NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Malam di Gua Batu

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam di balik pegunungan ketika mereka akhirnya tiba di mulut gua. Derek menghentikan kudanya dan turun dengan gerakan yang gesit. Ia menuntun kudanya masuk ke dalam gua, dan Viona mengikuti dari belakang.

Gua itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung dua ekor kuda dan dua manusia. Langit-langit gua menjulang setinggi sekitar tiga meter, dan dinding-dindingnya terbuat dari batu kapur yang lembap. Di bagian dalam, ada beberapa batu besar yang sudah tertata seolah-olah pernah digunakan oleh orang sebelumnya.

"Kau pernah ke sini sebelumnya?" tanya Viona, turun dari kudanya dengan hati-hati.

"Beberapa kali," jawab Derek, mengikat tali kekang kuda pada sebuah batu besar yang menjulang di dinding gua. "Aku sering berhenti di sini saat berburu di musim dingin. Gua ini terlindung dari angin, dan ada sumber air kecil di bagian belakang sana."

Viona berjalan pelan ke arah belakang gua. Benar saja, di sana ada sebuah aliran air kecil yang mengalir dari celah batu, membentuk genangan kecil di atas batu yang cekung. Airnya jernih dan dingin.

"Ini sangat menakjubkan," gumam Viona. "Seolah-olah gua ini sudah disiapkan khusus untuk para pelancong."

"Alam sering menyediakan apa yang kita butuhkan, asalkan kita tahu cara mencarinya." Derek sudah mulai mengeluarkan perbekalan dari kantong pelana. "Bantu aku mengumpulkan kayu bakar. Ada ranting-ranting kering di dekat mulut gua."

Viona mengangguk dan keluar dari gua. Malam di pegunungan ternyata sangat gelap. Hanya cahaya bintang yang menerangi langit, dan bulan sabit tipis tergantung di atas puncak gunung. Viona merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya. Ia segera memakai mantel tebal yang diberikan Derek tadi, lalu mulai mengumpulkan ranting-ranting kering di sekitar mulut gua.

Tidak butuh waktu lama, ia berhasil membawa seikat kayu bakar yang cukup besar. Saat ia kembali ke dalam gua, Derek sudah menata batu-batu kecil membentuk lingkaran di tengah gua.

"Taruh di sini," kata Derek, menunjuk ke tengah lingkaran batu.

Viona meletakkan kayu bakarnya. Derek mengambil batu api dan baja dari sakunya. Dengan gerakan yang sangat terlatih, ia menggesek keduanya beberapa kali hingga percikan api jatuh ke atas serat kayu kering yang sudah ia siapkan. Dalam hitungan detik, api pun mulai menyala, menerangi seluruh gua dengan cahaya hangat berwarna oranye.

Viona menghela napas lega. "Aku tidak pernah menyangka api bisa terlihat seindah ini."

Derek tersenyum tipis. "Dunia di luar istana memang membuatmu menghargai hal-hal kecil."

Ia lalu mengambil panci kecil dari kantong pelana, mengisinya dengan air dari sumber air di belakang gua, lalu meletakkannya di atas api unggun. Setelah itu, ia mengeluarkan dua potong daging asap dan sepotong roti kering.

"Kita akan makan malam," kata Derek. "Tidak mewah, tapi cukup."

Viona duduk di atas sebuah batu datar di dekat api. Ia memperhatikan Derek yang dengan cekatan memotong daging asap menjadi potongan-potongan kecil dan memasukkannya ke dalam panci berisi air mendidih. Aroma kaldu daging yang hangat mulai menyebar ke seluruh gua, membuat perut Viona keroncongan.

"Kau benar-benar terbiasa hidup di alam liar," puji Viona. "Aku bahkan tidak tahu cara merebus air dengan benar."

"Itu karena aku sudah melakukannya selama bertahun-tahun." Derek mengaduk sup di dalam panci. "Awalnya aku tidak tahu apa-apa. Aku sering kelaparan dan kedinginan. Tapi perlahan, aku belajar."

"Sejak kapan kau tinggal di hutan?"

Derek diam sejenak. Ia mengaduk sup tanpa menatap Viona. "Sejak aku meninggalkan kerajaan. Sekitar delapan tahun yang lalu."

Viona mengerutkan kening. "Delapan tahun? Itu waktu yang sangat lama."

"Waktu berlalu cepat jika kau tidak punya tujuan." Derek mengangkat panci dari api, menuangkan sup ke dalam dua mangkuk kayu, lalu menyerahkan satu kepada Viona. "Hati-hati, masih panas."

Viona menerima mangkuk itu. Supnya berwarna kecokelatan, berisi potongan daging dan sedikit sayuran liar yang mungkin dipetik Derek di sepanjang jalan. Ia meniupnya perlahan, lalu mencicipi.

Rasanya sederhana, tetapi sangat hangat dan mengenyangkan. Viona tidak pernah membayangkan bahwa sup buatan di atas api unggun di dalam gua bisa terasa selezat ini.

"Ini enak," ucap Viona jujur.

"Kau hanya lapar," jawab Derek datar, tetapi ada sedikit senyuman di sudut bibirnya.

Mereka makan dalam keheningan selama beberapa menit. Hanya suara api yang berderak dan angin yang berbisik di luar gua yang memecah kesunyian. Viona sesekali menatap Derek, dan ia sadar bahwa tatapannya sering tertuju pada pria itu tanpa ia sadari.

"Kau tahu, Neil sering menulis surat tentang kau," kata Viona tiba-tiba, mencoba memecahkan kebekuan. "Di surat-suratnya, ia bercerita tentang kehidupan di istana, tentang tugas-tugasnya, dan tentang orang-orang di sekitarnya. Tapi ia tidak pernah menyebutkan siapa pun yang bernama Derek."

