NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALAMAN DALAM GELAP

Lampu gedung mati tepat ketika kedua keluarga hendak bersalaman.

Tangan ayah pengantin laki-laki masih terulur di udara. Ibu pengantin perempuan membalas dengan telapak setengah terbuka. Dalam gelap, keduanya seperti sedang memainkan permainan anak-anak yang aturannya tidak jelas.

Organ tunggal berhenti pada nada tinggi. Penyanyinya masih meneruskan suara selama satu detik sebelum sadar mikrofon sudah mati. Pendingin ruangan mendadak senyap. Mesin kabut, entah karena memakai jalur berbeda atau karena memang dikirim dari neraka, masih mengeluarkan asap tipis di depan pelaminan.

Seseorang berteriak, “Kebakaran!”

“Bukan!” teriakku. “Kabut dekorasi!”

“Kenapa dekorasi macam kebakaran?”

“Itu pertanyaan untuk panitia!”

Aku menyalakan senter ponsel dan berlari ke panel. Tiga tante menghadangku dalam jarak lima meter.

“Jefri, hidupkan lampu pelaminan dulu.”

“Pendingin dulu, panas kali.”

“Musik dulu, pengantin belum salaman!”

Masing-masing berbicara seolah listrik datang dalam tiga keran terpisah yang bisa kubuka sesuai urutan keluarga paling keras.

“Geser, Tante. Aku cek panel.”

“Jangan lama-lama. Tamu sudah tengok semua.”

Aku ingin menjelaskan bahwa tamu memang datang untuk melihat, tetapi Rinso sudah menarik lenganku melewati mereka.

“MCB utama jatuh,” katanya.

“Aku nampak.”

“Jangan langsung dinaikkan.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, tanganmu jangan di tuas.”

Tanganku memang sudah berada di tuas.

Di belakang kami, suara kursi bergeser, anak-anak menangis, dan panitia mencoba menenangkan tamu tanpa pengeras suara. Seseorang menyalakan lampu ponsel, lalu puluhan orang mengikuti. Aula berubah seperti konser yang penontonnya kecewa.

Pak Gunawan datang sambil berlari. “Apa yang kau sambung?”

“Lampu dekorasi saja.”

Rinso menjawab lebih cepat. “Ditambah sorot dokumentasi dan kipas amplifier.”

“Itu orang lain yang colok.”

Pak Gunawan menatapku. “Karena kau menyediakan jalurnya.”

“Aku bisa hidupkan lagi.”

“Jangan—”

Aku menaikkan MCB.

Lampu menyala setengah detik. Pelaminan kembali emas, wajah para tamu terlihat, dan penyanyi organ tunggal sempat mengucapkan “nah” dengan lega.

Percikan muncul dari sisi terminal.

Tak.

Gelap lagi.

Di sisi aula, Fadli menyalakan lampu motornya dari luar dan mengarahkannya melalui pintu, seolah satu lampu depan yang redup dapat menggantikan instalasi gedung. Cahaya kuning itu hanya menerangi kaki para tamu.

“Lumayan!” teriaknya. “Bagian bawah pengantin nampak!”

“Matikan, bodat!” balasku.

“Ini bantuan darurat!”

“Motormu sendiri darurat!”

Tawa kecil muncul dari dekat pintu. Bahkan pengantin perempuan yang masih berdiri di pelaminan menutup mulut menahan senyum. Selama beberapa detik, suasana tidak terasa seperti bencana. Lalu seorang anak berlari menabrak kabel dekorasi, ibunya menjerit, dan semua orang kembali mengingat bahwa gedung masih gelap.

Pak Gunawan menyuruh panitia membuka pintu samping agar udara masuk. Tanpa pendingin, ruangan cepat panas. Bau parfum, makanan, dan plastik yang mulai meleleh bercampur menjadi satu. Keringat mengalir di punggungku dan masuk ke pinggang celana.

Suara orang-orang menjadi lebih keras. Pengantin laki-laki turun dari pelaminan. Bahkan dalam cahaya ponsel, aku bisa melihat rahangnya mengeras.

Rinso mendekatkan mulut ke telingaku. “Kabel daruratmu terlalu kecil. Isolasinya mungkin sudah panas.”

“Belum tentu.”

“Baunya sudah ada.”

Aku mencium udara. Plastik panas. Tipis, tetapi nyata.

Rasa malu sering punya cara aneh mengubah fakta. Ketika orang lain benar, otakku tidak langsung menerima. Ia lebih dulu mencari sepuluh alasan mengapa kebenaran itu disampaikan dengan cara yang menyebalkan.

“Aku cek sambungan,” kataku.

