NovelToon NovelToon
TIRAKAT 4

TIRAKAT 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.

Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.

Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?

Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!

Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 KEJADIAN ANEH GENDIS UNTUK PERTAMA KALINYA

Singkat cerita...

Dua minggu kemudian...

Setelah Pak Diki mendapatkan tawaran "jalan pintas" dari Hasan, mandornya itu, akhirnya dirinya punya waktu libur kerja proyek agak lama.

Dan Hasan sepertinya memang sengaja memberikan waktu libur untuk Pak Diki, sedikit lebih lama dari pada pekerja lainnya. Hal itu disebabkan karena Pak Diki sudah tak sabar untuk mengetahui "jalan pintas" apa yang akan membuat hidup keluarganya berubah total.

Dan akhirnya Pak Diki mendatangi rumah mandornya itu...

Dan disana lah Hasan menjelaskan secara detail tentang "jalan pintas tersebut"...

.....

.....

.....

Di rumah Hasan, sore hari menjelang maghrib, saat Pak Diki datang...

Mereka berdua duduk di ruang tamu Hasan. Tampak megah di mata Pak Diki kondisi rumah Hasan.

Terlihat dari bagaimana kondisi ruang tamu Hasan itu. Beberapa barang yang memang mahal, dan juga beberapa barang antik koleksi Hasan. Semakin membuat Pak Diki tertutup mata hati dan iman nya.

Di dalam pikiran Pak Diki sekarang hanyalah tentang uang banyak yang datang dengan cepat. Tentang kekayaan yang bisa terus bertambah dan bertahan lama. Tentang semua khayalan hidup mewah seperti Hasan.

"Jadi, gimana Ki? Apa lo siap?" tanya Hasan kepada Pak Diki, setelah menjelaskan tentang "jalan pintas" tersebut panjang lebar.

"Oke lah kalo gitu, gue siap!" jawab Pak Diki dengan mantap.

"Gue tanya sekali lagi, beneran lo siap?"

"Iya, gue siap!"

"Dengan semua resikonya juga lo siap?"

"Iya, siap!"

Melihat kemantapan hati dan jawaban Pak Diki, Hasan mengangguk sambil tertawa pelan.

"Oke, kalo gitu." kata Hasan.

"Eh iya, diminum dong kopinya, pembantu gue udah bikinin buat lo itu!" tambah Hasan, mempersilahkan Pak Diki untuk menikmati kopi yang sudah disediakan.

Pak Diki pun tersenyum. Sambil menyeruput kopi di depannya. Tampak sumringah raut wajahnya.

"Oh iya, rokoknya, isap-isap... Jangan malu-malu gitu dooong... Hahaha..."

Pak Diki pun mengambil sebatang rokok di bungkusan rokok milik Hasan.

Mereka berdua tampak melanjutkan obrolan tentang proyek yang masih dikerjakan. Juga beberapa kali mengobrol tentang kondisi keluarga Hasan dan Pak Diki.

Sungguh, setiap kali Hasan menceritakan kondisi keluarganya yang semakin banyak uang itu, membuat Pak Diki semakin buta dengan keimanan. Semakin buta dengan resiko mematikan yang akan ia tanggung bersama istrinya kelak.

Benar-benar sudah dibuat buta mata dan hati Pak Diki oleh godaan kekayaan itu.

.....

.....

.....

Tak terasa...

Jam dinding di ruang tamu Hasan menunjukkan pukul 00:00, tepat sudah tengah malam.

Hasan pun segera mengajak Pak Diki ke dalam sebuah kamar yang ada di lantai tiga rumahnya.

Sebenarnya kamar itu hanya boleh dimasuki oleh Hasan dan istrinya saja. Akan tetapi, ada beberapa orang yang "diizinkan" untuk masuk ke dalamnya. Seperti contohnya adalah Pak Diki ini.

Pak Diki pun masuk ke dalam itu bersama Hasan...

Langsung tercium aroma kembang tujuh rupa...

Langsung menyengat hidungnya aroma bakaran dupa-dupa...

Pak Diki bisa melihat di dalam kamar itu hanya ada sebuah kasur berukuran agak besar, dengan seprei berwarna hitam legam. Dan ada dua buah payung dengan gaya kerajaan, juga berwarna hitam.

Dan ia juga bisa melihat di depan kasur itu, sebuah nampan penuh dengan sesajen yang diletakkan di atas lantai.

"Udah siap?" tanya Hasan.

