NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:29.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8 Mana Kartu Kredit Mas?

Ardy mengerang tertahan. Ia membuka mata perlahan, merasakan sensasi nyeri yang menjalar dari leher hingga ke pinggangnya.

"Ah... sial," umpatnya lirih.

Ia mengusap tengkuknya yang terasa kaku, lalu menggerakkan bahunya yang seolah baru saja ditimpa beban puluhan kilogram. Semalaman penuh ia terpaksa tidur meringkuk di sofa kamar yang sempit karena Kirana benar-benar mengusirnya dari ranjang mereka.

Bagi pria dengan tinggi badan hampir seratus delapan puluh lima sentimeter seperti Ardy, tidur di sofa adalah sebuah siksaan mutlak.

Ardy mengembuskan napas kasar seraya mengusap wajahnya. Semua ini gara-gara Kirana. Istrinya itu benar-benar berubah drastis setelah kecelakaan. Biasanya, di jam segini Kirana sudah membangunkannya dengan suara lembut dan senyum manis. Wanita itu akan menyiapkan handuk, menyalakan pemanas air di kamar mandi, bahkan menyusun pakaian kerjanya dengan sangat rapi di atas ranjang.

Namun pagi ini, tidak sama sekali.

"Rana! Siapkan air hangat. Aku mau mandi sekarang. Dan jangan lupa ambilkan setelan jas abu-abu di lemari gantung, aku ada meeting direksi jam sembilan," panggil Ardy dengan suara serak, khas bangun tidur.

Tidak ada jawaban.

Ardy mengernyitkan dahi. "Rana? Kamu dengar aku, kan?"

Ruangan tetap sunyi. Dengan sisa rasa kesal, Ardy bangkit dari sofa, lalu menoleh ke segala arah.

"Kemana dia pagi-pagi begini?"

Ceklek!

Tepat saat itu, suara pintu kamar mandi terbuka. Ardy spontan menoleh.

Kirana melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut panjang yang masih basah. Tubuh rampingnya hanya dibalut selembar handuk putih tebal sebatas dada, memperlihatkan bahu dan jenjang lehernya yang bersih. Butiran-butiran air tampak masih mengalir dari ujung rambutnya dan melewati leher

Aroma sabun vanila yang manis dan lembut langsung menguar, memenuhi udara kamar

Untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, Ardy hanya mampu menatap tanpa berkedip. Entah kenapa, perempuan yang selama tiga tahun ini selalu ia anggap biasa saja, bahkan membosankan mendadak terlihat begitu berbeda.

Wajah Kirana tanpa riasan itu tampak jauh lebih segar. Tatapannya tak lagi menunduk malu seperti dulu, melainkan penuh percaya diri. Dan senyum tipis yang kini tersungging di bibirnya, justru membuat ritme jantung Ardy mendadak berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Shit!" umpat Ardy dalam hati. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela, menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Ada sesuatu yang aneh mengalir dalam darahnya.

Selama tiga tahun menikah, ia nyaris tak pernah benar-benar memandang Kirana sebagai seorang wanita seutuhnya. Pernikahan ini terjadi murni karena wasiat terakhir kakek Kirana yang dulu menyelamatkan perusahaan ayahnya dari kebangkrutan. Sebagai balas budi, keluarga Ardy menerima perjodohan itu. Ardy menganggap Kirana hanyalah beban kewajiban. Bahkan, satu-satunya malam di mana mereka berhubungan terjadi secara tak sengaja karena Ardy mabuk berat usai dijebak teman-temannya di sebuah kelab malam. Setelah malam itu, ia tak pernah lagi menyentuh Kirana.

"Pagi, Mas."

Suara lembut nan dingin dari Kirana membuyarkan lamunan Ardy. Wanita itu berjalan santai menuju meja rias, sama sekali tidak terlihat canggung atau gugup meski Ardy baru saja tertangkap basah memandanginya cukup lama.

"Pagi," balas Ardy kaku.

