NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 10

****

Cahaya fajar menyemburat malu-malu di ufuk timur, mengusir sisa-sisa badai semalam yang kini hanya meninggalkan jejak tetesan air yang ritmis dari ujung atap sirap. Kabut pegunungan yang tipis berarak rendah di luar jendela, namun di dalam kamar utama rumah joglo, udara terasa begitu hangat dan lekat. Bau harum dupa ratus yang semalam dibakar kini berpadu dengan aroma wangi kayu cendana yang menguar dari tubuh sang juragan.

Larasati perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi sentakan kepanikan yang biasanya langsung memburu jantungnya setiap kali fajar tiba. Hal pertama yang ia rasakan adalah kungkungan hangat yang protektif di sekeliling tubuhnya. Lengan kokoh Raden Mas Baskoro masih menjadi bantal di bawah lehernya, sementara tangan besar pria itu melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh mungil Larasati tanpa jarak ke dada bidangnya yang hangat.

Larasati mendongak sedikit dengan gerakan yang teramat pelan. Jantungnya berdesir manis saat mendapati Baskoro ternyata sudah terjaga. Pria empat puluh tahun itu tidak sedang memejamkan mata atau bersiap pergi ke perkebunan seolah terburu-buru. Ia hanya berbaring miring, menumpu kepalanya dengan tangan yang lain, menatap lurus ke arah Larasati dengan sepasang manik mata yang dalam—sorot mata yang kini sepenuhnya melunak, kehilangan seluruh keangkuhan besi yang selama ini dipakainya di depan publik.

"Sudah bangun, Nduk?" bisik Baskoro. Suaranya terdengar sangat rendah, parau khas bangun tidur, namun membawa kelembutan murni yang menggetarkan dada Larasati.

Wajah Larasati seketika merona merah padam. Mengingat kembali setiap detail penyatuan intens di bawah gulita dan badai semalam, jiwanya yang polos diliputi rasa canggung yang teramat sangat. Ia mencoba menarik selimut jarik sidomukti lebih tinggi untuk menyembunyikan wajahnya yang menghangat.

"I-Inggih, Raden Mas..." bisik Larasati lirih, suaranya nyaris tenggelam di balik lipatan kain. "Nyuwun sewu, kulo... kulo terlambat bangun lagi. Apakah Raden Mas sudah lama terjaga?"

Baskoro terkekeh rendah—sebuah suara bariton yang begitu renyah dan terdengar sangat lepas, sesuatu yang belum pernah didengar oleh siapa pun di bawah atap joglo ini. Ia mengulurkan tangannya, dengan lembut menarik ujung selimut yang menutupi wajah istrinya, lalu mengusap pipi Larasati yang merona dengan ibu jarinya yang kasar.

"Aku sudah terjaga sejak kokok ayam pertama, Laras," jawab Baskoro lekat. Tatapannya tidak beralih barang sedetik pun dari wajah jelita di hadapannya. "Memandangi wajah tidurmu... rasanya jauh lebih menenangkan daripada memeriksa ratusan lembar pembukuan tanah desa."

"Raden Mas jangan menggoda kulo..." Larasati menundukkan matanya, menyembunyikan senyuman manis yang tak mampu ia tahan. Namun, saat ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit untuk bangkit, rasa nyeri dan perih yang samar di bagian bawah tubuhnya mendadak berdenyut kembali, membuatnya berjengit kecil dan mendesis halus. "Ahh..."

Baskoro dengan sigap mempererat pelukannya, menahan tubuh Larasati agar tetap diam di tempat. Gurat cemas sempat melintas di wajah paruh bayanya. "Jangan dipaksa bergerak dulu, Nduk. Tubuhmu pasti masih lelah dan... masih terasa sakit, bukan? Maafkan aku jika semalam aku terlalu egois dan kurang berhati-hati padamu."

Larasati menggeleng cepat, tangan kecilnya memberanikan diri menyentuh dada bidang Baskoro, merasakan detak jantung suaminya yang konstan di bawah telapak tangannya. "Mboten, Raden Mas. Kulo... kulo mboten menuduh Anda begitu. Kulo justru bersyukur karena Anda teramat sabar menuntun kulo semalam. Rasa perih ini... kata Ibu dulu, memang wajar untuk pertama kalinya bagi seorang wanita."