Pengantin laki-laki tiba di depan kami dan mencengkeram kerah seragamku. “Kau yang buat ini?”

“Aku yang sedang memperbaiki.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kalau Abang lepas dulu, tanganku bisa kerja.”

“Acara kami rusak!”

“Belum rusak. Cuma gelap sebentar.”

Dari belakang terdengar suara Tia, jelas sekali meskipun tanpa mikrofon.

“Bang, senyum dulu. Viral ini!”

Cahaya kamera ponselnya menyala. Adikku berdiri di antara dua tante, merekam dengan posisi horizontal dan ekspresi orang yang baru menemukan rezeki.

“Tia, turunkan itu!”

“Angle-nya bagus, Bang. Ada asap.”

“Itu bukan alasan!”

“Justru itu alasannya.”

Pengantin laki-laki menoleh ke arah kamera. Cengkeramannya sedikit longgar. Aku melepaskan kerahku dan berjongkok di depan panel.

Pak Tor muncul dari sisi aula. Bapak memang datang sebagai keluarga, tetapi ia masih membawa kebiasaan teknisi seperti orang lain membawa dompet. Tespen merah terselip di saku kemejanya. Wajahnya tidak panik. Itu lebih buruk. Kalau Pak Tor diam, berarti ia sedang menghitung berapa banyak kebodohan yang harus dibongkar.

“Sudah diuji?” tanyanya.

Aku mengangguk terlalu cepat.

Ia mengulurkan alat ukur kecil. “Uji lagi.”

“Pak, aku kerja di perusahaan.”

“Arus tidak baca kartu pegawaimu.”

Beberapa orang di dekat kami tertawa. Aku menerima alat itu dengan rahang kaku.

Pak Tor menatap kabel darurat yang masuk dari sisi bawah. “Takut itu boleh,” katanya pelan. “Asal tanganmu tetap mengikuti prosedur.”

“Aku tidak takut.”

“Makanya suaramu naik.”

Aku ingin membalas, tetapi bau plastik panas semakin kuat. Aku memutus semua beban cabang, lalu memeriksa terminal. Kabel yang kupasang terasa hangat. Terlalu hangat. Rinso benar.

“Cabut semua tambahan,” kata Pak Gunawan.

“Kalau dicabut, lampu dekorasi mati.”

“Memang.”

“Tante-tante itu bisa membunuhku.”

Pak Tor melirik kerumunan. “Kalau kau lanjut begini, listrik duluan.”

Aku menarik napas dan mulai melepas jalur tambahan. Namun, kru dokumentasi sudah menarik kabel sorot mereka ke belakang tirai. Sambungannya tersangkut di antara rangka dekorasi. Saat kutarik, tidak bergerak.

“Rinso, matikan jalur servis.”

“Sudah.”

Aku memeriksa dengan alat ukur. Nol. Aman.

Dari belakang, pengantin laki-laki kembali mendesak. “Berapa lama?”

“Lima menit.”

“Kau bilang sebentar tadi.”

“Sebentar itu belum ada satuan resmi.”

“Jefri,” kata Pak Gunawan.

“Iya, Pak.”

Aku membuka penutup terminal untuk melihat titik yang menghitam. Tia bergerak mendekat, masih merekam. Pak Tor menyuruhnya mundur. Ia mundur satu langkah, tidak lebih.

“Bang, coba ulang waktu bilang aman tadi,” katanya. “Biar ada pembuka.”

“Pala kau.”

“Itu bisa jadi judul.”

Aku memasang kembali terminal setelah melepas jalur tambahan. Rinso berdiri di sampingku, memegang senter. Ia tidak mengejek. Itu membuatku semakin kesal.

“Naikkan bertahap,” katanya.

“Aku tahu.”

“Jalur utama dulu. Lalu penerangan. Jangan pendingin dan panggung bersamaan.”

Aku menaikkan MCB utama. Lampu indikator menyala. Tidak jatuh.

“Penerangan,” kata Pak Tor.

Aku mengaktifkan jalur aula. Sebagian lampu menyala. Tamu bertepuk tangan. Dada yang tadi sempit mulai longgar.

“Nampak?” kataku. “Aman, bah.”

Rinso mengangkat tangan. “Jangan jalur panggung dulu.”

Namun pengelola organ tunggal, yang tidak mendengar percakapan kami, menyalakan sakelar amplifier dari ujung aula. Beban masuk sekaligus. Dari terminal kabel darurat yang belum sepenuhnya lepas, terdengar desis.

Aku menoleh.

Percikan biru meledak di samping kepalaku.

Pada saat yang sama, kilatan kamera ponsel Tia menangkap wajahku dengan mata terbelalak, rambut berdiri, dan mulut masih membentuk sisa kata aman.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!