Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
...Sementara itu, di rumah Ratri, matahari pagi telah meninggi. Indra dan Imelda baru saja bangkit dari tempat tidur dengan malas....
...Mereka meregangkan tubuh di atas ranjang yang masih berantakan, sama sekali tidak tahu bahwa pemilik sah kamar tersebut telah menyaksikan kehinaan mereka semalam....
...Indra duduk di tepi ranjang sambil menyisir rambutnya dengan jari, sementara Imelda bersandar di kepala tempat tidur dengan senyum puas....
..."Kapan wanita itu pulang, Mas?" tanya Imelda, memecah keheningan pagi dengan nada malas saat menyebut nama Ratri....
...Indra mendengus, wajahnya menunjukkan rasa bosan....
..."Entahlah. Lebih baik dia tidak usah pulang sekalian."...
...Mendengar jawaban ketus dari kekasih gelapnya, Imelda justru tertawa terbahak-bahak....
...Suaranya yang cempreng menggema di dalam kamar....
..."Tidak boleh begitu dong, Mas," ujar Imelda setelah tawa sudut bibirnya mereda....
...Ia mencolek dagu Indra dengan manja. "Kalau dia tidak pulang, kamu mau dapat uang dari mana? Dia itu kan ATM berjalan untuk kamu... dan tentu saja untuk aku."...
...Indra tertegun sejenak, lalu tawa kecilnya ikut meledak....
..."Kamu benar juga. Ya sudah, biarkan dia kerja keras di atas langit sana."...
...Tepat saat mereka sedang asyik menertawakan kebodohan Ratri, pintu kamar diketuk dengan kasar dari luar....
...Suara riuh Tasya dan Gabriel terdengar bersahutan....
..."Papa! Tante! Aku berangkat kuliah dulu ya!" seru Gabriel dari balik pintu....
..."Pa! Mana uang sakuku?" susul Tasya dengan nada menuntut yang tinggi....
...Kedua anak itu sama sekali tidak canggung meminta uang, meskipun mereka tahu di dalam kamar itu ada selingkuhan ayahnya....
...Imelda bangkit dari ranjang. Dengan hanya mengenakan gaun tidur tipis, ia membuka pintu kamar sedikit....
...Sambil memamerkan senyum palsunya, ia merogoh dompet mewah—yang dibeli dengan uang Ratri—lalu mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu....
..."Ini, sepuluh juta untuk kalian berdua." ucap Imelda sambil menyodorkan uang tersebut....
...Tasya dan Gabriel langsung merebut uang itu dengan mata berbinar....
..."Wah, makasih banyak, Tante Imelda! Tante emang yang terbaik!" seru Tasya girang, jauh lebih menghormati Imelda daripada ibu kandung mereka sendiri yang bersusah payah membiayai kuliah mereka....
...Setelah kedua remaja itu berbalik dan melangkah pergi dengan tawa riang menuju kampus, Imelda kembali menutup pintu kamar....
...Ia berjalan mendekati Indra yang sedang memainkan ponselnya di tepi kasur....
...Imelda duduk di pangkuan Indra, lalu melingkarkan tangannya di leher pria itu....
..."Mas, coba kamu hubungi Ratri sekarang."...
...Indra mengernyitkan dahi....
..."Untuk apa?"...
..."Coba tanya kapan dia pulang," bisik Imelda dengan nada menghasut....
..."Kita harus tahu jadwalnya agar kita bisa bersiap-siap. Jangan sampai dia tiba-tiba datang dan merusak kesenangan kita di rumah ini."...
...Indra mengangguk setuju....
...Dengan santai, ia mulai mencari nama 'Ratri' di kontak ponselnya, bersiap melakukan panggilan tanpa sedikit pun menyadari bahwa nomor yang ia hubungi kini berada dalam pengawasan penuh seorang pria yang siap menghancurkan hidupnya....
...Drrt.... Drrt.......
...Getaran ponsel di atas meja memecah keheningan kamar apartemen....
