NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Mikayla

Rumah Untuk Mikayla

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Ibu Tiri
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian Tengah Malam

Detak jarum jam dinding di kamar Kayla seolah berbunyi dua kali lebih keras malam ini. Angka digital di ponselnya telah merangkak naik menunjukkan pukul 20.45. Di luar, suasana kompleks perumahannya sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing tetangga dari kejauhan.

Sejak satu jam yang lalu, Kayla sudah berganti pakaian. Ia menanggalkan daster tidurnya, menggantinya dengan celana jins hitam ketat dan jaket hoodie longgar berwarna senada. Rambut panjangnya ia biarkan terurai bebas. Gadis itu mondar-mandir di dalam kamarnya yang remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu meja belajar. Pikirannya berputar hebat, menyusun strategi bagaimana cara keluar dari rumah tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Drrtt... Drrtt...

Ponsel di genggamannya bergetar, menampilkan satu notifikasi pesan singkat di layar kaca.

Gavin: “Gue udah sampe di ujung jalan perumahan lo. Sesuai janji. Lo buruan ke sini.”

Kayla menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak menggila. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan.

Kayla: “Tunggu bentar.”

Setelah memasukkan ponsel ke dalam saku jaket, Kayla melangkah mendekati pintu kamarnya. Ia memutar kunci dengan sangat perlahan, menahan napasnya agar suara klik besi tidak terdengar sampai ke lantai bawah. Begitu pintu terbuka sedikit, Kayla mengintip ke arah koridor lantai dua yang gelap gulita.

Ia melepas alas kakinya, memilih berjalan dengan kaus kaki agar langkahnya senyap. Kayla mulai mengendap-endap turun menuruni satu per satu anak tangga kayu yang biasanya sering berderit jika diinjak terlalu keras. Di setiap anak tangga, ia berhenti sejenak, memasang telinga tajam-tajam, memastikan tidak ada pergerakan dari arah bawah.

Begitu sampai di lantai dasar, Kayla melirik sekilas ke arah pintu kamar utama yang terletak tak jauh dari ruang tengah—tempat di mana ayahnya berada. Di bawah celah pintu kamar itu, tidak ada lagi seberkas cahaya yang mengintip keluar.

Harusnya jam sembilan ini Papih udah tidur, batin Kayla mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Biasanya, Pak Hendra memang selalu tidur tepat waktu karena harus bersiap kerja keesokan paginya.

Namun tetap saja, rasa takut tertangkap basah membuat lutut Kayla sedikit lemas. Kehadiran sosok Hesti tadi siang masih menyisakan rasa sesak di dadanya, dan malam ini, kabur bersama Gavin adalah satu-satunya cara bagi Kayla untuk menuntut kebebasannya yang dirampas. Ia tidak mau lagi dikurung dalam rumah yang perlahan terasa asing ini.

Kayla berjalan jinjit menuju pintu utama rumah. Di sana, tantangan terbesarnya dimulai. Kunci pagar dan kunci pintu rumah sengaja ditaruh ayahnya di atas bufet dekat TV. Dengan tangan yang agak gemetar, Kayla meraih anak kunci tersebut. Ia memasukkannya ke lubang kunci pintu, lalu memutarnya dalam dua kali putaran dengan amat sangat hati-hati.

Cklek.

Suara itu terasa begitu nyaring di telinga Kayla, membuatnya sempat mematung selama beberapa detik, takut jika ayahnya tiba-tiba terbangun dan keluar kamar. Setelah memastikan suasana tetap aman dan sunyi, Kayla mendorong pintu depan sedikit, menyelinap keluar, lalu merapatkannya kembali tanpa menguncinya dari luar—agar nanti ia bisa masuk lagi dengan mudah.

Embusan angin malam yang dingin langsung menerpa wajah Kayla begitu ia berhasil menginjakkan kaki di teras rumah. Ia segera memakai sepatu ketsnya dengan terburu-buru, lalu membuka selot pagar besi rumahnya dengan gerakan super halus.

Setelah pagar terbuka cukup untuk ukuran tubuhnya, Kayla menyelinap keluar. Begitu kakinya menapak di aspal jalanan kompleks, ia langsung berlari kecil tanpa menoleh lagi ke belakang. Rasa tegang yang semula menyelimutinya kini perlahan berubah menjadi letupan adrenalin yang memacu semangatnya. Ia merasa bebas.

Di ujung jalan perumahan, di bawah remang-remang lampu jalan yang bergoyang ditiup angin, sesosok cowok bersandar di atas motor sport hitamnya yang besar. Lampu utama motor itu sengaja dimatikan, hanya menyisakan lampu sen yang berkedip pelan. Gavin sedang mengisap sebatang rokok, namun langsung membuang dan menginjak baranya begitu melihat siluet seorang gadis berlari ke arahnya.

Gavin menyeringai lebar, sebuah senyuman kemenangan yang sangat kentara di wajah tampannya yang penuh rona nakal. "Gue kira lo bakal ciut dan milih dikurung di rumah, Princess," cemooh Gavin saat Kayla akhirnya sampai di depannya dengan napas yang sedikit terengah-engah.

