Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
air mata viona
Melihat sorot mata Bima yang begitu dalam menagih janji, benteng pertahanan tsundere Viona runtuh seketika. Di dalam benaknya, dia sudah berpikir bahwa malam ini adalah waktunya. Setelah empat bulan ranjangnya mendingin, Viona hanya bisa pasrah bercampur deg-degan jika malam ini Bima akhirnya memutuskan untuk mengambil haknya sebagai seorang suami.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menutupi rasa gugupnya, Viona hanya mengulas sebuah senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan, lalu berbalik melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lantai atas. Begitu masuk ke dalam kamar, jantungnya berpacu semakin liar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia membuka lemari pakaian dan mengganti piyama biasanya dengan pakaian tidur yang kali ini jauh lebih berani. Viona sengaja memilih sepotong gaun tidur tipis satin yang berpotongan sangat rendah, yang hanya mampu menutupi setengah dari ......
Dia membiarkan kulit putih mulusnya terekspos bebas di bawah temaram lampu kamar. Dia sengaja melakukan semua ini demi memuluskan 'permintaan' yang dia kira akan segera diajukan oleh suaminya.
Sementara itu di lantai bawah, Bima tampaknya sama sekali tidak terpengaruh oleh atmosfer ketegangan romantis yang ditinggalkan istrinya. Pria itu masih tetap sibuk dengan rutinitasnya, merapikan meja makan dan mencuci satu per satu piring bekas mereka makan di wastafel dapur hingga bersih berkilau. Setelah semua pekerjaan dapurnya selesai dan lampu lantai bawah dimatikan, barulah Bima melangkah tenang menyusul istrinya ke lantai atas.
Pintu kamar terbuka perlahan. Viona yang sudah berbaring di atas ranjang dengan pakaian super terbukanya langsung menahan napas, bersiap menyambut kedatangan suaminya dengan hati yang berdebar kencang. Dia sengaja memposisikan dirinya sedemikian rupa guna menimbulkan keinginan lelaki pada diri suaminya yang terkenal kaku itu.
Namun, lagi dan lagi, kejadian di luar dugaan kembali menampar ekspektasi Viona malam ini.
Bima melangkah masuk ke dalam kamar tanpa melirik sedikit pun ke arah ranjang mewah tempat istrinya berpose anggun. Dengan ekspresi wajah yang luar biasa polos dan tenang, Bima langsung berjalan menuju sofa panjang di sudut ruangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun tentang janji taruhan yang dia tagih di bawah tadi, Bima langsung merebahkan tubuh tegapnya di atas sofa, menarik selimut tipisnya, dan memejamkan mata untuk tidur. Baginya, janji yang dia maksud di bawah tadi mungkin hanyalah urusan lain yang belum mau dia utarakan sekarang, atau dia memang sengaja ingin menyiksa batin istrinya yang sudah telanjur berharap banyak.
Melihat suaminya yang kembali tertidur pulas tanpa beban di atas sofa seolah dirinya adalah hiasan kamar tak kasat mata, Viona langsung naik pitam. Wajah cantiknya memerah padam bukan lagi karena malu, melainkan karena rasa kesal dan dongkol yang sudah mencapai ubun-ubun. Dengan gerakan kasar penuh emosi, Viona langsung menarik selimut tebalnya hingga menutup seluruh tubuh dan kepalanya, menyembunyikan pakaian seksinya yang berakhir sia-sia malam itu.
Di balik kegelapan selimutnya, air mata gengsi Viona hampir saja menetes. Dia meremas bantal tidurnya dengan gemas sembari menyebut segala macam sumpah serapah dan makian terhadap kebodohan dan kepolosan Bima yang kelewat batas, walau semua itu hanya mampu dia teriakkan di dalam hatinya yang meratapi malam penuh kegagalan kosmik yang amat menyebalkan.
Bimaaaaaaaaaaaa teriak viona dalam hati....
Sampai kapan kita begini....