⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Laporan itu mendarat di meja kayu kasar tiga hari setelah anomali pertama tercatat oleh jaringan mata-mata Slane Theocracy.
Bukan laporan resmi dari Kantor Pusat. Hanya catatan lapangan berdarah-darah dari seorang agen rendahan—seorang pedagang penyamaran yang sudah tiga tahun mengumpulkan serpihan informasi soal pergerakan Elf Kingdom dari jarak aman.
Isinya singkat, namun cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.
"Sejak empat hari lalu, segerombolan monster di sektor selatan bergerak tidak normal. Burung meninggalkan hutan secara massal, seolah diusir oleh ketakutan murni. Predator darat menghindari area tertentu tanpa sebab yang bisa diidentifikasi secara visual atau magis. Penduduk desa perbatasan melaporkan 'tekanan' di udara. Tidak ada tanda-tanda aktivitas militer Elf. Penyebab: Tidak diketahui."
Strix membaca catatan itu dua kali. Jari-jarinya yang berselubung sarung tangan kulit halus menelusuri kata-kata tersebut.
Lalu ia melipat kertas itu dengan presisi militer dan memasukkannya ke dalam saku jubahnya.
"Aquila," panggilnya tanpa menoleh. Suaranya datar, seperti batu yang digeser.
Dari balik bayang-batang pohon raksasa di belakangnya, sosok yang lebih kurus dan lebih muda melangkah keluar. Di bahunya bertengger seekor elang botak kecil, matanya terlalu tajam, terlalu cerdas untuk ukuran burung biasa. Bulu-bulunya tampak berdiri, gelisah.
"Sudah kubaca," jawab Aquila. Suaranya rendah, waspada.
"Pendapatmu?"
Aquila menatap peta kasar yang terbentang di atas batu lumut di antara mereka. Jarinya menunjuk sebuah wilayah hijau tua yang ditandai dengan lingkaran merah tipis.
"Sektor selatan itu bukan jalur militer utama Elf. Tidak ada pos komando, tidak ada jalur suplai logistik yang signifikan. Secara strategis, itu area mati."
"Tapi kelompok monster itu kabur."
"Iya."
"Predatornya menghindari area tertentu. Bahkan serigala hutan yang lapar pun memilih kelaparan daripada masuk ke sana."
"Iya."
Strix menatap peta itu, matanya menyipit. Instingnya, yang telah diasah melalui puluhan misi infiltrasi, berdenyut nyeri.
"Elf tidak butuh jalur militer untuk menyembunyikan sesuatu. Tapi mereka butuh alasan untuk membuat hutan itu 'beracun' bagi indra siapapun."
Aquila tidak menjawab. Ia tahu itu bukan pertanyaan. Itu adalah kesimpulan yang mengerikan.
Mereka memasuki wilayah Elf Kingdom menjelang sore, saat cahaya matahari mulai terfilter menjadi emas kemerahan melalui celah-celah daun.
Lima orang. Bergerak dalam formasi segitiga terbalik yang sudah ratusan kali mereka latih hingga menjadi refleks otot. Strix di depan, sihir Silence Wind aktif menciptakan zona hampa suara di sekelilingnya. Aquila di sisi kanan, elangnya terbang rendah di atas pohon, bertindak sebagai mata udara. Corvus di sisi kiri, kini telah berganti pakaian menjadi seragam ranger Elf yang dicuri dari mayat patroli sebelumnya—penyamaran sempurna. Alcedo di tengah, siap mendukung sihir angin, dan Vultur paling belakang, bertugas menghapus jejak kaki dan aroma.
Tidak ada yang berbicara.
Komunikasi dilakukan lewat kode tangan mikro yang mereka kembangkan sendiri selama bertahun-tahun. Satu kedipan mata, satu gerakan jari, sudah berarti perintah kompleks.
Hutan menerima mereka dengan senyap yang tidak wajar.
Strix tiba-tiba berhenti di balik batang pohon ek raksasa, mengangkat tangan kanan membentuk kepalan—tanda halt. Seluruh regu membeku seketika, melebur menjadi bagian dari bayangan.