"Oh iya, maaf pagi ini aku nggak sempat nyiapin air hangat sama pakaian kerja kamu. Mas bisa ambil dan siapkan sendiri, kan?" ucap Kirana santai, tangannya sibuk menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil di depan cermin.

Ardy mengerutkan dahi, merasa tersinggung dengan nada bicara istrinya.

"Kenapa harus aku? Kamu kan istriku."

"Soalnya aku memang lagi buru-buru, Mas," jawab Kirana acuh tak acuh.

"Buru-buru mau kemana?" tanya Ardy penuh selidik.

Kirana berbalik, menatap suaminya dengan senyum manis. "Mau ke mall."

"Ke mall?" Ardy mengulang kalimat itu seolah Kirana baru saja bicara bahasa alien.

"Iya, ke mall." Kirana berjalan mendekati lemari pakaiannya dan membuka pintunya lebar-lebar. "Coba deh Mas lihat isi lemariku. Bajuku sudah ketinggalan zaman banget. Semuanya warna pudar, model ibu-ibu. Jadi aku memutuskan hari ini mau belanja."

Ardy menatap wajah istrinya tak percaya. Belanja? Seingat Ardy, selama tiga tahun menikah, Kirana nyaris tak pernah meminta uang sepeser pun untuk kesenangannya sendiri. Wanita itu selalu memakai baju yang sama bertahun-tahun, berdandan seadanya dan hanya keluar rumah untuk belanja sayur.

Hari ini, tiba-tiba ia ingin pergi ke mall? Apa kepalanya baru saja terbentur?

Belum sempat Ardy melontarkan pertanyaannya, Kirana sudah berjalan menghampirinya. Dengan santai, wanita itu mengulurkan sebelah telapak tangannya tepat di depan dada Ardy.

"Mana kartu kredit Mas?" pintanya lugas.

Ardy memundurkan wajahnya sedikit. "Apa maksudmu?"

"Kartu kredit Mas, dong. Jangan pura-pura amnesia deh," desak Kirana, ujung jarinya bergerak-gerak meminta.

"Mau kamu pakai untuk apa kartuku?" nada suara Ardy mulai meninggi.

"Ya ampun, Mas Ardy. Kita ini masih suami istri, kan? Berarti harta Mas... ya harta aku juga. Suami yang baik wajib menafkahi istrinya."

Jawaban telak itu sukses membuat rahang Ardy mengeras.

"Kirana, jangan bercanda. Aku sedang tidak mau main-main."

"Apa aku kelihatan sedang bercanda?" Kirana menghentikan tawanya. "Aku serius, Mas. Aku mau belanja."

"Kamu tahu berapa limit kartu kredit utamaku itu?"

"Nggak."

"Kalau kamu tidak tahu limitnya, buat apa kamu minta, hah?!" bentak Ardy tak sabar.

Bukannya takut, Kirana justru mengangkat bahunya dengan gaya paling rileks. "Ya nanti juga aku tahu sendiri setelah aku gesek di kasir."

"Kirana!" Ardy benar-benar kehilangan kesabaran. Pria itu bersedekap dada, menatap istrinya dengan sorot merendahkan. "Uang di kartu itu adalah hasil keringatku bekerja siang dan malam. Jangan seenaknya mau menghamburkannya!"

Kirana mengangguk pelan, seolah membenarkan ucapan Ardy.

"Ya, memang betul itu hasil kerjamu. Aku sama sekali tidak menyangkal, Mas," balas Kirana memangkas jarak di antara mereka hingga aroma vanilanya menusuk penciuman Ardy.

"Tapi jangan lupa, Mas Ardy yang terhormat, selama tiga tahun ini, aku juga bekerja di rumah ini."

Ardy mendengus keras, tertawa sinis. "Bekerja? Jangan konyol, Kirana. Kamu itu cuma di rumah seharian!"

Senyum di bibir Kirana seketika lenyap. Wajah cantiknya kini berubah sedingin bongkahan es di kutub utara.

"Cuma di rumah, katamu?" desis Kirana tajam. Ia menatap lurus tepat di manik mata Ardy.