Kayla tidak membalas candaan itu. Ia langsung menaiki jok belakang motor sport Gavin, mencengkeram bahu cowok itu sebagai pegangan. "Nggak usah banyak bacot. Jalan sekarang sebelum bokap gue sadar," titah Kayla tajam.

Gavin terkekeh geli melihat ketegasan Kayla yang tidak pernah luntur. Ia memakai helmnya, menyalakan mesin motornya yang langsung menderu keras membelah keheningan malam, lalu menarik gas dalam-dalam, membawa Kayla melesat jauh meninggalkan zona amannya menuju dunia malam yang liar dan tak terduga.

Suara deru knalpot yang memekakkan telinga langsung menyambut kedatangan mereka begitu ban motor Gavin menginjak area sirkuit liar yang terbengkalai. Arena itu jauh lebih bising daripada bayangan Kayla. Cahaya lampu dari sorot motor yang berjejer menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas aspal retak. Bau bensin, asap knalpot, dan aroma keringat dari kerumunan pemuda yang berkumpul di sana bercampur menjadi satu.

Kayla turun dari motor, merasa tubuhnya sedikit gemetar. Ini bukan dunianya. Ia terbiasa dengan ketenangan rumahnya yang dingin, bukan keributan yang penuh intimidasi seperti ini. Pandangannya menyapu sekeliling, merasa seperti mangsa yang masuk ke kandang serigala.

Belum sempat Kayla menenangkan diri, seorang cowok dengan jaket kulit lusuh dan rambut dicat pirang menghampiri mereka. Matanya menatap Kayla dengan cara yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.

"Wih, Vin, cewek baru nih? Selera lo makin berkelas aja ya," ucap cowok itu, suaranya terdengar serak. Ia melirik Kayla dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan yang sangat tidak sopan, seolah-olah sedang menakar harga jual sebuah barang.

Kayla merasakan darahnya mendidih karena risih. Ia membalas tatapan cowok itu dengan tatapan tajam dan dingin, sebuah peringatan agar tidak berani menyentuhnya sedikit pun.

"Boleh juga. Kalau dijadiin taruhan buat balapan kita kali ini, kayanya bakal makin seru, ya?" lanjut cowok itu sambil tertawa sumbang, memancing perhatian beberapa orang di sekitar mereka.

Mendengar kalimat itu, napas Kayla tertahan. Taruhan? Hatinya mencelos. Ia baru saja menyadari bahwa ia bukan dibawa untuk bersenang-senang, melainkan sekadar objek bagi ego cowok-cowok ini.

Namun, sebelum Kayla sempat meledak, Gavin melangkah maju. Cowok itu berdiri tegak di samping Kayla, tangan kanannya terulur untuk merangkul bahu Kayla dengan protektif—meskipun Kayla merasa rangkulan itu justru terasa seperti klaim kepemilikan.

"Eits, mata lo dijaga dong," ucap Gavin dengan nada suara rendah yang sarat akan ancaman. Senyum sombongnya menghilang, digantikan oleh tatapan dingin. "Dia punya gue. Jangan macem-macem. Lagian, lo juga nggak bakal menang lawan gue malam ini."

Gavin menarik Kayla lebih dekat, menjauhkannya dari jangkauan cowok pirang itu. "Yuk, Kay. Jangan dengerin sampah kayak dia."

Mereka berjalan menjauh ke arah garis start. Kayla terus merasa tidak nyaman. "Apa maksudnya taruhan tadi, Vin?" bisik Kayla penuh penekanan, matanya menatap Gavin menuntut penjelasan.

"Tenang aja, gue cuma main-main biar mereka takut," jawab Gavin enteng, seolah nyawa dan martabat Kayla hanyalah sebuah permainan kartu.

Tanpa mereka sadari, di balik tembok beton yang runtuh di sisi arena yang gelap, sepasang mata mengamati setiap gerak-gerik mereka. Sosok itu berdiri kaku, tertutup rapat oleh pakaian serba hitam, masker medis yang menutupi separuh wajah, dan topi hitam yang ditarik rendah hingga menyembunyikan matanya.

Tangannya mengepal erat di dalam saku jaket. Sosok itu sudah memantau Gavin dan Kayla sejak mereka memasuki area sirkuit. Napasnya teratur, nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan arena. Ia menunggu momen yang tepat, matanya tidak pernah lepas dari bahu Kayla yang dirangkul oleh Gavin.

Siapakah sosok itu? Apakah dia Arka yang sudah menyusul secara diam-diam karena khawatir? Atau mungkin orang lain yang memiliki dendam pribadi pada Gavin?

Kayla merasa bulu kuduknya meremang lagi. Dia merasa seolah-olah sedang diawasi oleh predator di kegelapan, namun setiap kali dia menoleh ke arah kegelapan, dia hanya melihat bayangan mati.

"Vin, gue nggak suka tempat ini," ujar Kayla lirih.

"Tanggung, Kay. Tunggu gue menang sekali, abis itu kita pergi dari sini," jawab Gavin tanpa menoleh. Dia sudah terfokus pada lawannya di garis start, tidak menyadari bahwa di balik bayang-bayang malam, bahaya yang sebenarnya mungkin sedang mengincar dirinya—atau justru mengincar gadis yang ia klaim sebagai miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!