus sekolah... Kasihan kalau dia harus menginap dan tidur di rumah sakit ini. Saya akan mengutus Reno beserta dua pengawal pribadi untuk menjaga kalian di rumah."

​Erika menatap Bening, meminta persetujuan tak tertulis dari sang pemilik rumah.

​Bening yang paham situasi itu berbalik menatap putra kecilnya terlebih dahulu. "Kai... Kai mau pulang ke rumah ditemani Tante Erika malam ini?"

​"Mau, Mama!" jawab Kai cepat. Namun, mata bulat bocah itu mendadak menatap papanya dengan pendar cemas. "Tapi... besok Kai boleh kesini lagi kan, Papa?"

​Gibran berjongkok di depan putranya, mengusap puncak kepala Kai dengan kelembutan seorang ayah. "Tentu saja, Sayang. Besok setelah jam sekolah selesai, Reno yang akan menjemput dan mengantarkanmu langsung kemari untuk bertemu Mama."

​Bening beralih menatap Erika dengan raut wajah penuh rasa bersalah. "Er... maafkan aku ya, selalu saja merepotkanmu..."

​"Aduh, santai saja kali, Bening!" potong Erika menepis rasa canggung, menepuk pelan lengan sahabatnya. "Kaya sama siapa saja. Kamu fokus saja istirahat di sini agar cepat pulih dan sehat lagi, ya?"

Bening mengangguk merasa beruntung memiliki teman seperti Erika. Lalu Kai segera mendekat pada ibunya. ​Saat Kaivandra sibuk berpamitan, mencium pipi dan memeluk leher ibunya erat-erat, Gibran melangkah mendekati Reno di dekat pintu. Pria itu memberikan instruksi tegas dengan nada rendah namun memancarkan wibawa yang tak bisa dibantah, memastikan pengawalan ketat untuk keamanan putra dan sahabat istrinya di rumah sewa tersebut.

​Tak berapa lama kemudian, langkah kaki Kai, Erika, Reno, dan para pengawal perlahan menjauh dari lorong.

​KLIK.

​Suara pintu yang tertutup rapat meninggalkan keheningan yang amat pekat di dalam kamar rawat tersebut. Kini, hanya tersisa Gibran dan Bening di ruangan bernuansa putih itu.

​Bening tak bisa lagi berpura-pura tidur. Keduanya terjebak dalam atmosfer yang sarat akan kecanggungan dan tensi emosional yang tinggi.

​Gibran berjalan pelan mendekati ranjang. Sebenarnya, ada dorongan hebat di dalam dadanya untuk langsung menanyakan tentang sosok Heru, pria yang katanya dulu adalah selingkuhan Bening. Namun, melihat wajah Bening yang masih pucat dan teringat betapa histerisnya wanita itu siang tadi, Gibran menahan dirinya rapat-rapt. Ia tidak ingin membuat Bening menangis lagi. Ia memilih memendamnya sementara waktu, sampai ia berhasil memegang bukti utuh dari mulut Heru secara langsung.

​Bening yang merasa tatapan Gibran terlalu membebaninya memalingkan wajah ke samping. "Mas... sebaiknya kamu pulang saja. Aku tidak apa-apa di sini sendirian."

​"Tidak," jawab Gibran tanpa ragu, suaranya mantap dan dingin. "Aku akan tetap di sini malam ini. Tenang saja... jika keberadaanku membuatmu tidak nyaman, anggap saja aku tidak ada."

​Gibran menarik napas panjang, melangkah mengikis jarak ke tepi ranjang Bening. "Ruangan ini cukup luas, Bening... Bahkan, dulu kita pernah berbagi satu selimut yang sama."

​Deg.

​Perkataan rendah Gibran yang sarat akan kerinduan yang membuncah mendadak membuat jantung Bening berdesir hebat. Rasa rindu yang coba ditahannya selama tujuh tahun seolah menyengat kembali. Dalam diamnya, Bening mengingat setiap detik kenangan indah masa lalu mereka, momen-momen manis di mana ia selalu terlelap hangat di dalam dekapan dada bidang Gibran.

