Dua minggu pernikahan menjadi neraka bagi Freya Arunika. Ia baru menyadari dirinya hanya dijadikan tumbal saat memergoki perselingkuhan suaminya, Sean Ravindra, dengan Bianca—adik tirinya sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, hidup Freya sepenuhnya terkekang.
Namun, takdir berputar liar ketika Ravael, ayah kandung Sean sekaligus sosok penolong masa lalu Freya, kembali dari luar negeri. Jatuh cinta pada pandangan pertama tanpa tahu identitas Freya, obsesi Ravael justru semakin membara setelah mendapati wanita itu adalah menantunya.
Kini, Freya terjebak di antara dua pria sedarah: suami kejam yang membencinya, dan papa mertua berkuasa yang terobsesi memilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6.
Di dalam kabin mobil sport yang mewah dan senyap itu, Freya duduk dengan tubuh kaku. Tangannya yang dingin saling meremas di atas pangkuan. Keharuman aroma maskulin bercampur wangi kulit jok mobil yang mahal terasa begitu asing baginya.
Sudah dua minggu ini, satu-satunya aroma yang akrab di penciumannya hanyalah bau asap dapur, pembersih lantai, dan sisa keharuman parfum Bianca yang memualkan.
Sepanjang perjalanan, Rafael sesekali melirik ke arah spion tengah. Di bawah temaram lampu jalanan kota yang berkelebat, ia memperhatikan detail wajah Freya. Kulitnya yang putih pucat, hidungnya yang bangir, serta sepasang mata bulat yang menyiratkan luka mendalam.
‘Aku seperti pernah melihat wajah ini... tapi di mana?’ batin Rafael bergegas mencari memori di kepalanya. Wajah selembut dan secantik itu tidak mudah dilupakan, namun ingatan itu terasa begitu samar.
Merasa terus diperhatikan, Freya semakin menundukkan kepalanya. Rasa canggung dan ketakutan yang hebat mulai merayap di dadanya. Jantungnya berdegup liar karena panik.
‘Bagaimana kalau Sean melihatku? Bagaimana kalau ada orang rumah yang tahu aku pulang bersama pria asing dengan mobil semewah ini?’ pikir Freya frustrasi. Membayangkan kilat amarah di mata Sean saja sudah cukup membuat seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.
"Nona? Anda baik-baik saja?" suara bariton Rafael memecah keheningan, terdengar begitu hangat dan penuh perhatian.
Freya tersentak kecil, lalu mengangguk kaku tanpa berani menatap Rafael. "I-iya, Tuan. Saya baik-baik saja."
"Kita sudah hampir memasuki jalan utama. Kalau boleh tahu, di mana alamat rumah Anda?" tanya Rafael lagi sambil memutar kemudi dengan santai.
"Ah, itu... turunkan saja saya di minimarket dekat persimpangan kompleks perumahan di depan, Tuan," sahut Freya cepat, suaranya sedikit bergetar.
Rafael mengernyitkan dahi sekilas saat menyadari kawasan yang dimaksud Freya. Kompleks itu adalah salah satu kawasan terkaya dan paling elit di kota ini. Hanya orang-orang kelas atas dengan kekayaan melimpah yang bisa memiliki aset di sana.
"Kompleks perumahan elit itu? Anda tinggal di sana?" Rafael bertanya, tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
"I-iya," jawab Freya pendek, sengaja tidak menjelaskan detail blok atau nomor rumahnya.
Rafael terdiam sejenak, memikirkan sebuah kontradiksi yang aneh. Ia melirik pakaian Freya yang teramat sederhana—kaos pudar, celana kain longgar, serta tangannya yang membawa begitu banyak kantong plastik belanjaan dapur konvensional.
‘Apakah dia seorang ART di sana?’ pikir Rafael bingung. Namun, jika melihat garis wajahnya yang anggun, tatapan matanya yang terdidik, serta kelembutan tutur katanya yang berkelas, ia sama sekali tidak terlihat seperti seorang pelayan. ‘Tapi kalau dia seorang istri atau anak dari pemilik rumah di sana, kenapa dia dibiarkan belanja malam-malam menumpat angkutan umum dengan pakaian seperti ini? Itu tidak mungkin.’
"Dunia ini sempit sekali," Rafael terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Kebetulan, putra saya juga tinggal di kompleks yang sama. Tapi saya sendiri belum tahu alamat pastinya, karena saya baru beberapa hari ini pulang dari luar negeri dan belum sempat mengunjunginya."
Freya hanya mendengarkan tanpa benar-benar mencerna ucapan Rafael. Pikirannya terlalu penuh oleh bayangan hukuman yang mungkin akan diberikan Sean jika dirinya terlambat menyiapkan makan malam. Ketakutan itu menyita seluruh kewarasannya.