"Iya, siap." jawab Pak Diki.

Ya udah, sekarang duduk." pinta Hasan.

Pak Diki pun menuruti. Duduk tepat di depan nampan penuh sesajen itu. Dan di hadapannya duduklah Hasan.

Nampan itu berada di tengah-tengah mereka berdua...

Di tengah nampan itu, terdapat sebuah kendi tanah liat berukuran kecil...

"Sekarang, tutup mata lo Ki. Tarik napas dalam-dalam, terus tahan. Jangan dihembuskan kalo semuanya belom selesai. Paham?" jelas Hasan

"Iya, paham." jawab Pak Diki sambil mengangguk pelan.

Dan...

Pak Diki pun memejamkan matanya...

Beberapa kali ia mencoba menarik napas dalam-dalam menghembuskannya...

Dan pada tarikan napas ke sekian kalinya, ia langsung menahan napas...

Seketika itu juga, Hasan langsung merapalkan mantra-mantra dengan bahasa jawa kuno. Memulai segala ritual tirakat "jalan pintas" tersebut.

Pak Diki tak mengerti apa artinya...

Tapi ia tak peduli...

Dalam pikirannya hanyalah ingin cepat kaya...

.....

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳

Sementara itu...

Satu jam sebelumnya...

Di rumah Pak Diki, jam dinding menunjukkan pukul 23.00 malam...

Gendis dan Ibunya belum tidur meskipun sudah merasakan kantuk...

Mereka berdua sedang menikmati makan malam yang jauh lebih enak dan lebih lengkap...

Karena tadi siang, sebelum Pak Diki berangkat menuju ke rumah Hasan, ia memberikan sejumlah uang yang diberikan oleh Hasan kepada istrinya itu. Pak Diki memerintahkan untuk membelanjakannya sampai habis. Tak boleh tersisa satu rupiah pun!

Dan akhirnya Bu Fitri pun membeli segala kebutuhan dapur dan rumah. Juga membeli beberapa liter beras, beberapa jenis sayuran, dan juga beberapa jenis lauk pauk.

"Gendis! Jangan bengong gitu dong Nak, ayok buruan dimakan! Nanti kalo udah dingin, jadi kurang enak rasanya!" ucap Bu Fitri dengan sangat sumringah.

"I-iya Bu... A-aku makan... Hehehe..." jawab Gendis agak terbata-bata.

Gendis sedari tadi membantu Ibunya itu untuk berbelanja setelah pulang dari sekolah, dan juga membantu memasak makanan sampai menjelang tengah malam begini.

Di dalam hatinya...

Bercampur aduk perasaan bahagia dan syukur yang besar...

Karena Bapaknya hari ini bisa mendapatkan uang yang lumayan banyak, sehingga Ibunya bisa berbelanja jauh lebih banyak dan lengkap.

Sebuah kondisi yang belum pernah Gendis dan Ibunya rasakan sebelumnya.

Bu Fitri melahap makanan di piringnya. Nasi yang hangat, aroma beberapa jenis tumisan sayur, lalu juga ada ayam goreng dan ikan goreng. Tak lupa juga teh manis hangat.

Seluruhnya sangat menggugah selera makan Gendis juga...

Gendis pun makan dengan lahap semua yang disajikan sang Ibu di atas piringnya...

Bahkan beberapa kali Gendis sampai tersedak, karena saking nikmat dan lahapnya...

"Gendis..." ucap Bu Fitri sambil mengunyah makanannya.

"Iya Bu? (nyam nyam nyam...)" gendis menyahut dengan suara kunyahan yang begitu nikmat.

"Seandainya... (nyam nyam...) Bapakmu bisa dapetin uang sebanyak hari ini setiap hari ya... (nyam nyam nyam...)"

"Iya ya Bu... (nyam nyam...)" sahut Gendis, sambil menggigit ayam goreng yang gurih.

"Pasti kita gak bakal hidup susah terus-terusan... (glek glek glek...)" tambah Bu Fitri sambil meminum tah manis hangat.

Gendis hanya mengangguk, sambil terus mengunyah.

Dan mereka berdua melanjutkan makan malam kali ini dengan perasaan yang sangat bahagia dan penuh syukur...

TANPA MEREKA KETAHUI...

SEMUA MAKANAN YANG MEREKA MAKAN KALI INI...

MENJADI GERBANG AWAL SEGALA TEROR DI MASA DEPAN...

.....

.....