Strix memindai sekeliling. Matanya yang terlatih mencari pola, mencari ancaman.
Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada kicau burung kecil. Tidak ada gemerisik tikus hutan di antara akar-akar yang menonjol. Untuk hutan selebar ini, di jam sibuk hewan nokturnal, keheningan itu terlalu sempurna. Terlalu steril.
Rasanya seperti berjalan di dalam ruang hampa.
Aquila mendekat, langkah kakinya tidak menimbulkan bunyi sedikitpun. Ia membungkuk dekat telinga Strix, berbisik sangat pelan, nyaris hanya berupa hembusan napas.
"Elangku menolak terbang lebih jauh ke selatan, Kapten."
Strix menoleh, alisnya terangkat sedikit di balik topeng.
"Menolak?"
"Dia terbang memutar. Panik. Sudah dua kali kucoba arahkan dengan perintah mental. Dia lebih memilih jatuh dari ketinggian daripada terbang melewati batas garis tak terlihat itu."
Familiar yang sudah terlatih bertahun-tahun, yang biasanya patuh buta, menolak perintah.
Strix memproses informasi itu dalam diam. Otaknya bekerja cepat, menimbang kemungkinan.
Kemungkinan pertama: Ada sihir penghalau hewan tingkat tinggi. Beberapa tipe sihir ilusi atau teritorial memang bisa mempengaruhi insting dasar hewan, memaksa mereka menjauh.
Kemungkinan kedua: Ada sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi sebagai ancaman oleh sistem pengenalan sihir normal manusia atau elf, tapi bisa dirasakan oleh insting purba hewan. Sesuatu yang "salah" secara fundamental terhadap hukum alam.
Kemungkinan kedua jauh lebih merepotkan. Dan jauh lebih berbahaya.
Strix memberi kode tangan: Lanjut. Waspada Tingkat Merah. Siapkan antidote dan scroll teleport darurat.
Sementara itu, sekitar dua kilometer ke arah timur laut dari posisi Regu Strix, di tepi sungai kecil yang airnya jernih dan mengalir tenang—
Slamet duduk di atas batu licin, kakinya digoyang-goyangkan malas. Di tangannya, ia memegang tongkat kayu panjang yang ujungnya diikat benang putih hasil sobekan kaos dalamnya.
Di ujung benang itu, tergantung kail improvisasi dari kawat kecil yang ia temukan di tenda logistik elf, dan umpan berupa bulatan roti keras yang sisa makan siang tadi.
Ia melempar kailnya ke sungai dengan ayunan yang kurang ahli.
Pluuung.
Air beriak pelan. Lalu diam kembali.
Slamet menunggu.
Matahari sore menyinari permukaan air, menciptakan kilauan emas yang indah. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan daun pinus. Di kejauhan, dua bulan—satu besar berwarna pucat, satu kecil berwarna kemerahan—mulai samar-samar terlihat meski langit masih terang. Pemandangan yang mustahil di Bumi, tapi sudah menjadi pemandangan rutin baginya selama seminggu terakhir.
Slamet menguap lebar, air matanya hampir keluar.
Sihir terjemahan yang diberikan oleh elf tua itu sudah habis sejak kemarin malam. Komunikasi dengan kamp sekarang kembali ke bahasa isyarat primitif dan tebak-tebakan ekspresi wajah. Tapi entah bagaimana, itu cukup. Elf perempuan tadi pagi memberinya tongkat kayu ini dan menunjuk ke arah sungai dengan ekspresi datar yang Slamet interpretasikan sebagai: "Kalau mau makan, cari sendiri. Kami tidak punya ransum ekstra untuk tamu gratisan."
Dia menginterpretasikan itu sebagai izin. Atau mungkin usiran halus. Tapi dia sudah di sini sekarang, dan perutnya berbunyi.
Kailnya bergerak sedikit. Tarikan halus.
Slamet langsung fokus, matanya membelalak.
Lalu... berhenti.
Diam.
"Ikan palsu, mungkin," gumamnya kecewa. "Atau cuma arus bawah."