​Namun, menyadari bahaya besar yang mengintai jika ia membiarkan perasaannya meloloskan diri, Bening buru-buru membentengi dirinya kembali. Ia mengeraskan hatinya, memasang raut wajah dingin.

​"Mas... aku merasa apa yang dikatakan Papa Wira ada benarnya," ujar Bening pelan namun menusuk. "Kenapa kamu tidak mencoba membuka lembaran baru dan menjalin hubungan yang baru?"

​Waktu seolah berhenti. Rahang Gibran mengeras seketika. Tapi kemudian Pria itu melangkah cepat hingga kini berdiri tepat di samping ranjang Bening.

​"Hubungan baru?" bisik Gibran dengan nada yang teramat sangat berbahaya, menatap Bening dengan iris mata yang membara oleh kepedihan dan amarah. "Jika aku mau... aku sudah melakukannya sejak dulu, Bening!"

​Gibran mengikis jarak, menundukkan tubuhnya hingga posisi wajahnya begitu dekat dengan wajah Bening. Hembusan napas hangat sang CEO terasa menerpa kulit pipi Bening yang dingin.

​"Bening... katakan padaku..." bisik Gibran dengan suara serak yang begitu menuntut kejujuran. "Katakan padaku... apa benar kamu sama sekali tidak pernah merindukanku? Apa benar... kamu sudah tidak memiliki perasaan apapun padaku?"

​Gibran sengaja memancing kejujuran dari bibir Bening, menatap lurus ke dalam mata wanita yang selalu memenuhi pikirannya itu.

​Bening membeku. Posisi wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti membuat dadanya bergemuruh hebat. Tenggorokannya serasa tersumbat. Bahkan hanya untuk berbohong dan menguarkan kata 'tidak', Bening merasa tidak sanggup. Lidahnya terkelat kaku di hadapan sorot mata Gibran yang begitu mendominasi.

​Melihat Bening yang membisu dengan napas yang memburu, Gibran semakin memajukan wajahnya. Pria itu ingin menghancurkan benteng pertahanan yang sengaja dibangun Bening, berniat menyesap bibir pucat yang selalu ia rindukan itu.

​Jarak di antara mereka kian terkikis... hanya tinggal satu senti lagi sebelum bibir mereka menyatu...

​TAK!

​Pintu kamar rawat mendadak terdorong terbuka lebar oleh langkah kaki yang tergesa-gesa.

​"Bening!"

​Suara bariton yang panik itu seketika memecah sihir di antara mereka. Bening yang tersentak kaget langsung mengangkat kedua tangannya dan mendorong dada Gibran dengan cepat, menjauhkan tubuh pria itu darinya.

​Gibran menegakkan tubuhnya dengan rahang mengeras kaku, memutar pandangannya ke arah pintu dengan kilatan amarah yang amat tajam.

​Di ambang pintu, berdiri Dokter Arfan dengan jas putih dokternya yang sedikit berantakan. Pria itu baru saja mengetahui nama Bening terdaftar dalam data pasien rumah sakit tempatnya bekerja ini, dan tanpa membuang waktu ia langsung berlari menuju kamar rawat tersebut untuk memastikannya sendiri.

​"Bening... apa yang terjadi padamu?" tanya Arfan panik, melangkah masuk tanpa menyadari ketegangan pekat yang baru saja ia buyarkan.

​Namun, langkah Arfan terhenti saat matanya berbenturan langsung dengan tatapan mata Gibran Aditama.

​Gibran berdiri tegak di samping ranjang Bening, menyambut kehadiran dokter muda itu dengan tatapan ketidaksukaan yang teramat dingin, penuh aura permusuhan dan kecemburuan yang siap meledak kapan saja.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!