"Lalu menurutmu, siapa yang bangun paling pagi di rumah ini untuk memastikan air mandimu hangat? Siapa yang memasak tiga kali sehari untuk menyesuaikan lidah ibumu yang cerewet? Siapa yang mencuci, menyetrika, dan melipat pakaian kalian sampai tidak ada satu lipatan pun yang salah?! Siapa yang merawat ibumu sampai begadang semalaman saat dia sakit?!"

Rentetan pertanyaan itu menghantam wajah Ardy bertubi-tubi.

"Semua itu aku yang kerjakan, Mas! Tangan ini yang membersihkan rumah besarmu!" Kirana mengangkat kedua tangannya di depan wajah Ardy. Ia lalu memiringkan kepalanya dengan tersenyum sinis.

"Coba Mas hitung deh, kalau semua pekerjaan itu dikerjakan oleh orang lain, chef pribadi, dan perawat lansia, Mas harus bayar gaji mereka berapa puluh juta setiap bulannya selama tiga tahun berturut-turut?!"

Ardy terdiam seribu bahasa. Mulutnya sedikit terbuka, namun tak ada satu pun kata yang mampu ia keluarkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, kesombongan Ardy berhasil dipatahkan oleh seorang Kirana.

1
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cakep jgn lm x satu bln
Nice1808
tuh Ardy krna kau mulaimencintai kirana tp kau gk mengakui perasaanmu🤣🤣🤣
Sri Rahayu
apa mungkin Siska hanya pura2 hamil agar Ardi selekasnya menikahinya 😇😇😇.... semoga Tristan mendpt kan bukti2 kejahatan dan kebohongan Siska...lanjut Thorr😘😘😘
stela aza
jangan lama2 donk Thor bikin Ardi jadi gembel ,,, q udh g sabar liatnya 🤭
Senja: Hehehe sabar y kak🤣
total 1 replies
Esther
Nanti kalau sakit beneran, gak akan ada orang yang percaya Siska, terlalu banyak berbohong sih.
Heni Fitoria
g sabar lihat kehancuran nya Ardy, perusahaan bangkrut, tahu kenyataan klu anak yg dikandung Siska BKN anaknya 🤭🤭🤭
Heni Fitoria
doa mu tak aamiin kan Kirana
Deasy Suryandari
lanjoooot
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy
Nice1808
tuh org diam di ganggu dia akn melebihi singa ngamuk🤣🤣kirana akan bertindak dan kalian akn jd gembel ardy, sarah dan kau siska🤭🤣
Nice1808
gak sadar kau ardy, kau yg berkhianat malah nuduh kirana selingkuh, bagus kirana lawan aja tuh ardy yg sok berkuasa🤣
Sri Rahayu
ayo cepet bantu Kirana bikin Ardi bangkrut, kahilangan segalanya Tristan... dan buka kedok sprt apa Siska sebenarnya...lanjut Thorr😘😘😘
sunaryati jarum
Ah emak tidak sabar melihat kemiskinan Ardy dan runtuhnya kesombongannya ibunya dan Siska.Emak juga ingin tahu reaksi Ardy jika terbongkar anak yang dikandung Siska bukan anaknya.
sunaryati jarum
Benar balikan tuduhan padamu ke Ardy yang tidak berkaca pada dirinya sendiri, semoga dalang terjadinya kecelakaan padamu segera terungkap dan pelakunya ditangkap bersama bukti yang tidak bisa dibantah
stela aza
ceritanya keren, karakter toko utama perempuan nya hebat ,,, g cengeng kaya di novel lain ,,, yg bisanya cuma nangis,,, pokoknya best bgt ceritanya ❤️❤️❤️❤️
stela aza
good job Kirana ,, q suka gayamu ❤️❤️❤️
🇦 🇵 🇷 🇾👎
yes😀
Elina thea
benar Kirana buat si Ardy bangkrut...dgn dia bangkrut maka selingkuhannya juga pergi karna gak tahan hidup miskin
Margaretha Indrayani
ardy tidak berkaca dirinya lebih parah karena malah membawa pulang siska
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bntr lg jd suami tan🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!