Baskoro menatap istrinya dengan tatapan yang sarat akan rasa takzim dan rasa bersalah yang kini melebur menjadi kasih. Ia menundukkan wajahnya, mengecup kening Larasati dengan sangat lama dan penuh penekanan, seolah menyegel sumpah setia yang baru di pagi yang bening ini.

"Mulai hari ini, panggil aku 'Mas Baskoro' saat kita hanya berdua di kamar ini, Laras. Hapus sebutan 'Raden Mas' yang kaku itu. Aku adalah suamimu, bukan majikanmu," ucap Baskoro lirih di depan bibir Larasati.

"Inggih... Mas Baskoro," ucap Larasati canggung, namun nama itu terasa begitu indah dan manis saat mengalir dari bibirnya sendiri.

Matahari mulai meninggi ketika Larasati akhirnya berhasil turun dari ranjang dengan langkah yang agak perlahan dan canggung. Setelah membasuh muka dan merapikan pakaiannya dengan kebaya katun lurik yang bersih, ia melangkah keluar menuju selasar dalam untuk membantu menyiapkan sarapan.

Sementara itu, Mbok Sum berjalan perlahan mendekati pintu kamar utama yang sudah terbuka sedikit. Tugas paginya adalah merapikan kamar sang juragan. Dengan langkah setengah membungkuk penuh takzim, wanita tua itu mendorong pintu kayu jati tersebut.

Krieeek...

Mbok Sum melangkah masuk, namun langkah kakinya mendadak terhenti di dekat tepi ranjang. Matanya yang sudah rabun ayam seketika terbelalak menatap pemandangan di depannya. Guling besar yang selama seminggu ini tegak berdiri sebagai pembatas suci di tengah ranjang kini tergeletak begitu saja di lantai bawah kasur, terabaikan.

Pandangan Mbok Sum kemudian beralih ke atas ranjang jati yang luas. Di atas seprai sutra putih yang tampak berantakan dan kusut masai akibat pergulatan asmara yang intens semalam, terdapat seulas noda merah kecil yang sudah mengering—sebuah tanda suci rohani yang tak terbantahkan.

Mbok Sum seketika menjatuhkan lututnya ke lantai tegel yang dingin. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, dan air mata haru perlahan merembes dari sudut mata tuanya yang berkerut. Tubuhnya bergetar bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa syukur yang teramat membuncah ke angkasa.

"Matur nuwun, Gusti Pangeran... Matur nuwun," bisik Mbok Sum dengan suara yang gemetar menahan tangis haru. "Jagat joglo ini akhirnya tidak lagi gersang. Sang permaisuri... rumah ini telah memiliki seorang ibu yang seutuhnya."

Tepat saat Mbok Sum masih bersujud dengan mata berkaca-kaca, Larasati melangkah masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil wadah air. Ia tertegun melihat pelayan tuanya bersujud di dekat tempat tidur.

"Mbok Sum? Kenapa bersujud di lantai? Bangunlah, Mbok," ucap Larasati cemas, buru-buru mendekat dan mencoba membantu Mbok Sum berdiri.

Mbok Sum perlahan mengangkat wajahnya, menatap Larasati dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh rasa hormat yang jauh lebih dalam, namun dicampur dengan binar keibuan yang hangat. "Gusti Nyai... Nyuwun sewu. Hamba menangis karena bahagia. Melihat guling pembatas itu roboh, dan melihat... tanda suci di atas ranjang Anda. Jiwa tua hamba sangat lega, Gusti. Sekarang, tidak akan ada lagi yang berani meragukan kedudukan Anda di rumah ini."

Wajah Larasati kembali memerah sempurna hingga ke lehernya. Ia melirik sekilas noda di seprai sutra, lalu menunduk malu. "Mbok... tolong ganti seprainya dengan yang bersih ya. Kulo... kulo sangat sungkan."