...Ratri menoleh ke arah tasnya yang semalam diletakkan oleh Devandra di sana....
...Devandra melangkah mendekat, mengambil ponsel tersebut dari dalam tas, lalu melihat layarnya....
..."Indra?"...
...Ratri melihat nama yang tertera di layar. Seketika, rasa muak dan benci kembali bergolak di dadanya....
...Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. Ratri menganggukkan kepalanya perlahan....
...Devandra menyodorkan ponsel itu ke tangan Ratri, lalu berbisik dengan nada penuh perhitungan, "Kamu angkat. Katakan kalau kamu masih lama pulangnya, mungkin beberapa hari lagi. Biarkan mereka merasa aman. Nanti malam, kita akan beri mereka kejutan dengan datang ke sana secara tiba-tiba."...
..."Iya, Dev," jawab Ratri dengan tatapan mata yang kini berubah sedingin es....
...Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya....
..."Halo, Mas?" ucap Ratri, berusaha menjaga suaranya agar terdengar lelah seperti biasanya setelah penerbangan panjang, tanpa menunjukkan emosi apa pun....
..."Halo, Rat? Kamu di mana sekarang? Kok baru angkat telepon?" suara Indra terdengar dari seberang sana, tanpa ada nada rindu sedikit pun, hanya ada nada menuntut yang kentara....
..."Aku masih di Belanda, Mas. Ada kendala teknis dan perubahan jadwal mendadak dari maskapai. Sepertinya aku masih lama pulangnya, mungkin beberapa hari lagi baru bisa kembali ke Jakarta," bohong Ratri dengan mulus....
...Di seberang telepon, Indra sempat terdiam sejenak, namun terdengar helaan napas lega yang samar....
..."Oh, begitu ya? Ya sudah tidak apa-apa. Lagipula di rumah juga aman-aman saja."...
...Indra berdeham sejenak sebelum masuk ke inti tujuannya menghubungi sang istri....
..."Oh iya, Rat. Mumpung kamu belum pulang, tolong kirimkan uang seratus juta sekarang juga ke rekeningku. Ini darurat, untuk pembayaran kuliah Tasya dan Gabriel. Katanya ada biaya administrasi tambahan yang harus dilunasi hari ini."...
...Mendengar kebohongan suaminya—padahal beberapa menit lalu Imelda baru saja memberikan uang saku satu juta kepada anak-anaknya—Ratri mencengkeram sprei kasur dengan erat. Senyum getir menghiasi bibirnya yang terluka....
..."Seratus juta, Mas?" tanya Ratri dengan nada tenang yang dipaksakan....
..."Bukannya tiga hari lalu aku sudah mentransfer seluruh gajiku bulan ini ke rekeningmu? Semua uangku sudah kukirimkan untuk keperluan rumah dan tabungan anak-anak. Aku sama sekali tidak ada pegangan uang lagi sekarang, Mas. Hanya tersisa uang saku harian yang pas-pasan untuk makanku di sini."...
...Suara Indra di seberang sana langsung meninggi, terdengar tidak sabar dan kesal....
..."Aduh, Rat! Masa uang sebanyak itu sudah habis? Kamu kan kapten pilot, jam terbangmu tinggi, masa uang seratus juta saja tidak ada? Anak-anak bisa terhambat kuliahnya kalau kamu tidak kirim sekarang!"...
...Indra menarik napas panjang, lalu menurunkan nadanya, mencoba memohon dengan gaya manipulatifnya yang biasa....
..."Tolonglah, Rat. Kamu kan bisa pinjam dulu ke maskapai? Atau kasbon dulu ke manajemen tempatmu bekerja. Potong gaji bulan depan kan bisa? Perusahaanmu kan besar, masa pinjam sepuluh juta untuk urusan mendesak begini tidak diberi? Tolong usahakan ya, demi anak-anak kita."...
...Ratri memejamkan matanya sejenak. Mendengar suaminya yang tanpa tahu diri memintanya mengemis pinjaman ke maskapai demi menghidupi selingkuhannya di rumah, membuat rasa bersalah Ratri selama ini menguap sepenuhnya....