Ia menunggu lagi. Kesabarannya, yang biasanya tipis saat menghadapi lag server game, ternyata cukup tebal saat menghadapi realitas kelaparan.
Di ketinggian, di dahan pohon raksasa yang cukup jauh dari posisi Slamet, Aura merebahkan diri dengan santai. Kakinya digantung bebas, ayunan ringan mengikuti irama angin. Ia menatap langit sore dengan ekspresi bosan.
Di sebelahnya, Mare duduk diam di sampingnya, jemarinya mencengkeram tongkat sihir dengan kuat.
"Dia mancing," kata Aura, suaranya ringan seperti angin sepoi-sepoi.
"A-Aku tahu, Nee-chan," jawab Mare pelan, matanya tidak lepas dari sosok kecil di bawah.
"Pakai benang dari bajunya sendiri. Sobekan kaos dalam, kalau tidak salah lihat."
"I-Iya."
"Kreatif. Atau putus asa. Sulit dibedakan."
Mare tidak menjawab. Tiba-tiba, tubuhnya menegang. Matanya yang biasanya sayu berubah tajam, menatap ke arah barat—arah yang berlawanan dengan Slamet.
"A-Ada yang bergerak di barat," bisik Mare. Suaranya bergetar sedikit, bukan karena takut, tapi karena fokus.
Aura tidak langsung duduk tegak, tapi matanya yang cerah berubah serius. "Berapa?"
"Lima. Bergerak rapi. Formasi taktis. Bukan Elf. Bukan juga penduduk lokal."
"Theocracy?"
"Kemungkinan besar. Pakaian mereka gelap, bergerak diam-diam. Bau darah dan besi."
Aura menatap ke arah barat sebentar, lalu kembali menatap Slamet di bawah yang sedang asyik menarik-narik benang pancingnya.
Dua hal berbeda. Dua arah berbeda. Dua masalah yang belum tahu satu sama lain, dan berpotensi saling menghancurkan jika dibiarkan bertemu.
"Kita tangani yang mana dulu?" tanya Aura, nada suaranya bertanya, tapi matanya sudah menghitung skenario.
Mare berpikir sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk gagang tongkat sihirnya.
"A-Ainz-sama belum kasih perintah spesifik soal intervensi langsung terhadap Theocracy di sektor ini. Tugas kita adalah pengintaian."
"Tapi kalau dibiarkan, mereka bisa masuk terlalu dalam. Bisa menemukan kamp utama Elf. Atau..." Mare menoleh ke arah Slamet. "...menemukan dia."
Aura mengikuti tatapan Mare.
"Jika Regu Theocracy itu melihat makhluk aneh yang membuat monster kabur, mereka akan menyerang. Atau mencoba menangkapnya. Dan jika mereka menyentuhnya..." Aura menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak ingin mengambil risiko apa yang akan terjadi pada mereka."
Mereka berdua diam sebentar.
Di bawah, Slamet akhirnya menarik kailnya. Umpan rotinya hilang. Dimakan ikan tanpa sempat ia sadari. Ia memasang umpan baru—sedikit lebih kecil kali ini—dengan ekspresi orang yang pasrah. Tidak terlalu kecewa, tapi juga tidak terlalu semangat. Seperti orang yang mengulang pekerjaan yang sama untuk keseratus kalinya
"Aku yang tangani Theocracy," kata Mare akhirnya. Suaranya tegas, meski masih ada getaran gugup di ujungnya. "Kamu tetap di sini. Pantau target utama."
Aura menoleh, alisnya terangkat.
"Sendirian? Mereka lima orang. Mungkin ada mage atau rogue di antara mereka."
"Lima orang level dua puluhan," kata Mare sambil berdiri di atas dahan. Gerakannya terlalu ringan, terlalu halus untuk ukuran seseorang yang mengenakan jubah berat. "Bagiku, itu seperti menangani anak-anak yang tersesat. Aku tidak butuh bantuan, Nee-chan. Aku hanya butuh... ketenangan."
Aura menatap adiknya sebentar. Ia melihat kepercayaan diri yang jarang muncul di mata Mare ketika berhadapan dengan intrusi asing.