"Sendika dawuh, Gusti Nyai. Dengan seluruh jiwa raga hamba," jawab Mbok Sum dengan senyuman yang teramat lebar, buru-buru bangkit dan dengan takzim mulai merapikan ranjang tersebut seolah memegang benda paling berharga di dunia.

Di ruang makan depan yang luas, suasana terasa begitu hening namun tidak lagi mencekam. Sinar matahari pagi menerangi meja makan panjang berbahan kayu jati utuh. Di atasnya, telah tersaji nasi putih hangat, sayur lodeh rempah, dan ayam goreng yang harum. Raden Mas Baskoro sudah duduk rapi di kursinya, mengenakan kemeja lurik tinggi lengkap dengan kain jarik cokelat gelap yang berwibawa.

Larasati melangkah mendekat membawa teko kuningan berisi wedang jahe. Langkah kakinya yang masih agak canggung dan sedikit menahan linu diatur seanggun mungkin. Ia mendekati piring Baskoro, meraih centong kayu, lalu menyendokkan nasi ke piring suaminya. Kali ini, tangannya tidak lagi gemetar hebat seperti tempo hari. Centong kayu itu bergerak tenang, tanpa ada suara benturan yang kasar.

"Nasi, Raden Mas..." ucap Larasati lembut, refleks kembali menggunakan panggilan formal karena mereka berada di ruang terbuka yang bisa didengar abdi dalem.

Baskoro meletakkan kertas pembukuan tanah desa yang sedang dibacanya. Ia beralih menatap Larasati yang berdiri di sampingnya. Pria empat puluh tahun itu tidak membiarkan Larasati kembali ke tempatnya berdiri seperti pelayan. Dengan sebuah gerakan yang mengejutkan dua pelayan muda yang sedang berjaga di sudut ruangan, Baskoro mengulurkan tangannya yang besar, lalu menggenggam jemari kecil Larasati dengan erat di atas meja.

Dua pelayan di sudut ruangan seketika menundukkan kepala mereka dalam-dalam, menahan napas menyaksikan keintiman yang tak biasa dari juragan mereka.

"Duduklah di sebelahku, Larasati. Makanlah bersamaku," perintah Baskoro. Suaranya rendah dan dalam, membawa ketegasan mutlak namun nadanya teramat teduh.

Larasati menatap genggaman tangan suaminya, lalu mengangguk pelan dan duduk di kursi tepat di sebelah Baskoro. Genggaman tangan itu tidak dilepaskan oleh Baskoro, bahkan saat pria itu mulai menyendok nasinya sendiri menggunakan tangan yang lain. Tindakan protektif dan penuh kasih di depan para abdi dalem ini seolah menjadi maklumat tak tertulis bagi seluruh penghuni joglo: bahwa sekat kasta di antara sang juragan dan gadis desa itu telah runtuh sepenuhnya bersama badai semalam.

"Setelah ini, aku harus pergi ke perkebunan tebu di bulak barat sampai sore," ucap Baskoro tanpa menoleh, namun ibu jarinya terus mengusap punggung tangan Larasati dengan lembut di bawah tepi meja. "Jaga dirimu baik-baik di rumah. Jika tubuhmu masih terasa lelah, perintahkan Mbok Sum untuk membuatkan jamu kunyit asam hangat untuk meredakan... linu di tubuhmu."

Larasati menyembunyikan wajahnya yang merona di balik cangkir wedang serehnya. "Inggih, Raden Mas. Kulo akan menjaga rumah dengan baik selama Anda pergi."

Baskoro menghentikan makannya sejenak, menoleh sepenuhnya menatap mata Larasati dengan tatapan penuh perlindungan yang kokoh bagai dinding jati. "Rumah ini adalah rumahmu juga sekarang, Nyai Larasati. Dan suamimu ini... akan selalu pulang kepadamu."

Di bawah kehangatan mentari pagi yang kian meninggi, Larasati mengangguk pelan dengan kedamaian yang membuncah di dadanya. Babak baru kehidupan mereka di bawah atap joglo yang angkuh kini tidak lagi terasa seperti sebuah penjara bawah tanah yang dingin, melainkan sebuah awal dari jagat asmara yang kelak akan mengikat jiwa mereka dalam jalinan takdir yang abadi.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!