.....

Singkat waktu, Gendis dan Ibunya pun selesai makan. Mereka berdua terlihat kenyang.

Gendis pun membantu sang Ibu membereskan meja makan, dan mencuci piring serta gelas sampai bersih.

Kemudian, Bu Fitri dan Gendis menuju kamar untuk segera beristirahat, karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 00:00 tepat tengah malam.

"Waaah... Kenyang banget perut Ibu Nak..." ucap Bu Fitri, sambil mengusap perut saat sudah berbaring di atas kasur.

"Aku juga sama Bu... Kenyang banget ini..." kata Gendis, juga dengan gerakan yang sama dengan Ibunya.

"Ya udah, langsung istirahat aja Nak."

"Iya Bu..."

Mereka berdua pun menyelimuti tubuh masing-masing menggunakan kain sarung...

Bu Fitri memposisikan tubuhnya miring, membelakangi Gendis...

Sedangkan Gendis posisinya terlentang...

Tak butuh waktu lama, Bu Fitri segera terlelap. Karena dukungan perut yang kenyang dan perasaan bahagia. Sehingga dengan cepat kesadaran Bu Fitri berpindah ke alam mimpinya.

Dan begitu juga dengan Gendis, dia bisa terlelap dengan cepat.

.....

.....

.....

Akan tetapi...

Belum lama Gendis tertidur pulas...

Dirinya terpaksa bangun dari tidurnya...

Saat telinga Gendis mendengar suara-suara gaduh di dalam rumahnya...

.....

.....

.....

BRAKKK BRAKKK BRAKKK!!!

Sebuah suara seperti gedoran pintu terdengar oleh Gendis.

Gendis pun terbangun perlahan...

BRAKKK BRAKKK BRAKKK!!!

"Eemmhh... Suara apa itu?" gumam Gendis, saat suara gedoran pintu itu kembali terdengar.

"Buuu... Ibuuu..." Gendis mencoba membangunkan sang Ibu. Namun sang Ibu tak bergeming sama sekali.

Berkali-kali Gendis coba membangunkan, tapi tetap saja tak bergeming.

BRAKKK BRAKKK BRAKKK BRAKKK!!!

Gendis terkaget saat mendengar suara itu lebih kencang dan cepat.

Akhirnya Gendis pun penasaran...

Ia turun dari kasur...

Dan meraba-raba mengambil tongkatnya...

Gendis berjalan perlahan, meraba sekitar dengan tongkatnya. Ketika sudah di depan pintu kamar, ia membukanya perlahan.

Kriiiieeeetttt...

Suara pintu kayu itu terbuka pelan. Gendis berjalan keluar kamar.

Dengan ke dua matanya yang putih itu, ia terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencoba menemukan arah sumber suara.

BRAKKK BRAKKK BRAKKK BRAKKK!!!

Kembali Gendis terkaget sambil berdiri di depan pintu kamar. Tapi sekarang ia tahu sumber suara gedoran itu berasal dari pintu depan rumah.

"Paaak? Bapaaak?" ucap Gendis, mengira kalau itu adalah Bapaknya yang sudah pulang.

"Paaak?" ucap Gendis lagi, sambil melangkah perlahan mendekat ke pintu depan rumahnya itu.

Akan tetapi, tak ada sahutan atau respon...

Gendis yang semakin penasaran, semakin mendekat ke pintu depan rumah. Dan ia segera membuka kunci slot dari dalam.

Kriiiieeeetttt...

Gendis membuka pintu depan rumahnya itu...

"Bapaaak? Bapak udah pulang?" tanya Gendis. Berharap bahwa yang menggedor barusan adalah Bapaknya.

Tapi, tak ada sahutan apapun...

Dan anehnya, ditelinga Gendis juga tak terdengar suara apapun di luar rumahnya itu...

Semuanya hening di telinga Gendis...

Sangat hening...

Gendis akhirnya masuk lagi ke dalam rumah, dan ingin segera menutup lagi pintu itu.

Akan tetapi...

Ketika baru saja Gendis ingin menutup pintu itu...

Tiba-tiba...

BRAKKKK!!!!

Pintu depan rumahnya tertutup sendiri dengan kencang.

Gendis kembali kaget bukan main, sampai-sampai tongkat di tangan kanannya lepas dari pegangan.

Napas Gendis menjadi cepat, jantungnya berdegup lebih kencang.

Ia pun berjongkok, berusaha mencari di mana tongkatnya.