"Jangan terlalu keras," pesan Aura, meski sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kita butuh informasi, bukan mayat. Kecuali mereka memaksa."
Mare mengangguk pendek.
Mare menghilang.
Bukan dengan berlari.
Tubuhnya larut ke dalam bayangan dedaunan, seolah hutan menelannya kembali.
Corvus mendengar sesuatu.
Bukan suara yang jelas. Lebih seperti perubahan tekanan udara yang sangat halus—pergeseran massa udara yang seharusnya tidak ada. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah bertahun-tahun melatih kepekaan indera mereka di medan perang, di mana satu detik keterlambatan berarti kematian.
Dia berhenti mendadak.
Tangannya bergerak cepat, memberi kode tangan ke Strix: Ancaman di atas. Sudut buta.
Strix langsung menunduk, tubuhnya merosot ke posisi jongkok, tangan sudah siap mencabut belati beracun di pinggangnya.
Tapi terlambat.
Dari antara kanopi daun yang lebat, sesuatu turun.
Terlalu cepat.
Gerakan itu melampaui batas fisiologis manusia biasa. Tidak ada suara angin, tidak ada desisan jubah. Hanya bayangan hitam kecil yang jatuh seperti batu, lalu berhenti tepat di belakang Corvus.
Sebelum Corvus sempat memutar tubuh, sebelum tangannya menyentuh gagang senjata, sebuah tangan kecil—terlalu kecil untuk kekuatan yang dimilikinya—mencengkeram bahu kirinya.
Cengkeraman itu bukan sekadar kuat. Itu absolut.
Corvus merasa seluruh tulang selangkanya terkunci. Otot-ototnya lumpuh. Sihir Stealth-nya pecah seketika, tersapu oleh mana yang padat dan dingin.
Dia tidak bisa berteriak. Bukan karena racun. Tapi karena paru-parunya menolak mengembang.
Perlahan, dengan usaha luar biasa, Corvus mendongak.
Sosok kecil dark elf berdiri di belakangnya.
Mata emas dan birunya menatap Corvus dengan tenang.
Tidak ada ancaman yang diucapkan.
Justru itulah yang membuatnya mengerikan.
Bagi makhluk itu, keberadaan Regu Strix tampaknya tidak cukup penting untuk dibenci.
Ekspresinya datar. Tidak marah. Tidak juga tertarik. Seperti orang yang baru saja mengambil buku dari rak perpustakaan, bukan menangkap seorang penyusup.
"Kalian dari mana," kata sosok itu.
Bukan pertanyaan. Itu pernyataan fakta yang menuntut konfirmasi.
Corvus tidak menjawab. Mulutnya terbuka, tapi hanya udara yang keluar.
Strix, yang melihat rekan terbaiknya lumpuh dalam sepersekian detik, mengangkat tangannya perlahan. Kode tangan: STOP. JANGAN GERAK. JANGAN SERANG.
Matanya menatap sosok kecil itu dengan penilaian cepat yang sudah menjadi refleks mematikan.
Level? Tidak terbaca.
Mana? Tidak terasa.
Rasa bahaya? Luar biasa.
Untuk seseorang yang hidupnya bergantung pada kemampuan membaca lawan melalui skill deteksi, kenyataan bahwa ia tidak bisa membaca apapun tentang target ini adalah informasi yang paling berbahaya. Ini bukan musuh yang kuat. Ini adalah anomali.
Dan anomali harus dihindari, atau dihancurkan sebelum memahami sifatnya.
Tapi Strix tahu, mereka sudah terlambat.
Suara itu sampai ke telinga Slamet samar-samar dari arah barat.
Bukan suara pertarungan epik. Tidak ada ledakan sihir yang menggelegar, tidak ada teriakan kesakitan yang dramatis. Lebih seperti suara ranting kering patah dalam jumlah banyak, dalam waktu yang sangat singkat, lalu... hening total.
Slamet mengangkat kepala dari kail pancingnya.
Ia menatap ke arah hutan di barat. Pepohonan di sana rapat, dedaunannya lebat, menghalangi pandangan.