...Yang tersisa kini hanyalah tekad bulat untuk menghancurkan pria di seberang telepon ini....
...Ratri melirik ke arah Devandra yang berdiri di sampingnya. Devandra hanya memberikan isyarat anggukan kecil dengan senyum misterius di wajahnya....
..."Baiklah, Mas," jawab Ratri akhirnya dengan suara...
...datar. "Akan aku usahakan bicara dengan manajemen di sini nanti. Nanti malam aku kabari lagi bagaimana kelanjutannya."...
..."Nah, begitu dong! Ya sudah, aku tunggu ya uangnya. Jaga diri baik-baik di sana," ucap Indra cepat, langsung menutup panggilan sepihak tanpa menunggu kalimat perpisahan dari istrinya....
...Ratri menurunkan ponselnya dan melempar benda itu ke atas kasur....
...Ia menatap Devandra dengan tatapan yang membara....
..."Kamu dengar sendiri kan, Dev? Dia bahkan memintaku meminjam uang ke maskapai."...
...Devandra tersenyum sinis, lalu melipat kedua tangannya di dada....
..."Biarkan saja dia bermimpi, Ratri. Karena nanti malam, bukan uang seratus juta yang akan datang ke rumah itu... melainkan badai yang akan meruntuhkan seluruh hidup mereka."...
..."Nanti malam kamu ikut, Dev?" tanya Ratri, menatap lurus ke arah pria di hadapannya....
...Ada secercah harapan di matanya agar ia tidak perlu menghadapi kawanan parasit itu sendirian....
...Devandra mengangguk tenang, namun sorot matanya memancarkan ketegasan....
..."Aku ikut. Tapi aku akan menunggu di dalam mobil terlebih dahulu. Biarkan kamu yang masuk dan menghadapi mereka. Aku ingin kamu melihat sendiri bagaimana wajah-wajah tak tahu diri itu berubah pucat saat melihatmu."...
...Devandra menjeda kalimatnya, lalu tersenyum dingin....
..."Tapi, kalau Indra sudah kelewat batas atau berani bermain fisik kepadamu, detik itu juga aku yang akan langsung masuk dan membereskan bajingan itu."...
...Ratri mengembuskan napas lega. Kehadiran Devandra di belakangnya memberikan suntikan kekuatan yang luar biasa....
..."Sekarang," lanjut Devandra sambil menyodorkan kembali ponsel Ratri, "ambil ponselmu. Buka aplikasi perbankan, lalu blokir semua akses kartu debit, kartu kredit, dan rekening yang selama ini mereka gunakan. Putus aliran uang mereka sekarang juga. Setelah itu, matikan ponselmu total agar Indra tidak bisa menerormu dengan telepon atau pesan makian saat dia sadar kartunya ditolak."...
...Ratri menerima ponselnya tanpa ragu. Jemarinya bergerak dengan sangat tenang dan teratur di atas layar....
...Satu per satu, ia memblokir kartu kredit tambahan atas nama Indra, Tasya, dan Gabriel....
...Ia juga memindahkan seluruh saldo dari rekening bersama ke rekening pribadi barunya yang tidak bisa diakses oleh siapa pun....
...Klik....
...Dengan satu tekanan tombol terakhir, ponsel pintar itu mati total....
...Layarnya menghitam, sekalian menandakan berakhirnya era Ratri sebagai "ATM berjalan" bagi keluarga parasit tersebut....
..."Sudah selesai, Dev," ucap Ratri tegas....
...Devandra tersenyum puas, seolah melihat sang kapten telah siap menerbangkan jet tempurnya....
..."Bagus. Istirahatlah lagi untuk mengumpulkan tenagamu. Nanti malam, kamu akan datang ke rumah itu dengan kepala tegak, dan memberikan 'kejutan pernikahan' paling tak terlupakan yang pernah mereka rasakan."...
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