Derek mengangkat alisnya. "Neil pasti tidak mengenalku. Aku sudah tidak berada di istana itu sejak lama."

"Tapi kau bilang kau meninggalkan kerajaan delapan tahun lalu. Berarti kau sudah tidak ada di sana saat Neil mulai memerintah sebagai pangeran kedua?"

Derek mengangguk. "Aku kenal ayah Neil. Tapi Neil sendiri masih sangat kecil saat aku pergi. Mungkin ia tidak mengingatku."

Viona merasakan ada sesuatu yang disembunyikan di balik kata-kata Derek. "Tapi kenapa kau memilih untuk meninggalkan kerajaan? Kau terlihat seperti seseorang yang bisa memiliki posisi yang sangat tinggi."

Derek tidak menjawab. Ia hanya mengambil ranting kayu dan mengaduk-ngaduk api unggun. Percikan api beterbangan ke udara.

"Setiap orang memiliki alasan untuk lari," kata Derek akhirnya dengan suara pelan. "Alasanku adalah kesedihan yang terlalu besar untuk ditanggung."

Viona memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Ia bisa merasakan bahwa membicarakan masa lalu membuat Derek tidak nyaman.

"Kau tahu," kata Viona mengalihkan topik, "aku belum pernah bertemu Neil secara langsung. Semua komunikasi kami hanya melalui surat dan perantara. Aku tidak tahu wajahnya, tidak tahu suaranya, tidak tahu bagaimana sikapnya saat ia marah atau saat ia tertawa."

Derek menatap Viona dengan tatapan aneh. "Dan kau tetap setuju untuk menikah dengannya?"

"Itu adalah takdirku sebagai putri kerajaan. Aku tidak punya pilihan." Viona menunduk, memainkan sendok kayu di tangannya. "Tapi aku berharap Neil adalah orang yang baik. Dari surat-suratnya, ia terlihat sangat perhatian dan bijaksana."

Derek menghela napas panjang. "Apakah kau mencintainya, Viona?"

Pertanyaan itu membuat Viona terhenyak. Ia tidak tahu jawabannya. Bagaimana mungkin ia mencintai seseorang yang belum pernah ia temui? Namun, sebagai putri, cinta bukanlah hal yang penting. Yang penting adalah kewajiban.

"Aku... aku akan belajar mencintainya," jawab Viona akhirnya. "Setelah kami menikah, kami akan menghabiskan waktu bersama. Aku yakin cinta akan tumbuh seiring waktu."

Derek terdiam. Matanya yang berwarna abu-abu menatap Viona dengan ekspresi yang sulit diartikan. Lalu ia mengalihkan pandangannya, menatap api unggun.

"Semoga kau benar," bisik Derek.

Suasana menjadi hening lagi. Viona merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Mengapa pertanyaan Derek tadi terasa begitu menusuk? Mengapa ia merasa bersalah saat menjawabnya?

Mungkin karena di dalam hatinya, ada bagian kecil yang mulai meragukan takdirnya. Bagian kecil yang bertanya-tanya: Apakah Neil benar-benar orang yang tepat untukku?

Namun, Viona menggelengkan kepalanya perlahan. Ia menyesap sup yang tersisa, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu.

Setelah makan malam, Derek mengeluarkan dua selimut tebal dari kantong pelana. "Kita akan tidur bergantian. Aku akan jaga malam pertama. Kau tidur."

"Tapi kau juga lelah," bantah Viona.

"Aku sudah biasa tidak tidur. Kau masih dalam masa pemulihan. Tidurlah." Derek tidak memberi ruang untuk dibantah.

Viona akhirnya menyerah. Ia membentangkan selimutnya di atas tanah gua yang ditutupi rumput kering, lalu berbaring. Api unggun masih menyala, memberikan kehangatan yang cukup untuk menahan dinginnya malam.

Sebelum matanya benar-benar tertutup, Viona masih sempat menatap Derek dari balik kelopak matanya yang setengah tertutup. Derek sedang duduk bersila di dekat api, dengan pisau berburu di pangkuannya dan tatapan mata yang tajam menatap ke arah mulut gua.

Pria itu benar-benar waspada, bahkan saat ia sedang beristirahat.

Viona memejamkan matanya. Dalam tidurnya, ia bermimpi tentang Neil—seorang pangeran dengan wajah kabur yang selalu berusaha ia gambarkan. Namun, perlahan, wajah itu mulai berubah. Rambut cokelat tergerai, mata abu-abu yang dalam, dan senyuman hangat yang ia kenali.

Wajah Derek.

Viona terbangun dengan jantung yang berdegup kencang. Ia membuka mata dan mendapati Derek masih duduk di dekat api, tetapi kali ini, ia sedang menulis sesuatu di sebuah buku catatan kecil.

"Kau tidak bisa tidur?" tanya Derek tanpa menoleh.

Viona menggeleng, meskipun Derek tidak melihatnya. "Aku hanya... mimpi aneh."

Derek tidak bertanya. Ia hanya menutup buku catatannya dan memasukkannya ke dalam saku. "Tidurlah. Esok kita harus melewati puncak gunung kedua. Perjalanan akan lebih berat."

Viona mengangguk, tetapi ia tidak bisa tidur lagi. Ia hanya terbaring, memandangi langit-langit gua, dan bertanya-tanya: Apakah aku benar-benar siap menikah dengan Neil? Atau... apa yang aku rasakan saat ini adalah sesuatu yang lebih dari sekadar rasa terima kasih?

Malam berjalan perlahan. Api unggun masih menyala, dan Derek masih terus berjaga.

Di luar gua, angin pegunungan terus bertiup, membawa serta rahasia-rahasia yang belum terungkap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!