Tidak ada yang terlihat.
Dia menatap sebentar lagi, menunggu suara lain.
Tidak ada.
"Bisa jadi angin," gumamnya. Atau mungkin monyet. Dia pernah melihat monyet sekali di hari kedua. Monyet itu melempar kotoran padanya. Jadi, kemungkinan monyet cukup besar.
Ia kembali menunduk ke kailnya.
Bukan urusannya. Prinsip hidup Slamet di dunia baru ini sederhana: Jangan cari masalah, kecuali masalah itu datang membawa makanan.
Kail pancingnya tersangkut.
Benangnya tertarik ke arah hutan.
Dengan kesal Slamet berjalan mengikuti arah benang itu.
Barulah tanpa sengaja ia melihat kelompok Mare dan para tawanan.
Pemandangannya aneh.
Lima orang asing dengan pakaian kulit gelap dan logam suram duduk atau berdiri dalam posisi yang canggung. Tangan mereka terikat di belakang punggung dengan tali sihir yang bercahaya lemah. Wajah mereka pucat, mata mereka penuh teror yang tertahan.
Di tengah mereka, berdiri satu makhluk kecil berjubah gelap. Tinggi badannya hanya setinggi pinggang orang dewasa. Di tangannya, ada tongkat panjang yang ujungnya bersinar redup. Makhluk itu tidak bergerak agresif. Ia hanya berdiri di sana, mengawasi tawanannya dengan ketenangan yang menyeramkan.
Dan di dahan pohon di atas semuanya, Aura duduk santai dengan satu kaki menggantung.
Ia mengamati para tawanan di bawah sambil menggigit sepotong daging kering.
Ekspresinya tenang.
Bagi Aura, lima penyusup itu tidak lebih dari gangguan kecil yang kebetulan memasuki wilayah pengawasannya.
Slamet berdiri di tepi celah itu.
Ia menatap seluruh pemandangan itu selama beberapa detik. Otaknya mencoba memproses: Ini sandera? Ini pertunjukan teater? Ini ritual?
Lalu ia menatap tongkat pancingnya di tangan kanan.
Lalu menatap lagi ke celah itu, ke lima orang yang terikat, dan ke makhluk kecil yang kini menoleh perlahan ke arahnya.
Mereka bertatapan selama beberapa detik.
Hening.
Slamet merasakan keringat dingin di punggung. Ada sesuatu yang tidak beres. Namun ia tidak memiliki informasi yang cukup untuk menjelaskan alasannya.
Namun ia memutuskan bahwa memikirkannya terlalu lama hanya akan membuang waktu.
Slamet mengangkat tangan kanannya—gesture universal untuk "Maaf, saya tidak sengaja mengganggu"—lalu mengambil satu langkah mundur. Perlahan. Sopan.
Aura melirik ke arahnya sebentar.
Tidak ada ancaman.
Jadi ia kembali memperhatikan para tawanan di bawah.
Makhluk kecil berjubah itu—Mare—tidak mengejar. Ia hanya menatap Slamet sebentar, lalu kembali menatap para tawanan Theocracy.
Slamet berdiri di tempat selama beberapa detik lagi.
Jantungnya berdetak kencang di tenggorokan. Rahangnya tidak jatuh, tapi ada proses panik yang berjalan di kepalanya, berputar-putar tanpa menghasilkan output yang berguna.
Slamet berdiri mematung selama beberapa detik.
Ia tidak mengerti apa yang baru saja dilihatnya.
Dan ia merasa tidak ingin terlibat.
Akhirnya, keputusan pragmatis menang.
Ikan di sungai mungkin sudah memakan umpanku lagi.
Slamet membalikkan badan. Dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya, tapi masih berusaha terlihat santai, ia kembali ke arah sungai.
Di belakangnya, di dalam kegelapan hutan, lima anggota Regu Strix menyadari satu hal yang lebih menakutkan daripada kematian:
Mereka telah dilihat. Dan dibiarkan hidup.
Dan bagi seorang intelijen, itu adalah penghinaan terbesar.