Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Vano
Di kamar Neva.
Wanita itu sudah tampak begitu anggun mengenakan gaun satin berwarna champagne dengan detail drapery lembut di bagian pinggang, pilihan yang sempurna untuk makan malam bersama keluarga besar. Vano duduk di belakangnya, menyisir rambut Neva dengan penuh perhatian sebelum menyematkan sebuah jepit rambut mutiara di antara helaian rambutnya.
"Cantiknya bidadariku..." pujinya. Tanpa menunggu jawaban, Vano mengecup pipi Neva dengan penuh kasih.
Neva tersenyum lebar. "Makasih, Sayang."
"Oh, iya. Aku hampir lupa. Ada sesuatu," kata Vano.
"Apa?"
Vano bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja rias Neva. Ia membuka salah satu laci, mengambil sesuatu, lalu kembali menghampiri istrinya.
"Lihat ini."
Mata Neva membulat begitu melihat benda di tangan Vano.
"Bedak bayi?" ia terkekeh geli.
Vano mengangguk sambil ikut tersenyum. Ia duduk di samping Neva.
"Sini, biar kupakaikan."
Neva menoleh menatap wajah suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dia bahkan belum bisa kau cium, Sayang."
Vano tersenyum lembut. "Aku memang belum bisa mencium dia..." ucapnya pelan menatap perut Neva, kemudian tatapannya berpindah pada wajah Neva yang begitu ia cintai. "Tapi aku masih bisa mencium ibunya."
Seketika Neva tertawa kecil di sela rasa harunya, sementara Vano kembali mengecup pipinya dengan penuh cinta, seluruh kasih sayangnya untuk sang buah hati lebih dulu ia titipkan kepada perempuan yang sedang mengandungnya.
Neva mengusap pipi Vano dengan penuh kasih. Tatapannya dipenuhi keharuan melihat betapa suaminya begitu antusias menyambut kehadiran buah hati mereka.
Perlahan, Neva mengangkat sedikit gaunnya. Memperlihatkan perutnya yang masih rata.
"Sini," ucapnya lembut. "Usapkan bedaknya di perutku."
Senyum Vano langsung merekah. Ia mengangguk bersemangat, lalu menuangkan sedikit bedak bayi ke telapak tangannya. Dengan gerakan selembut mungkin, ia mengusap bedak itu di perut Neva.
"Hai, Sayang..." sapanya rendah. "Sehat-sehat di sana, ya. Tumbuh dengan baik."
Usai mengusap bedak itu hingga merata, Vano menundukkan kepalanya dan mengecup perut Neva dengan penuh cinta.
Satu kecupan lalu satu lagi dan lagi. Ia sedang menyampaikan seluruh kasih sayangnya kepada kehidupan kecil yang masih bersembunyi di dalam sana.
Neva tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. Mungkin belum ada tendangan kecil yang bisa mereka rasakan. Belum ada perut yang membesar. Namun kebahagiaan itu sudah memenuhi hati mereka.
Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya doa yang mereka panjatkan menemukan jalannya.
Vano menuangkan sedikit bedak lagi ke telapak tangannya.
"Kali ini untukmu," ucapnya sambil tersenyum lebar.
Neva terkekeh pelan. Dengan patuh, ia menyodorkan wajahnya.
"Silakan, Dokter Bedak."
Vano ikut tertawa. Dengan jemari yang hati-hati, ia menepuk-nepukkan bedak bayi tipis-tipis ke kedua pipi Neva. Gerakannya begitu telaten, meratakan bedak hingga hanya meninggalkan lapisan putih yang lembut, tanpa membuat wajah istrinya tampak belepotan.
"Nah..." Vano mengangguk puas sambil mengamati hasilnya. "Cantik."
Neva mengangkat sebelah alis. "Cantik atau seperti bayi?"
Vano tersenyum lebar. "Dua-duanya. Istriku memang cantik. Sekarang malah tambah menggemaskan."
Neva terkekeh, sementara Vano mengusap sisa bedak yang menempel di ujung hidungnya dengan ujung jari, lalu mengecup keningnya penuh sayang.
Setelah memastikan semuanya siap, Vano kembali membungkukkan badan dan menggendong Neva dengan hati-hati dalam gendongan bridal.
"Pegangan yang erat," ucapnya lembut.
Neva mengangguk pelan, kedua tangannya melingkar di leher Vano.
"Maaf ya, jadi merepotkan setiap hari.
Vano menggeleng. "Kamu tidak pernah merepotkan."
Ia melangkah perlahan, memastikan setiap pijakan tetap stabil agar Neva merasa nyaman. Baginya, menjaga keselamatan istri dan calon buah hati mereka jauh lebih penting daripada apa pun.
Dengan penuh kehati-hatian, Vano membawa Neva ke kamar di samping taman. Ruangan itu telah disiapkan sebagai tempat Neva menunggu hingga seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam. Setelah membaringkannya dengan perlahan di atas tempat tidur, Vano membenarkan bantal di belakang punggung Neva agar ia bisa beristirahat dengan nyaman.
"Nah, di sini dulu. Nanti kalau semua sudah berkumpul, aku yang jemput lagi."
Neva mengangguk sambil tersenyum hangat. "Terima kasih, Sayang."
Vano mengecup keningnya sekilas sebelum ia melangkah ke ruang keluarga menemui yang lain.