Dan sebuah keanehan terjadi...

Gendis berjongkok, meraba-raba lantai, tapi yang ia rasakan di ke dua tangannya bukanlah lantai, yang ia rasakan adalah genangan cairan.

Cairan yang menggenang itu adalah darah merah. Menggenangi seluruh lantai ruang tamunya.

Clakk clakk clakk clakk

Suara tangan Gendis meraba genangan darah itu.

"Hah? Apa ini?" gumam Gendis.

Gendis perlahan mengangkat tangan kanannya, dan perlahan menciumnya.

"Ahh!! Huueekkhh!!"

Langsung merasa mual Gendis, saat tercium aroma yang anyir dan sedikit busuk darah di tangannya.

"Buuu!! Ibuuu!!" teriak Gendis.

Ia pun segera berdiri...

Melangkah agak cepat...

Melupakan tongkatnya...

Gendis hendak menuju kamar untuk membangunkan sang Ibu...

Akan tetapi, tiba-tiba...

GUBRAKKK!!!

"Aduhhh!!! Aaakkkhhh!!!" gendis terpeleset dan jatuh sebelum mencapai kamar.

Tubuhnya tergeletak di atas genangan darah berbau agak busuk itu.

"Aduuuhhh..." Gendis meringis kesakitan, sambil memegangi kepalanya yang terbentur lantai penuh darah.

"Ibuuu... Tolooong..." suara Gendis memanggil sang Ibu, sambil meringis kesakitan. Tapi tetap tak ada jawaban apapun dari Ibunya itu.

.....

.....

.....

Lalu...

Tiba-tiba...

Tubuh Gendis kejang-kejang hebat...

Wajahnya mendongak ke atas...

Mulutnya terbuka lebar...

Matanya terbelalak...

"AAAKKKHHH!!! AAAGGGHHH!!! AAAKKKHHH!!!" suara Gendis seperti tercekik.

Dan secara perlahan, seluruh genangan darah di ruang tamunya itu mengalir...

Mengalir masuk ke dalam mulut Gendis...

"AAKKHH!! AALLGGHH... AAKKHH!!"

Genangan darah itu mengalir masuk bagaikan aliran air ke dalam mulut Gendis...

Sampai tak tersisa setetes pun darah itu...

Dan...

Mata putih Gendis...

Berubah perlahan menjadi hitam seluruhnya...

Muncul juga di wajahnya guratan-guratan hitam seperti urat yang berdarah hitam...

.....

.....

.....

🌕🌕🌕🌕🌕🌕🌕

🌳🌳🌳🏡🌳🌳🌳

Di dalam kamar...

Bu Fitri terbangun, saat menyadari anaknya sudah tak ada di atas kasur...

"Gendiiis?" panggil Bu Fitri.

"Apa dia ke kamar mandi ya?" gumamnya sendirian.

Dan, Bu Fitri segera beranjak dari kasur. Khawatir terjadi sesuatu pada anaknya itu jika benar sedang ke kamar mandi tengah malam begini.

Akan tetapi...

Baru saja Bu Fitri ingin memegang gagang pintu kamar...

Gendis membukanya...

Dan berjalan perlahan masuk ke dalam kamar...

"Loh? Gendis? Kamu kenapa Nak?" tanya Bu Fitri.

Tampak lebih pucat wajah anaknya itu. Dan tatapan mata putihnya terasa kosong.

Akan tetapi, Gendis tak menjawab sang Ibu...

Gendis hanya melangkah pelan...

Menuju kasur...

Dan Gendis langsung berbaring selayaknya orang yang sudah sangat mengantuk...

1
🔵🌹Widian,🧕🧕🌹
ini 2 anak yang berbeda kah ?
Deni Komarullah: Tokoh Gendisnya sama Kak... Korbannya yang berbeda...
total 1 replies
SecretS
Merinding juga, kepala sampai hancur. Lanjut kak, memang sampai berapa tumbal? Kalau dihitung pasti lebih dari 5 sebab bertahun tahun loh sebelum ketemu nisa?
Deni Komarullah: Iya Kak...
total 1 replies
SecretS
😰😰menegangkan kak pas gendis mojokin sinta 😆😆, lanjut kak gimana cerita nya gendis kok bisa di pondok dan ketemu nisa 😃
SecretS
Ini kisah pesugihan ya
😆😆 lanjut kak👍👍👍
Yeni Yeni: lanjut dah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!