Mobil sport abu-abu itu akhirnya melambat dan menepi tepat di depan minimarket yang ditunjuk oleh Freya. Belum sempat mobil itu berhenti dengan sempurna, Freya sudah melepaskan sabuk pengamannya dengan tergesa-gesa.
"Tuan Rafael, terima kasih banyak atas tumpangannya. Maaf merepotkan Anda," ucap Freya buru-buru. Ia membuka pintu mobil dan langsung menyambar dua kantong belanjaan besarnya dengan panik.
"Eh, Nona, tunggu dulu—" Rafael hendak menahan, ingin bertanya lebih banyak atau setidaknya mengetahui nama wanita yang telah memikat hatinya itu. Namun, Freya sudah turun lebih dulu.
Dengan tubuh yang masih agak pincang, Freya mengendap-endap di samping mobil, matanya liar menyapu sekeliling, memastikan tidak ada mobil Sean atau mata-mata Bianca yang melihatnya. Setelah merasa aman, ia mengetuk kaca mobil Rafael yang perlahan turun.
"Terima kasih banyak, Tuan. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda," bisik Freya dengan senyum tulus yang teramat tipis, lalu segera berbalik dan berjalan cepat memasuki area kompleks yang remang-remang.
Rafael menatap punggung rapuh itu hingga menghilang di balik tikungan jalan. Ada rasa enggan untuk pergi, namun ia tahu tidak sopan jika terus mengejarnya. Akhirnya, Rafael perlahan menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya pergi dari sana.
Freya mengembuskan napas lega yang teramat panjang saat mobil mewah Rafael menjauh. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak di pilar gerbang luar, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila.
“Baguslah... Sean tidak tahu,” gumamnya lirih pada diri sendiri.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan tak lebih dari tiga detik.
CIIIITTTTT!
Suara derit ban yang bergesekan kasar dengan aspal terdengar begitu memekakkan telinga. Sebuah mobil sedan hitam mewah mendadak melesat dari arah dalam kompleks dan mengerem mendadak tepat di depan Freya, menutup jalannya.
Sorot lampu mobil yang begitu terang menusuk langsung ke mata Freya, membuatnya spontan memundurkan langkah hingga hampir terjatuh.
Darah Freya mendadak bergolak dingin. Ia mengenali mobil itu. Sangat mengenalinya.
Kaca mobil bagian kemudi perlahan turun, menampilkan wajah tampan Sean yang kini telah mengeras sempurna. Rahangnya berkerat, dan sepasang matanya yang sehitam malam menatap Freya dengan kilat kemarahan yang begitu pekat dan mematikan.
"Hebat sekali kau, Freya," suara Sean menggelegar, rendah namun sarat akan racun yang menusuk tulang. "Baru kutinggal sebentar, kau sudah berani menjajakan dirimu di pinggir jalan?"
Freya membeku, seluruh persendiannya mendadak lemas. "S-Sean... ini tidak seperti yang kau lihat—"
"Diam kau, jalang!" bentak Sean cadas, memotong kalimat Freya tanpa belas kasihan. "Kau pikir aku buta?! Aku melihatmu turun dari mobil sport mewah sialan itu! Siapa pria itu, hah?! Siapa bajingan yang sudah menyewamu malam ini?!"
Ternyata Sean baru saja hendak keluar kompleks dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Freya turun dari mobil Rafael.
"Tidak, Sean... dia hanya orang baik yang menolongku karena belanjaanku tumpah... angkot sudah sepi... aku bersumpah, Sean..." tangis Freya langsung pecah. Tubuhnya gemetar hebat menghadapi tuduhan keji dari suaminya sendiri.
"Masuk ke mobil!" perintah Sean mutlak, suaranya naik satu oktav. "Masuk sebelum aku menyeretmu dan merobek pakaian murahanmu itu di sini!"
Dengan air mata yang mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat, Freya membuka pintu mobil dengan tangan yang luar biasa gemetar. Ia masuk dan duduk di samping Sean, memeluk erat kantong belanjaannya seolah benda itu adalah pelindung terakhirnya.
Saat pintu mobil ditutup dengan debuman keras, Sean langsung menginjak gas dalam-dalam, membuat mobil melesat bak setan membelah kegelapan menuju mansion.
Di dalam kabin yang mencekam itu, Freya hanya bisa memejamkan mata erat-erat, menangis tanpa suara dalam ketakutan yang teramat sangat. Ia tahu, di balik dinding mansion nanti, neraka yang jauh lebih mengerikan dan siksaan yang lebih kejam dari sebelumya telah menunggunya.
*
*
*
JANGAN LUPA LIKE, COMENT, GIFT, DAN VOTE 🙏
🌺🌺🌺
bongkar kebusukan ibu & adik tiri Freya. . udah sabar bgt nih Freya di bully dan diselingkuhi tinggal cerai aja 🔥🔥🔥
semoga aja Freya Nerima Rafael setelah dicerai sean