🍃🍃🍃
Sementara di sana. Mobil Leo melaju tenang dengan Albar sebagai sopirnya. Menuju rumah Papa Nugraha.
Leo, Yuna, Arai.... duduk bertiga dengan si kecil di tengah. Leo diam dan tidak ingin bertanya apapun pada Yuna sejak selesai mandi tadi.
Si kecil mengusap-usap perut Mommynya dengan sayang.
“Sayang, bagaimana jika kapan-kapan kita mengundang paman Er ke rumah untuk masak?” tanya Yuna pada si kecil. Laki-laki kecil itu mengangguk setuju. Sementara pria dewasa di sampingnya melirik tajam dari ekor mata.
“Iya, ya. Masakan Paman chef sangat lezat,” jawab si kecil.
“Baiklah, Mom akan meminta waktu pada Paman Er,” ujar Yuna.
“Sebut terus,” batin Leo. Dia mengalihkan pandangannya.
“Oh. Aku harus bertanya dulu pada Daddy, apakah Daddy setuju atau tidak,” ucap si kecil yang paham bagaimana Daddy. Ya, semua harus atas izin Daddy. Si kecil menoleh menatap Leo dan menggoyang-goyangkan lengannya. “Daddy, apakah kita boleh mengundang Paman Chef untuk masak di rumah?” tanyanya.
Leo menoleh, membawa tatapan tajamnya pada Yuna lalu beralih menjadi lembut saat menatap si kecil.
“Tidak boleh,” jawabnya lembut.
Si kecil nampak kecewa. “Kenapa Daddy?” tanyanya.
“Daddy yang akan masak untuk kalian,” jawab Leo.
Yuna mengalihkan pandangan dan mengulum senyumnya, menahan agar senyum itu tidak terlihat. Dia tetap pada posisinya. Dia tidak menghadap ke arah Leo.
“Asiik,” seru Arai. “Apakah saat masih kecil seperti ku, Daddy sudah belajar memasak?” tanya si kecil lagi.
Leo mengangguk. “Iya, terkadang, Oma mengajak Daddy saat memasak. Daddy belajar memecahkan telur, belajar menakar gula, dan menyeduh teh,” jawab Leo.
“Aku ingin belajar seperti Daddy. Aku ingin bisa memecahkan telur,” ujar si kecil.
Leo tersenyum lebar dan mengusap rambutnya. “Oke. Kapan-kapan kita masak bersama,” jawabnya.
Yuna mendengarkannya. Dia tersenyum dalam diamnya.
Kemudian, si kecil beralih pada Mommynya. Seketika... dia sadar jika ada yang tidak beres antara Mommy dan Daddynya. Namun dia ingat ucapan Mommy, jika terkadang orang dewasa memang saling diam, tapi bukan berarti saling membenci, mereka hanya membutuhkan waktu untuk diam. Jadi, si kecil tidak akan bertanya lagi. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Yuna. Dan Yuna langsung memeluknya.
Si kecil mengusap-usap perut Mommynya lagi.
“Kenapa adik belum bergerak lagi, Momm?” tanyanya.
“Mmm, mungkin adik sedang istirahat,” jawab Yuna dengan perhatian. “Sayang, Momm jadi lupa. Selain Daddy, kamu mau digendong sama siapa saja? Papi, Opa, Kakek, dan..."
Yuna sengaja menggantung kalimatnya.
"Paman baik," sahut si kecil tanpa berpikir panjang.
Yuna tersenyum tipis.
"Paman Vano?" ulangnya, sengaja mengucapkan nama itu sedikit lebih keras.
Leo langsung menoleh ke arah Yuna. Tatapannya tajam.
"Kalau nanti sudah sampai, kamu mau minta digendong Paman Vano?" tanya Yuna lagi.
Kini tatapan Leo semakin lekat. Bibirnya bergerak tipis menahan rasa kesal. Ia tahu Yuna sengaja menyebut nama itu berulang kali.
Si kecil mengangguk mantap.
"Iya."
“Oh ya... Kenapa kakak menyebut nama paman Vano dengan sebutan Paman baik?” tanya Yuna lagi.
“Karena dia paman baik,” jawab sikecil.
Leo mengalihkan pandangan lagi. Dia memperhatikan jalanan. Rahangnya mengeras, sementara sudut bibirnya bergerak menahan kesal.
Ini lebih dari sebuah omelan yang terampil. Benar-benar membuatnya kesal.
Tak lama, mobil mereka masuk ke gerbang tinggi rumah besar keluarga Nugaraha. Security dan asisten membungkukkan badan saat mobil Leo masuk.
“Yeyy, sampai,” si kecil bersorak. Dia melihat Kakak Zora berlari kecil menyambutnya di depan sana.
Si kecil lebih dulu keluar. Dia berlari karena Zora yang sudah menunggunya di sana. Asisten yang membukakan pintu mundur saat Leo memberi isyarat melalui tangannya. Leo menutup kembali pintu mobilnya dan ia segera membawa pandangannya pada Yuna.
Yuna ingin bertanya ‘kenapa,’ tetapi belum sempat ia bertanya, Leo lebih dulu memegang tengkuknya. Mendorong tubuh Yuna dengan tubuhnya.
nah gitu aja,kalo Yuna lagi ngambek jawabnya i love you,i love you,i love you terus aja leo🤣🤣,ya Allah aku ngakak
yaelaaaah aq d bawa k alam mimpi pas ngetik komen🤣🤣🤣🤣